Gayatri, seorang ibu rumah tangga yang selama 25 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk melayani keluarga dengan sepenuh hati. Meskipun begitu, apapun yang ia lakukan selalu terasa salah di mata keluarga sang suami.
Di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun, bukannya mendapatkan hadiah mewah atas semua pengorbanannya, Gayatri justru mendapatkan kenyataan pahit. Suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya yang cantik nan seksi.
Hidup dan keyakinan Gayatri hancur seketika. Semua pengabdian dan pengorbanan selama 25 tahun terasa sia-sia. Namun, Gayatri tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada nasib begitu saja.
Ia mungkin hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi bukan berarti ia lemah. Mampukan Gayatri membalas pengkhianatan suaminya dengan setimpal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI 25
Gayatri duduk sambil memeluk lututnya, ia berada di rumah Anin untuk saat ini. Meski telah pergi dari sumber rasa sakitnya, hal itu tak serta merta membuat keadaannya membaik.
“Gayatri, ayo makan dulu.”
Anin sudah membawa bubur yang dimasaknya sendiri untuk Gayatri. Ia meletakan piring itu di nakas dan menepuk bahu Gayatri pelan.
Perempuan itu tersentak dari lamunannya dan menoleh. “Kenapa kau membawaku ke sini, Anin?” tanyanya pelan. “Jika aku tidak ada di rumah, keluargaku pasti akan kesulitan,”
Anin menggelengkan kepala, bahkan di saat seperti ini pun Gayatri masih saja memikirkan keluarganya.
“Untuk sekarang, kau harus tinggal di sini, setidaknya sampai keadaanmu membaik. Kau membuatku sangat khawatir Gayatri.”
“Aku … aku sudah membaik, tolong antarkan aku pulang, Nin. Anak-anak pasti membutuhkanku, ibu mertuaku, ayah mertuaku. Semuanya pasti membutuhkanku,” katanya dengan wajah yang masih pucat.
“Gayatri, apa kau sadar? Untuk sebentar saja, tolong pikirkan dirimu sendiri!” sentak Anin, kesal.
Gayatri selalu saja seperti itu, tak pernah berubah. Selalu memikirkan dan mementingkan keluarga dibandingkan dirinya sendiri.
“Anin, kumohon.” Gayatri kembali memelas.
Tetapi, Anin menggeleng pelan. “Aku akan mengantarmu pulang, tapi kau harus memberitahuku apa yang terjadi di kamarmu hari itu, apa yang kau lihat sampai kau jatuh pingsan dan histeris.”
Gayatri terdiam. Mulutnya kembali terkunci.
Hal itu membuat Anin semakin gemas. “Aku tahu hal ini pasti sangat menyakitkan bagimu. Tapi, Gayatri. Kau tidak bisa memeluk luka itu selamanya, atau kau sendiri yang akan hancur,” kata Anin seraya menggenggam tangan sahabatnya itu.
“Apa kau tidak tahu semua orang sangat mengkhawatirkan dirimu? Keandra, Keenan, Kaluna bahkan mertuamu juga sangat mengkhawatirkan dirimu.”
Mendengar hal itu, Gayatri mendongak, menatap Anin dengan mata yang berkaca-kaca. “Anin, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku … mereka … mereka benar-benar menjijikkan!” kata Gayatri, tangisnya pecah seketika.
Saat Gayatri mengingat kejadian itu, ia benar-benar merasa jijik. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya dan Nadya sudah melangkah sejauh itu. Keyakinan Gayatri hancur seketika.
Anin langsung memeluk tubuh Gayatri, menepuk-nepuk punggungnya pelan. “Ya, seperti itu, luapkan semua perasaanmu. Aku ada bersamamu, Gayatri.”
Selama beberapa saat, Anin menunggu hingga tangis Gayatri reda. Ia paham betul bagaimana perasaan Gayatri. Sebab ia juga pernah berada di posisi yang sama. Untuk itulah, Anin tidak mau Gayatri menjadi lemah.
“Aku tahu kau wanita yang kuat, Gayatri. Kau pasti akan bisa melalui ini semua dengan caramu yang luar biasa,” katanya mencoba menguatkan Gayatri. “Dan jika kau ingin membalas perbuatan mereka, inilah waktu yang tepat.”
Gayatri melepaskan diri dari pelukan Anin dan menatap sahabatnya dengan mata yang sembab. Ia mengusap air matanya pelan.
“Kau benar, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat demi anak-anakku, dan demi hidupku sendiri,” katanya yakin. Ia bangkit dan berjalan ke arah cermin yang ada di kamar itu.
Gayatri menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghapus jejak-jejak air matanya dan berdiri dengan tegak.
Anin tersenyum melihat ketegaran dan kepercayaan diri Gayatri mulai bangkit. Ia berdiri di samping Gayatri dan meyakinkan perempuan itu. “Kau pasti bisa, Gayatri.”
Gayatri menoleh, “Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri,” katanya dengan yakin yang membuat Anin semakin tersenyum semakin lebar.
“Inilah Gayatri yang sesungguhnya. Yang tidak mudah dihancurkan keadaan, yang selalu bangkit bahkan setelah terpuruk sekalipun. Ini kekuatanmu yang sebenarnya,” ucapnya bangga.
Gayatri tersenyum, kini ia akan mengangkat kepalanya tinggi dan tidak akan membiarkan Mahesa untuk menundukkan kepalanya lagi. Kini, Gayatri akan hidup sebagai dirinya sendiri.
“Sekarang, kau bisa antarkan aku pulang, Nin? Aku harus melakukan sesuatu,” katanya.
Anin mengangguk.
***
Di rumah, setelah Anin membawa Gayatri pergi dari sana, mereka semua kesulitan untuk mengurus rumah. Semuanya menjadi berantakan. Tidak ada yang membuatkan mereka sarapan atau teh, tidak ada yang bisa memasak makanan seperti Gayatri, tidak ada yang membereskan rumah seteliti Gayatri melakukannya.
Mereka semua seperti kehilangan arah di rumah itu, terutama Kaluna, Keenan dan Mahesa yang kesulitan untuk beraktifitas seperti biasa.
Mahesa bahkan harus merekrut seorang asisten rumah tangga untuk merapikan rumah dan segala kekacauan yang terjadi di rumah.
“Ibu, kau melihat di mana minuman proteinku?” tanya Mahesa, mencari-cari minuman itu di rak dapur dan kulkas.
Sarita menggeleng, ia sibuk memasak sup. “Coba cari dari rak atas. Oh ya ampun, Gayatri hanya pergi dua hari tapi rumah ini benar-benar kacau,” keluhnya merasa lelah.
“Aku kesulitan mencari buku pelajaranku.” Kali ini Kaluna yang menghampiri sang kakek.
Wira yang sedang menyiram tanaman itu menoleh, “Apa? Mungkin kau lupa di mana meletakkannya. Ayo Kakek bantu cari,” katanya langsung meninggalkan pekerjaannya.
“Jika Ibu ada di sini, aku tidak akan kesulitan menemukan apa pun, Kakek. Kapan Ibu akan pulang? Aku rindu Ibu.” Kaluna pun mengeluhkan hal yang sama.
Sementara di kamar, Keenan pun kesulitan untuk menemukan charger laptopnya. “Sial! Di mana charger itu? Aku pasti terlambat untuk presentasi hari ini,” omelnya masih terus mencari-cari benda yang dibutuhkannya.
Tepat saat itu, Keandra melintas di depan kamar sang kakak. “Kau sedang mencari apa, Kak?” tanyanya, penasaran.
“Oh, Keandra. Apa kau melihat charger laptopku ini? Laptop milikku mati dan aku tidak tahu dimana meletakkannya. Sial, jika Ibu ada, Ibu pasti tahu tempatnya,” ucapnya kesal.
Keandra menggeleng pelan., “Ibu biasanya meletakkan charger di sini.” Ia membuka laci kecil di meja dan menemukan charger yang dicari Keenan di sana.
Keenan bernapas lega. “Ah, syukurlah. Terima kasih, kau sangat membantu,” katanya mengambil charger itu dari tangan Keandra.
“Kau mulai merasakannya bukan, Kak? Tanpa Ibu, kita tidak bisa melakukan apapun dengan benar, Kita bahkan tidak bisa menemukan barang-barang kita sendiri,” ucap Keandra tiba-tiba dengan senyum tipis.
Keenan tertegun di tempatnya.
“Ternyata benar, kita baru akan menyadari betapa pentingnya seseorang itu saat kehadirannya tidak ada.” Keandra berbalik badan.
“Tapi, saat Ibu ada di sini, kita bahkan lupa bagaimana cara menghargai keberadaannya,” tandasnya lalu langsung berjalan keluar dari kamar Keenan.