Seorang gadis bernama Anantari yang bercita-cita dirinya menjadi seorang ratu istana kerajaan. Perjuangan menjadi ratu kerajaan tidaklah mudah. Ketika ia ingin mewujudkan mimpi sebagai seorang ratu—terlalu banyak sekali hal yang harus ia hadapi, halangan-demi halangan terus menghampiri.
Namun ia adalah seorang gadis yang hebat. Dan tidak pernah menyerah akan mimpinya. Itu semua ia jadikan petualangan, sebuah petulangan yang panjang yang penuh lika-liku, dan Anantari selalu menjalani petualangannya menjadi seorang ratu dengan sangat riang gembira. Walaupun tidak mudah Anantari mencoba tidak menyerah, sampai mimpi menjadi seorang ratu terwujud.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikhlas M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Rengo adalah salah seorang bangsawan yang berbakat.
Dari dahulu ia adalah teman salah satu teman baiknya Azura. Mereka telah menjalin hubungan pertemanan sudah sedari dahulu.
Sebelumnya ia (Rengo) hanyalah seorang pemuda biasa penduduk Aetherlyn. Namun salah satu tetangganya memberi tahu Azura bahwa tetangganya bernama Rengo, dulu kakeknya adalah salah seorang bangsawan Aetherlyn.
Lalu ketika mendengar itu Azura mulai tertarik kepada Rengo. Ia mulai mencari-cari informasi tentang Rengo ke penduduk-penduduk desa tempat Rengo tinggal.
...----------------...
Di tanah Aetherlyn. Tepatnya di desanya Rengo. Ketika para penduduk mulai tengah tidur nyenyak pada malam dini hari. Tiba-tiba desa Rengo di serang. Suara ledakan sangat dahsyat. “Boom!” ada seseorang yang hendak menyerang ke desa Rengo. Seperti serangan meriam. Namun ledakannya lebih besar di banding hanya serangan meriam. Itu adalah sebuah bom. Meluluh lantahkan dua rumah tempat desa Rengo tinggal.
Para warga mulai panik histeris ketakutan. Sebagian berteriak. Ada juga yang lari namun terpeleset. “Teng, teng, teng!” Para warga mulai menyalakan tanda bahaya. Agar seluruh para penduduk desa terselamatkan.
Namun terlihat Rengo begitu tenang. Ia beranjak dari tidurnya, karena banyak penduduk desa nya yang ketakutan. Rengo segera bergegas mencari dalang dari kerusuhan tersebut. Lalu Rengo mulai menyusuri desanya hanya seorang diri.
Beberapa menit ia menyusuri desanya yang di serang. Lalu tibalah dia di hadapkan dengan seseorang yang menyerang desanya. Ia seorang pemuda berusia sekitar 30 tahunan. Membawa obor. Sepertinya itu adalah kekuatannya.
Rengo menatap tajam sang pembuat onar tersebut. “Hahaha... Ada apa bocah, kamu menatapku seperti itu. Apa kamu membenciku?” Tanya sang pembuat onar itu.
“JADI KAU YANG MENYERANG DESA KAMI, JIKA KAU MEMBUAT ONAR DI SINI, AKU TAK SEGAN MELENYAPKAN KALIAN!” Gertak Rengo dengan sangat geram kepada sang musuh.
Terlihat musuhnya itu tertawa terbahak-bahak, mencemooh Rengo. “Apa tujuan kalian menyerang desa kami?” Tanya Rengo dengan tatapan tajam kepada musuhnya.
“Aku adalah seorang penjarah. Aku senang menjarah rumah-rumah, dan mengambil barang-barang berharga milik mereka. Lalu barang-barang itu aku jual untuk kebutuhanku bertahan hidup.” Timpal seorang penjarah.
Lalu emosi Rengo mulai meluap. “Dasar iblis!” Seru Rengo. Lalu ia memasang kuda-kudanya. Siap menyerang. Namun begitu pula sang musuh.
Ia hanya menyemburkan napasnya kepada obor itu, seketika api besar menjalar melesat ke arah Rengo. “Blarrr!” Dengan cepat api itu menyerang Rengo. Namun Rengo berhasil menghindari serangan yang dilontarkan oleh sang penjarah itu.
Jika saja Rengo lengah beberapa detik saja, api itu dengan cepat membakar tubuh Rengo. Lalu terlihat Rengo mulai membalas serangan dari sang penjarah itu. Ia lalu berteleportasi. “Tingg!” Terlihat Rengo menghilang. Seketika ia berada di hadapan sang musuh. “Wushh!” Ia mengayunkan lengannya ke arah wajah sang penjarah itu.
Namun dengan cepat sang penjarah itu mengelak menghindari serangan yang di lontarkan Rengo kepadanya. “Ting!” Rengo mulai berteleportasi. Ia menyerang kembali musuhnya. “SREK!” Dia mengayunkan lengannya ke bahu sang musuh. Lalu ia (sang musuh) terkena serangan dari Rengo. Pakaiannya sobek, darah bercucuran karena serangan Rengo berhasil mengenai serangan sang musuh.
Terlihat sang musuh kesakitan. Ia mencoba merobek bajunya agar bisa menahan aliran darah yang keluar dari tubuhnya. “SIALAN SIAPA PEMUDA ITU? BISA-BISANYA AKU TERKENA SERANGANNYA!” Gerutu sang musuh.
Sang penjarah berpikir Rengo bukan lawan sembarangan. Ia sangat kuat dan bengis. Sang penjarah berpikir, ia harus berhati-hati dengannya. Terlihat Rengo menatap tajam sang musuh. Lalu sang musuh itu kembali menyerang Rengo dengan bahunya yang di balut oleh sobekan-sobekan bajunya.
“Wushh!” Ia (sang musuh) mulai meniup obor yang bisa menyemburkan api. “Blarrrr!” Dengan cepat api itu melesat ke arah Rengo. Namun kali ini kekuatannya dua kali lebih besar di banding sebelumnya. Namun sia-sia, gerakan Rengo begitu gesit sehingga ia bisa dengan mudah menghindari serangan yang di lontarkan sang musuh kepadanya.
Lalu giliran Rengo kembali membalas serangan. Ia memasang kuda-kudanya. Menatap tajam sang musuh. Lalu Rengo melompat. Melesat terbang ke arah arah sang penjarah itu. “SREK, SREK!” Sang penjarah itu kembali terkena serangan cakar Rengo. Namun kali ini Rengo tidak memberinya ampun. Ia mulai mencar-cakar tubuh, serta wajah sang musuh.
Dan terlihat sang musuh itu menjerit kesakitan, meminta ampun. Goresan—demi goresan cakar Rengo mengoyak-ngoyak tubuh sang penjarah. “Aku menyerah, aku menyerah!” Seketika Rengo menghentikan serangannya.
Lalu ketika Rengo berhasil memojokkan sang musuh, datanglah Azura yang baru saja tiba di desanya, Azura diberi perintah oleh sang raja (Howard) agar dirinya membantu desa yang hendak sedang di serang. Karena salah satu warga desa yang di tempati Rengo telah memberi kabar ke Istana Aetherlyn. Itulah alasan Azura datang membantu.
Ketika dirinya menyusuri desanya Rengo. Ia mendengar suara teriakan dari arah Rengo. Lalu ia mencoba menyusuri suara teriakan itu. Tibalah ia di sana.
Azura mulai mengintrogasi sang penjarah. “Hei dari mana kalian berasal?” Tanya Azura sambil menodongkan pedang melengkungnya ke arah sang musuh. “Aku berasal dari desa Tegalrejo Tuan.” Jawab sang penjarah.
Lalu Azura menanyakan, dengan siapa mereka hendak menyerang. Azura berpikir pasti sang penjarah itu menyerang dengan bergerombol dengan komplotannya.
“Aku bersama dengan 9 para penjarah yang berasal dari desa yang sama tuan.” Sahutnya. Lalu Azura mulai meminta agar mereka hendak di bawa ke desanya para penjarah itu tepatnya pergi ke desa Tegalrejo.
“Baik tuan, saya akan mengantarkan anda ke sana.” Sahutnya sambil menunduk. Azura mengangguk. “Apakah benar namamu adalah Rengo?” Tanya Azura mulai menyapa Rengo. Rengo mengangguk. “Iya benar.” Jawabnya pelan. “Aku mendengar banyak tentangmu dari tetangga di desamu.” Timpal Azura.
Lalu Azura mulai bergegas mengajak Rengo ke tempat sang penjarah itu berasal. Rengo menurut, ia mengikuti sang penjarah yang memandu perjalanan ke desa Tegalrejo.
Setelah beberapa menit menyusuri perjalanan. Mereka telah menyusuri hutan, melewati pegunungan, untuk menuju ke desa Tegalrejo. Karena desa nya cukup jauh dari daerah Aetherlyn.
Sudah satu malam mereka menyusuri hutan dan melewati pegunungan. Di siang hari sekitar jam 11 siang mereka telah tia di desa Tegalrejo. Yang berada di dekat bukit. “Selamat Datang di Desa Tegalrejo” Palang pintu yang terbuat dari kayu membentang di atas, menandakan mereka telah sampai di desa Tegalrejo.
Lalu mereka bertiga mulai masuk ke desa. Desa yang lumayan cukup besar. Banyak anak-anak yang tengah bermain kelereng, bermain engrang (sebuah permainan tradisional dari Indonesia). Terlihat anak-anak itu bersenda gurau sedang bermain.
Lalu mereka bertiga mulai menyusuri desa. Mereka pergi ketempat salah seorang penjarah yang rumahnya berada di dekat pepohonan. “Tok, tok, tok!” Sang penjarah itu mengetuk-ngetuk pintu. “JAFAR, APA KAMU SUDAH PULANG?” Teriak sang penjarah memanggil. Lalu seseorang bernama Jafar membukakan pintu. Terlihat dia bingung ketika hendak membukakan pintu. “Kau telah kembali rupanya, lalu siapa mereka?” Tanya Jafar kepada temannya sang penjarah.