Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang terabaikan oleh anak - anak nya di usia senja hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidup nya.
" Jika anak - anak ku saja tidak menginginkan aku, untuk apa aku hidup ya Allah." Isak Fatma di dalam sujud nya.
Hingga kebahagiaan itu dia dapat kan dari seorang gadis yang menerima nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Buruk
*****
Zeyden membuka matanya perlahan, terbangun dari tidur yang tidak nyenyak di rumah sakit. Suasana kamar yang sunyi sepi hanya diisi suara peralatan medis yang berdengung lembut.
" Sudah jam berapa ini?" Gumam Zeyden melirik jam tangan nya saat dia duduk.
Dia menoleh dan mendapati Kanaya, yang terduduk lesu di tepi brankar, matanya menatap kosong melalui jendela yang membingkai langit mendung di luar.
" Cepet banget kamu bangun nya? Apa mama sudah datang?" Tanya Zeyden.
" Ini sudah jam 8. Apa mas tidak pernah shalat subuh?"
Zeyden melirik Kanaya.
" Tidak."
Setelah menjawab, Zeyden berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Dn tak berapa lama dia keluar dengan wajah dn rambut yang basah.
Sedangkan Kanaya masih berada di posisi nya.
" Ada apa? Kamu nggak bisa tidur tadi malam karena saya temani?" Tanya Zeyden dengan suara serak, penuh kekhawatiran.
Kanaya, ada apa?" tanya Zeyden dengan suara serak, penuh kekhawatiran.
Kanaya menghela napas panjang, matanya masih terpaku pada pemandangan di luar jendela, seolah mencari jawaban dari langit.
" Saya takut, mas." Suara Kanaya terdengar bergetar.
" Saya merasa gugup memikirkan melakukan kemoterapi lagi. Saya takut dengan efek samping setelah kemoterapi nanti. Akan ada banyak perubahan dari diri saya nanti nya."
Zeyden bersandar di dekat jendela. Memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku.
Dari sana dia bisa menatap Kanaya dengan puas. Dia bahkan bisa melihat wajah ketakutan Kanaya.
" Kamu nggak sendiri. Ada bunda kamu yang menemani kmu nanti nya. Kamu tidak melewati nya sendiri, Naya." Ujar Zeyden dengan lembut, berusaha memberikan kekuatan
Zeyden menggeser tubuhnya, duduk lebih dekat dengan Kanaya. Dia meraih tangan Kanaya yang dingin, menggenggamnya dengan erat. "Aku di sini bersamamu, Kanaya. Kita akan melewati ini bersama-sama," ujarnya dengan lembut, berusaha memberikan kekuatan.
Kanaya menatap Zeyden, matanya berkaca-kaca.
" Tapi saya takut, mas. Bagaimana jika kemoterapi ini masih gagal?"
" Kita tidak akan tahu bagaimana hasil nya jika belum di jalani. Tugas kmu hanya berusaha. Biar Allah yang menentukan hasil nya nanti.
Kanaya menatap Zeyden lalu tersenyum.
" Sebentar lagi bunda saya akan datang. Mas pulang saja."
" Kamu mengusir saya?" Protes Zeyden.
" Selama saya berada di rumah skit, ruangan ini adalah ruangan saya. Saya punya hak mengizinkan siapa yang boleh dan yang tidak boleh berada di dalam ruangan ini."
" Tapi..."
" Meskipun mas itu anak pemilik rumah sakit ini." Sambung Kanaya sebelum Zeyden sempat protes.
" Kamu memang menyebalkan ya." Gumam Zeyden Manarik jas nya dari sofa.
" Kalau saya menyebalkan, sudah sana. Pulang. Jangan datang lagi."
" Saya juga mau nya gitu. Tapi nggk tahu kenapa, hati saya menolak nya." Jawab Zeyden.
Kanaya menatap Zeyden dengan pandangan yang membakar.
Dengan isyarat tak terucap, Zeyden menyatakan bahwa jantungnya menolak untuk berpisah dari Kanaya, seolah rantai tak kasat mata menarik mereka lebih dekat, lebih dari sebelumnya.
Tanpa berbasa basi lagi, Zeyden keluar dari ruang rawat Kanaya meninggalkan Kanaya dalam kebingungan.
" Walau pun mama nya baik, tetap saja nak nya bikin kesel." Gumam Kanaya kembali berbaring.
*
*
*
Zeyden tidak langsung pulang, dia memilih duduk di kursi tunggu di luar kamar rawat Kanaya. Dia mengeluarkan ponsel nya dan membaca beberapa pesan di sana.
" Zey... Kamu masih di sini?" Sapa Shafa tiba - tiba - tiba sudah ada di sana.
" Mama..."
Melihat gelagat aneh dari sang putra, Shafa memilih ikut duduk di sebelah Zeyden.
" Ada apa?"
" Boleh Zey ikut menemani Naya kemoterapi?" Tanya Zeyden.
Shafa menatap Zeyden dengan rasa heran yang tak bisa tersembunyi. Bagaimana mungkin anak satu-satunya itu menyerahkan hati dan pikirannya secara total kepada Kanaya. Apa yang membuat Zeyden sebegitu terpikat?
" Apa kamu menyukai Kanaya?" Bukan nya menjawab, sang mama malah bertanya.
" Jawab dulu pertanyaan Zey, ma."
" Kamu yang harus jawab pertanyaan mama. Setelah kamu jawab, baru mama bisa jawab."
" Lebih dari suka, ma. Jangan tanya alasan nya apa? Naya terlalu indah untuk di gambar kan." Ucap Zeyden.
" Kalau begitu lebih baik kamu pulang saja. Naya tidak akan siap berhadapan dengan kamu setelah kemoterapi nanti. Setelah kemoterapi adalah saat dimana pasien ingin sendiri. Dia tidak mau ada yang melihat dia dalam keadaan yng sangat lemah. Begitu juga yang di ingin kan Naya."
" Tapi Zey nggak bisa ninggalin Naya, ma. Rasa nya masih berat meninggalkan Naya menghadapi semua ini sendiri." Desak Zeyden lagi.
" Lalu kenapa sekarang kamu di luar? Kenapa nggak di dalam menemani Naya?" Tanya Shafa penasaran.
" Dia mengusir, Zey. Entah apa tanya ada di pikiran nya sampai dia tega mengusir orang yang sudah menemani nya semalaman." Keluh Zeyden dengan pelan namun masih bisa di dengar Shafa.
Shafa tersenyum melihat sikap putra nya itu. Dia memang kesal dengan sikap Kanaya, tapi Shafa tahu jika Zeyden begitu menyukai Kanaya.
" Kalau begitu, kamu lebih baik mandi dulu di ruangan mama. Beli pakaian ganti. Nanti mama akan panggil kamu kalau Naya sudah mau di temani sama kamu." Ujar Shafa menyentuh bahu Zeyden.
Masih dengan bibir yang melengkung, Shafa bangkit dari duduk nya dan masuk ke ruang perawatan Kanaya.
*
*
*
Ariel yang duduk di meja makan langsung bangkit saat dia melihat Aris mendekati pintu utama. Sudah rapi dengan pakaian nya.
" Mas Aris mau kemana?" Panggil Ariel.
" Mas mau ke rumah Naya. Mau bertemu ibuk. Mas akan ajak ibuk pulang, Riel." Jawab Aris.
" Tapi mas..."
" Tapi kenapa? Kamu nggak suka? Kalau kamu keberatan lebih baik kamu pergi saja dari rumah. Karena ibuk tidak akan kemana - mana lagi." Potong Aris dengan cepat melangkah keluar.
" Kalau gitu Ariel ikut mas. " Teriak Ariel.
Ariel bergegas masuk ke dalam rumahmu mengambil tas dn berlari menyusul Aris masuk ke dalam mobil
Walau pun dia kelihatan nya tidak suka jika Fatma kembali ke rumah, tapi tetap saja dia tidak bisa protes. Kalau tidak tinggal di rumah, dia harus tinggal dimana lagi?
*
*
*
Fatma baru saja melangkah keluar dari rumah. Dia mengunci rumah nya dan sip akan berangkat ke rumah sakit.
Sesaat setelah itu, suara deru mesin mobil memecah keheningan. Fatma memalingkan pandangannya ke jalan di depan rumah, hanya untuk melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya berhenti dengan kasar.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat Aris dan Ariel, turun dari mobil tersebut. " Aris ... Ariel ..." Gumam Fatma lirih.
Tangan Fatma yang memegang beberapa bungkusan tiba-tiba terasa lemas, dan dengan tergesa-gesa dia meletakkannya kembali di atas meja terdekat.
Aris, dengan langkah yang terburu-buru, berlari mendekati Fatma dan langsung jatuh berlutut, memeluk kaki ibunya itu dengan erat.
"Maafkan Aris, buk. Maaf kan Aris." Ucap Aris dengan suara yang tercekat.
" Aris tahu Aris sudah menjadi anak yang durhaka. Aris bersalah dengan ibuk. Aris tidak bisa menjaga dn melindungi ibuk. Tolong maaf kan Aris, buk." Isak Aris penuh penyesalan.
Fatma hanya diam menerima reaksi tubuh nya yng berguncang karena pelukan Aris.
" Buk... Aris mohon, pulanglah bersama kami. Aris berjanji akan memperbaiki semua kesalahan yang telah kami buat sama ibuk. Tolong maaf kan Aris dn Ariel, buk." Fatma menatap Aris dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya terasa remuk melihat kesedihan dan penyesalan yang mendalam dari anaknya itu.
Namun, saat pandangannya beralih ke Ariel yang berdiri diam beberapa langkah di belakang Aris, ia melihat ekspresi yang berbeda. Ariel hanya berdiri mematung, dengan wajah yang kosong dan tatapan yang terlihat hilang.
Fatma menghela napas dalam-dalam, menyadari betapa rumitnya keadaan keluarganya saat itu.
" Bangkit lah, Aris." Fatma membantu Aris untuk berdiri.
" Tapi ibuk tidak bisa ikut dengan kamu sekarang ini. Naya masih membutuh kan ibuk. Ibuk tidak bisa membuat kan dia berjuang sendirian." Tolak Fatma Denga mata yang berkaca - kaca.
" Berjuang sendiri? Memang Naya kenapa, buk?" Tanya Aris mengusap sisa air mata yang masih mengalir.
" Naya ada di rumah sakit. Hari ini dia akan melakukan kemoterapi. Dia sedang sakit. Dia butuh ibuk untuk mendampingi nya." Jawab Fatma.
Aris menatap Fatma dengan bingung. Padahal selama ini Kanaya tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Lalu bagaimana bisa smpai Kanaya masuk rumah sakit?