Dua keluarga yang terlibat permusuhan karena kesalahpahaman mengungkap misteri dan rahasia besar didalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagerNulisCerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Tak Berdarah
Saat ini, hidup Ratri tampak terasa seperti benang kusut yang tak kunjung terurai. Masalah datang bertubi-tubi tanpa jeda. Suaminya, Alfian, terjerat kasus hukum yang berat. Anaknya, Aldi, lebih dahulu mendekam di penjara dan kondisinya semakin memprihatinkan dari hari ke hari. Ratri hampir kehabisan tenaga—baik fisik maupun batin.
Hari ini, ia datang membesuk suaminya. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan langkahnya terasa berat seolah setiap langkah memikul beban yang tak terlihat.
Begitu Alfian muncul dari balik pintu sel, air mata Ratri langsung jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Pah, gimana sehat” ucapnya dengan suara bergetar
"Ya beginilah mah"—Alfian menjawab dengan nada pasrah, lalu duduk tepat didepan lastri
“Apa yang bisa manah lakukan agar papah bisa bebas dari sini pah?”
Nada suaranya campur aduk antara putus asa dan harapan yang hampir padam.
Alfian menunduk. Bahunya turun, napasnya berat. Wajahnya yang dulu tegas kini terlihat kusut oleh kelelahan dan tekanan.
“Papah juga bingung, mah,” jawabnya lirih, suaranya terdengar lelah dan frustrasi.
“Apa pun yang papah lakuin selama ini… nggak ada hasilnya.”
“Nggak ada yang bisa nyelametin papah.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Ratri dengan sorot mata penuh harap.
“Coba mamah datengin Mas Angga sama Papa,” lanjutnya pelan.
“Minta mereka cabut tuntutannya. Cuma itu satu-satunya jalan.”
Ratri mengusap air matanya, dadanya terasa sesak.
“Terus… Aldi gimana, pah?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Mama kasihan… tiap hari liat dia makin kurus.”
Alfian menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya.
“Sudahlah, mah,” katanya dingin, meski jelas ada konflik dalam suaranya.
“Biarkan anak itu nerima dulu akibat dari apa yang dia lakuin.”
“Papah aja lagi pusing sama urusan papah sendiri.”
Ratri terdiam. Jawaban itu seperti pisau tumpul—tidak menusuk, tapi menyayat perlahan.
Mereka terus berbincang, memutar otak, mencari celah di antara tembok hukum yang terasa semakin rapat. Namun tak satu pun ide terasa benar-benar menjanjikan.
Di sel lain, Aldi masih terduduk di sudut ruangan. Tubuhnya terasa nyeri di mana-mana. Penyiksaan yang ia alami sejak pagi meninggalkan rasa sakit yang belum juga reda.
Namun ada satu hal yang membuatnya bingung.
Suasana sel berubah drastis.
Para napi yang biasanya kasar, hari ini justru bersikap aneh—terlalu baik.
Bos sel mendekat sambil menyodorkan jatah makanan yang terlihat lebih lengkap dari biasanya.
“Nih, Al,” katanya dengan nada dibuat ramah.
“Makan yang banyak.”
“Jangan capek-capek, ya.”
Aldi memandangi makanan itu sejenak, seolah tak percaya. Pikirannya bekerja keras mencerna perubahan mendadak ini.
“Oh… iya, Bang,” jawabnya ragu.
“Makasih.”
Tanpa menunggu lama, ia langsung melahap makanan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menerima jatah makan utuh.
Wawan mendekat, ekspresinya tak lagi sangar seperti biasanya.
“Al,” katanya sambil menepuk bahu Aldi.
“Sini gue pijitin badan lu.”
“Maaf ya tadi… gue kelewat kasar.”
Aldi reflek menggeleng cepat.
“Nggak usah, Bang,” ucapnya gugup.
“Nggak apa-apa, beneran.”
Sebelum suasana semakin canggung, seorang sipir muncul di depan sel.
“Saudara Aldi,” katanya datar.
“Ada tamu yang mau ketemu.”
Aldi terkejut.
“Saya boleh bawa makanan saya, Pak?” tanyanya hati-hati.
“Boleh,” jawab sipir singkat.
“Silakan.”
Aldi melangkah keluar. Jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat sosok yang berdiri menunggunya.
Ibunya.
“Mah…”
“Akhirnya mamah datang juga.”
Nada suaranya pecah. Harapannya kembali muncul.
“Mah, tolong Aldi,” katanya sambil menahan tangis.
“Tolong bebasiin Aldi dari sini.”
Begitu makanan diletakkan di atas meja, Aldi langsung memeluk ibunya erat-erat. Tangisnya pecah, tanpa bisa ia tahan lagi.
Ratri mengelus punggung anaknya, air matanya ikut jatuh.
“Sayang…” ucapnya lembut, penuh penyesalan.
“Maafin mamah.”
“Mamah bakal usaha lebih keras lagi.”
“Pokoknya kamu harus keluar dari sini secepatnya.”
Ia mendorong wadah makanan ke arah Aldi.
“Ini mamah bawain lauk sama sayur kesukaan kamu.”
“Cepet dimakan, ya.”
“Biar kamu nggak makin kurus.”
Tanpa banyak bicara, Aldi langsung makan dengan lahap.
Melihat itu, hati Ratri seperti diremas. Ada rasa bersalah yang menggerogoti batinnya. Dalam benaknya, satu nama mulai terlintas—seseorang yang mungkin bisa membantu.
Di tempat lain, suasana sore di rumah Wijaya terasa jauh lebih ringan.
Micha dan Tiara duduk berdampingan di ruang tamu, televisi menyala sebagai latar.
“Dek,” kata Micha santai sambil menoleh.
“Mau nemenin kakak ke supermarket, nggak?”
“Mau beli perlengkapan mancing.”
Ia tersenyum kecil.
“Weekend ini rencananya kakak, Nathan, ayah, sama kakek mau mancing.”
“Sekalian belanja, mumpung lagi free.”
Tiara menghela napas kecil, lalu tersenyum miring.
“Sebenernya Tiara agak sibuk,” jawabnya ringan.
“Tapi karena donatur Tiara yang minta…”
Ia berdiri sambil tersenyum penuh kode.
“Oke lah.”
“Gas.”
“Tapi kayak biasa ya, Kak.”
Micha tertawa kecil.
“Aman itu mah.”
Berbeda dengan rumah Wijaya, rumah Hutomo justru terasa dingin. Sejak kebusukan Alfian terbongkar, kehangatan di rumah itu perlahan menghilang.
Ruang makan dan ruang keluarga yang dulu ramai kini sunyi.
Naura duduk termenung.
“Kak…” ucapnya lirih pada Marvin.
“Sampai kapan cobaan di keluarga kita datang terus?”
“Nana sedih liat ayah sama kakek berubah murung.”
Marvin menghela napas, mencoba tetap tenang.
“Udah, Dek,” katanya menenangkan.
“Jangan terlalu dipikirin.”
“Biar ayah sama kakek nyiapin diri nerima semuanya.”
Tiba-tiba suara dari depan rumah memecah keheningan.
“Permisi…”
“Vin, Na…”
“Mas Angga sama Papa ada?”
Ratri berdiri di ambang pintu.
“Ada, Tante,” jawab Naura cepat.
“Nana panggilin ya.”
Naura naik ke lantai atas.
“Pah,” katanya hati-hati.
“Di bawah ada Tante Ratri.”
“Kayaknya ada yang mau dibahas.”
“Iya, sayang,” jawab Angga singkat.
“Papa ke bawah.”
Beberapa menit kemudian, Angga berdiri di hadapan Ratri.
“Mau apa kamu ke sini, Rat?” tanyanya ketus.
Ratri langsung menunduk.
“Mas…”
“Aku mohon.”
“Maafin Alfian.”
Suaranya gemetar.
“Bagaimanapun dia masih bagian dari keluarga Hutomo.”
“Adik mas Angga.”
“Aku tahu kesalahannya fatal…”
“Tapi tolong, Mas.”
“Aldi juga di penjara.”
Pak Hutomo turun, wajahnya merah menahan amarah.
“Untuk apa saya bebaskan anak tak tahu diuntung itu?” bentaknya.
“Anak setan!”
“Anak bejat!”
“Anak durhaka!”
Matanya berembun.
“Mau saya bebaskan?”
“Kembalikan nyawa istri dan cucu saya.”
“Bisa?!”
Ratri terduduk lemas. Tangisnya pecah.
Naura segera memeluk pundak tantenya.
Dengan sisa tenaga, Ratri bersujud.
“Pah… Mas…”
“Ratri mohon.”
“Apa pun akan Ratri lakukan.”
Namun mereka tak bergeming.
Usaha Ratri sia-sia, tangisan buaya yang sudah ia rancang dengan skebario yang telah ia persiapkan untuk membuat keluarga mertuanya iba gagal total dan sia-sia.
Dalam diam, Ratri membuka ponselnya. Sebuah pesan ia ketik.
“Ayo ketemu di Kafe Kamboja.”
“Ada yang perlu kita bicarakan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung
Luka karena kehilangan itu sangat amat terasa sakit tanpa kita tahu pada bagian mana luka itu ada. Tidak ada berbekas dan tidak akan pernah hilang yang ada hanyalah cara kita untuk membiasakan diri tanpa orang yang kita sayangi.