Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Overthinking
Tasya menyeret koper miliknya melewati Setyo yang bungkam, tak bisa berkata apa-apa. Ucapan Tasya amat pedas, seakan tak ada takutnya.
"Wah, jadi pergi ternyata? Yang lama ya! Kalau bisa, tak usah kembali," sindir Ibu Welas. "Setyo pasti lebih bahagia kalau Sisca yang urus daripada dengan istrinya yang kurang ajar dan suka membantah!"
Tasya mengacuhkan ucapan Ibu Welas. Ia terus berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil kantor. "Balik ke kantor sekarang, Pak!"
.
.
.
Perjalanan bisnis kali ini adalah yang paling spesial yang pernah Tasya rasakan. Radit memesan dua tiket pesawat kelas bisnis, demi bisa memanjakan Tasya.
Baru kali ini Tasya merasakan kemewahan seperti ini. Bukan itu saja, Radit amat perhatian, menawakan makanan dan minuman lezat untuk Tasya nikmati.
"Masih sedih?" tanya Radit.
Tasya sejak tadi melihat keluar jendela. Ia menatap Radit dan bersyukur memiliki atasan sebaik pria tampan tersebut. Radit amat perhatian padanya, bahkan ia tahu masalah yang Tasya hadapi kali ini lebih berat. "Sedikit," jawab Tasya.
"Aku sudah titip pesan dengan perawat untuk menjaga Dicky dan mengabari kalau ada perkembangan terbaru tentangnya, jangan khawatir," kata Radit.
Tasya tersenyum, hatinya menghangat. Sejak semalam hatinya sangat sakit dengan perlakukan Setyo dan mertuanya, Radit-lah yang datang menyembuhkannya. "Terima kasih, Pak. Aku terburu-buru packing sampai lupa titip pesan dengan perawat."
Radit balas tersenyum. "Sudah kuduga. Aku tuh punya banyak rencana cadangan. Mami-ku bilang, aku selalu punya plan B dan plan C. Kamu tenang saja. Nikmati perjalanan bisnis kita kali ini, sekalian liburan agar otak kita fresh."
Tasya mengangguk sambil tersenyum. Tak lama ia menguap. Kursi yang nyaman membuatnya mengantuk. Ia pun tertidur lelap dengan Radit yang terus menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
.
.
.
Setyo sejak tadi hanya diam di dalam kamar. Ia menyesali perkataannya yang telah menyakiti Tasya. Ia mencoba menghubungi Tasya namun ponselnya tidak aktif karena sedang dalam penerbangan.
"Mas, mau aku ambilkan makan malam?" tanya Sisca.
"Tak usah, Sis. Aku kenyang," tolak Setyo. Ia tak ada selera makan setelah pertengkaran dengan Tasya. Ia membayangkan Tasya pergi dengan hati yang terluka karena perkataan kejamnya.
"Mas belum makan loh. Mas juga belum mandi. Mau aku siapkan keperluan untuk Mas mandi?" Sisca bertanya sambil tersipu malu.
Setyo tidak memperhatikan wajah Sisca yang memerah. Pikirannya hanya tertuju pada Tasya. "Tak usah. Tolong tinggalkan aku sendiri, Sis. Aku mau lanjut bekerja saja."
Sisca nampak kecewa dengan penolakan Setyo. "Baik, Mas. Kabari aku ya kalau Mas butuh sesuatu."
Setyo menghela nafas dalam. Biasanya Tasya yang menyiapkan semua kebutuhannya, dari air hangat, minuman di samping nakas jika ia haus di malam hari dan baju ganti yang nyaman. Tak ada Tasya, Setyo baru merasakan ada yang hilang. Seseorang yang tak bisa digantikan dengan siapapun.
.
.
.
Jam 10 malam, Tasya dan Radit sampai di Semarang. Radit sudah memesan kamar hotel bintang lima tipe suite untuk mereka berdua yang letaknya berhadapan.
"Istirahatlah, Sya. Besok pagi, kita bertemu saat sarapan di restoran ya!" Radit membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam. "Aku akan teleponmu kalau ada sesuatu."
"Baik, Pak." Tasya melakukan hal yang sama. Ia masuk ke dalam kamar lalu terpukau dengan pemandangan dari jendela hotel. Lampu jalanan nampak sangat indah dilihat dari atas.
"Benar yang Pak Radit katakan, Sya. Anggap saja sedang jalan-jalan. Nikmati saja semua fasilitas ini sebelum kembali ke kehidupan nyata yang memuakkan," ucap Tasya pada dirinya sendiri. "Ya, aku akan nikmati semua ini dan kembali dengan otak yang lebih fresh. Semua ini yang aku butuhkan saat ini, agar aku tidak gila menghadapi semua cobaan hidup."
Tasya menyalakan musik dari televisi lalu pergi ke kamar mandi, ia menuangkan banyak sabun ke dalam bathtub lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah air penuh, ia membuka seluruh pakaiannya lalu berendam di dalamnya. Tubuhnya terasa lebih rileks. Harum sabun ditambah air hangat membuatnya jatuh tertidur. Tasya terbangun kala mendengar sayup-sayup suara ponselnya yang terus berdering.
Tasya cepat-cepat membilas tubuhnya. Ia memakai bathrobe lalu mengambil ponsel miliknya yang ia isi baterainya di atas nakas. Beberapa panggilan masuk dari Setyo yang sengaja ia acuhkan dan Radit yang sudah 15 kali meneleponnya. Tasya hendak menelepon balik Radit ketika suara ketukan di pintu kamarnya terdengar.
Tasya membuka pintu dan mendapati Radit menatapnya dengan wajah khawatir. "Kamu tak apa-apa, Sya?"
"Aku? Aku baik-baik saja. Ada apa ya, Pak?" tanya Tasya dengan wajah bingung.
Radit menghela nafas lega. "Ah, syukurlah. Aku khawatir kamu melakukan sesuatu yang gila karena putus asa. Aku meneleponmu namun tak kau angkat, aku takut... kamu mengakhiri hidupmu." Radit lalu memeluk Tasya dengan erat, seolah ia takut kehilangan Tasya.
"Mengapa aku harus mengakhiri hidupku?" Tasya masih tak mengerti apa maksud ucapan Radit namun pelukan Radit tidak kuasa ia tolak.
Radit melepaskan pelukannya. Ia menatap Tasya dengan lekat. Rambut Tasya masih basah, belum ia keringkan. Harum sabun dari tubuh Tasya menusuk indra penciuman Radit. "Saat di kamar, aku punya firasat buruk, aku takut kamu berbuat nekat. Aku harus periksa agar aku yakin."
Radit masuk ke dalam kamar Tasya dan memastikan tak ada hal gila yang Tasya lakukan. Ia membuka pintu kamar mandi dan mendapati bathtub yang masih full dengan air dan busa sabun. Sadar dirinya sudah salah paham, Radit pun meminta maaf pada Tasya.
"Maaf, Sya. Nampaknya aku yang terlalu overthinking sama kamu. Tadi supir yang mengantarmu pulang ke rumah cerita padaku kalau kamu menangis selama di perjalanan. Aku pikir, masalahmu sangat pelik sampai kamu nekat ingin mengakhiri hidupmu." Radit menatap Tasya dengan malu-malu. "Aku makin yakin saat teleponku tidak kamu angkat. Maaf ya, Sya. Aku... lebay banget ya?"
Tasya sama sekali tidak marah dengan Radit. Saat Setyo mulai menjauh dan terus menyakitinya serta Dicky yang terbaring lemah di rumah sakit, Tasya merasa dirinya hanya seorang diri di dunia ini.
Radit tiba-tiba datang dan begitu mengkhawatirkan Tasya, bahkan berpikir kalau Tasya akan bunuh diri. Hal ini membuat hati Tasya menghangat, membuat Tasya merasa kalau di dunia ini ia tidak sendiri.
"Bapak tidak lebay. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Tasya tersenyum lebar dengan matanya yang berbinar. Ia bahagia karena ada orang lain yang peduli dengannya di saat suaminya sendiri malah menyakitinya. Tasya lalu melakukan sesuatu yang gila. Dengan langkah pasti, ia berjalan menghampiri Radit, berjinjit lalu mencium Radit dengan rakus.
Radit semula terkejut dengan apa yang Tasya lalukan namun ia tak bisa menolak Tasya. Ia juga menginginkan kembali menikmati malam panas seperti waktu itu. Radit pun mulai membalas ciuman Tasya.
Harum sabun di tubuh Tasya membuat Radit semakin mabuk kepayang. Ia lupa diri dan membawa Tasya ke atas ranjang. Dengan lihai, tangan Radit melepas tali bathrobe yang Tasya kenakan. Tubuh indah nan putih dengan tahi lalat di bahu membuat Radit kembali terpukau. Tasya amat cantik dan seksi.
Radit tiba-tiba berhenti. Ia menatap Tasya dengan lekat. "Kamu yakin mau melakukannya, Sya?"
Tasya yang sejak tadi sudah terbuai dengan Radit, kini dipaksa harus memutuskan sesuatu. Lanjutkan atau hentikan.
"Apa keputusanmu, Sya? Lanjutkan atau hentikan sebelum kamu menyesal?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣