NovelToon NovelToon
RED IS YOU

RED IS YOU

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Nela Kurniaty Idris

Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.

Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.

Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?

Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.

WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI MANIS

“Aku suka kita berteman, tapi rasanya gak adil kalau aku angkuh dan gak kasi kamu kesempatan. Aku gak tega kamu berusaha sendiri sementara aku masih belum bisa buka hati.”

Abhi mengambil putik kelapa kering yang berserakan disekitarnya, kemudian dia melempar benda itu jauh ke laut.

“Aku gak tau sedalam apa luka itu, aku juga ga jamin cinta ku bisa jadi antiseptik buat kamu, ehe.” Cengir Abhi.

“Eh serius deh, temenan sama kamu itu gak buruk. Walau kamu adalah tukang modus, tapi bertukar cerita ternyata bisa mengurai beban yang selama ini aku tanggung sendiri. Atau apa kamu seperti itu sama banyak perempuan, ya?”

“Aku gak pernah bicara banyak apalagi ngobrol lama sama cewek.”

“Oh ya?” kaget Runa, “Sayang sekali ya, malah ngobrolnya sama janda!”

“Red,” panggil Abhi serius, wajahnya dia hadapkan persis disamping pipi Runa.

“Abhi?” Runa membalas panggilan dan tatapan itu.

Panggilan  dan suara Abhi memanggilnya kini jadi sapaan yang menyenangkan di pendengaran. Wajah mereka kini hanya berjarak dua ruas jari saja.

“Kalau kamu cari yang tampan, aku maju,” lirih Abhi pelan-pelan,  “kalau kamu cari yang mapan, aku juga akan maju … kalau kamu cari yang dermawan aku  maju paling depan. Bukan karena aku merasa kecukupan dan punya segalanya, tapi karena kamu memang istimewa dan layak diperjuangkan.”

Nafas Abhi panas berhembus di hidung Red saat mengucapkan kalimat panjang itu. Sama sekali bukan kalimat yang puitis, tapi lembutnya angin malam, juga gelombang yang berlomba ketepian membungkus suasana kian romantis.

Entah siapa yang bergeser maju lebih dulu, yang jelas kini bibir mereka telah bertemu. Membaca bahasa tubuh Runa yang diam, membuat Abhi menuruti perintah nalurinya untuk mencecap manis dan kenyal juga hangat dalam waktu bersamaan. Dari atas dahan nyiur, para nokturnal berkedip malu.

“Sorry,” ucap Abhi saat Runa melepas pagutan itu terlebih dahulu.

“Kenapa kamu nahan nafas?” Abhi terkejut karena melihat Runa tampak engap, “aku yakin ini bukan yang pertama untuk mu.”

Runa masih mengatur nafasnya, dia memang buruk untuk hal ini. Meski sudah pernah menikah sebelumnya, Runa memang punya track record hitam untuk hal-hal semacam ini. Dia terdiam sambil mengeringkan bibirnya dengan tisu. Runa tidak marah dengan Abhi, dia hanya malu.

“Red, kok kamu diam? Maafin aku.”

“Kamu khilaf?”

Gimana aku jawabnya? Aku gak khilaf sih, tapi kan kalau bilang emang karena aku pengen makin berabe masalahnya.

“Hem, sudahlah!” sanggah Runa sebelum Abhi menjawabnya.

“Aku gak khilaf ….” Abhi kembali mendekatkan wajahnya, ditangkupnya kedua pipi Runa dengan telapak tangan, anak rambut Runa yang berserakan diselipkannya ke belakang telinga sekaligus membuat gerakan membelai pipi yang kini sudah sempurna kemerahan.

“Kasi aku kesempatan,” pinta Abhi penuh kesungguhan, “setidaknya kasi gambaran sampai kapan aku boleh berharap.”

“Aku punya masa lalu yang tidak mudah. Ada kebahagiaan Razqa yang juga lebih penting dari segalanya, aku belum bisa berpindah, tapi kamu benar, kita harus mencoba. Semoga kamu bersabar.”

“Sampai kapan?”

“Kalau nanti dia tidak bisa menyelesaikan urusannya dengan perempuan itu dan anaknya, baru saat itu aku akan pergi, merelakan semuanya, membuka hati dan jadi wanita yang bebas tanpa belenggu dan bayangan apapun juga.”

“Sangat gak adil kalau aku bersama mu sementara hati ku masih terikat dengan masa lalu, mana ada cinta yang seperti itu!” Red melepas genggaman tangan Abhi dari wajahnya.

Runa tak menampikkan, Abhi memang menyenangkan. Bersama Abhi Runa merasa mampu mengurai segala benang yang kusut masai di kepalanya. Tapi selain karena masa lalu yang belum selesai, Runa juga ragu dengan cinta yang datang terlalu cepat.

***

Siang Ahad yang cerah untuk jiwa yang mulai goyah. Tadi malam dia mengizinkan Abhi untuk mengantarkannya kembali ke kota Industri.

“Dianterin Reza gak, Na?” tanya Abah yang sedang membaca buku.

“Gak usah, Bah. Runa pergi sama temen aja,” jawab Runa sambil memeriksa ponselnya.

Hari sudah hampir tengah hari, Abhi belum juga datang, padahal tadi malam lelaki itu sudah janji akan menjemput Runa pukul sembilan, tapi hingga hampir jam sebelas belum juga ada kabar.

“Assalamualaikum.” Suara lembut seorang perempuan memberi salam dari pintu depan.

Reza dari dalam kamarnya langsung keluar saat mendengar suara itu, ditahannya langkah Runa yang mau membuka pintu.

“Biar aku aja, Mba.”

Saat pintu terbuka, tampaklah senyum seorang wanita dengan jilbab putih panjangnya, membawa wadah makanan.

“Wa’alaikumsayang …. Eh Waalaikumsalam maksudnya. Aisyah?”

“Kak Reza, Abah ada? Ini ada mi goreng dari Ummi.”

Aisyah menyodorkan wadah makanan yang dibawanya.

“MasyaAllah, ayo masuk dulu. Aisyah mau kak Reza bikinkan apa? Air putih aja, minuman bersoda, atau kak Reza yang selalu ada?”

Aisyah menahan diri untuk tidak tersenyum, tiada faedah baginya meladeni Reza yang selalu saja terang-terangan melancarkan godaan.

“Tidak usah kak, disini saja. Kata Ummi, wadahnya langsung disalin aja kak biar aku bawa pulang,” ucap Aisyah.

Uminya berpesan agar langsung membawa pulang wadah mi goreng itu agar nanti Abah tidak repot memikirkan isian balasan ketika mengembalikannya.

“Aisyah … Kamu gimana sih, Ja? Ada tamu bukannya disuruh masuk malah dibiarin tegak depan pintu.”

“Ini juga lagi usaha, Mba. Ganggu aja ah!” protes Reza.

“Gak usah, Mba. Aku nunggu disini aja, kata Ummi wadahnya biar langsung aku bawa.”

“Oh, Mba Runa salin dulu ya, ayo kamu masuk! Gak usah dengerin Reza.”

Runa menarik tangan gadis itu, Reza reflek mundur bersandar di pintu saat Runa berhasil memaksa Aisyah masuk ke rumah.

Aisyah menyapa Abah dengan sopan dan ikut bersama Runa ke dapur, sementara Runa meyalin mi goreng ke piring rumah, Aiyah duduk di kursi meja makan. Reza yang tsk ingin melewatkan momen menyusul dua perempuan itu.

“Maaf ya, Aisyah. Kalau kak Reza selalu godain kamu, abis muka kamu udah kaya orang susah,” ungkap Reza.

“Ha, gimana?” tanya Aisyah heran, dia memang tidak merasa jadi orang kaya, tapi Bapaknya Aisyah adalah juragan tanah di kampung mereka.

“Susah di lupain!” timpal Reza sambil mengernyitkan sebelah alisnya.

Aisyah lagi-lagi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan memalingkan wajahnya.

“Ini wadahnya, udah Mba Runa cuciin. Sampaikan terimakasih pada Ummi, ya. Reza jangan di dengerin, maklum, jomblo dari lahir jadi ya gitu kelakuannya.”

Runa memeberikan wadah yang sudah dia cuci kepada Aisyah.

“Sama-sama, Mba. Semangat ya kak Reza, walau kita masih sendiri, sebenarnya ada loh yang begitu setia nungguin kita setiap saat, Cuma kitanya aja yang gak peka,” tutur Aisyah dengan tenang dan anggun.

Reza begitu bersemangat mendengar ucapan Aisyah, dia berharap lebih dengan kalimat Aisyah berikutnya.

“Oh ya? Kamu nungguin kak Reza?”

“Bukan.”

“Jadi siapa?”

“Malaikat Izrail, misalnya.”

“Astagfirullahaladzim.” Reza mengetuk-ngetuk meja makan, “tega banget sih Neng, doain Abang meninggoy!” cebiknya.

“Ahahaha, makannya jangan suka godain anak orang!” Runa menimpali.

“Gak di doain juga, emang semua dari kita udah ditunggu sama malaikat di pojokan. Tinggal tunggu konfirmasi dari Atas, slup ... Kecabut deh nyawanya,” ucap Aisyah ringan menganalogikan kematian semudah mencabut uban.

“Tega ya Aisyah,” cebik Reza memelas.

“Hehehe, Aku pamit ya kak, Mba Runa. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Reza masih sempat menjawab salam dan langsung kembali ke kamarnya, dia kembali rebahan melanjutkan permainan di ponselnya yang masih tersambung pengisi daya.

***

“Jam berapa berangkatnya? Nanti keburu Razqa pulang malah dia pengen ikut kamu, Na.”

Abah khawatir melihat Runa sejak tadi berjalan maju-mundur seperti menunggu sesuatu.

“Sebentar lagi kayaknya, Bah.”

Runa mencoba menghubungi Abhi untuk yang ke sekian kalinya. Sejak pagi lelaki itu tidak menjawab panggilannya, perasaan Runa diliputi keresahan. Dia takut yang tadi malam terjadi diantara mereka itu hanya pelarian Abhi sesaat. Seketika panggilan itu terhubung, tapi yang terdengar justru suara perempuan.

“Mas Abhi …,” lirih perempuan itu dari sebrang sana memanggil nama Abhi.

“Hallo, Red?”

Baru kemudian suara Abhi terdengar sedikit ngos-ngosan.

“Aku telpon kamu dari pagi dan sekarang baru terjawab.”

“Yaampun, maaf ya maaf. Aku sedang sibuk dan panik, jadi aku baru tau ponsel ku ada disini.”

“Kamu jadi ngantarin aku, udah hampir tengah hari, takutnya nanti Razqa pulang dan malah rewel pengen ikut ke Batam.”

“Astaga! Red. Maaf … maafin aku, aku sampai lupa kalau hari ini udah janji mau ngantarin kamu. Maafin aku sekali lagi, aku bener-bener gak bisa ngantarin kamu hari ini.”

Runa terdiam, bumi yang dia pijak terasa berbalik, kepalanya terasa berada di tanah, baru tadi malam, belum ada dua puluh empat jam lelaki itu begitu manis dan menawarkan hal-hal indah. Walau Runa belum memberi kepastian apapun, setidaknya Abhi mengatakan dia bersedia menunggu untuk menjadi obat bagi luka-luka itu.

Baru tadi malam, Abhi menciumnya dengan lembut dan memberikan kenyamanan lewat sebuah peluk. Seketika Runa merasa runtuh, bodoh sekali dirinya yang dengan mudahnya terbuai bujuk.

“Kamu marah ya? Sorry ya.”

Untuk apa dia marah? Apa haknya? Dan kenapa juga Runa harus merasa sesakit ini.

“Lain kali kalau mau batalin janji, ngomong jauh-jauh waktu. Mungkin rasanya gak akan sesakit ini.”

“Red ….”

Runa mengakhiri panggilan itu, matanya begitu berat. Pipinya basah. Bahkan Runa tidak pernah menangisi Rangga dan sekelumit pengkhianatannya dengan Achy, kenapa air mata tumpah justru untuk Abhi? Mengingat ucapan Abhi yang begitu manis seolah mempersilakannya untuk menangis.

“Kenapa, Na?” tanya Abah khawatir.

Runa menggeleng dan menyeka bulir yang baru menetes satu-satu.

“Runa berangkat sama Reza aja, Bah.”

“Yasudah, biar Abah panggilkan dia. Kamu tunggu depan aja.”

Abah dengan perasaan khawatir masuk ke kamar Reza dan mendapati anak bujangnya yang masih asik bermain game dengan ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya.

“Kalau orang pacaran, main hape sambil ngecas ya itu karena mereka sambil nunggu chat dari pacarnya. Lah kamu jomblo main hape sambil ngecas gitu nungguin apa? Nunggu kesetrum? Cabut gak casnya!? Sana anterin kakak kamu ke pelabuhan!” omel Abah Anwar.

“Lah bukannya Mba Runa pergi sama temennya?” protes Reza.

“Buruan Reza!”

“Iya, Bah … iya.”

 

***

Readers dapat salam dari Bang Eja.

Reza : Readers, jangan lupa pencetin jempol itu buat author eNKa ya.

1
lLvy
aq kira abhi bakalan gak ngakuin achy adiknya
may
Ih abah ih🤣
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: Halo kak baca juga di novel ku 𝙖𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profil ku ya. trmksh🙏☺
total 1 replies
may
Capek ngetawain abhi😩
may
Bisa bisanya mas abhi🤭
may
Mas, kamu lagi gombalin aruna kan? Kok aku yang meleyot😩
may
Sunia ya? 🤭
may
Cihuyyyy🤭
may
😒😒😒
may
Eh, gimana gimana?
may
Padahal udah pernah baca, tapi tetep senyam senyum sendiri di part ini
may
Uhukk uhukkk🤭
Diandari😍
Luar biasa
may
Maksa bgt om eja🤣
may
🤣🤣🤣Ya ampun, capek ngakak
may
Suiwittttt🤭
may
Ya ampun, adegan romantis loh inii😅
may
apaan sih mas abhi🤣
may
loh😂
may
mbak erlin kok gitusih😭
may
"meminta maaf lebih baik dari meminta izin" plisss aku ngakak banget😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!