"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 25
Ciiiiittt ....
"Yanshen ... kamu apa-apaan sih? Kalau nyetir yang bener, jangan ngebut. Ingat! Masih ada anak-anak yang membutuhkan kita," sentak Lin Wu yang merasa kesal dengan tingkah Yanshen, mendadak lelaki itu membanting stir ke arah kiri kemudian spontan menginjak rem membuat Lin Wu terkejut dengan apa yang dilakukan Yanshen barusan.
Sungguh dia tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi padanya, mengingat ada kedua anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang juga perhatian darinya. Sementara Yanshen merasa bersalah atas perbuatannya yang membuat sang istri terkejut bukan kepalang.
"Sayang, maaafkan aku. Aku tadi tidak sengaja membanting stir ke kiri karena di depan ada truck yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan kita. Mau tidak mau aku langsung menghindar karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu," terang Yanshen berusaha menjelaskan apa yang terjadi barusan. Sedangkan Lin Wu tidak mengetahui ha itu, yang dia tahu hanyalah Yanshen tiba-tiba membanting stir ke arah kiri.
"Makanya kalau nggak bisa nyetir jangan sok-sokan bawa mobil. Jadinya gini kan ... orang setiap hari aja di setirin, sekarang jadi belagu nyetir sendiri," sarkas Lin Wu sambil melirik sekilas ke arah Yanshen yang kini sedang menatap dirinya.
"Enak aja, aku bisa nyetir sayang. Meskipun setiap hari aku disetirin tapi aku nggak lupa cara nyetir mobil," balas Yanshen tidak terima dengan ucapan istrinya itu.
"Udahlah sekarang kita pulang aja. Kasihan anak-anak pasti lagi nungguin aku, mereka nggak bisa tidur kalau nggak sama aku," ucap Lin Wu menjelaskan fakta perihal kebiasaan kedua anaknya.
"Tidak! Pokoknya malam ini kita harus segera menyelesaikan masalah kita. Aku tidak ingin menundanya lagi karena masih ada banyak yang kita bahas." Apa kamu melupakan sesuatu, hm?" Tegas Yanshen yang tetap kekeh dengan keinginannya.
Yanshen sudah tidak ingin menundanya lagi karena dia ingin semua masalahnya segera kelar. Tidak ada lagi kesalahpahaman antara diringa dan sang istri. Terlebih dia masih butuh penjelasan mengenai lelaki yang disebutkan putrinya tadi. Hal itulah yang membuat Yanshen tidak ingin menunda lagi.
Lin Wu menggeleng pelan. "Memangnya aku pernah melupakan apa? Selama ini aku juga tidak pernah membohongimu ataupun melakukan sesuatu yang menyinggungmu."
Yanshen meraup kasar wajah tampannya sambil meraup oksigen sebanyak mungkin.
"Kamu dengan teganya pergi meninggalkanku begitu saja tanpa pamit ataupun ijin dariku. Padahal kontrak kita masih ada beberpaa bulan lagi, dan kamu juga telah membawa rahasia besar dariku. Kamu benar-benar kejam Lin Wu ...," ucap Yanshen mengeluarkan segala unek-unek yang bersarang di benaknya.
Lin Wu hanya diam dengan meneguk kasar salivanya. Kali ini dia melihat Yanshen berbicara dengan kilat penuh amarah, juga terlihat tegas dan penuh penekanan. Kini tidak ada sosok Yanshen yang ngambek seperti anak kecil hanya karena omongan putrinya. Seketika moment indah yang dia harapkan untuk bertemu dengan sang istri pun sirna sudah karena ulah putrinya yang datang mengganggu.
Sejak awal menikah dengan Yanshen, satu hal yang ditakuti oleh Lin Wu yaitu amarah Yanshen yang tiba-tiba meledak karena tidak sesuai denga keinginannya. Begitu juga saat ini, lelaki itu tampak diselimuti amarah yang membuncah menghinggap fi benaknya.
"Kenapa diam? Apa kamu takut padaku karena tidak bisa menjelaskan itu semua?" tanya Yanshen saat mengetahui sang istri hanya diam membisu, tidak seperti tadi yang menerocos seperti petasan.
"Lin Wu ... kamu harus tahu betapa sakitnya aku saat kamu pergi begitu saja tanpa pamit. Kamu juga harus tahu betapa hancurnya hidupku selama tujuh tahun ini? Aku hidup dalam penyesalan yang terus menghantuiku, bahkan aku hampir gila karenamu. Dan kenapa kau merahasiakan hal itu dariku, padahal aku juga berhak mengetahuinya. Kenapa ... kenapa Lin Wu?" ucap Yanshen dengan suara seraknya sambil mengguncang bahu sang istri.
"Oh ... aku tahu pasti kamu sengaja ingin menghukumku karena perbuatan kejamku selama ini padamu, bukan? Kamu sengaja menghukumku karena telah melayangkan perjanjian nikah kontrak? Kalau kamu waktu itu emang nggak mau, kenapa kamu setuju menandatanganinya? Dan kenapa juga kamu nggak pernah bilang kalau Mommy selalu menyakitimu? Lalu kamu anggap aku ini apa Lin Wu? Tega sekali kamu padaku," ucap Yanshen yang kembali mengungkapkan segala unek-uneknya.
Sorot matanya menatap intens pada Lin Wu sambil kembali mengguncang bahu istrinya. Berharap Lin Wu sadar atas perbuatannya itu yang memang salah besar karena diam-diam pergi meninggalkan Yanshen tanpa pamit dan membawa rahasia besar. Keinginannya hanya satu, Yanshen ingin agar Lin Wu dapat menganggap dirinya sebagai seorang suami sungguhan bukan suami kontrak yang telah tiba waktunya bisa pergi begitu saja. Terlebih saat itu masih ada sisa dua bulan, tapi istrinya berani meninggalkan dirinya pergi tanpa pamit. Hal itulah yang membuat Yanshen murka, tidak terima dengan apa yang dilakukan sang istri.
Lin Wu hanya diam menunduk, bibirnya begitu keluh tak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya.
"Maaf ... maafkan aku Yanshen. Harusnya aku tidak melakukan itu, tapi ... keadaan yang memaksaku untuk pergi dari mansion tanpa pamit darimu. Itu semua aku lakukan demi kebaikanmu karena Mommy bilang bahwa kebahagiaan mu hanya bersama dengan seseorang yang sangat kamu cintai. Dan itu bukan aku, tapi Ran Xi Wei. Ya, dialah perempuan pilihan Mommy mu. Asal kamu tahu, waktu itu aku juga meminta Mommy agar diijinkan untuk menemuimu. Tapi, Mommy melarangku bahkan dia memaksaku segera angkat kaki dari mansion dan melarangku untuk menginjakkan kakiku di mansion itu," ucap Lin Wu menerangkan fakta yang ada dengan mata berkaca-kaca.
GREP
"Sayang ... maafkan aku. Maaf ... jika selama ini aku masih belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu. Aku memang terlalu egois, hanya memikirkan luka, cinta dan juga karir yang membuatku lupa bahwa ada kamu yang harus aku jaga. Seharusnya saat itu aku membawamu ikut denganku agar Mommy tidak berbuat semena-mena padamu. Dan semua ini tidak akan pernah terjadi jika kamu ikut bersamaku," lanjut Yanshen yang menyesali segala perbuatannya di masa lalu.
"Jangan bicae seperti itu. Ini sepenuhnya bukan kesalahanmu, tapi aku disini juga salah. Kalau saja waktu itu aku berani menghubungimu, mungkin saja kejadiannya tidak seperti ini. Dan anggap saja ini sudah takdir dari Tuhan. Sebaiknya kita buka lembaran baru, berhenti memikirkan masa lalu. Biarlah semua itu menjadi kenangan yang paking pahiy dalam hidup ini," sahut Lin Wu tersenyum manis menatap Yanshen.
Secepat kilat Yanshen mengangguk mengiyakan ucapan Lin Wu yang memang benar adanya.
"Ya, benar katamu. Mari kita buka lembaran baru, kita hadapi semua rintangan yang menghadang secara bersama-sama. Dan ingat ... jangan sampai ada dusta diantara kita berdua agar tidak terpecah belah lagi," sahut Yanshen yang kemudian melayangkan kecupan singkat di pucuk kepala Lin Wu.
.
.
.
🥕Bersambung🥕