Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitting gaun pengantin
Hawa melangkah setengah hati di depan pintu galeri itu. Tangannya menggenggam tali tas sedikit lebih erat, langkahnya melambat seolah lantai marmer di hadapannya tiba-tiba berubah menjadi jurang dan sangat mencekam.
Adam yang berjalan santai di belakangnya langsung menyadari keanehan itu.
“Kenapa berhenti?” tanyanya, alisnya terangkat, suaranya ringan tapi penuh selidik.
Hawa menarik napas panjang, lalu menoleh ke belakang menghadap Adam. Wajahnya serius, jauh dari kesan bercanda.
“Aku harap setelah menikah kita tidak perlu tinggal satu rumah,” ucapnya pelan tapi tegas.
“Aku tetap di Jakarta, Mas Adam tetap di Australia. Terserah Mas mau ngapain, aku nggak akan pernah protes," ucap Hawa.
Adam sejenak ia terdiam, lalu senyum jahilnya muncul perlahan.
“Kalau gitu…” kata Adam sambil mendekat setengah langkah di depan Hawa, “kapan kita bisa cekikikan aw-awnya dong?”
“Cekikikan aw-aw apaan sih,” batin Hawa berpikir sampai dahinya berkerut, tapi akhirnya ia mengerti.
“i...itu kan nggak harus. Buktinya aku dan Mas Harun bisa kok.”
Senyum Adam langsung menghilang, digantikan ekspresi sok tersinggung.
“Harun sama Adam itu beda,” ujarnya cepat. “Jangan pernah disamain.” Ia menunjuk dadanya sendiri. “Bagi Adam, setelah menikah ya wajib malam pertama, malam kedua, malam seterusnya, mau gaya apa bebas. Ingat, wajib," kata Adam sok mengultimatum Hawa.
Wajah Hawa langsung memerah.
“Tapi kamu kan bisa melakukannya sama pacar-pacar kamu yang lain, yang lebih sexy!” ucap Hawa.
Adam tertawa kecil, lalu menggeleng pelan.
"Kamu cemburu?" tanya Adam tersenyum tipis.
"Tidak ada kamus cemburu bagiku!"
“Hoh… dasar cewek sesat,” ucapnya dramatis.
“Ada yang halal kenapa kau justru memaksa aku ke yang haram. Lagian ya… aku nggak semurah itu.”
Hawa mendecak. “Tapi cowok-cowok lebih senang dengan yang haram. Lebih bergairah dan yang halal, terasa bau terasi.”
“Hahahaha!”
Adam langsung spontan terbahak-bahak sampai perutnya ditepuk-tepuk sendiri.
“Ini nggak lucu!” Hawa menghentakkan kaki kecilnya. “Aku serius!” hentak Hawa.
“Tapi terasi itu cocok banget,” balas Adam santai. “Dijoinkan sama sambel ikan asin…”
Ia menjulurkan lidahnya dengan ekspresi menggoda Hawa “Hem. Lezat.”
Hawa benar-benar menyerah. Tanpa menunggu lagi, ia melangkah masuk ke dalam galeri dengan wajah jutek maksimal.
“Hei, tunggu!” Adam menyusul masih tertawa kecil.
Begitu memasuki galeri, langkah Hawa otomatis melambat. Pandangannya menyapu ruangan luas yang dipenuhi cahaya lembut.
Patung-patung manekin berdiri anggun, dibalut gaun pengantin berkilau, manik-manik halus dan butiran mutiara memantulkan sinar lampu seperti bintang kecil.
Tanpa sadar, raut wajah Hawa melunak. Tatapannya penuh kekaguman, seolah dunia di luar sana menghilang sesaat.
Adam berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia memperhatikan Hawa yang kini terlihat jauh berbeda lembut, tenang, dan… manis.
“Ni cewek lucu juga,” batinnya, tanpa sadar tersenyum tipis.
“Selamat sore, Mas Adam” sapa seorang wanita berpenampilan rapi. “Apakah ingin langsung fitting hari ini?”
“Ya,” jawab Adam cepat, bahkan sebelum Hawa sempat bereaksi.
“Baik, mari ikuti saya.”
Sang manajer memberi isyarat pada beberapa pelayan. Mereka bergerak sigap, membuka lemari-lemari besar berisi gaun-gaun terbaru.
“Ibu Rani sebelumnya sudah membooking beberapa pilihan,” jelas sang manajer.
“Tapi kami juga menyiapkan model-model terbaru yang mungkin sesuai permintaan Mas Adam dan kekasih.”
Beberapa gaun dikeluarkan satu per satu anggun, mewah, dan mempesona.
Adam menoleh ke arah Hawa. “Kamu suka yang mana?”
Hawa menatap deretan gaun itu, lalu mengangkat bahu kecil.
“Terserah saja,” jawabnya jujur. “Semuanya bagus.”
Sang pelayan membawa Hawa ke ruangan fitting wanita yang terletak di sisi dalam galeri. Pintu kayu berwarna putih gading itu terbuka perlahan, menampilkan ruangan hangat dengan pencahayaan lembut. Cermin besar berdiri dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit, memantulkan bayangan Hawa yang tampak sedikit tegang.
“Silakan dicoba yang ini dulu ya, Mbak,” ujar pelayan butik itu ramah sambil menyerahkan sebuah gaun putih gading.
Potongannya sangat mewah bertabur mutiara, anggun berkilau, seolah diciptakan untuk pengantin yang suka dengan suasana glamor.
Hawa menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Ujung jarinya menyentuh kain lembut itu dingin, halus, dan terlalu indah untuk hatinya yang sedang remuk.
Ia menunduk, menatap gaun tersebut sejenak, lalu tanpa peringatan, air matanya menetes jatuh, membasahi punggung tangannya.
Napasnya tercekat.
Bukan karena gaun itu tak cantik. Justru karena terlalu cantik untuk sebuah pernikahan yang tak pernah benar-benar ia inginkan.
“Aku capek…” gumamnya lirih, nyaris tak bersuara. Dadanya terasa sesak, seakan seluruh beban hidupnya menumpuk di sana.
“Aku lelah…” lanjutnya dengan suara bergetar, bibirnya berusaha menahan isak yang semakin sulit dikendalikan.
“Aku tidak ingin menikah dengan Adam…”
Kalimat terakhir itu nyaris seperti doa yang salah alamat. Tak ada yang mendengar, tak ada yang bisa membatalkan. Hanya gaun putih di tangannya yang menjadi saksi betapa hatinya sedang memberontak dalam diam.
Ia memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh satu per satu. Dalam cermin ruang ganti.
Di luar, Adam duduk santai di sofa empuk sambil menyilangkan kaki. Tangannya memainkan ponsel, tapi sebenarnya pikirannya tak benar-benar fokus. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit… berdebar.
“Mas,” panggil sang manajer sambil tersenyum penuh arti, “boleh menunggu di sini. Nanti Mbaknya akan keluar.”
Adam mengangguk. “Siap”
Beberapa menit berlalu.
Adam mulai menguap kecil. “Lama amat, ganti baju doang,” gumamnya.
Tirai fitting perlahan tersibak.
Adam refleks mendongak dan langsung terdiam.
Hawa melangkah keluar dengan gaun putih bertabur mutiara begitu anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Sangat mewah.
Adam sempat terpaku.
“Mas?” Hawa memanggil ragu dan tegang.
“Iya, kenapa?” Adam baru tersadar.
“Masnya boleh lihat lebih dekat kok," ucap sang manajer.
Adam mendekat, berhenti tepat di depan Hawa. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. Adam menunduk sedikit, menatap detail gaun itu, lalu tanpa sadar menatap wajah Hawa.
“Kamu nyaman?” tanya Adam lebih pelan dan lembut.
Hawa mengangguk kecil. “Nyaman… tapi aku merasa aneh.”
“Aneh kenapa?”
“Kayaknya… ini bukan aku.” Adam tersenyum lembut.
“Justru ini kamu. Versi yang jarang kamu lihat.” Hawa terdiam.
Pelayan kemudian menyodorkan cermin besar. Hawa menatap pantulan dirinya sendiri tapi Hawa terlihat kurang percaya diri, meski gaun itu cantik dan ia menyukainya.
“Mas Adam,” ujar pelayan. “Mbak Hawa juga kami siapkan beberapa pilihan lainnya.”
Adam mengangguk. “Coba semua. Saya mau lihat perbedaannya.”
Hawa menoleh cepat. “Semua?”
“Iya,” sahut Adam santai. “Aku mau kamu pakai gaun yang paling nyaman!" kata Adam membuat Hawa tertegun.
Beberapa gaun kemudian, ekspresi Adam berubah-ubah mulai dari sok kritis, sampai terlalu jujur.
“Yang ini terlalu seksi. Aku belum siap jantung copot sebelum nikah.”
“Yang itu cantik, tapi kamu keliatan galak. Nanti aku takut.”
“Yang ini…” Adam terdiam agak lama. “Yang ini bahaya.”
“Hah? Bahaya?” Hawa bingung dengan penilaian Adam.
Wajah Hawa langsung memanas. “aneh”
Akhirnya, Hawa kembali keluar dengan gaun terakhir yang paling sederhana. Tanpa banyak hiasan, namun jatuhnya begitu anggun dan elegan. Langkahnya perlahan mendekati Adam.
Adam berdiri mematung. Kali ini ia tak melontarkan candaan apa pun. Pesona Hawa benar-benar membuatnya kehilangan kata, seolah tubuhnya lupa cara bergerak.
“Cantik…” gumamnya lirih.
“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Hawa polos, berhenti tepat di hadapan Adam.
“A-aku pilih yang ini,” jawab Adam gugup, nyaris tak bisa menyembunyikan getaran suaranya.
“Kenapa?” tanya Hawa pelan.
“Karena ini diri kamu, kelihatan tenang,” jawab Adam jujur. “Dan aku… suka melihat kamu tenang.”
Hawa menatap Adam lama. ia melihat Adam tanpa topeng tengilnya.
"Hawa mengangguk!" ia terlihat percaya diri dengan gaun yang terakhir.
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
bodoh kamu Runn
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau