Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunung Es Telah Mencair
Saat sedang asyik mengontrol, tiba-tiba Arka muntah (gomah tepat di kemeja mahal yang dipakai Ryan.
"Aduh, Arka. Ini kemeja custom made dari Italia!" pekik Ryan panik.
Bima yang jahil langsung menyahut, "Hari-hati Pak, itu ada sedikit noda keningnya, jangan-jangan itu bukan cuma muntah."
Mendengar kata "noda kuning", Ryan teringat trauma pokoknya kemarin. Wajahnya mendadak pucat. Ia mulai merasa pusing dan matanya berputar-putar.
"Aulia, aku ras...oksigen di ruangan ini menipis," gumam Ryan sambil berpegangan pada pinggiran sofa.
"Pak, jangan pingsan di sini , Pak! Kami nggak bawa tandu!" seru Bima sambil menangkap pundak Ryan, sebelum sang CEO benar-benar ambruk ke lantai.
Aulia hanya bisa tertawa terbahak-bahak. "Tenang, Mas. Itu cuma susu, bukan bom biologis yang kamu takutkan."
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Ryan. Wajahny pucat, selain karena kurang tidur di tambah dengan aroma muntahan Arka di bajunya yang membuatnya mual.
"Iya, karena Arka kekenyangan. Dan dia belum sendawa ketika selesai menyusui tadi," jawab Aulia.
"Bima sih, ngomong sembarangan. Mau dipotong gaji kamu?" kata Vina.
Bima cengengesan, "Maaf Pak, tapi itu beneran ada kuning-kuningnya." dia menunjuk bekas muntahan Arka.
Ryan memperhatikan bekas muntahan itu dan memang ada kuning-kuningnya. Dia menatap Aulia memint penjelasan.
"Itu cuma susu Mas, masa Arka Pup dari mulutnya? yang bener aja. Udah mending Mas, bersih-bersih aja dulu." kata Aulia lalu mengambil alih Arka.
Ryan berdiri dan segera menuju ke dalam kamar mandi yang asa di kamar mereka.
"Bima, kamu ngomongnya nggak disaring. Ksian kan itu Pak Ryan, pucat banget." ujar Mira.
"Hehehe... maaf, gue nggak sengaja. Lagian tadi kan kalian lihat sendiri kalo ada kuning-kuningnya, kan?" kata Bima nggak mau di salahkan
"Udah, nggak apa-apa. Mas Ryan cuma masih trauma aja. Nanti lama-lama juga terbiasa."
Sore itu ditutup dengan momen yang unik. Meski sedang menengok bayi, jiwa arsitek mereka tidak bisa hilang. Di meja makan, sambil makan martabak bawaan Bima, mereka malah asyik membahas revisi proyek Lavana.
"Bagian atriumnya agak sulit kalo kita pake material yang kemarin," lapor Vina serius.
Aulia sambil menyusui Arka dengan ditutupi kain apron, memberikan instruksi dengan tenang. "Coba geser tumpuannya ke arah kiri, Mbak Vina. Oh, sebentar... Mas Ryan tolong ganti posisinya Arka, dia mau sendawa.
Ryan, yang baru saja datang dari kamarnya langsung sigap mengambil Arka dan menepuk-nepuk punggung mungil itu dengan sangat hati-hati - pemandangan yang membuat Mira diam-diam memotretnya.
"Foto ini akan saya jadikan wallpaper di komputer kantor kalo Bapak galak lagi." bisik Mira pada Vina yang langsung diangguki dengan penuh semangat.
*******
Sebulan kemudian, tibalah hari yang sangat dinantikan- sekaligus ditakuti- oleh seluruh staf di Aditama & Partners. Ryan memutuskan untuk membawa Aulia dan Arka ke kantor untuk "inspeksi mendadak" singkat.
Pagi itu, lobi kantor yang biasanya tegang karena kehadiran sang CEO yang perfeksionis, mendadak berubah suasananya.
Pintu otomatis terbuka. Ryan masuk dengan gaya andalannya. Setelan jas Navy yang licin dan kacamata hitam. Namun, ada yang berbeda. Bukannya membawa tas kerja, tangan kanannya menenteng baby car seat dengan sangat hati-hati, sementara tangan kirinya menggandeng Aulia yang tampak anggun meski dengan rambut yang diikat simpel.
"Selamat pagi, Pak Ryan! Selamat pagi, Bu Aulia!" sapa resepsionis dengan suara yang biasanya formal, tapi kali ini melengkung karena gemas melihat sosok kecil di dalam keranjang itu.
"Sst, pelankan suara kalian," bisik Ryan tegas. "Bos kecil baru saja tertidur. Kalo dia bangun dan menangis, saya pastikan laporan keuangan bulan ini saya periksa dua kali lebih teliti."
Seketika seluruh staf di lobi menutup mulut mereka dengan tangan, tapi mata mereka tetap tidak bisa lepas dari Arka yang tertidur pulas dengan dot di mulutnya.
Ryan dan Aulia melanjutkan langkah mereka ke dalam kantor. Tujuan pertama mereka adalah ruang rapat utama, dimana tim senior sedang menunggu untuk presentasi rutin. Begitu pintu terbuk, Mira langsung berdiri.
"Pak, ruangan sudah kami sterilkan dengan air purifier tambahan dan suhunya sudah diatur tepat 24 derajat celsius sesuai permintaan Bapak," lapor Mira tanpa ekspresi seolah-olah sedang melaporkan proses pembangunan jembatan.
Vina dan Bima sudah menunggu di dalam. Bukannya menyiapkan proyektor, mereka malah menyiapkan "area bermain" darurat di atas meja rapat yang panjang itu.
"Lihat ini, Li! aku sudah buatkan maket taman bermain versi mini di sudut ruangan kalo Arka bosan," bisik Vina pada Aulia.
"Vina, ini ruang rapat direksi, bukan daycare," tegur Ryan meski ia sendiri sibuk mengatur posisi kipas angin, agar tidak langsung mengenai wajah Arka
Rapat pun di mulai. Di tengah presentasi Bima tentang progres Lavana project, Arka tiba-tiba terbangun. Bukannya menangis, bayi mungil itu malah menguap lebar dan mengeluarkan suara "Oooohh" yang keras.
"Lihat, dia memberikan masukan!" seru Bima antusias. "Sepertinya Arka tidak setuju dengan pemilihan warn fasad di bagian utara."
Aulia tertawa sambil menggendong Arka. "Bukan, Bima. Dia cuma mau bilang kalo pokoknya sudah mulai penuh.
Ryan langsung berdiri dari kursi kebesarannya. "Rapat ditunda 15 menit. Saya harus melakukan tindakan taktis di ruang ganti."
Seluruh tim tertegun melihat Ryan Aditama, sang dewa arsitektur berjalan terburu-buru menuju toilet VVIP sambil menenteng tas perlengkapan bayi berwarna biru langit.
Setelah urusan popok selesai, Aulia membawa Arka berkeliling ke area staf. Suasana kerja yang kaku mendadak cair. Para arsitek muda yang biasanya takut menyapa Ryan, kini berani mendekat demi melihat Arka.
"Bu Aulia, boleh saya foto bareng Arka?" tanya salah satu staf magang dengan ragu.
Belum sempat Aulia menjawab, Ryan yang berdiri di belakangnya menyahut, "Boleh, tapi satu foto sama dengan lembur satu jam tanpa protes."
Melihat wajah pucat staf itu, Ryan tertawa- sesuatu yang jarang terjadi di kantor. "Bercanda. Silahkan, tapi jangan pakai flash."
Staf magang itu tersenyum lega. Kemudian dia mulai mengambil foto selfienya bersama Arka beberapa kali.
"Ya Ampun, gemas banget sih, Baby Arka. Pipinya gembul berwarna pink." kata Staf itu melihat bayi Arka yang sedang menendang-nendangkan kakinya dengan girang.
"Iya dong, siapa dulu Papanya," kata Ryan dengan ekspresi yang menyebalkan.
Aulia menepuk pelan lengan Ryan. "Mas, sombong banget sih?"
"Apa? kan emang nyata. Bener nggak?" tanyanya pada staf magang tersebut.
"I-Iya Pak," jawab Staf magang itu tersenyum.
Ryan menaik turunkan alisnya - sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Pak Ryan sekarang sudah sangat berubah ya, sejak bersama Ibu Aulia. Dan semakin baik sejak ada Baby Arka," bisik salah satu staf yang ada di ruangan itu.
"Iya, Gunung es itu sekarang sudah mencair." jawab staf yang satunya lagi.
Bersambung......