NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Lembah Bayangan dan Raja Tikus Tanah

Kegelapan di dalam terowongan bawah tanah menuju Lembah Bayangan tidaklah sunyi. Di sini, kegelapan memiliki suara suara tetesan air yang berlendir, decit ribuan tikus yang kelaparan, dan gema napas berat Jiangzhu yang terdengar seperti mesin rusak yang dipaksa bekerja. Bau kencing tikus yang menyengat beradu dengan aroma amis dari luka bakar di lengan kiri Jiangzhu, menciptakan suasana yang membuat perut siapa pun mual.

"Jangan menyentuh dinding terowongan," bisik Tabib Gu Mo di barisan depan. Ia mengangkat lentera yang apinya berwarna ungu pucat. "Dinding ini dilapisi oleh jamur pengisap sumsum. Sekali kulitmu menempel, mereka akan menghisap kalsiummu sampai tulangmu menjadi lunak seperti bubur."

Jiangzhu menyeret langkahnya, tangannya yang sehat memegangi bahu Awan sebagai penyeimbang. Di punggung Yue, Dewi Ling'er masih tak sadarkan diri, wajahnya tetap cantik namun pucat seperti rembulan yang tertutup awan mendung.

"Pak Tua, berapa jauh lagi?" tanya Jiangzhu, suaranya parau karena debu terowongan yang menyesakkan paru-paru.

"Kita hampir sampai di 'Pasar Bawah Tanah'. Di sana, kita harus bertemu dengan Raja Tikus Tanah. Dia satu-satunya yang punya jalur penyelundupan ke Lembah Bayangan tanpa terdeteksi oleh radar Sekte Cahaya Suci," jawab Gu Mo tanpa menoleh.

Setelah berjalan hampir dua jam di dalam kegelapan yang klaustrofobik, lorong sempit itu mendadak terbuka lebar. Jiangzhu terpaku sejenak. Di depannya terdapat sebuah gua raksasa yang berisi ribuan gubuk yang menggantung di langit-langit dan dinding gua menggunakan rantai berkarat. Cahaya lampion merah remang-remang memberikan kesan kota itu sedang berdarah.

Ini adalah Sarang Tikus, tempat di mana semua kotoran dunia berkumpul.

"Berhenti!" sebuah tombak pendek yang ujungnya terbuat dari gigi hiu purba tertuju ke leher Jiangzhu.

Seorang pria kerdil dengan wajah penuh kutil dan hidung yang hampir hilang menatap mereka dengan tatapan predator. "Hanya orang gila atau orang mati yang datang lewat jalur ini. Siapa kalian?"

"Aku Gu Mo. Katakan pada si Tikus Tua bahwa aku membawa 'barang' yang dia pesan sepuluh tahun lalu," ujar sang tabib sambil melemparkan sebuah kantong kecil yang berbunyi denting logam.

Pria kerdil itu memeriksa isinya, lalu meludah ke tanah. "Masuklah. Tapi jangan salahkan aku jika kepalamu berakhir di atas piring makannya."

Mereka dibawa ke sebuah bangunan yang paling besar, sebuah aula yang dibangun di atas tumpukan rongsokan logam dan tulang. Di tengah aula, di atas takhta yang terbuat dari ribuan pedang patah, duduklah seorang pria raksasa yang sangat gemuk. Lemak tubuhnya tumpah ke pinggiran takhta, dan kulitnya ditutupi oleh jubah kulit manusia yang dijahit kasar. Inilah Raja Tikus Tanah.

"Gu Mo... kau masih hidup, ya?" Raja Tikus tertawa, suaranya berat dan bergetar seperti gempa bumi kecil. Matanya yang kecil menatap Jiangzhu, lalu beralih ke Dewi Ling'er. "Oho! Barang apa ini? Dewi Langit yang jatuh ke lubang tikus? Menarik... sangat menarik."

Jiangzhu melangkah maju, meskipun kakinya gemetar karena kelelahan. Ia menghunus pedang hitamnya perlahan, membiarkan ujungnya menyentuh lantai logam dengan bunyi decit yang memekakkan telinga.

"Kami butuh jalur ke Lembah Bayangan. Sekarang," kata Jiangzhu. Tidak ada nada memohon dalam suaranya, hanya ancaman yang dingin.

Raja Tikus berhenti tertawa. Suasana di aula mendadak mencekam. Ribuan pengikutnya yang bersembunyi di balik bayang-bayang mulai mengeluarkan senjata mereka busur panah beracun dan belati bergerigi.

"Kau punya nyali, Nak. Tapi di sini, nyali tidak bisa membayar tiket masuk," Raja Tikus mencondongkan tubuhnya yang besar. "Aku butuh sesuatu yang lebih berharga. Aku butuh... matamu. Salah satu matamu yang bisa melihat energi Tiga Dunia itu terlihat sangat cantik untuk koleksiku."

Awan mencengkeram tangan Jiangzhu, "Jangan, Kakak..."

Jiangzhu menyeringai, sebuah senyum sinis yang memperlihatkan taringnya. "Kau ingin mataku? Bagaimana kalau aku memberimu sesuatu yang lebih baik? Bagaimana kalau aku memberimu kesempatan untuk tetap bernapas setelah hari ini?"

Jiangzhu melepaskan sedikit aura Inti Iblis-nya. Meskipun ia lemah, aura yang ia dapatkan dari menyerap energi meriam tadi masih menyisakan hawa penghancur yang sangat pekat. Ruangan itu mendadak diselimuti uap ungu yang mencekik.

Raja Tikus Tanah tertegun. Ia merasakan kematian berdiri tepat di belakang punggungnya. Sebagai penguasa bawah tanah, ia tahu kapan harus menggertak dan kapan harus berlutut.

"Tunggu!" Raja Tikus mengangkat tangannya yang besar, memberi isyarat agar anak buahnya mundur. "Aku hanya bercanda, Tuan Muda. Jangan terlalu serius."

"Aku tidak pernah bercanda soal keluargaku," desis Jiangzhu. Ia menarik kembali auranya, dan suhu di ruangan itu perlahan kembali normal, meskipun rasa takut masih menggantung di udara.

"Baiklah, baiklah. Aku akan memberimu jalur ke Lembah Bayangan," Raja Tikus menyeka keringat di dahi lemaknya. "Tapi ada syaratnya. Lembah itu sekarang dikuasai oleh Klan Kelelawar Merah. Mereka tidak suka tamu. Kau harus membantuku membunuh pemimpin mereka agar jalur perdaganganku kembali terbuka."

Jiangzhu menatap pedang hitamnya yang retak, lalu menatap ibunya yang masih lemah. Ia butuh tempat aman untuk Ling'er memulihkan diri, dan Lembah Bayangan adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa ditembus oleh meriam cahaya.

"Deal," jawab Jiangzhu singkat.

"Bocah, kau baru saja berjanji untuk membantai satu klan iblis dalam kondisi tubuhmu yang seperti rongsokan ini?" Penatua Mo berteriak di dalam kepalanya.

"Jika aku tidak membantai mereka, mereka yang akan membantai kita," jawab Jiangzhu dalam hati. "Setidaknya di sini, aku tahu siapa musuhku."

Raja Tikus memberikan sebuah peta kulit tua pada Yue. "Berangkatlah sekarang lewat jalur air bawah tanah. Dan ingat, Jiangzhu... jika kau gagal, jangan harap ada tulangmu yang bisa ditemukan kembali."

Jiangzhu tidak menjawab. Ia berbalik dan memberi isyarat pada Yue untuk mengikutinya. Saat mereka keluar dari aula, Jiangzhu merasakan tarikan dingin di dadanya. Li'er, mayat hidup di ruang jiwanya, mulai terbangun.

Darah... aku mencium bau darah yang sangat banyak di depan... bisik Li'er.

Jiangzhu mengepalkan tangannya. Di Benua Barat ini, perdamaian hanyalah jeda singkat di antara dua pembantaian. Dan Jiangzhu siap untuk memulai pembantaian berikutnya demi memastikan ibunya bisa melihat matahari esok hari.

Jiangzhu melangkah di atas jembatan gantung yang terbuat dari jalinan kabel karat dan tulang belulang, setiap gerakannya memicu derit memuakkan yang bergema di seluruh langit-langit gua. Ia bisa merasakan air liurnya terasa pahit campuran antara rasa logam darah dan uap asam dari limbah Sarang Tikus yang menguap di udara. Lengan kirinya kini tidak lagi terasa sakit, melainkan mati rasa total, seolah-olah dagingnya telah berubah menjadi kayu mati yang dingin.

"Berhenti menatap takhtamu seolah-olah kau tuhan di sini, Tikus Gemuk," desis Jiangzhu, suaranya pecah dan rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin uap yang mendesis di kejauhan. "Aku sudah melihat kaisar yang lebih besar darimu merangkak di tanah dengan usus terburai. Jika kau ingin negosiasi ini berhasil, jauhkan tatapan laparmu itu dari ibuku sebelum aku memutuskan untuk mencungkil matamu sendiri."

Raja Tikus Tanah tidak tersinggung; ia justru menjilat bibirnya yang berminyak, meninggalkan kilau menjijikkan di bawah cahaya lampion merah. "Kau punya lidah yang berbisa, Nak. Tapi di bawah tanah ini, hanya kekuatan yang bisa membuat lidahmu tetap berada di dalam mulutmu."

Jiangzhu melirik ke arah Yue yang berdiri di belakangnya, tangan wanita itu tetap berada pada gagang belati, matanya tidak pernah berhenti menyisir kegelapan di sudut-sudut aula. Mereka semua tahu ini adalah jebakan, namun di Benua Barat, kau hanya bisa memilih antara masuk ke mulut harimau atau terjepit di antara taring serigala.

Bocah, lihat ke arah air di bawah jembatan itu, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar seperti gesekan kertas tua. Itu bukan air biasa. Itu adalah 'Cairan Korosif Jiwa'. Jika kau jatuh ke sana, bahkan jiwamu tidak akan meninggalkan bekas. Si Tikus ini tidak berniat membiarkanmu lewat dengan mudah.

Jiangzhu mengeratkan cengkeramannya pada tangan Awan yang kini terasa berkeringat dingin. Ia tidak butuh peringatan Mo untuk tahu bahwa tempat ini adalah lubang maut. Tapi saat ia menoleh dan melihat wajah ibunya yang masih terpejam dalam dekapan Yue, sebuah tekad yang lebih dingin dari es menyelimuti hatinya.

"Pimpin jalannya, Yue," kata Jiangzhu, suaranya kini setenang air mati. "Mari kita lihat berapa banyak leher kelelawar yang harus kupatahkan sebelum fajar."

Ia melangkah maju, membiarkan ujung pedang hitamnya menyeret di atas lantai logam yang berkarat, menciptakan percikan api kecil yang tampak seperti kunang-kunang di tengah kegelapan yang busuk. Jiangzhu tidak lagi merasa seperti manusia; ia merasa seperti badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!