Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Mentari muncul setelah bulan sudah menuntaskan tugasnya. Sama halnya seperti matahari, perempuan dengan balutan baju rawatnya dengan perlahan membuka matanya yang telah semalaman menutup. Matanya melihat sekitar yang sepi dan berakhir pada sosok disampingnya dengan tangan tergenggam. Sudut bibirnya melengkung kecil saat tahu siapa laki-laki disampingnya ini.
Seorang dokter datang dengan satu perawat dibelakangnya.
"Wah, Bu Salma sudah bangun? Gimana kondisinya Bu?" Tanya dokter berbisik karena diminta oleh khaulah agar suaminya tidak terbangun.
"Alhamdulillah dok."
"Saya periksa dulu yah?" Dokter Merry meminta izin pada pasiennya dan di setujui oleh khaulah. Dokter pun mulai memeriksa, dari mulai detak jantung, peraturan napas, tensi darah, serta pemantauan luka yang takutnya infeksi.
"Hasilnya bagus semua, normal. Tinggal penyembuhan luka nya saja yah Bu."
"Makasih dok."
"Sama-sama, Bu Salma pernah kecelakaan yah sebelumnya? Maaf menanyakan hal ini."
"Gapapa dok, Iyah betul, dan baru tiga Minggu saya sadar dari koma." Ujar khaulah tersenyum. "Tapi, kenapa sekarang saya tidak koma yah dok?"
"Iyah, karena kecelakaan pertama kamu dengan sadar melihat mobil yang akan menabrak kamu sebabnya otak menimbulkan trauma yang dalam hingga membuat kamu tidak sadarkan diri dengan tempo yang lama benar?" Pernyataan itu dibenarkan oleh khaulah. "Sedangkan kecelakaan ini, kamu tidak sadar jika ada mobil yang akan menabrak kamu, makanya kamu tidak koma, hanya sempat kritis saja karena kekurangan darah." Jelasnya.
"Jadi, karena itu yah dok."
"Iyah.."
"Makasih dok sudah menjelaskan secara detail, ilmu baru untuk saya."
"Hahaha, sama-sama, oh yah nanti perban nya digantikan oleh suster yah? Saya permisi dulu. Istirahat yang cukup supaya cepat sembuh biar suaminya senang lagi."
Khaulah terkekeh. "Makasih dok."
Setelah kepergian dokter dan perawat. Khaulah kembali memejamkan matanya karena melihat suaminya yang masih terlelap tidak terusik sedikitpun ingin ia jahili. Fatih membuka matanya dan melihat istrinya yang masih tertidur. Pikirnya. Dengan pelan ia naik ke ranjang rumah sakit milik khaulah. Memeluk istrinya, lalu mengecup singkat kening istrinya. Khaulah merasa geli, dan mungkin ini saatnya untuk mengejutkan suaminya. Khaulah bergerak pelan mengubah posisinya menjadi menyamping memeluk suaminya. Sesuai rencana Fatih terkejut merasakan pergerakan istrinya.
"Sayang.., kamu udah bangun?" Tanyanya masih belum sepenuhnya percaya.
"Hm." Singkat khaulah. Membuat Fatih memeluknya erat. "Mas, saya gak bisa napas." Khaulah memukul dada bidang suaminya.
"Maaf sayang."
"Kamu mau minum?" Tanya Fatih. Khaulah mengangguk. Lalu Fatih turun dari ranjang, mengambilkan minum untuk khaulah.
"Pelan-pelan." Peringkat nya.
"Alhamdulillah. Makasih mas."
"Sama-sama sayang."
"Mas.."
"Apa sayang?"
Khaulah merentangkan tangannya meminta pelukan. Fatih menuruti keinginan istrinya.
"Saya senang kamu manja seperti ini."
"Hm, biasanya juga manja tapi sama abi ehehe."
Fatih memainkan rambut panjang khaulah. Khaulah merasa nyaman dipeluk seperti ini, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang suaminya. Bahu dan badannya yang lebar menutupi seluruh tubuh kecil istrinya.
"Nyaman hm?" Khaulah mengangguk, dan dirasakan oleh Fatih. "Tidur lagi saja."
"Mas?"
"Kenapa hm?" Fatih mengecup rambut istrinya.
"Saya tidak sholat magrib, isya dan subuh."
"Gapapa sayang, bisa di qodho."
"Mau qodho sekarang boleh gak?"
"Boleh, kalau kamu sudah sehat. Kalau untuk sholat Dzuhur boleh." Khaulah merenggangkan pelukannya. "Mas nyesel gak pilih saya?"
"Ganti."
"Apanya?"
"Pertanyaan nya." Fatih berubah murung, ia tidak suka dengan pertanyaan istrinya.
"Maaf, pertanyaan nya menyinggung mas yah?" Sesalnya.
"Saya tidak menyesal memilih kamu. Karena kamu tahu?" Khaulah menggeleng. "Karena Allah sendiri yang mendatangkan kamu kepada saya, Allah sendiri yang membuat saya memimpikan seorang wanita untuk pertama kalinya, dan wanita itu adalah kamu, Ummu Salma Hayek Khaulah Alie Zafeer bin Muhammad Alie Zafeer."
Khaulah salah tingkah dibuatnya. Tanpa sadar ia mengeratkan pelukannya kembali menduselkan wajahnya di dada bidang Fatih.
"Nama kamu panjang sekali ditambah dengan nama ayah mu."
"Oh jadi mas tidak ikhlas? Padahal nama mas Fatih juga panjang. Al barra' Fatih Ahmed Zainuddin bin Ahmed Zainuddin."
"Hafal yah kamu?"
"Iyah dong hafal, kan di baca terus waktu doa."
"Kamu doain saya? Sama saya juga tapi.. saya tidak menyebut nama kamu."
"Curang."
Yasmine membuka pintu ruang rawat khaulah saat hendak masuk dirinya dikejutkan dengan keadaan suami-istri itu.
"Aaaakhhh." Teriaknya reflek menutup matanya dengan tangannya. "Sumpah aku gak liat kalian ngapain."
Fatih dan khaulah sedikit syok akibat teriakan Yasmine. Khaulah mengkode Fatih untuk turun dari ranjangnya.
"Yasmine ada apa?" Tanya Ahmed ketika mendengar teriakan Yasmine membuatnya mempercepat langkah karena khawatir. Karena teriakannya terdengar hingga lorong ruang rawat yang beruntung nya sepi.
Tanpa membuka matanya Yasmine menunjuk ke arah Fatih dan khaulah.
"Ini mereka berdua mesum aba."
"Astaghfirullahal'adzim. Yasmine..., kita gak ngapa-ngapain." Ujar Fatih. Khaulah menahan bibirnya yang bergetar menahan tawanya.
"Bohong, al bohong aba." Tuduhnya.
Ahmed tertawa karena ucapan Yasmine yang menurutnya sangat absurd. "Yah, kalau mereka mesum pun tidak apa-apa nak. Kan mereka suami-istri. Lagian tadi kalian lagi apa?" Tanya Ahmed. Membuat khaulah panik, bingung, dan malu, karena ia belum terbiasa.
"Itu privasi Abi." Jawab Fatih. "Lagian lain kali, kalau mau masuk ketok pintu dulu, Yasmine." Nasihat nya.
"Iya iya maaf."