Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25 Gamang
Sampai di mansion Fernandez, Adrian dengan semangat menceritakan tentang Alea pada Paula.
"Pokoknya Ibu dan David harus menyelidiki tentang wanita bernama Alea itu. Kita harus tahu apakah Juan memiliki hubungan gelap dengan Alea atau tidak. Kita bisa memanfaatkan hal itu untuk memeras Juan." Adrian tersenyum di akhir kalimatnya. Seolah yang ia katakan adalah ide brilian.
" ... Atau mungkin juga ini adalah kesempatan bagi kit untuk memiliki separuh dari kekayaan Juan. Bukankah itu sangat menguntungkan kita?" imbuh Adrian.
Paula tak menanggapi sama sekali ocehan Adrian. Pikirannya saat ini masih tentang sikap David yang sangat kontras dengan kebiasaan. Prianya yang dulu lembut berubah menjadi sangat kasar.
Ditambah sampai jam segini David belum juga pulang. Pun, tak ada kabar. Paula semakin over thinking dibuatnya.
"Bu ... Ibu ... mau ke mana?" tanya Adrian ketika Paula meninggalkannya begitu saja.
*
David melampiaskan kemarahannya di sebuah kelab malam. Ditemani kekasihnya—Georgina—David meluapkannya dengan menghabiskan banyak minuman beralkohol. Ia benar-benar marah tapi tak mampu membalasnya langsung pada Juan.
Memang, dia sudah punya perusahaannya sendiri, kekuasaannya sendiri. Semua ia bangun dari hasil mencuri uang keluarga Fernandez. Namun, apa yang ia miliki saat ini masih tak seberapa jika dibandingkan dengan Juan Fernandez. Sebab itulah ia tak berani melawan Juan secara langsung.
David hanya mampu memendam kemarahannya dan melampiaskannya pada alkohol.
"David, kau sudah sangat mabuk. Hentikan semua. Kau bisa sakit kalau begini." Georgina mengingatkan. Tangan wanita itu meraih gelas David, tapi langsung ditepis begitu saja oleh David.
"Jangan ganggu aku. Aku sedang ingin membalaskan kemarahanku pada Juan sialan itu," ujar David dengan mata sayu hampir mengantuk.
"Tapi kau sudah mabuk berat," protes Georgina.
"Apa pedulimu. Kau pikir kau siapa?"
"David kau sudah mabuk berat." Georgina kembali mengingatkan.
David justru tertawa terbahak-bahak. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah merah penuh amarah.
"Sialan kau, Juan. Bajing*n, kau!" teriak David.
"Aku akan membalas semua yang telah kau lakukan padaku. Aku akan memb*nuhmu!"
"David!"Georgina ikut berteriak. Ia menoleh ke sekitar. Takut ada yang mendengar ocehan David.
"Juan Fernandez, aku akan memb*nuhmu!" David mulai kehilangan kontrol dirinya. Ia kembali meracau tentang hal-hal yang bisa membahayakan pasangan itu. Menyinggung tentang Juan Fernandez.
Tentu saja tangan Georgina beraksi. Membungkam mulut David agar tak bicara konyol. David yang tak terima langsung menyingkirkan tangan kekasihnya. Dengan sengaja ia kembali berteriak.
"David berhenti, apa kau mau mati sekarang, hah!" Georgina tak tahan lagi dengan sikap David. Demi menghentikan aksi kebodohan David yang sudah mabuk berat, ia pun mengambil botol minuman beralkohol dan memukul kepala David sampai pingsan.
Dengan santai ia memanggil anak buan David. Lalu meminta anak buah David untuk membawanya ke apartemen miliknya.
"Beres!" Georgina menepukkan kedua telapak tangannya seolah selesai melakukan pekerjaannya.
Ia pun melenggang di belakang David yang tak sadarkan diri.
*
Pulang dari kantor, Juan kembali menjenguk Maria di rumah sakit. Wanita itu sangat berbeda dari hari kemarin. Lebih bersemangat seolah mendapat kekuatan baru.
"Besok aku akan pulang. Aku sudah mengatakan pada dokter," ujar Maria.
" Tentu saja Nenek. Apa pun bisa kau lakukan. Bukankah rumah sakit ini milikmu?" goda Juan.
Maria pun kontak tertawa.
"Juan, aku mau tinggal bersama ciicitku. Kalau aku sampai di rumah, kau harus pastikan dia sudah ada di sana."
"Maksud Nenek?"
"Aku ingin kita semua berkumpul dalam satu rumah. Aku sudah lama mengharapkan hal itu."
Seketika otak Juan dipaksa untuk bekerja keras. Mana mungkin ia membawa Alea dan bayinya tinggal bersama keluarganya?
Tempat paling berbahaya untuk anaknya adalah rumahnya sendiri.
"Kau bisa lakukan semua kan, Juan?" tanya Maria memastikan.
Sedang Juan masih gamang menimang keputusan apa yang terbaik untuk Alea nanti. Haruskah ia membawa Alea dan bayinya untuk tinggal di mansion Fernandez?