Ketika lahir seorang anak perempuan yang sukses membuat sang Ayah sangat merasa bahagia karena impiannya kini terwujud.
Yah sang Ayah yang dari dulu terkenal sangat keras dan ringan tangan selalu mendambakan kehadiran anak perempuan di hidupnya.
Namun ternyata kehadiran anak perempuannya itu tidak mampu membuatnya berubah justru semakin menjadi pria kejam.
Sampai akhirnya anaknya tumbuh dewasa dengan segala tekanan dari ayahnya.
Cerita ini menggambarkan kisah anak gadis yang tidak bisa memilih jalan hidup yang mampu ia lewati, justru ayahnya selalu memaksa dengan apa yang ayahnya inginkan tanpa melihat kemampuan anaknya.
Sampai akhirnya anak itu trauma berat tiap kali melihat wajah ayahnya karena sejak kecil selalu menerima kekerasan.
Simak ceritanya yah, ini sangat memberikan pelajaran bagi orang tua yang selalu bermain kekerasan dan bagaimana pentingnya pendidikan bagi seorang wanita. Pendidikan tinggi bukan tujuan utama untuk mendapatkan pekerjaan yang tinggi.
Namun pendidikan tinggi adalah tiang utama untuk seorang wanita agar tidak lemah. Begitu juga untuk pria agar tahu berperilaku tanpa kekerasan.
Semoga bisa bermanfaat.
Slow update🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brian Membalas
Hari demi hari Bella lewati di sekolah barunya tanpa ada komunikasi dengan Aldrich, ia perlahan sudah mulai melupakan pria itu meskipun rasa rindunya sering kali mendorong Bella untuk melihat sosial media Aldrich. Setiap hari Bella di sibukkan dengan teman-teman barunya yang bergantian menghubunginya sampai akhirnya ia benar-benar tidak lagi memikirkan Aldrich.
Pagi yang cerah itu memberikan semangat pada wajah Bella untuk pergi ke sekolah, "Bella, ponsel kamu nyala-nyala itu." ucap Ella.
Bella kini tinggal bersama teman dekat Ayahnya yaitu Pak Bayu dan istrinya yang bernama Bu Nely. Mereka memiliki keponakan bernama Ella, Ella dan Bella tinggal di satu kamar sekolah mereka kebetulan sama dan hanya berbeda kelas saja meskipun satu angkatan.
"Eh iya nih." sahut Bella yang beranjak mendekati ponselnya.
"Ibu." gumam Bella tampak mengernyitkan dahinya dalam.
Belum sempat Bella mengucapkan salam salam kini terdengar isak tangis Kirana dari seberang sana, wajah Bella seketika panik mendengar suara tangisan itu.
"Ibu, apa yang terjadi? mengapa Ibu menangis?"
Kirana berusaha menahan tangisnya dan menceritakan pada Bella jika ia mengetahui Brian telah berselingkuh dan itu sebabnya selama ini Brian sangat jarang berada di rumah. Bella yang mendengarnya begitu tidak percaya wajahnya terkejut. Air mata juga ikut membasahi wajah gadis itu, Ella penasaran dengan masalah Bella namun keberanian untuk bertanya rasanya tidak mungkin.
"Bu, matikan dulu yah. Bella mau ngomong sama Ayah."
Kirana bisa mendengar suara gemetar putrinya, "Jangan, jangan ngomong apa pun pada Ayahmu. Biar Ibu sendiri yang akan menyelesaikan Bella." bantah Kirana.
"Tidak Bu, Bella harus bicara dengan Ayah. Bella tidak terima Ayah seperti ini."
"Bella, denganrkan Ibu. Tugasmu hanya belajar, selain itu adalah tugas Ibu ingat jangan lakukan apa-apa." ancam Kirana yang segera mengakhiri telfonnya.
"Bella, ayo kita sekolah sebentar lagi masuk." Ella membuyarkan lamunan gadis itu dan segera mengajak Bella pergi ke sekolah.
Selama di jalan Bella tidak seperti biasanya yang selalu mengajak Ella bercerita. Sampailah mereka di sekolah semua teman-teman Bella bisa melihat wajah lemasnya.
"Ayah benar-benar keterlaluan." gumam Bella terus berkelut dengan fikirannya tanpa memperhatikan guru di depan kelas saat menjelaskan.
Setiap menahan kekesalan Bella sering kali merasa tubuhnya bergemetar seraya ingin sekali melampiaskan kekesalannya. Sepulang sekolah Bella kembali menghubungi Kirana.
"Bu, Ibu baik-baik saja?" Suara cemas Bella terdengar.
Kirana dengan cepat mengusap air matanya, ia tidak ingin jika Bella sampai melakukan sesuatu pada Ayahnya. Mengingat kejadian saat malam ia bertengkar dengan Brian rasanya sangat sakit, Brian tidak hanya berselingkuh dengan satu wanita tapi masih banyak. Kirana bisa melihat ketika ia mendapati Brian berada denga beberapa wanita di dalam mobil semalam.
Tertangkap dengan Kirana, bukannya ia meminta maaf justru memukul Kirana dan menyuruhnya pulang. Kirana yang tidak kuasa untuk melawan akhirnya memilih pulang dengan wajah sembabnya. Brian pun kembali menikmati malam itu bersama beberapa wanita di sampingnya.
"Iya Bella, Ibu baik-baik saja." jawab Kirana dengan suara bergemetarnya.
"Ayah di mana sekarang, Bu?" tanya Bella yang penasaran.
"Em...Ayahmu tadi pagi sudah ke Kota lagi."
Brian dan Bella memang saat ini berada di satu Kota yang sama, tetapi mereka tidak tinggal satu rumah. Brian memilih Bella untuk tinggal di rumah sahabatnya alasannya karena rumah sahabat Brian memang sangat dekat dengan sekolah baru Bella.
Dan saat ini Bella baru sadar itu bukanlah satu-satunya alasan Ayahnya memintanya untuk tinggal bersama orang lain, tetapi alasan sebenarnya adalah agar Brian bisa bebas membawa wanita mana saja ke rumahnya.
"Yasudah Bu, Bella ingin istirahat dulu. Ibu jangan menangis lagi." Bella segera mengakhiri telfon dan langsung duduk di kasur. Wajahnya terlihat sedang berfikir keras memikirkan bagaimana agar ia bisa membantu Ibunya.
"Baiklah, mungkin aku harus melihatnya sendiri nanti malam." gumam gadis itu seraya mengusap kasar air matanya.
Nanti malam adalah jadwal Bella untuk pergi les mungkin ia bisa memanfaatkan waktu lesnya dengan melihat rumah Ayahnya. Bella berniat untuk bolos dari lesnya, rasa penasaran itu tidak lagi bisa mengontrol fikiran Bella ia sangat tidak terima dengan perlakuan Ayahnya pada Ibunya.
Smoga slalu up ya kax🥰🥰🥰
Smangat ya kax☺️☺️☺️
sudah jatuh ketimpah tangga..
😡😡😡😡Kekasihnya juga kejam banget