Finn kembali untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Dengan bantuan ayah angkatnya, Finn meminta dijodohkan dengan putri dari pembunuh kedua orang tuanya, yaitu Selena.
Ditengah rencana perjodohan, seorang gadis bernama Giselle muncul dan mulai mengganggu hidup Finn.
"Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi keturunan keluarga Milano. Aku ingin melihat dunia luar, Finn... Merasakan hidup layaknya manusia pada umumnya," ~ Giselle.
"Aku akan membawamu keluar dan melihat dunia. Jika aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?" ~ Finn.
Cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya akankah mampu meluluhkan dendam yang sudah mendarah daging?
100% fiksi, bagi yang tidak suka boleh langsung skip tanpa meninggalkan rating atau komentar jelek. Selamat membaca dan salam dunia perhaluan, Terimakasih 🙏 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : TDCDD
Suasana diruangan itu mendadak hening, semua mata kini tengah menatap ke arah Giselle. Ketegangan juga dirasakan oleh beberapa orang, terutama Selena, dia sangat tidak menyukai tatapan Finn pada Giselle. Sepertinya Finn begitu tertarik pada adik tirinya itu sejak kejadian di pesta beberapa waktu lalu.
"Jadi ini gadis yang katanya sedikit pemalu itu?" Finn menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi, sedikitpun tak mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih berdiri itu.
Bi Nilam bergegas bangun begitu mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Andreas, dia merangkul Giselle dan membawanya untuk duduk disampingnya.
"Jangan buat Tuan marah ya, Non." bisik Bi Nilam ditelinga Giselle. Gadis itu pun patuh dan mengangguk.
Glenn yang duduk berhadapan dengan Giselle merasa gugup sekaligus senang karena gadis yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah gadis yang bertemu dengannya saat di pesta waktu itu. Tak peduli jika gadis itu adalah anak seorang kepala pelayan, Glenn memang sudah tertarik sejak pertemuan pertama mereka.
"Glenn, dia adalah Giselle. Bagaimana, cantik kan?" Tuan Andreas memperkenalkan Giselle pada Glenn.
"Cantik, Om. Sangat cantik," puji Glenn.
Giselle hanya menatap acuh pada Glenn.
"Jangan berharap aku akan memujimu balik karena kamu sudah memujiku," ketusnya. Bukan hanya Glenn, Finn juga diam-diam tersenyum mendengar ucapan gadis itu.
Para pelayan mulai menyajikan hidangan diatas meja makan. Sebenarnya Giselle merasa sangat bosan dengan acara-acara formal seperti ini, jika bukan karena Papanya mengancam akan memecat Bi Nilam, Giselle pasti akan merusak acara makan malam ini dan memilih kabur dari sana.
"Kamu masih kuliah atau sudah bekerja?" tanya Glenn, Giselle segera menghentikan makannya dan menatap ke arahnya.
Giselle nampak bingung, dia mulai berfikir keras, "A-aku..."
"Giselle ini sebenarnya baru datang dari kampung, Glenn. Selama ini dia hidup dikampung dan baru satu bulan ini hidup dikota. Jadi dia tidak memiliki kesibukan apapun, sesekali dia akan membantu ibunya bekerja di kediaman utama Milano," Tuan Andreas segera menjawab sebelum Giselle menjawab yang tidak-tidak.
"Finn, kamu coba ini Sayang, ini sangat enak," Selena ingin menambahkan daging di piring Finn, namun Finn segera mengangkat satu tangannya sebagai bentuk penolakan.
"Tidak perlu, terimakasih Selena." jawab Finn.
Finn mengalihkan pandangannya lagi pada Giselle, "Bagaimana jika kamu bekerja di perusahaanku? Kebetulan aku sedang mencari seorang sekertaris."
Selena jelas tidak setuju dengan usul Finn, dia menumpukkan tangannya diatas tangan Finn yang ada diatas meja makan. Pemandangan itu membuat hati Giselle memanas. Meskipun belum memiliki perasaan, namun dia tidak suka melihat Finn dekat dengan wanita lain meskipun wanita itu adalah tunangannya sendiri.
"Finn, Giselle ini tidak berpendidikan tinggi, jadi mana mungkin dia bisa mengerjakan tugas-tugas kantoran seperti itu," ucap Selena.
"Selena benar Finn, soal pekerjaan sepertinya bukanlah hal penting bagi seorang wanita. Apalagi setelah mereka menikah nanti, mereka hanya tinggal duduk manis dirumah untuk menyambut suaminya pulang kerja," timpal Tuan Andreas. "Tapi semua terserah Nak Glenn. Bagaimana Nak Glenn, apa kamu mau menerima perjodohan ini? Giselle hanya putri dari seorang kepala pelayan, apa kamu mau menerimanya?"
Glenn menatap Giselle sampai tidak berkedip, "Saya sama sekali tidak merasa keberatan dengan status sosial. Jadi, saya mau menerima perjodohan ini, Om."
Jika bukan karena Bi Nilam yang memegangi lengannya, ingin sekali Giselle memprotes ucapan Glenn. Bagaimana mungkin pria itu langsung setuju, padahal mereka belum saling mengenal.
"Kalau Papa terserah kamu saja, Glenn. Selama itu membuat kamu bahagia, Papa sih setuju-setuju saja," sambut Tuan Hendra memberikan lampu hijau pada putranya.
Obrolan itu semakin tidak mengasyikkan bagi Giselle, nafsu makannya bahkan sudah menghilang. Tidak ada yang bertanya apakah dia setuju atau tidak dengan perjodohan ini, semua keputusan sudah dipegang kendali oleh papanya.
"Glenn, nanti kamu pulangnya sekalian antar Giselle saja, biar kalian bisa saling ngobrol-ngobrol dan lebih dekat lagi," usul Sonia.
Tuan Andreas mengangguk setuju, "Ya itu ide yang sangat bagus. Bagaimana, kamu mau kan Glenn?"
"Iya, Om, saya mau," jawab Glenn, tatapannya tak lepas dari wajah Giselle.
"Iya-iya saja! Bisa nggak sih menolak!" Giselle mengeluarkan ponselnya dari tas selempangnya dan mengirimkan pesan pada Finn.
💌Giselle: [ Aku ingin kamu menculikku, Finn. Apa kamu berani? ]
Mendengar suara getar ponselnya, Finn melirik pada Giselle, lalu dia mengeluarkan ponselnya dari balik jasnya. Finn tersenyum membaca pesan dari gadis itu.
💌Finn: [ Jika aku berani, apa imbalan yang akan aku dapatkan, Nona? ]
Giselle menyimpan kembali ponselnya, dia menghela nafas panjang. "Om Andreas, aku ingin menerima tawaran calon menantumu untuk bekerja di perusahaannya. Bagaimana menurut Anda?"
Semua orang terkejut mendengar permintaan Giselle, tak terkecuali Finn, dia merasa sangat puas mendengarnya. Itu artinya dia tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk bertemu dengan Giselle, mereka bisa bertemu setiap hari dikantornya.
"Jika dia tidak bisa dia bisa belajar. Jadi Om tidak perlu khawatir, karena aku sendiri yang akan turun tangan untuk mengajarinya," Finn langsung menimpali, dia tau Tuan Andreas pasti akan menolak.
Selena jelas sangat keberatan, "Finn, jika kamu membutuhkan sekertaris aku bisa membantu mencarikannya untukmu, tapi jangan Giselle. Karena dia..."
"Dia kenapa?"
"Dia... Dia tidak memiliki bakat apapun Finn, kamu akan lelah sendiri jika mengajarinya," jawab Selena beralasan.
"Justru aku malah melihat bakat lain dalam dirinya, bakat yang tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Itulah sebabnya aku ingin merekrut dia sebagai sekertarisku. Bagaimana Om, apa Om Andreas juga merasa keberatan?" tanya Finn. Jelas saja Finn berbohong, karena bakat yang dia maksud disini adalah bakat saat diatas ranjang, hanya Giselle yang mampu membangkitkan has-ratnya.
Tuan Andreas merasa sangat terpojok sekarang. Jika dia menolak lagi yang ada Finn akan curiga dan mencari tahu tentang siapa Giselle yang sebenarnya. Tapi dia juga tidak bisa sembarang melepas Giselle begitu saja. Identitas Giselle tidak boleh terungkap jika sebenarnya dia adalah putri keluarga Milano.
"Finn... Om punya banyak karyawan yang bisa kamu rekrut menjadi sekertaris kamu. Besok datanglah ke kantor Om dan kamu tinggal pilih saja mana yang kamu mau, mereka jauh lebih bisa diandalkan dan berpengalaman."
Finn tersenyum tipis, mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. "Seorang anak kepala pelayan yang tidak berpendidikan tiba-tiba dijodohkan dengan anak seorang pembisnis. Bukankah itu seharusnya terdengar sangat aneh dan mencurigakan, bukan begitu Om Andreas Milano?"
Tuan Andreas menegakkan tubuhnya, keputusannya untuk mengajak Finn bergabung dalam acara makan malam ini ternyata adalah kesalahan besar. Harusnya sejak awal dia sadar, jika Finn bukanlah orang yang akan dengan mudah bisa di bodoh-bodohi.
"Apa maksud kamu, Finn. Perjodohan ini terjadi karena mereka sama-sama cocok. Jika kamu melihat Giselle memiliki bakat, baiklah, Om setuju jika kamu ingin mengajak dia bekerja di perusahaan kamu," Tuan Andreas terpaksa menyetujui, dia menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Selena hendak memprotes keputusannya.
...✨✨✨...
finn udah ketagihan ya...
kk ku 3 orang pandai bela diri tapi gak pernah buat masalah😅