~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Langkah Menuju Dunia yang Lebih Besar: Bagian 3: Kekuatan Warisan
...----------------...
Matahari pagi menyinari dataran terpencil yang menjadi tempat latihan rahasia Sora dan Abirama. Hari ini adalah hari ujian. Hari di mana ia harus membuktikan bahwa empat hari pelatihannya tidak sia-sia.
Abirama berdiri tegak di tengah lapangan, menatap Sora dengan mata tajam. "Sora, tunjukkan hasil latihanmu. Serang ayah dengan semua yang kau miliki."
Tanpa ragu, Sora mengangkat pedangnya dan melangkah maju. Ia mengatur napasnya, mengingat semua teknik yang telah ia pelajari. Dalam sekejap, ia melesat ke depan dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
—SRAK!
Ayunan vertikalnya begitu presisi, hampir mengenai bahu Abirama. Namun, dengan gerakan ringan, Abirama menghindar dan membalas dengan tebasan cepat. Sora segera memutar tubuhnya, menangkis serangan itu dengan refleks yang tajam.
"Bagus! Gerakanmu sudah lebih cepat dan stabil!" seru Abirama sambil terus menyerang.
Sora tidak berhenti. Ia menggunakan ayunan diagonal, mendatar, dan serangkaian serangan cepat tanpa memberi kesempatan pada Abirama untuk menyerang balik. Pedangnya melesat seperti angin, setiap tebasannya memiliki kekuatan yang nyata.
Namun, Abirama tetap tenang. Ia membaca pola serangan Sora dan dalam satu momen, ia menghentikan serangan Sora dengan satu tangan. "Cukup."
Sora terengah-engah, tetapi matanya bersinar penuh semangat. Abirama menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Kau berkembang lebih pesat dari yang kuduga. Kurasa, kau sudah siap untuk tahap berikutnya."
Sora mengangkat kepalanya, matanya penuh antusias. "Latihan berikutnya?"
Abirama mengangguk. "Sebelum itu, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Tentang kekuatan dalam dirimu."
Sora terdiam, mendengarkan dengan saksama. Abirama melangkah mendekatinya, ekspresinya serius. "Selama latihan, kau pasti merasakan sesuatu yang berbeda dalam tubuhmu. Daya tahanmu meningkat drastis, kekuatanmu bertambah… seolah tubuhmu bisa melakukan hal yang seharusnya mustahil."
Sora mengangguk. Ia memang merasakannya. Dua hari terakhir, ia menyadari tubuhnya mampu bertahan lebih lama, lebih kuat. Bahkan, saat ia kelelahan, ia masih bisa berdiri tanpa rasa sakit yang berlebihan. Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.
Abirama menatapnya dalam-dalam. "Sekarang, kau harus belajar bagaimana merasakan dan mengendalikan kekuatan itu. Kekuatan tanpa kendali hanya akan menjadi beban. Fokuslah pada tubuhmu. Dengarkan denyutnya, rasakan aliran energinya. Pelajari batasanmu, lalu perlahan dorong batas itu semakin jauh."
Sora mengepalkan tangannya, mencoba merasakan kekuatan dalam dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi aneh yang selama ini ia abaikan. Perlahan, sesuatu dalam dirinya mulai bergetar—sebuah energi yang mengalir di otot-ototnya, mengisi tubuhnya dengan kekuatan yang belum pernah ia sadari sebelumnya.
Setelah beberapa saat, ia menatap Abirama dengan penuh semangat. "Ayah, bisakah kau menunjukkan kekuatan ini kepadaku?"
Abirama terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak bisa. Kekuatanmu berbeda."
Sora tertegun. "Berbeda?" Ia berpikir sejenak sebelum bertanya, "Lalu… apakah ini kekuatan yang diwarisi dari Ibu?"
Abirama menarik napas dalam, lalu menggeleng lagi. "Bukan, Sora. Kekuatan ini bukan berasal dari ayah, juga bukan dari ibumu."
Sora menatap ayahnya dengan bingung. "Kalau begitu… dari mana?"
Abirama menatap langit sejenak sebelum menjawab dengan suara tenang. "Terlepas dari mana pun kekuatan itu berasal, satu hal yang pasti—itu adalah berkah. Takdir telah memberimu sesuatu yang luar biasa, dan bagaimana kau menggunakannya akan menentukan jalan hidupmu. Jangan terjebak pada asal-usulnya. Sebaliknya, fokuslah untuk memahami dan mengendalikannya."
Sora terdiam, mencerna kata-kata itu. Ia tidak tahu dari mana kekuatan ini berasal, tetapi ia tahu satu hal—ini adalah bagian dari dirinya. Dan seperti yang ayahnya katakan, bagaimana ia menggunakannya akan menjadi pilihannya sendiri.
Abirama kembali menatap sora lalu tersenyum tipis. "Hmp... baiklah, ayah akan memperlihatkan sedikit yang ayah miliki."
"Benarkah?" Tanya Sora, bersemangat.
Abirama mengangguk. "Ya," Kemudian ia melangkah mundur. "Perhatikan ini baik-baik."
Dalam sekejap, sosok Abirama menghilang.
Sora terbelalak. "Apa?!"
Tiba-tiba, ada beberapa bayangan Abirama di sekelilingnya. Ia masih bisa melihat ayahnya berdiri di tempat semula, tapi seakan ada beberapa sosok lain yang juga muncul bersamaan.
Sebelum Sora bisa merespons, pedang yang ada di tangannya sudah tidak ada. Ia terkejut melihat Abirama berdiri di belakangnya, memegang pedang itu dengan tenang.
"Cepat, bukan?" tanya Abirama sambil melempar pedang itu kembali.
Sora menangkapnya dengan refleks. "Itu luar biasa...!"
Abirama tersenyum tipis. "Kecepatan dan strategi adalah kunci dari teknik ayah. Tapi kau, Sora, kau memiliki jalan yang berbeda. Ayah tidak bisa mengajarimu dengan cara yang sama yang ayah pelajari dulu. Tapi, ayah akan membantumu menemukan cara terbaik untuk menguasai kekuatanmu sendiri."
Sora menggenggam pedangnya lebih erat. Semangat dalam dirinya membara.
"Aku mengerti, Ayah. Aku akan berlatih lebih keras lagi!"
Abirama mengangguk. "Bagus. Karena perjalananmu baru saja dimulai."
Abirama duduk bersila di hadapan Sora, menatapnya dengan penuh ketenangan. "Sekarang, Sora," katanya, suaranya rendah namun tegas. "Pejamkan matamu. Dengarkan tubuhmu. Rasakan aliran kekuatan yang ada di dalam dirimu."
Sora menarik napas dalam, lalu perlahan memejamkan matanya. Di sekeliling mereka, hanya ada suara angin yang berhembus pelan dan desir salju yang jatuh ke tanah. Abirama tetap diam, membiarkan putranya tenggelam dalam kesunyian, menyatu dengan dirinya sendiri.
Waktu berlalu. Menit demi menit berubah menjadi jam. Tak ada kata-kata yang terucap, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sora berusaha merasakan sesuatu dalam tubuhnya—sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik batas kesadarannya. Tapi semuanya terasa kosong.
Namun Abirama tetap menunggu. Ia tahu bahwa kesabaran adalah kunci.
Saat senja menjelang, ketika cahaya keemasan menyapu pegunungan bersalju, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Tanpa disadari, tubuh Sora mulai mengeluarkan aura panas. Awalnya samar, seperti hembusan hangat di tengah musim dingin. Namun perlahan, udara di sekitarnya mulai bergetar. Salju yang menutupi tanah di sekelilingnya mulai mencair, meninggalkan lingkaran tanah lembab di bawahnya.
Abirama menyipitkan mata. Ia bisa merasakan perubahan energi yang mendadak ini. Namun yang lebih mengejutkan, Sora masih memejamkan mata—tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Aura panas itu semakin kuat, membuat udara beriak tipis di sekelilingnya, seolah api yang tak terlihat berkobar dari dalam tubuhnya. Abirama menegang, pikirannya berputar cepat.
"Secepat ini?"
Ia membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memasuki kesadaran seperti itu. Bahkan para pendekar hebat pun membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membangkitkan warisan mereka. Tapi Sora—anak yang baru beberapa hari berlatih—telah mencapai titik ini begitu cepat. Lebih cepat dari siapapun yang pernah ia temui. Lebih cepat dari dirinya sendiri.
Abirama mengepalkan tangan. Ini bukan hal yang biasa. Tidak seharusnya seperti ini.
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu.
Jika Sora bisa mencapai tahap ini dalam waktu singkat… maka kekuatan itu… bisa jadi…?
Abirama menahan napas. Tatapannya tertuju pada putranya yang masih dalam meditasi.
Lalu tiba-tiba… percikan api kecil mulai muncul di sekitar tubuh Sora.
Mata Abirama melebar. Ia tidak bisa membiarkan ini berlanjut.
Dengan cepat, ia meraih bahu Sora dan mengguncangnya. "Sora, hentikan! Sadarlah!"
Sora terperanjat, napasnya memburu saat matanya terbuka. Ia menatap ayahnya dengan kebingungan. "Ayah? Apa yang terjadi?"
Ia menoleh ke sekelilingnya—dan membeku.
Tanah tempat ia duduk kini tidak lagi tertutup salju. Lapisan es di sekitarnya telah mencair, menyisakan tanah yang basah dan mengepulkan uap tipis ke udara. Sora menatap tangannya, masih merasakan sisa hangat yang belum ia pahami.
Ia menelan ludah. "Apa yang barusan terjadi...?"
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/