Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Ego & Sayang
"Aku kan Anaknya, Ayah Arnav," jawab Adara sambil tersenyum tipis, membuat Dinda merasa heran, karena mantan menantu nya itu tidak pernah menikah lagi setelah cerai dengan anaknya.
"Iya kah? dengan siapa memang nya?" tanya Dinda memastikan, jiwa kepo nya mulai keluar.
"Anak adopsi," jawab Amera yang tiba-tiba muncul, membuat Dinda merasa kecewa.
"Oh anak adopsi, tapi kok bisa mirip yah?" ucap Dinda masih menelisik wajah Adara.
"Kan mirip, gak harus punya ikatan darah," jawab Amera sambil tersenyum tipis.
"Tante, ngapain sih kesini segala?" dengus Adara menatap Amera tidak suka.
"Kan karena kamu, Ayah mu sudah menitipkan mu ke Tante," jawab Amera berusaha untuk terlihat tenang, padahal dalam hati sedikit kesal, karena biasanya Adara tidak pernah bersikap begitu.
"Hari ini juga ada les private, jadi harus pulang," lanjut nya membuat gadis kecil itu cemberut.
"Les lagi, les lagi, Bener-Bener membosankan," gerutu gadis kecil itu merasa kesal.
"Itu demi kebaikan mu, agar kamu pintar," jawab Dinda berusaha untuk membujuk.
"Iya kah? Nanti kalo Aku pintar, Ayah bakal sayang Aku yah?" tanya anak kecil itu dengan antusias.
"Iya bukan cuma itu, Dia akan bangga punya anak sepintar dirimu," jawab Dinda mengangguk mengiyakan.
"Terimakasih Tante, Adara pulang dulu kalo gitu," pamit Anak kecil itu yang tampak terlihat bersemangat, padahal tadi terlihat kesal.
Dinda pun hanya menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan perubahan sikap gadis itu.
Kemudian gadis kecil itu, langsung berjalan ke arah Amara, membuat Amara menoleh.
"Tante Amira, Adara pulang dulu, kalo ada waktu, Adara kemari lagi," Pamit nya yang di balas anggukan oleh wanita itu.
"Tante di sini ngapain?" tanya Amera basa-basi.
"Menemui Ama, eh Amira karena ada pasien yang ku tolong tadi," jawab Dinda hampir keceplosan, karena salah sebut nama, karena Amera tidak tahu tentang kejadian itu.
"Oh begitu yah, oke deh. Aku bawa Adara pulang dulu yah," ucap Amara mengangguk mengerti, lalu segera berjalan ke arah dimana gadis kecil itu sudah keluar terlebih dahulu.
"Nyonya Dinda, tidak berniat pulang?" tanya Amara saat melirik ke arah pintu, sudah ada pasien menunggu nya.
"Bunda, boleh peluk dulu gak?" pinta Dinda menatap Amara dengan penuh harap.
"Jangan ngelunjak deh," jawab Amara dengan dingin.
"Kalo gitu, Bunda di sini saja, menemani mu bekerja." Dinda tetep duduk di bangku nya, wanita itu sengaja bersikap begitu karena ingin menunjukkan keteguhan hati nya, untuk meluluhkan hati anaknya.
Amara yang kesal langsung mendekat, karena tidak mungkin membiarkan, Dinda tetep duduk di situ nanti pasien nya malah tidak nyaman.
"Sebentar saja, lalu cepat pergi," ketus nya sambil melebarkan tangan nya agar Dinda memeluk nya.
Dinda yang mendapatkan lampu hijau, merasa senang, Dia tidak membuang waktu, langsung memeluk Amara dengan erat.
Rasa hangat itu menyelimuti tubuh Amara, kerinduan yang di pendam nya selama 7 tahun terselesaikan sudah, tapi wanita itu hanya bergeming tidak sedikitpun ingin membalas pelukan Dinda.
Sedangkan Dinda merasa bahagia, karena bisa merasakan pelukan putri yang selalu di rindukan nya, wanita itu tidak bisa menahan diri nya agar tidak menangis, hal itu membuat jas Amara basah.
"Sudah Saya bilang, Saya gak suka orang nangis," dengus Amara saat jas nya basah karena air mata Dinda.
"Maaf, Bunda terlalu senang, kalo gitu biar jasnya nanti, Bunda cuci." Dinda dengan sengaja nya mengelap ingus di jas Amara, sambil masih memeluk Amara dengan erat.
"Anda sengaja yah? Pake trik itu," ketus Amara sambil melepaskan pelukan Dinda.
"Tidak sengaja kok," jawab Dinda berkilah, Dia menyembunyikan rasa bahagianya.
"Kalo mau jas ku, bilang aja gak usah, pake trik begitu," Amara langsung melepas jasnya, membuat Dinda menerima nya.
"Nanti Bunda, cuci dengan bersih yah," ucap Dinda tersenyum senang.
"Tid..."
"Bunda pulang dulu, kalo ada waktu nanti Bunda anterin ," potong Dinda dengan cepat sambil mencium pipi Amara, setelah nya langsung keluar dari ruangan itu, Amara yang mendapat ciuman Bundanya terdiam, Dia merasa tidak bisa melakukan apapun, karena sekesal apapun, Dia tetep sayang pada bunda nya.
"Huh wanita itu selalu bertingkah seenaknya," gumamnya sambil memegangi pipinya.
Sedangkan Dinda setelah keluar dari ruangan itu, terus menciumi jas putri nya sambil berjalan, bodo amat lah Dia di anggap orang gila yang penting Dia bahagia.
Setelah kepergian Dinda, Amara langsung mengurus pasien nya yang sedari tadi menunggu, karena keberadaan Dinda.
Hari itu Amara bekerja dengan baik, Dia juga tidak keluar dari ruangan nya selain ke UGD, bahkan makan pun Dia titip ke suster dan makan di ruangannya.
Setelah merasa lelah selama seharian mengurus banyak pasien, wanita itu memutuskan pulang, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore.Hari ini kakak iparnya tidak masuk, jadi tidak ada drama atau keributan selain masalah Dinda tadi pagi.
Wanita itu berjalan dengan santai, ada beberapa perawat dan dokter menyapa nya, yang hanya di balas anggukan saja.
Namun saat sudah berada di parkiran, Dia melihat sosok pria berjas dokter tengah bersandar di mobilnya, seperti menunggu diri nya.
Pria itu langsung mendongak saat Amara membuka kunci mobil, karena lampu otomatis menyala, hal itu membuat Amara yang melihat pria itu merasa terkejut.
"Ara," panggilan itu yang keluar dari mulut pria itu.
"Berapa kali sih Aku ngomong? Aku Amira, ngerti gak sih?" sergah Amara dengan dingin.
"Berhenti pura-pura, Ara.Kenapa sih gak mau ngaku?" Arnav memeluk Amara dengan erat.
"Aku tahu itu kamu, kalo gak mana mungkin kamu kemarin datang ke makam Zelin," lanjut nya sambil menitikkan air mata.
"Lepasin deh." Amara berusaha untuk melepaskan pelukan pria itu, namun Arnav sangat begitu erat.
"Kemana saja dirimu selama ini? kamu tahu Aku kehilangan arah saat kita bercerai," Arnav bertanya, Dia menatap ke arah Amara, dengan tangan yang masih melingkar di pinggang wanita itu.
"Cih gak usah berlagak playing Victim deh, kita udah selesai sejak kepergian Zelin, kamu sendiri yang memilih untuk itu," Sarkas Amara dengan dingin sorot mata nya, sangat begitu penuh kebencian, lalu segera melepaskan tangan pria itu.
"Apa maksudnya? kamu yang pergi dari ku, lalu setelah 7 tahun menghilang, malah nikah dengan calon adik ipar," jawab Arnav merasa tidak terima.
"Udahlah gak usah di jelasin, semuanya gak bisa merubah apapun, karena Zelin juga gak bakalan balik," Sergah Amara mencoba untuk biasa saja, walaupun dada nya terasa sangat begitu sakit.
"Mulai hari ini jangan ganggu, biarkan Aku dengan pilihan ku, anggap Aku adalah Amira," lanjutnya, lalu segera menyingkirkan Arnav yang menghalangi jalan nya, namun Arnav malah memegang tangan nya membuat wanita itu berbalik badan.
"Kalo Aku tidak mau gimana? Sergah Arnav menatap Amara dengan tatapan penuh arti.
"Aku akan menghancurkan hidup mu," jawab Amara sambil menunjuk-nunjuk dada Arnav.
"Sekarang Aku adalah pemimpin,Yuda Group.Jika kau tidak ingin hidup mu hancur makan dengerin ucapan ku, ini bukan sebuah peringatan, tapi sesuatu yang harus di lakukan, BERHENTI MENGGANGU." lanjutnya dengan penuh penekanan, setelah nya wanita itu langsung masuk ke dalam mobil nya.
Sedangkan Arnav hanya termangu saat mobil Amara langsung tancap gas gitu aja, Dia merasa dirinya sudah tidak ada harapan lagi, Dia merasa Amara bukan wanita yang dulu iya kenal tapi seseorang yang berbeda.
Sedangkan Amara yang berada di dalam mobil terisak, Dia memukul setir kemudi merasa benci dengan apa yang terjadi, Dia merasa belum bisa berdamai dengan masa lalu, masa lalu yang membawanya pada titik kehancuran nya.
Flashback on
BERSAMBUNG