NovelToon NovelToon
Gadis Desa Vs Pewaris Sultan

Gadis Desa Vs Pewaris Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Anak Yatim Piatu / Cinta Murni / Romansa
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: I Wayan Adi Sudiatmika

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan, hiduplah Kirana, gadis cantik, cerdas, dan mahir bela diri. Suatu hari, ia menemukan seorang pemuda terluka di tepi sungai dan membawanya ke rumah Kakek Sapto, sang guru silat.


Pemuda itu adalah Satria Nugroho, pewaris keluarga pengusaha ternama di Jakarta yang menjadi target kejahatan. Dalam perawatan Kirana, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, setelah sembuh, Satria kembali ke Jakarta, meninggalkan kenangan di hati Kirana.


Bertahun-tahun kemudian, Kirana merantau ke Jakarta dan tak disangka bertemu kembali dengan Satria yang kini sudah dijodohkan demi bisnis keluarganya. Akankah mereka bisa memperjuangkan cinta mereka, atau justru takdir berkata lain?


Sebuah kisah takdir, perjuangan, dan cinta yang diuji oleh waktu, hadir dalam novel ini! ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Wayan Adi Sudiatmika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pertemuan

Hujan rintik-rintik turun perlahan membasahi tanah perbukitan yang sunyi. Suara rintikan air hujan menciptakan melodi alami yang menenangkan seolah menyelimuti bukit-bukit hijau dengan keheningan yang syahdu. Kirana menarik napas dalam-dalam seakan menikmati dinginnya udara sore yang menyegarkan. Hari ini ia berlatih sendirian. Ririn sedang berada di Surabaya untuk menghadiri pernikahan saudaranya, sedangkan Kakek Sapto telah memberinya tugas untuk meningkatkan kekuatan dengan berlari menaiki bukit dan turun kembali sambil menggendong tas yang berisi batu. Meski lelah tapi Kirana merasa puas. Tubuhnya terasa ringan meski hujan mulai membasahi rambut dan bajunya. Setiap tetes air hujan yang menyentuh kulitnya seolah membersihkan segala penat yang menumpuk.

“Latihan hari ini terasa cukup berat,” gumamnya pelan sambil mengusap keringat yang bercampur dengan air hujan di dahinya. “Tapi… aku bisa merasakan kemajuannya.” Ia tersenyum kecil dan merasa bangga pada dirinya sendiri. Namun di balik rasa puas itu ada sedikit kesepian. Biasanya Ririn ada di sampingnya, mengobrol dan tertawa bersama selama latihan. Hari ini… ia harus melakukannya sendiri.

Saat ia berjalan kembali ke pondok… tiba-tiba langkahnya terhenti. Dari kejauhan ia melihat cahaya lampu mobil yang mencurigakan. Jalanan sempit itu biasanya sepi apalagi di tengah hujan seperti ini. Rasa penasaran menggelitik hatinya. “Siapa yang datang ke sini di cuaca seperti ini?” bisiknya dalam hati dengan mata menyipit mencoba melihat lebih jelas.

Kirana memutuskan untuk mendekat dan berjalan pelan-pelan sambil berusaha tidak membuat suara. Hatinya berdebar-debar… campuran antara rasa ingin tahu dan sedikit kecemasan. “Aku harus hati-hati,” pikirnya dan mencoba menenangkan diri. Ia melangkah pelan dengan memanfaatkan semak-semak dan pepohonan sebagai tempat bersembunyi.

Dari balik rimbun pepohonan… Kirana menyembunyikan diri dengan tubuhnya menempel erat pada batang pohon yang kasar. Matanya membelalak saat melihat tiga pria bertubuh kekar turun dari mobil hitam yang terparkir di tepi jurang. Mereka bergerak dengan gesit seperti predator yang mencari mangsa. Di antara mereka ada seorang pemuda yang tak sadarkan diri dengan tubuhnya lemas seperti boneka rusak. Wajahnya lebam dengan darah kering mengeras di pelipisnya dan napasnya tersengal-sengal dengan lemah seolah nyawanya tinggal menunggu detik-detik terakhir.

Kirana menahan napas. Jantungnya berdegup kencang seperti drum yang dipukul tak beraturan. Rasanya suara itu bisa didengar oleh siapa pun di sekitarnya. "Apa yang terjadi di sini?" pikirnya dan otaknya berputar cepat mencoba mencerna situasi yang sama sekali tidak masuk akal. Tangannya gemetar dan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tahu ini bukan tempat yang aman tapi rasa ingin tahu dan naluri kemanusiaannya membuatnya tetap diam dan mengintip.

Tiba-tiba suara mesin mobil memecah kesunyian. Sebuah mobil merah yang sudah ringsek dan penuh baret seperti habis menabrak sesuatu muncul dari balik belokan. Mobil itu sengaja diperosokkan sedikit ke dalam hutan seolah-olah ingin menyembunyikannya dari pandangan. Kirana mengerutkan kening dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Dari mobil merah itu seorang pria berbadan kekar keluar. Wajahnya dingin seperti patung yang tak memiliki emosi. Matanya tajam dan memandang sekeliling dengan waspada. Kirana menelan ludah. Ada sesuatu yang mengerikan tentang pria itu… sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Selesaikan ini cepat!" gumam seorang pria berjas hitam yang tampaknya adalah pemimpin mereka. Suaranya rendah tapi menusuk seperti es yang membekukan tulang. "Pastikan dia mati…. Bakar mobilnya dan buat ini terlihat seperti kecelakaan." 

Kirana hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Mati? Kecelakaan?" pikirnya dan rasa panik mulai menyergap. Dia mencoba mengingat-ingat apakah ini semacam mimpi buruk tapi dinginnya angin sore dan bau tanah basah mengingatkannya bahwa ini nyata.

“Baik Bos…!” jawab dua orang lainnya dengan suara datar tanpa sedikit pun keraguan. Mereka bergerak cepat dan menyeret tubuh pemuda itu ke arah mobil merah. Gerakan mereka kasar seperti sedang memindahkan barang bukan manusia. Pemuda itu mengerang lemah tapi suaranya hampir tak terdengar.

Kirana menggigit bibirnya dan mencoba menahan teriakan yang ingin keluar dari mulutnya. "Aku harus melakukan sesuatu," pikirnya tapi tubuhnya seperti tertanam di tempat. Ketakutan dan kebingungan bertempur dalam dirinya.

Saat dua pria itu mulai menyiram mobil merah dengan bensin… Kirana tiba-tiba mendengar suara lemah dari pemuda itu. "Tolong…" gumannya nyaris tak terdengar tapi cukup untuk membuat Kirana tersentak.

"Tidak… aku tidak bisa tinggal diam…," bisiknya pada diri sendiri. 

Setelah menyalakan api di mobil tersebut, para pria itu kembali ke mobil yang masih terpakir di jalan setapak. Mereka menyaksikan api sudah berkobar tinggi dan menyilaukan mata mereka. Mereka tidak menyadari seseorang sedang menyelinap ke dekat mobil yang terbakar.

Dengan tangan gemetar Kirana membuka pintu depan mobil. Untung saja pintu itu tidak terkunci. Ia menarik tubuh pemuda itu dengan sekuat tenaga. Berat… terlalu berat untuk tubuhnya yang mungil. Tapi ia tak menyerah. Napasnya tersengal dengan keringat bercampur dengan air hujan membasahi wajahnya. Gerakannya tidak terdengar karena suara api berkobar menciptakan suara berisik yang menutupi langkahnya.

Akhirnya dengan satu tarikan terakhir tubuh pemuda itu berhasil ia keluarkan. Kirana menyeretnya menjauh dari mobil dan dibawa ke balik pepohonan.. “Uhhhh…. Uhhhh…,” napasnya putus-putus karena kelelahan dan asap hitam yang mulai mengular di tempat itu. Tapi ini juga menguntungkan Kirana. Asap hitam itu menghalangi pandangan para pria yang ada di atas.

Setelah berada di tempat yang sedikit jauh, Kirana berusaha membangunkan pemuda itu. "Tolong... tolong bangun…," bisik Kirana pelan dan mencoba menggoyang tubuh pemuda itu. Tapi tidak ada respon. Wajahnya pucat dengan bibirnya kebiruan. Darah membasahi pakaian yang digunakan pemuda itu. Kirana merasakan ketakutan yang mendalam tapi ia tahu tidak ada waktu untuk panik.

"Ada yang tidak beres," kata pria berjas hitam itu tiba-tiba seperti suaranya seperti pisau yang mengiris malam. Matanya menyapu kegelapan hutan, seolah bisa menembus bayang-bayang yang menyembunyikan Kirana. "Aku merasa ada yang mengintip."

Kirana hampir menjerit. Jantungnya berdegup kencang seperti ingin melompat dari dadanya. Dia menutup mulutnya dengan tangan dan mencoba menenangkan diri. "Tolong… jangan kesini…," doanya dalam hati dengan suara hati yang bergetar ketakutan. Dia merasakan dinginnya tanah basah merembes melalui celana yang dipakainya tapi dia tidak berani bergerak.

Dua pria lainnya berhenti sejenak dan menatap ke arah hutan. Salah satu dari mereka mengerutkan kening dan matanya mencoba menembus rimbunnya pepohonan. "Mungkin hanya binatang Bos…," katanya tapi nada suaranya tidak meyakinkan. Tangannya meraih gagang pisau di pinggangnya dan siap untuk bertindak.

"Jangan ambil risiko. Cek sekeliling…!," perintah pria berjas hitam itu dengan suara semakin dingin dan penuh ancaman. "Kalau ada yang melihat… kita semua dalam masalah besar."

Kirana menahan napas. Dia bisa mendengar langkah kaki mendekat dan setiap langkah itu seperti palu yang menghantam tanah. Dia mencoba merangkak mundur tapi akar pohon menghalangi jalannya. "Apa yang harus aku lakukan?" pikirnya dan perasaan panik mulai menyergap.

Tiba-tiba sebelum pria-pria itu sempat bergerak lebih dekat, ledakan menggema di langit malam. "Bummmmmm….!!!!" Suaranya memekakkan telinga dan api membubung tinggi. Cahaya oranye dari kobaran api menyorot wajah-wajah para pria itu dan Kirana bisa melihat ekspresi puas di wajah mereka.

"Sudah selesai…," gumam pria berjas hitam itu dengan suara datar. "Ayo pergi dari sini sebelum ada yang datang!"

Mereka bergegas menuju mobil hitam dan meninggalkan mobil merah yang terbakar serta pemuda yang terluka parah. Mereka mengira kalau pemuda itu sudah terbakar bersama mobil merah itu. Kirana menatap ke arah mobil yang terbakar dengan perasaan campur aduk. "Apa yang baru saja terjadi?" pikirnya dan otaknya berputar cepat. Dia memandang pemuda yang masih tak sadarkan diri di sampingnya dengan tubuh lemas dan penuh luka.

Dengan gemetar Kirana berlutut di samping pemuda itu. Tangannya meraba lehernya untuk mencari denyut nadi. "Masih ada," bisiknya lega meski napasnya lemah dan tidak stabil. "Kamu harus bertahan…," lanjutnya dengan suara gemetar. "Aku tidak akan membiarkanmu mati."

Dia mencoba mengingat apa yang diajarkan Kakek Sapto tentang pertolongan pertama. Dengan cepat ia merobek sedikit bajunya dan mengikatnya ke luka di lengan pemuda itu untuk mencoba menghentikan pendarahan. Tangannya berlumuran darah tapi dia tidak peduli. "Tolong... tolong bangun…," ujarnya lagi dan kali ini lebih keras seolah berharap suaranya bisa membangunkannya.

Pemuda itu mengerang pelan dan matanya setengah terbuka. "Dimana ini…? Siapa... siapa kamu?" suaranya parau dan hampir tak terdengar seperti angin yang berbisik di antara daun-daun.

"Shhh… jangan bicara. Kamu terluka parah…," kata Kirana mencoba menenangkannya. Suaranya lembut tapi tegas. "Aku akan membawamu ke tempat aman. Tapi kamu harus tetap sadar… oke?"

Pemuda itu mengangguk lemah lalu matanya terpejam lagi. Kirana merasa panik tapi dia tahu harus tetap tenang. Dia memandang ke arah pondok Kakek Sapto yang masih cukup jauh dari sini. Tapi tidak ada pilihan lain. "Aku harus menyelamatkannya…," tekadnya menguat.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya Kirana mencoba membawa pemuda itu dengan cara dipapah. Setiap langkah terasa berat seperti menarik beban yang tak terkira. Hujan masih turun dan membasahi mereka berdua tapi Kirana tidak peduli. Yang ia pikirkan sekarang adalah menyelamatkan nyawa orang asing ini.

"Kamu akan baik-baik saja…," bisiknya lagi seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku janji…"

Pemuda itu mengerang lagi dan kali ini lebih keras. "Sakitttt…" gumannya dan wajahnya mengerut kesakitan.

"Tahan ya…. Kita hampir sampai…," kata Kirana meski sebenarnya dia tidak yakin. Tapi dia tidak bisa menyerah. Tidak sekarang.

---

Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah pemuda itu bisa diselamatkan? Kita ikuti kisah selanjut…

1
Atik R@hma
pertemuan pertama, 😚😚
Atik R@hma
ok ka,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!