NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH SI BOSS

MENGANDUNG BENIH SI BOSS

Status: sedang berlangsung
Genre:Saling selingkuh / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Rey

Mira tiba-tiba terjebak di dalam kamar hotel bersama dengan Angga—bosnya yang dingin, arogan, dan cuek. Tak disangka, setelah kejadian malam itu, hidup Mira benar-benar terbawa oleh arus drama rumah tangga yang berkepanjangan dan melelahkan.
Mira bahkan mengandung benih dari bosnya itu. Tapi, cinta tak pernah hadir di antara mereka. Namun, Mira tetap berusaha menjadi istri yang baik meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan. Hingga suatu waktu, Mira memilih untuk mundur dan menyudahi perjuangannya untuk mendapatkan hati Angga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANAKKU APA BUKAN?

Sesampai di kontrakannya, Mira masih terdiam dan melamun. Sesekali, dia mengusap perutnya dengan pelan.

"Jadi ... ada benih yang tumbuh di dalam sini?" Mira masih merasa tidak percaya. Dia mengelus perutnya.

Sambil rebahan di atas kasur, dia membuka handphone-nya dan membuka kontak Angga.

"Buka blokiran-nya apa gak ya?" Wanita itu terlihat risau dan galau.

"Tapi aku hamil ..., huft ... masak iya aku gak kasih tau dia kalau aku hamil? Dia kan yang manghamiliku ...," sungutnya.

Setelah berpikir bermenit-menit, akhirnya Mira memutuskan untuk meng-unblock akun sosmed dan nomor suaminya.

Beberapa menit setelahnya, langsung masuk pesan dari Angga.

"Mira ... ini kamu, kan?"

"Ini beneran kamu apa tukang nipu?"

"Apakah HP-mu hilang?"

"Apakah kamu sengaja memblokir nomorku?"

Angga mengirimkan chat dengan begitu banyak. Mira pun mengetik balasan dengan ogah-ogahan. Jarinya belum selesai mengetik, dan tiba-tiba ada panggilan masuk.

TRING TRING.

"Halo."

"Halo, Mir ... ini kamu, kan?"

"Heeemmm," kata Mira.

"Kok suaramu begitu? Kamu sakit?" Angga kembali bertanya.

"Heeemmm," sahut si Mira lagi.

"Kamu dimana? Kamu baik-baik saja, kan? Mama nanyain terus. Aku pusing jelasin ke Mama," kata pria itu.

"Tangerang," jawab Mira singkat.

"Shareloc ...! Nanti aku kesana sama Mama. Mama khawatir banget, kamu juga blokir nomor Mama, ya?" Angga mendengus pelan.

"Tidak, aku hanya mematikan ponselku karena aku gak enak badan. Beberapa hari yang lalu kami masih berkirim pesan," kata Mira.

Panggilan pun dimatikan. Mira kemudian membagikan lokasi keberadaannya kepada Angga.

"Kenapa aku tidak bilang kalau aku hamil?" Wanita itu kembali mendengkus.

"Astaga, Mira ... kamu ini bodoh sekali?" Mira pun menjitak kepalanya berulang kali.

Saat itu juga, Angga berangkat ke Tangerang. Tapi dia berbohong, dia tidak berangkat bersama dengan Bu Ice, itu hanya alibinya saja agar Mira tidak lost contact lagi. Bu Ice taunya Mira ke Tangerang hanya untuk urusan pekerjaan sementara, jadi dia tidak begitu khawatir dengan kondisi menantunya. Baik Mira ataupun Angga, keduanya juga tidak memberitahukan Bu Ice kalau mereka habis berantem.

****

TING TONG.

CEKLEK.

"Masuklah." Mira pun membuka pintu dengan tatapan dingin.

"Mama mana?" Ia bertanya sambil menelisik ke belakang Angga.

"Di rumah. Dia menunggu kamu." Angga kembali berbohong, padahal Bu Ice ada di luar kota, itulah sebabnya selama seminggu ini Bu Ice tidak berkunjung ke rumah Angga.

"Kamu sakit? Wajahmu pucat," tandasnya.

"Heemmbb, hanya sedikit lelah." Mira mendengkus, lalu masuk ke dalam kontrakannya, disusul oleh Angga.

Pria itu duduk di sofa, dia terlihat lega karena akhirnya ... Mira mau memberikan kabar.

"Lain kali jangan asal blokir. Itu namanya kekanak-kanakan!" Pria dingin itu menghembuskan nafas kesal.

"Hanya sedikit lelah, ingin beristirahat saja," sahut Mira.

"Berisitirahat apa menghindar?" Angga pun terkekeh.

"Kamu harus pikirkan perasaan Mama, dia sangat menyayangimu," tandasnya dengan tatapan sinis.

"Heeemm." Wanita itu pun mengangguk.

"Bersiaplah, ayo pulang." Angga menimpali dengan wajah kaku.

Mira terdiam.

"Mira ... oke, baiklah ... mari kita luruskan tentang kejadian tempo hari. Aku tidak mau kalau kita ini saling salah paham sampai berlarut-larut." Pria itu berdiri dan berjalan mendekati istrinya.

"Kita perjelas lagi tentang hubungan kita," tandasnya dengan tetapan serius.

"Jadi begini ... kamu tahu kan bagaimana hubungan kita ini dibangun? Dan kamu juga tahu kan kalau aku dan Carla saling mencintai?" Dia menatap mata istrinya lekat-lekat.

"Aku tidak mungkin mencintaimu. You know lah, berkali-kali aku mengatakan, kalau kamu bukan tipeku. Nah, di sini kamu gak boleh baper, setiap pria kan punya tipe cewek masing-masing. Itu adalah hak asasi manusia, aku mau mencintaimu atau tidak, itu tidak bisa dipaksa. Ingat, ya ... tidak bisa dipaksa," tandasnya, lalu mengambil nafas pendek.

"Dan lagi ... soal ML. Malam itu aku mabuk dan kita sama-sama rugi, jadi impas kan? Kau kehilangan keperawanan, dan aku kehilangan keperjakaan, hehehe. So ..., jangan overthinking dan over bucin, dah. Kita sama-sama rugi dan kita juga sama-sama enak, yeee, kan?" Dia melanjutkan.

"Lalu soal aku menyentuhmu, mengawinimu, hingga memakaimu beberapa ronde sore itu ..., kamu bilang kamu bukan pelacur, kamu bukan lonte, dan segala macamnya. Oke, di sini aku salah. Aku akui ... aku ketagihan tubuh kamu, Mir. Entah kenapa, melihat dadamu saja aku sudah merasa h*rny. Oke, ini wajar lah yaa ... namanya manusia normal, aku pria normal. So, jangan GR. Nothing special about you! Kita hanya kebetulan diharuskan tinggal bersama karena sebuah ikatan yang kata orang-orang ... SUCI." pria itu kembali menatap Mira dengan lekat.

"Kau tenang saja, mulai sekarang ... aku tidak akan menyentuhmu lagi, karena kemarin ... kamu sudah melarang ku. Tapi, Mir .... Tapi lho ya ... kamu tidak boleh ikut campur atas hubunganku dengan Carla. Mulai sekarang kamu jangan kepoin urusan asmara aku, dan aku akan berhenti kepo-kepoin hidup kamu. Okaay? Paham ya sampai di sini?!" Dia menegaskan.

"Kamu juga harus bersabar, aku sudah berjanji, kita akan mengakhiri pernikahan ini setelah tiga bulan. Dan kini sudah berjalan hampir dua bulan, kan? Kamu hanya tinggal menunggu waktu sebentar lagi." Angga berbicara dengan ekspresi yang begitu manis dan penuh senyuman.

Mira sedari tadi hanya menyimak ucapan suaminya tanpa berkomentar. Dia masih diam dan ingin tahu sejauh apa pemikiran suaminya atas hubungan dadakan ini.

"Ngomongnya sudah?" kata wanita itu dengan wajah datar.

Angga pun mengangguk pasti.

"Oke, sekarang aku yang akan berbicara." Mira menarik nafas panjang, lalu berjalan ke kamarnya, ia mengambil testpack dan hasil pemeriksaan tadi pagi. Tak lama kemudian, dia pun keluar.

"Aku hamil," ucapnya seraya menyodorkan testpack itu ke hadapan suaminya.

Angga terbelalak. Dia mengambil testpack itu dan mengamatinya. "Apaaaa?!"

"Kamu seriusan hamil?" tandasnya dengan tatapan masih melebar.

"Heeemmm." Mira mengangguk pelan tanpa melihat wajah suaminya.

"Wait, wait, wait ...." Pria dingin itu terlihat menata nafasnya.

"Itu anakku apa bukan?" ucapnya dengan ragu.

"Ya pasti anak kamu, lah! Aku hanya melakukannya denganmu! Kamu kira aku wanita murahan yang mau ML dengan banyak pria?" Mira memekik. Nafasnya naik dan turun tak beraturan.

"Ya gak gitu maksudku, Mir. Belakangan ini kan kamu sering tidak pulang, kamu tidur di rumah sakit, lah ..., pulang ke kampung dengan ibumu, lah ..., ijin kerja sampai tidak pulang, lah ..., itu kan patut dipertanyakan. Sejak kita ML, kamu memang jarang pulang." Angga mendekatkan wajahnya ke hadapan Mira dengan tatapan nyalang.

"Makanya aku ini nanya baik-baik. Itu anakku apa bukan," tandasnya dengan tegas.

PLAKKKK ...!

Mira langsung menampar pria itu dengan sekuat tenaga.

"Pergi dari hadapanku sekarang juga! Dasar pria brengsek!" teriaknya dengan bibir bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!