Sanaya Oktavia Pradifta terlahir di keluarga Pradifta. Mempunyai papa, mama, dan seorang adik tiri perempuan. Hari-harinya dipenuhi luka dan tangisan oleh keluarganya. Hingga suatu hari saat dirinya tertabrak mobil dan meninggal ia malah terbangun dengan situasi, kondisi, dan dunia yang berbeda.
Yah dirinya TERJEBAK DI DUNIA NOVEL yang pernah ia baca di kamar lama mamanya. Dan bagaimana caranya ia menghindari ending tragis di novel ini?
Tapi dibalik itu semua Sanaya akan mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Semua rahasia didunia novel ini akan terungkap serta kedatangan dirinya yang dinantikan oleh bangsa fairy.
Penasaran? Yuk buruan baca ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elhery_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Ciuman Perpisahan
Di sebuah kamar yang telah disiapkan untuk tamu istana. Seorang anak laki-laki duduk di samping kasur. Matanya memandang sendu ke arah jendela, terbayang ingatan kejadian saat perempuan yang sukainya menampilkan reaksi ketakutan setelah mendengar namanya. Memangnya apa yang salah dengan namanya? Pertanyaan itu terus terpatri dalam benaknya.
Kejadian kemarin lalu saat ia pergi menyamar ke pusat kota dan bertemu dengan perempuan itu kembali hadir dalam ingatannya. Saat itu ia melihat seorang anak perempuan yang melompat-lompat demi mengambil buku di rak atas. Itu terlihat lucu dimatanya. Dengan tubuh yang mungil itu dia melompat-lompat seperti sedang bermain.
Awalnya ia mengabaikan anak itu dan kembali membaca bukunya lagi. Tapi tidak menyangka anak itu meminta bantuan padanya untuk mengambil buku tersebut. Ia tentu saja menolak dan memilih mengabaikannya. Tapi anak perempuan itu malah terus membujuknya dan memaksanya. Akhirnya karena tidak ingin kegiatan membacanya terganggu. Ia membantu anak itu.
Setelah mengambilkan buku tersebut, ia meminta anak perempuan itu untuk menemaninya membaca buku sebagai imbalan karena telah menolongnya. Jujur ia merasa kesepian membaca buku seorang diri di ruangan tersebut. Dari dulu ia terbiasa sendiri dan menutup dirinya dari orang-orang. Tapi sebenarnya hal itu membuatnya kesepian tanpa ada seorangpun yang menemaninya. Ia tidak memiliki satupun teman untuk diajak bicara di istana Alvair. Baginya orang-orang yang ingin berteman dengannya hanya ingin memanfaatkan statusnya sebagai pangeran mahkota. Hal itu yang membuatnya semakin tidak ingin menjalin hubungan pertemanan.
Walaupun terpaksa anak perempuan itu tetap menemaninya membaca buku. Mungkin karena bosan, anak perempuan itu mengajak dirinya berbicara. Itu hanya obrolan biasa seputar nama dan asalnya. Dan dari obrolan itu ia bisa tau nama anak perempuan itu adalah Cristal.
Drans. Nama itu terpikir begitu saja dikepalanya saat dirinya ditanya. Hanya nama itu yang melintas di otaknya saat itu. Dan tanpa diduga anak perempuan itu membicarakan tentang dirinya, pangeran Felix.
Ternyata anak ini sama saja dengan yang lainnya. Hanya menilai orang dari covernya saja! Batinku saat itu.
Tapi tanpa diduga anak perempuan itu malah mengatakan hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Baru kali ini ia mendengar seseorang mengatakan hal yang berbeda tentang dirinya. Anak perempuan itu seolah mengerti dengan kehidupan yang ia jalani selama ini.
Bagaimana bisa seorang anak kecil sepertinya bisa melihat dan mengerti dengan jelas perasaannya. Rasa iri, marah, dan kesedihannya dapat dengan muda dibacanya.
Sejak itu ia merasa bahwa anak perempuan ini berbeda. Ia seperti melihat cahaya yang bersinar dalam dirinya. Cahaya yang menjadi simbol harapannya. Harapan jika dunianya yang kelam dan dingin suatu hari akan disinari oleh cahaya yang terang. Dulu ia tidak berharap cahaya itu akan ada tapi sekarang ia percaya bahwa cahaya itu ada.
Anak perempuan itu dengan lembut menariknya ke balik semak-semak tanpa mempedulikan siapa dirinya. Dan tanpa ragu membelanya dihadapan kakaknya. Itu hal yang tidak berarti bagi orang lain. Tapi baginya itu sangat berarti. Karena baru kali ini ia merasa benar dan tidak disalahkan. Sejak kecil, raja Delio, papanya selalu mencari kesalahan-kesalahannya. Dan tidak membenarkan apa yang ia lakukan. Tapi kali ini ia merasa dirinya benar.
Tapi perasaan bingung itu hadir kala melihat tatapan takut dari manik mata perempuan itu. Seolah dirinya adalah monster yang ingin menyantapnya. Ada apa dengan namanya? Kenapa perempuan itu ketakutan hanya karena mendengar namanya? Ia tidak bisa berhenti memikirkan hal itu. Ketakutan dan suara lirih perempuan itu bagaikan menusuk dirinya.
Sekali lagi ia bertanya pada dirinya.
"Kenapa kau takut padaku, Roselie?" Gumamnya lirih.
...............................
"Amy, kau akan terus bersama ku kan?" Roselie mengelus kepala kucingnya dengan sayang. Bayang-bayang kejadian saat ketiga sosok yang disayanginya didunia ini pergi meninggalkannya karena kehadiran orang baru membuatnya tidak bisa tidur malam ini.
Amy mengeong pelan, yang Roselie artikan dengan kata 'iya'.
Iris mata birunya menerawang saat ia mengetahui bahwa orang yang paling ia hindari dinovel ini ternyata berada dekat dengannya. Ia tertawa kecil.
"Padahal aku berusaha agar tidak pernah bertemu dengan si tokoh utama itu tapi takdir seolah melarang ku melarikan diri." Keluhnya pada Amy.
Dan mulailah cerita curhatan Roselie kepada Amy. Ia terus menceritakan masalahnya dan kekhawatirannya pada Amy. Tidak peduli jika Amy tidak mengatakan kata-kata penyemangat baginya. Yang Roselie inginkan adalah ucapannya didengar, tidak lebih.
Karena terus bercerita ia merasa mengantuk dan tak lama kemudian matanya terpejam dengan posisi tubuhnya bersandar di kepala kasurnya. Amy yang melihat tuannya tertidur juga ikut berbaring disamping Roselie dan memejamkan matanya.
Suasana dalam kamar begitu hening. Hingga sosok anak laki-laki masuk ke kamar Roselie dengan wajah letihnya.
"Untunglah kau sudah tertidur." Edgar berjalan mendekati kasur dan naik diatasnya.
Ia mengelus kepala adik kecilnya dengan sayang. Hari ini ia mendapat kabar dari Aland jika adik kecilnya ini dekat dengan seorang anak laki-laki yang merupakan seorang pangeran dari Kerajaan Alvair. Hatinya merasa tidak nyaman mendengar cerita Aland jika pangeran itu mencoba mencium adiknya. Nalurinya sebagai seorang kakak membuatnya tidak rela jika adik kecilnya direbut orang lain.
"Kau tidak boleh berteman ataupun menyukai seseorang Roselie. Tidak boleh! Beberapa jam aku tidak bersamamu saja kau sudah dekat dengan seseorang apalagi jika aku tidak bersamamu selama berhari-hari. Mungkin semua anak laki-laki di istana ini sudah dekat denganmu." Gerutunya pelan, mengecilkan suaranya agar adik kecilnya tidak terbangun.
Ia mengingat kata-kata yang pernah diucapkan raja Edward saat dirinya masih kecil.
Sebentar lagi kau akan punya seorang adik laki-laki. Kau harus menjaga adikmu seperti aku menjaga mamamu. Jaga dia seperti kau menjaga sebuah permata.
Sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan sebuah senyum tipis di wajah tampannya.
"Sebuah permata tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, kan? Karena permata itu sangat berharga. Jadi, tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh permata yang diberikan mama!" Kalimat itu bagaikan sebuah sumpah yang hanya disaksikan oleh dirinya seorang. Malam ini menjadi saksi atas ucapan anak kecil itu.
Terkadang sebuah rasa yang terlalu dalam harus dikontrol sebelum rasa itu tertanam ke dasar yang semakin dalam. Karena jika suatu saat kau kehilangan sesuatu yang berharga itu. Kau akan mendapatkan rasa sakit dari penderitaan itu sedalam rasa yang kau tanam.
........................
Keesokan harinya, Roselie dibangunkan lebih awal oleh Mira. Ia diberitahu jika hari ini ia akan ikut mengantarkan Raja Delio dan pangeran Felix sampai depan gerbang istana. Ingin rasanya ia menolak untuk ikut tapi sudah terlambat. Ia diberitahu tiba-tiba, tidak ada alasan untuk menolak.
Saat ini Lala sedang mengikat rambutnya dengan bermacam gaya. Sejak beberapa menit ia terus duduk di depan cermin dengan pandangan kosong. Tidak semangat untuk sekedar tersenyum.
Hari ini Lala memberikannya gaun berwarna merah muda dengan hiasan bunga dibagian atasnya dan pita besar dibelakang gaunnya. Gaun ini tidak memiliki lengan yang cocok dipakai di musim yang panas ini.
"Tuan putri, mahkota seperti apa yang ingin tuan putri kenakan hari ini?" Lala bertanya dengan semangat sambil mengobrak-abrik kotak perhiasan yang penuh dengan mahkota yang indah dan berkilau.
Roselie hanya menoleh sekilas dan membuka suara. "Lala saja yang pilihkan, Roselie tidak tau mahkota mana yang cocok."
"Baik tuan putri, saya akan pilihkan mahkota terbaik untuk tuan putri agar tuan putri terlihat cantik didepan pangeran Felix." Ingin rasanya Roselie muntah mendengar hal itu. Ia sama sekali tidak ingin terlihat luar biasa atau cantik dihadapan pangeran Felix.
Saat mengantarkan pangeran Felix nanti, ia hanya akan bersembunyi dibalik punggung papanya.
"Ini tuan putri, mahkota ini sangat cocok untuk tuan putri." Seru Lala memakaikannya dikepala Roselie.
"Hmmm."
"Tuan putri, ada apa dengan tuan putri? Kenapa tuan putri terlihat lesu hari ini? Apa tuan putri sedang sakit?" Tanya Lala dengan cemas dipertanyaan terakhir.
Roselie menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak, Roselie tidak sakit hanya saja Roselie tidak ingin bertemu dengan pangeran Felix," Katanya jujur.
"Kenapa tuan putri tidak ingin bertemu dengan pangeran Felix? Oh saya tau, pasti tuan putri malu bertemu dengan pangeran Felix yang tampan itu, kan?" Lala menaik turunkan alisnya menggoda Roselie.
Cih, aku tidak tertarik dengan pangeran kelam itu. Seandainya saja kau tau jika aku akan mati ditangan pangeran Felix. Tapi kau pasti tidak akan percaya.
"Berhenti membahas itu Lala, ayo kita pergi." Balas Roselie mengalihkan pandangannya yang membuat Lala semakin percaya jika Roselie menyukai pangeran Felix.
"Baik tuan putri."
......................
"Ku harapan ini adalah kunjungan mu yang terakhir." Ucap raja Edward memandang raja Delio yang bersiap untuk pergi.
Raja Delio mendengus. "Aku akan mengingat dengan baik penyambutan mu ini," Ketus raja Delio.
Pengeran Felix melirik ke arah raja Edward, Edgar, dan Aland. Matanya tidak melihat sosok yang ia tunggu daritadi. Ia terus menoleh kesana kemari menunggu seseorang datang.
Melihat tidak ada tanda-tanda Roselie akan datang ia pun bertanya. "Dimana putri Roselie? Kenapa dia tidak datang untuk mengantarkan kami pulang?"
Edgar dan Aland yang mendengar pangeran Felix menanyakan tentang adiknya menyorot tajam ke arahnya. Begitu juga dengan raja Edward, tatapannya lebih dingin daripada biasanya.
Raja Delio sendiri terkejut mendengar pertanyaan dari putranya. Tak lama kemudian ia memberikan senyum misterius kepada raja Edward.
"Dia tidak akan datang dan jangan mencari adikku lagi!" Tukas Aland memberikan tatapan permusuhan kepada pangeran Felix. Ia sudah memutuskan untuk mengangkat pangeran Felix sebagai musuhnya.
"Jauhi adikku dan jangan menemuinya lagi!" Tukas Edgar dingin. Ia menatap pangeran Felix layaknya seorang pencuri yang akan mencuri adiknya.
Mereka berdua sama-sama berharap jika adiknya tidak akan datang. Tapi kali ini takdir tidak berpihak pada mereka. Dari arah belakang Roselie datang bersama Farah. Sontak semua pandangan tertuju padanya.
Gaunnya yang berwarna merah muda dengan tatanan rambut yang indah membuatnya terlihat seperti bidadari yang berjalan diatas tanah. Wajahnya yang gugup dan takut-takut terlihat imut dimata mereka semua.
Roselie yang tidak nyaman dipandang begitu, berlari kecil ke arah raja Edward dan memeluk kaki raja Edward. Ia menyembunyikan dirinya dibalik punggung raja Edward.
Lagi-lagi aksi kecil itu membuat mereka semua tidak bisa untuk tidak terpesona dengan tingkah Roselie.
Pangeran Felix tersenyum ke arah Roselie. Orang yang ia tunggu akhirnya datang. Edgar yang melihat tatapan kagum dan senang di mata pangeran Felix menggeram kesal.
"Ekhm...... sebelum pergi sebaiknya aku memperkenalkan diriku pada putrimu dulu." Mendengar itu, raja Edward menggendong Roselie agar bisa berkenalan dengan raja Delio.
Roselie mengalungkan tangannya dileher papanya.
"Perkenalkan aku adalah raja Delio dari kerajaan Alvair. Aku juga teman lama dari papamu." Ujar raja Delio memperkenalkan dirinya.
Ia sudah tau. Tapi sebagai rasa hormatnya ia tersenyum tipis dan berkata. "Hormat saya yang mulia raja. Saya adalah putri Roselie. Semoga yang mulia selamat sampai ke tempat tujuan."
"Wah, putri sangat tau etika yang baik dalam mengantarkan tamu kerajaan. Tidak seperti papamu yang tidak tau etika tersebut." Raja Delio tertawa kecil dan melirik temannya yang tidak berekspresi apa-apa. Sindirannya tidak berarti apa-apa bagi raja Edward.
Roselie hanya tersenyum mendapat pujian itu. Ia menoleh kesamping tidak berani melihat wajah pangeran Felix yang daritadi memandangnya.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu." Pamit raja Delio.
Edgar dan Aland tersenyum, itu yang mereka tunggu sejak tadi.
"Tunggu dulu." Sela pangeran Felix membuat semua orang menoleh padanya kecuali Roselie.
Pangeran Felix maju ke arah raja Edward dan tanpa diduga mengambil tangan Roselie lalu mencium punggung tangannya secepat kilat.
CUP
"Aku pergi dulu putri Roselie. Suatu saat aku akan datang kemari menemuimu."Roselie melotot, tidak percaya dengan apa yang dilakukan pangeran Felix. Hal ini tidak pernah ia duga sebelumnya.
Raja Edward, Edgar, Aland, dan raja Delio bahkan sama terkejutnya dengannya. Tidak ada yang menduga pangeran Felix akan berani melakukan hal ini. Sebenarnya hal ini wajar untuk para bangsawan saat mereka bertemu atau mengucapkan selamat tinggal. Hal itu lumrah bagi orang-orang bangsawan apalagi seorang pangeran dan putri.
Tapi hal yang wajar itu bagaikan sebuah kejahatan dimata raja Edward dan kedua pangeran. Tangan yang sudah dipakai untuk menyentuh tangan Roselie ditepis dengan kasar oleh Edgar.
Aura yang dikeluarkan tiga sosok didekat Roselie mampu membuat insting raja Delio bergerak cepat, ia langsung menarik pangeran Felix dan masuk ke kereta.
Meninggalkan Roselie yang termenung dalam pikirannya sendiri. Roselie diturunkan dari gendongan. Raja Edward, Edgar dan Aland menyudutkan Roselie layaknya sebuah mangsa yang siap diterkam.
"Kau tidak boleh menyikapinya!" Empat kata itu berhasil membuat Roselie berdiri kaku ditempatnya.
Kenapa kalian semua berpikir aku menyukai pangeran Felix?
Ia masih kecil, tidak ada waktu untuk menyukai seseorang! Keselamatannya jauh lebih penting baginya.
..........................
Di tempat lain. Seorang anak perempuan melempar semua barang diatas meja dengan kuat. Ia membanting benda-benda tersebut dengan keras. Ia berteriak marah dan melampiaskan kekesalannya pada semua benda yang ada dikamarnya. Bahkan ruangan tersebut sudah tidak bisa disebut kamar lagi karena keadaannya yang berantakan.
"Arrrggghhh....... Kenapa aku yang dihukum! Harusnya perempuan itu yang dihukum bukan aku!" Suara benda yang dibanting dengan keras dan suara teriakan yang keras dari dalam kamar membuat dia orang pria dan wanita parah baya masuk ke kamar tersebut.
Pri dan wanita paruh baya tersebut terkejut melihat kamar putrinya berantakan. Tapi bukan hal itu yang mereka khawatirkan melainkan keadaan putri mereka.
Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari anak perempuan itu memeluk putrinya dengan lembut.
"Sayang, tenangkan dirimu ya. Ibu ada disini untukmu." Kata-kata penenang yang diucapkan ibunya tidak bisa membuat anak perempuan itu berhenti berteriak. Malah membuat anak perempuan itu semakin menangis.
"Hiksss..... ibu aku tidak terima ini semua. Perempuan itu yang menabrak ku tapi kenapa aku yang dihukum?" Anak perempuan itu mengadu pada ibunya denagn air mata yang berlinang. Sang ibu yang melihat anaknya begitu ikut merasakan sakit yang dialami putrinya.
Di sampingnya, pria paruh baya yang merupakan ayahnya itu mendekati sang anak.
"Sadarlah, perempuan yang kau sebut itu adalah anak dari yang mulia raja. Kau seharusnya tidak mencari masalah dengannya. Gara-gara dirimu aku hampir saja kehilangan posisiku sebagai seorang duke!" Kata sang ayah memarahi putrinya yang terus menangis.
"Memangnya kenapa jika dia adalah putri raja. Aku adalah putri seorang duke, ayah. Dan tidak ada yang boleh menghina ku didunia ini! Ayah harus melakukan sesuatu!" Bentak sang anak pada ayahnya.
Menjadi seorang putri semata wayang di keluarganya membuatnya selalu dimanja dan dihormati oleh semua orang. Sejak kecil ia terbiasa dihormati dan dikagumi oleh semua orang tak heran ia merasa marah karena baru kali ini ada seseorang yang berani mempermalukannya.
Terlahir sebagai seorang putri duke yang dimanjakan oleh ibunya membuatnya tumbuh menjadi anak yang angkuh dan sombong. Ia selalu meremehkan seseorang yang dibawahnya tanpa memperhatikan seseorang yang posisinya berada diatasnya.
"Dia benar, kau harus membalas penghinaan ini. Aku tidak terima putriku dihukum seperti ini. Putriku bahkan hampir dibunuh oleh kakaknya!" Ujar sang ibu membela putrinya yang jelas-jelas salah.
Sang ayah merasa frustasi mendapat paksaan dari kedua orang itu. Ia juga ingin membalas dendam akan penghinaan ini tapi ia tidak berani melawan sang raja yang terkenal akan kekejamannya itu.
"Aku tidak bisa melakukan apapun. Bagaimana aku bisa melawan seorang raja yang kejam itu? Aku pasti akan dibunuh bahkan sebelum rencanaku dimulai. Prajurit-prajurit itu selalu memata-matai setiap kegiatanku."
"Ayah aku hampir saja dibunuh dan diberi hukuman penjara dirumah selalu 2 bulan. Bahkan teman-teman bangsawan ku yang lain berani menghina diriku! Aku tidak mau tau, perempuan itu harus merasakan penderitaan yang aku rasakan!" Anak perempuan itu tidak peduli apa yang dikatakan oleh ayahnya. Ia ingin orang yang menjadi alasan dirinya dipermalukan mendapat hukuman yang lebih dari yang ia rasakan.
Sang ibu masih memeluk dan menenangkan anaknya yang menangis. Ia memikirkan sebuah rencana untuk membalas penghinaan ini.
"Aku punya cara agar anak perempuan itu juga dipermalukan seperti yang dirasakan putriku." Ujar sang ibu tersenyum licik.
"Apa itu?" Tanya sang ayah.
Wanita paruh baya itu membisikkan sesuatu ke telinga suaminya. Beberapa detik kemudian pria paruh baya itu tersenyum licik mendengar rencana istrinya.
"Kau tenang saja nak. Ayah akan membuat anak perempuan itu merasakan apa yang telah kau rasakan. Dia juga akan dihina oleh semua orang. Dan aku akan mendapatkan keuntungan dengan rencana ini." Sang anak tersenyum senang mendengar hal itu. Ia tidak sabar menyaksikan orang itu menderita seperti dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan author kalau ada typonya ya. Anggap aja ada debu kecil di tulisan author.
Terus Vote dan komen cerita author. Dan bagi yang ada ide untuk alur selanjutnya bisa langsung chat pribadi ke author ya. Siapa tau saran kalian dipakai authoro(〃^▽^〃)o
See u 💙💙💙