Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Hari Audisi
Hari Minggu pagi. Lyla berdiri di depan cermin, merapikan poni dan menarik napas dalam-dalam. Hari ini hari audisi Noah, Ia menatap tas kecil di mejanya di dalamnya ada botol air, tisu, dan camilan yang diam-diam ia siapkan untuk Noah.
“Semoga dia nggak gugup…” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Lyla keluar rumah setelah pamit ke ibunya mau antar teman ke perpustakaan kota. Lyla menutup pintu rumahnya.
" Maafin aku ibu, kali ini aja " cengengesan ga enak hati bohong sama ibunya.
Ia melangkah cepat menuju halte. Setelah sampai dari jauh, terlihat Noah sudah menunggu di sana.
Lyla sempat berhenti sejenak. Noah hari ini… terlihat agak berbeda. Kemejanya rapi, rambutnya juga sedikit ditata. Entah kenapa, jantung Lyla langsung berdetak cepat.
“Noah~,” panggilnya sambil melambaikan tangan.
Noah menoleh, tersenyum kecil.
Lyla berdiri di sebelahnya, menatap sekilas dari ujung kepala sampai ujung sepatu.
“Hmm… kamu kelihatan beda hari ini,” ujarnya
Noah terkekeh, lalu menjawab santai, “Ini ide-nya Kak Juliet. Katanya penampilan harus niat kalau mau audisi.”
Lyla menunduk sedikit, menahan senyum yang mulai muncul.
“Cocok, sih…” katanya pelan. “Beneran kayak aktor yang mau tampil.”
" Kamu bisa saja." Noah tersipu
Begitu bus datang, Lyla dan Noah segera naik. Suara pintu otomatis menutup, dan udara sejuk dari pendingin langsung menyambut mereka duduk bersebelahan di bangku dekat jendela. Lyla menatap ke luar, melihat halte yang makin menjauh, sementara Noah diam menunduk, memainkan resleting tasnya.
Noah keliatan gugup banget… pikir Lyla. Ia melirik cepat, lalu pura-pura membenarkan poni.
“Ehm… kamu gugup, ya?” tanyanya akhirnya
Noah menoleh, tersenyum kikuk. “Sedikit.”
Tapi tangannya yang gelisah bilang hal sebaliknya.
Lyla tersenyum lembut. “Padahal kamu udah latihan terus. Aku yakin kamu bisa.”
Noah menatapnya sesaat, lalu senyum tipis muncul di wajahnya “Kalau kamu bilang gitu… aku jadi tenang.”
Lyla refleks menoleh ke jendela, menutupi wajahnya yang memanas “Jangan ngomong hal aneh tiba-tiba gitu…” bisiknya kecil.
Noah tertawa pelan, suaranya ringan. “Oke, oke. Tapi makasih ya, Lyla.”
Bus terus melaju di jalan yang mulai ramai, tapi di bangku itu dunia seolah hanya milik mereka berdua.
**
Mereka berhenti di depan gedung besar bertuliskan “Starline Entertainment”, Lyla menatap kagum. Bangunannya tinggi dan berkilau, dengan logo emas besar di bagian depan.
“Noah… tempatnya keren banget,” katanya pelan.
Noah hanya mengangguk kecil, menatap gedung itu dengan wajah serius wajah yang jarang Lyla lihat.
“Ya. Semoga nggak bikin aku gugup lebih dulu.”
Mereka masuk bersama. Di dalam, suasananya sibuk tapi rapi orang-orang lewat sambil membawa map, ada suara sepatu hak, dan aroma kopi dari mesin di pojok ruangan.
Saat mereka mendekati pintu bertuliskan “Audition Room”, seorang staf perempuan menghentikan langkah Lyla.
“Maaf, kamu bukan peserta, kan? boleh menunggu di lobi saja.”
Lyla langsung gugup. “Ah, iya! Iya, aku cuma nganter…” Ia tersenyum kikuk, lalu menatap Noah yang sudah bersiap masuk.
Noah menoleh sebentar. “Tunggu aku di sini, ya.”
“Hmm… semangat.” Lyla menggenggam tali tasnya erat, menatap punggung Noah yang menjauh.
Begitu pintu tertutup, Lyla menarik napas panjang. Ia berjalan ke sofa di lobi, duduk pelan, matanya berkeliling.Beberapa staf lewat cepat membawa berkas, ada yang bicara lewat headset, ada juga yang tertawa kecil sambil menatap layar ponsel.
Semuanya terlihat sibuk dan profesional seperti dunia yang benar-benar berbeda dari sekolahnya.
“Wah…” Lyla berbisik kecil. Ia bahkan takut bergerak, takut dikira orang luar yang nyasar.
Tapi tiba-tiba
Seorang pria tinggi lewat di depannya Rambutnya rapi, wajahnya familiar… sangat familiar. Mata Lyla membesar.
Itu...itu kan Julian ?!
Aktor muda yang sering muncul di drama favoritnya! Lyla langsung menunduk cepat, wajahnya memanas.
I-iya ampun! Dia asli!! Aku beneran lihat dia!!
Ia pura-pura fokus melihat ponsel, tapi ekor matanya tetap mengintip. Julian lewat sambil tersenyum sopan ke staf lain senyum yang biasa dia lihat di TV, tapi sekarang jaraknya cuma dua meter!
Lyla menutup mulutnya pelan, berusaha menahan diri biar nggak heboh sendiri.
“Tenang, Lyla, tenang… jangan tiba-tiba nyengir di depan orang …” gumamnya lirih.
Setelah itu Lyla berjalan perlahan di lorong gedung itu. Langkahnya kecil, hati-hati, tapi matanya berbinar penuh rasa ingin tahu dindingnya dipenuhi foto-foto artis yang sudah debut semuanya terlihat keren dan karismatik.
“Wah…” gumam Lyla pelan, matanya berhenti pada salah satu foto Julian Kim aktor muda favoritnya.
“Noah pasti juga bakal kayak gini nanti…”
Baru saja ia tersenyum sendiri, sebuah suara berat terdengar di belakangnya.
“Kamu staf baru, ya?”
Lyla langsung menoleh. Seorang pria dewasa berjas hitam berdiri dengan ekspresi serius.
“A-apa?” Lyla berkedip, panik.
Pria itu tidak memberi kesempatan. Ia mendesah, lalu menarik pergelangan tangan Lyla. “Kalau kamu staf, jangan santai-santai di lorong. Cepat bantu angkat properti audisi di ruang dua!”
“T-tunggu! Aku bukan..”
Tapi pria itu sudah melangkah cepat, Lyla setengah berlari mengikutinya dengan wajah panik.
Begitu sampai depan ruangan, Lyla buru-buru melepaskan diri “Aku bukan staf!” serunya dengan Suara pelan.
Pria itu menatapnya, tampak baru menyadari sesuatu “Hah? Bukan staf? Lalu siapa kamu?”
“Aku cuma… temannya peserta audisi,” jawab Lyla cepat, menunduk malu.
Suasana hening sebentar. Lalu pria itu terkekeh kecil “Oh, maaf. Kukira kamu staf baru.”
Lyla menggeleng cepat, pipinya merah "N-nnggak apa-apa…”
Begitu pria itu pergi, Lyla menepuk dadanya pelan "Hampir aja aku disuruh ngangkat kursi beneran… aku nggak boleh berkeliaran seperti ini”
Ia pun tertawa kecil sendiri, lalu kembali ke arah lobi sambil berharap Noah cepat keluar biar jantungnya ikut tenang.
Sudah hampir satu jam sejak Noah masuk ruang audisi Ia sudah memainkan ujung rambutnya, melihat jam, lalu menatap pintu yang sama entah untuk keberapa kali.
“Kok lama banget, ya…” gumamnya pelan.
Beberapa peserta lain sudah keluar lebih dulu, wajah mereka terlihat lega atau justru kecewa.
Lyla jadi makin gugup sendiri, padahal bukan dia yang ikut audisi ketika ia sedang melamun, pintu ruangan itu akhirnya terbuka, Noah keluar dengan langkah pelan, wajahnya datar tapi matanya tampak bercahaya.
Lyla langsung berdiri, hampir menjatuhkan tasnya. “N-Noah!”
Noah menoleh, dan senyum kecil muncul di wajahnya. “Kamu masih nunggu?”
“Iya…” Lyla mengangguk cepat “Udah… udah satu jam.”
Noah mendekat, lalu duduk di sebelahnya di sofa “Maaf ya, lama banget. Tadi sempat diminta baca ulang naskah.”
“Berarti… bagus dong?” Lyla menatapnya, matanya berbinar penuh harap.
Noah tersenyum kecil, mengusap tengkuknya
"Nggak tahu juga. Tapi kayaknya… mereka lumayan tertarik.”
Lyla spontan menggenggam kedua tangannya sendiri, berusaha menahan rasa senang yang hampir meluap “Aku yakin kamu pasti bisa!” ucapnya lembut, tapi suaranya penuh semangat.
Noah menatapnya lama, sampai Lyla salah tingkah dan menunduk "Kalau aku lolos,” kata Noah pelan, “kamu orang pertama yang mau aku kasih tahu.”
Lyla mendongak, matanya membesar
“H-hah? Kenapa aku?”
Noah tersenyum tipis
“Soalnya kamu yang paling percaya aku bisa, kan?”
Dan di detik itu juga, jantung Lyla rasanya benar-benar berhenti berdetak.