[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25: Kebenaran
Matahari sudah mulai melaksanakan tugasnya wanita itu menatap sendu lukisan seseorang yang amat ia cintai. Cinta buta barangkali. Hingga merubah gadis manis yang polos menjadi sosok yang menginginkan sesuatu yang lebih. Merasa kurang dengan apa yang kini ia miliki. Padahal, seharusnya ia bersyukur dengan kemurahan hati yang sudah diberikan kepadanya itu.
Di usapnya pelan wajah dalam lukisan itu. Wajah tegas yang sangat tampan. Membuat bibirnya kian melengkung.
"Tunggu Saja Jeonha, sebentar lagi aku akan duduk di sampingmu"
Sretttt,
Pintu terbuka membuat wanita itu menoleh di dapatinya sang pelayan yang bersimouh di drpan pintu. Wajah pelayan itu seperti ketakutan dan pias.
"Ada Apa?"
"Wa-wangja-"
"Anak itu kabur lagi?"
Ui-Bin terlihat menggeraskan rahangnya saat pelayan itu menganguk. Ia sudah berulamgkali memarahi bahkan mengancam Jae yoon untuk tidak keluar dari kediamanya. Tapi anak itu selalu saja punya cara untuk pergi.
"Bagaimana bisa menjaga anak kecil saja tidak becus"
Pelayan itu hanya menunduk. Ia merasa betsalah dan takut.
Sedangkan Jae Yoon, anak itu kini tengah berada di istana Bintang. Ini adalah hari senin dan seperti biasanya ia selalu mengintip pembelajaran di sana. Anak anak para pangeran dan keluarga istana disana untuk belajar. Jae yoon selalu ingin bergabung dengan mereka. Sepertinya asyik belajar bersama seperti itu. Tidak seperti dirinya yang selalu belajar sendirian di kediamananya dengan didatangi pengajar. Menurutnya itu sedikit tidak adil. Karena itu membuat dirinya tidak memiliki teman.
"Hei sedang apa kau?"
Jae yoon menoleh mendegar suara itu. Seorang gadis cantik yang seumuran denganya. Jae yoon belum pernah melihatnya.
"Kau ingin mencuri?"
"Tidak, aku hanya-"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya lucu.
"Aku Sonhee, siapa namamu?"
"Panggil aku Jae, Apakah kau mau berteman denganku"
Permintaan kecil, yang selama ini belum pernah terwujud. Jae yoon tidak memiliki satupun teman dan akan sangat buruk jika ia dewasa belum pada waktunya. Masa kecil adalah waktu untuk mereka bermain.
Gadis kecil itu terkekeh pelan.
"Tentu saja sekarang kita berteman, aku harus kembali. Sampai jumpa Jaeyoon-ssi"
Gadis itu berlari lucu seraya melambaikan tanganya. Sedangkan Jaeyoon ia sangat senang sekrang telah memiliki seorang teman.
֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟ LITTLE PEONY֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟
Gadis itu masih setia tersenyum melihat pahatan wajah yang hampir sempurna. Seakan pemandangan itu adalah yang paling indah, mengalahkan hamparan bunga di depanya. Dan wangi maskulin itu yang paling memabukan. Ia sudah mengenal lelaki itu lama. mungkin hampir 5 tahun. Tetapi mereka menjalani hubungan diam diam karena tidak direstui oleh keluarganya sang gadis. Entah mengapa keluarganya tidak menerima lelaki itu. Padahal ia sudah sangat mencintai lelaki itu.
"Yeosang-ah. Bagaimana jika kita kawin lari saja"
Ucap gadis itu tiba tiba.
"Apa yang kau bicarakan Hara-ya, Aku yakin nanti ayahmu akan merestui kita. Kau tidak boleh menjadi gadis durhaka"
Yeosang mengusap pelan surai gadis itu.
Sudah banyak sekali Lelaki yang meminang Hara, tetapi gadis itu selalu saja bisa menolak dengan seribu alasan. Usianya memang sudah tidak muda lagi untuk menikah. 24 tahun adalah usia yang sangat tua untuk menikah di zaman itu. Sang Ayah sangat tidak suka dengan lelaki pilihannya. Bahkan ia melarang Hara untuk sekedar pergi bersama Yeosang. Dan setiap ia bertanya alasanya. Ayahknya selalu diam.
"Aku akan berusaha Hara-ya, restu ayahmu akan kudapatkan"
"Sampai kapan kita akan seperti ini?"
"Tuhan sudah merencanakan yang terbaik sayang"
Air mata gadis itu mengalir. Yeosang memeluknya. Menyalurkan kekuatan untuk gadis itu. Tidak rela setitik air mata pun jatuh di pipi gadis tercintanya. Hara adalah segalanya bagi Yeosang. Gadis yang mampu membuat hatinya semula hampa dan hari harinya yang hambar menjadi pebuh warna. Karena Hara lah lelaki itu mengerti arti kehidupan.
֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟ LITTLE PEONY֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟
Haerin menatap nanar ramuan berwarna hijau yang terlihat tidak enak sama sekali. Ramuan penyubur yang selalu rutin setiap hari ia minum. Hwan selalu melarangnya meminum ramuan ramuan itu, dia bilang segala sesuatu tidak baik jika terlalu dipaksakan. Tapi dirinya sudah cukup panas mendengar berbagai ocehan yang mengecamnya. Dan juga betapa ingin dirinya memiliki seorang anak. Seorang yang memanggilnya ibu dan lahir dari rahimnya sendiri.
"Eomma-Mama"
Sepasang tangan kecil berusaha memeluk tubuhnya. Ia sedikit terkejut tapi selanjutnya hanyalah sebuah senyuman yang terukir jelas di bibirnya.
"Bagaimana kau bisa disini Wangja"
Haerin menoel hidung munggil Jae yoon.
"Mengunjungi anda Eomma-mama"
Jae Yoon melepaskan tanganya lalu menunjuk kepada cawan berisi air hijau yang menurutnya aneh.
"Apa ini?"
"Itu adalah obat Sayang"
"Apakah Eomma-mama sakit?"
Bocah itu terlihat menatap Haerin Sendu.
"Tidak sayang, Hanya-"
"Untuk apa kau disini?"
Suara maskulin yang tiba-tiba terdengar itu membuat Jae yoon membelak kaget. Tanpa diminta anak itu langsung bersembunyi di belakang Haerin. Sangat takut kepada sang pemilik suara. Biarpun Jae yoon hanyalah anak kecil yang lugu tetapi ia sangat paham jika Hwan amatlah membencinya.
"Lembutlah sedikit Jeonha"
"Bawa dia kembali ke kediamanya"
Hwan menyuruh seorang pelayan membawa Jae Yoon untuk kembali. Ia sudah berkali kali mengigatkan Ui-Bin untuk tidak membiarkan Jae yoon pergi keluar jauh dari kediamanya. Mungkin ia harus menegurnya lagi.
"Belajar yang rajin, Ne"
Haerin mengusap pelan surai rambut Jae yoon, Bocah itu mengaguk lalu beranjak pergi secepat mungkin bersama pelayan. Bertemu Hwan adalah sebuah mimpi buruk.
"Anda sudah kembali Jeonha"
"Ya, dan aku langsung mengunjungimu"
"Eum Soal Wangja, dia masih kecil sebaiknya anda lebih lembut kepadanya"
Hwan terkekeh, Haerin belum tahu jika Jae yoon bukanlah siapa siapa. Hanyalah anak haram yang tidak jelas siapa ayahnya. Dan setiap Hwan melihat anak itu selalu saja muncul rasa benci luar biasa. Kesalahan ibunya tidak termaafkan. Tetapi, ia juga tidak tega untuk menguak semua kesalahannya. Ia yakin jika itu terbongkar hukuman mati yang akan diterima Naeri.
"Jangan pernah menyebutnya seperti itu"
"Bagaimana pun untuk saat ini ia adalah calon penerus anda harus mendidiknya bukan dingin kepada nya"
Hwan mengeras. Tidak. Tidak akan pernah menjadikan bocah itu penerus. Lalu kenapa kalimat Haerin seolah mengatakan jika mereka memang tidak akan oernah memiliki anak.
Lalu apakah ini saatnya Haerin tahu semuanya. Aku ia harus meminta pendapat Haerin soal ini.
"Ingin ku katakan sebuah rahasia?"
"Anda merahasiakan sesuatu?"
Hwan menganguk.
"Apa itu?"
Entalah suatu keraguan besar dibalik hatinya tiba tiba saja datang. Seakan sangat sulit mengungapkan Rahasia besar ynag hanya diketahuinya dan Naeri itu.
֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟ LITTLE PEONY֍۪۪̣̣۪۪۪⃟᎒⃟