cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRUK BAHAN BAKU YG TERGULING
BAB 32
DESA GRENJENG — PAGI
Pagi datang tanpa suara sirene.
Tanpa ledakan.
Tanpa darah di jalan.
Namun satu per satu, pintu gudang kecil tidak terbuka.
Di pinggir desa, Pak Wiryo berdiri di depan bengkel produksinya—tempat ia dan enam karyawan biasa merakit komponen bola kulit untuk suplai PT. Korean Industry. Gembok tergantung miring. Rantainya dipotong kasar.
Di dalam, rak bahan baku kosong.
Bukan dicuri.
Dibersihkan.
Di meja kerja, ada satu amplop cokelat tanpa alamat.
Di dalamnya hanya satu kertas.
“Hentikan kerja sama.
Atau hentikan usahamu.”
Tangan Pak Wiryo gemetar.
Ia bukan satu-satunya.
DESA GRENJENG — SIANG
Vendor kecil berguguran tanpa suara.
▪ Mesin press rusak “kebetulan” terbakar korsleting.
▪ Truk distribusi dicegat razia ilegal lalu ditahan berhari-hari.
▪ Bahan baku ditolak pemasok dengan alasan mendadak: stok kosong.
▪ Rekening usaha dibekukan sementara—“verifikasi sistem”.
Semua rapi.
Semua legal di atas kertas.
Namun polanya sama.
Dan targetnya satu:
vendor-vendor kecil yang baru bergabung dengan Kim.
KANTOR VENDOR KULIT SINTETIS — SIANG
Bu Rina duduk menatap layar laptopnya yang beku.
“Pesanan kami dibatalkan sepihak,” katanya pada Pak Dosen Deden yang datang meninjau. “Katanya kualitas tidak konsisten.”
Pak Dosen mengernyit. “Padahal minggu lalu lolos audit.”
Bu Rina mengangguk. “Iya. Tapi pagi ini… dua orang datang.”
“Siapa?”
“Tidak pakai seragam. Tapi tahu semua data kami. Jam produksi. Nama karyawan. Bahkan… anak saya sekolah di mana.”
Ia terdiam. Matanya basah.
“Mereka bilang… ini peringatan.”
KANTOR PT. KOREAN INDUSTRY — SIANG
Mr. Kim menerima laporan demi laporan.
Wajahnya tetap tenang—namun rahangnya mengeras.
“Empat vendor kecil berhenti produksi dalam tiga hari,” lapor Park.
“Alasannya berbeda-beda, tapi waktunya berurutan.”
Kim menutup map perlahan.
“Ini bukan kebetulan.”
Park ragu. “Apa kita hentikan dulu kerja sama dengan vendor kecil? Demi stabilitas?”
Kim menatapnya tajam.
“Justru karena mereka kecil, mereka diserang.”
Ia berdiri.
“Kalau aku mundur sekarang,” lanjut Kim, “pesannya jelas: siapa pun yang lemah boleh diinjak.”
Park menunduk. “Lalu langkah kita?”
Kim menarik napas dalam.
“Kita bertahan. Tapi tidak sendiri.”
DUMAI — RUMAH SAKIT — SORE
Bima menerima panggilan terenkripsi.
Wajahnya berubah saat membaca laporan singkat.
“Vendor kecil disabotase,” katanya pada Eren. “Tanpa kekerasan terbuka. Tapi tekanannya sistematis.”
Eren menghela napas. “Gaya Nakata. Main panjang.”
Bima melirik lantai atas—ke arah ruang rawat Sandi.
“Dia sengaja bikin kita terpecah,” lanjut Bima. “Satu sisi kesehatan. Satu sisi ekonomi.”
Eren mengangguk. “Dan vendor kecil itu tameng pertama.”
RUANG RAWAT SANDI — SENJA
Amelia menutup bukunya saat dokter Farhan masuk.
“Ada perkembangan,” kata dokter pelan. “Refleks sarafnya mulai merespons. Masih koma, tapi arahnya baik.”
Amelia tersenyum tipis. Lega—namun belum tenang.
Ia menggenggam tangan Sandi.
“Bang… di luar sana mereka mulai jatuh,” bisiknya.
“Tapi kamu pernah bilang… yang kecil bukan untuk dikorbankan.”
Monitor berdetak stabil.
Namun jari Sandi—
bergerak sedikit.
Nyaris tak terlihat.
Amelia terdiam.
DESA GRENJENG — MALAM
Di sebuah rumah kontrakan, empat pria duduk melingkar.
Ponsel di meja.
Nama kontak disamarkan.
“Vendor ketiga sudah berhenti,” kata salah satu.
“Tanpa teriak. Tanpa laporan.”
Yang lain tertawa pendek. “Lebih bersih.”
“Bos minta dipercepat,” tambah yang pertama. “Sebelum Kim menguatkan pertahanan.”
“Kalau ada yang bandel?”
Yang tertua mengangkat bahu.
“Kita punya ular… dan cara lain.”
Mereka bangkit.
Malam menelan langkah mereka.
KANTIN PABRIK KIM — MALAM
Beberapa buruh berkumpul.
Wajah-wajah cemas.
“Pak… vendor Pak Wiryo tutup,” bisik salah satu.
“Besok mungkin giliran kita?”
Kepala regu keamanan berdiri.
“Tenang. Kita tidak tinggal diam.”
Namun kegelisahan sudah menyebar—
itulah yang Nakata inginkan.
DUMAI — RUMAH SAKIT — MALAM
Bima berdiri di lorong, menatap pesan terakhir di ponselnya.
Vendor kecil adalah pintu masuk.
Jika mereka jatuh, pabrik besar ikut goyah.
Eren berdiri di sampingnya.
“Kalau Sandi sadar sekarang,” kata Eren pelan, “dia pasti bilang—ini bukan cuma sabotase.”
Bima mengangguk.
“Ini perang ekonomi… pakai ular dan ketakutan sebagai senjata.”
Di balik pintu, Sandi terlelap.
Namun di dalam kesunyian koma itu—
sebuah kesadaran perlahan bergerak.
Karena saat yang kecil mulai dihancurkan satu per satu,
perlawanan sejati tidak lahir dari kekuatan besar—
melainkan dari mereka
yang menolak membiarkan yang lemah jatuh sendirian.
JEBAKAN DI JALUR DISTRIBUSI
JALAN DESA GRENJENG — PAGI BUTA
Kabut tipis masih menggantung di antara pohon karet.
Mesin truk Colt Diesel tua meraung pelan, memecah sunyi subuh.
Pak Suryo menggenggam kemudi erat.
Di bak belakang, barang kiriman—kulit sintetis dan lem khusus—terikat rapi, tujuan pabrik PT. Korean Industry.
“Bismillah…” gumamnya.
Jalan tanah itu sudah ia hafal di luar kepala.
Dua puluh tahun bolak-balik lewat jalur ini.
Namun pagi itu… terasa berbeda.
TIKUNGAN SUNGAI KECIL — PAGI
Pak Suryo melambat.
Ia melihat tumpukan daun pisang berserakan di tengah jalan.
“Siapa yang buang sampah pagi-pagi gini…” gumamnya.
Ia menginjak gas pelan, berniat melindas saja.
Detik berikutnya—
BLAM!
Roda depan menghantam lubang dalam yang tertutup rapi oleh daun-daun pisang basah.
Setir terlepas dari kendali.
Truk oleng keras.
“ASTAGHFIRULLAH—!”
Bunyi logam beradu.
Badan truk miring.
BRUK!
Mobil terguling ke sisi kiri, menghantam tanah dengan dentuman berat.
Kaca depan retak.
Muatan di bak bergeser brutal.
Sunyi kembali menelan jalan itu.
DALAM TRUK — PAGI
Pak Suryo tergantung di sabuk pengaman.
Darah merembes dari pelipisnya.
Napasnya pendek—namun ia masih sadar.
“Ya Allah…” lirihnya.
Ia berusaha membuka pintu.
Saat itulah—
tepuk tangan pelan terdengar.
TEPI JALAN — PAGI
Empat pria keluar dari balik semak.
Bukan warga desa.
Sepatu mereka bersih.
Wajah datar.
Mata dingin.
Salah satu mendekat, menunduk sedikit.
“Masih hidup?” katanya santai.
Pak Suryo menatap mereka dengan gemetar.
“Kalian… siapa…?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Anggap saja… pengantar pesan.”
Yang lain mengitari truk, memotret muatan yang berantakan.
“Bilang ke Pak Wirto,” lanjut pria pertama,
“dan ke siapa pun yang masih nekat kerja sama sama Kim.”
Ia mengetuk bodi truk yang penyok.
“Distribusi bukan cuma soal barang. Tapi soal keselamatan.”
Pak Suryo menelan ludah.
“Kalian… mau apa…?”
Pria itu berdiri tegak.
“Berhenti. Sekarang.”
Ia melirik tiga rekannya.
Salah satu melemparkan sesuatu ke tanah—
ular mati.
Simbol.
“Ini peringatan pertama,” katanya dingin.
“Yang berikutnya… bukan lubang.”
Mereka berbalik.
Masuk ke balik kabut.
Hilang.
JALAN DESA — BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Suara sirene memecah pagi.
Satu mobil dinas berhenti mendadak.
Sersan Bima dan Sersan Eren turun hampir bersamaan.
Pandangan mereka langsung terkunci pada truk terguling.
“Cepat,” kata Bima singkat.
Mereka mendekat.
Eren membantu membuka pintu.
Pak Suryo terbatuk saat dikeluarkan.
“Tenang, Pak. Kami di sini,” ujar Eren.
Pak Suryo menggenggam lengan Bima dengan sisa tenaga.
“Mereka… empat orang… jebakan… daun pisang…”
Bima menoleh cepat ke sekitar.
Tanah lembap.
Lubang digali rapi.
Jejak kaki—sudah disamarkan.
“Profesional,” gumamnya.
Eren menemukan ular mati itu.
Wajahnya mengeras.
“Pesan psikologis,” katanya. “Bukan spontan.”
Bima mengepalkan tangan.
“Terlambat beberapa menit.”
TEPI JALAN — PAGI
Warga mulai berdatangan.
Bisik-bisik menyebar cepat.
“Katanya… yang lawan perusahaan besar…”
“Makanya kena…”
“Jangan macam-macam…”
Ketakutan bekerja lebih cepat dari kekerasan.
Bima berdiri, menatap warga.
“Dengar,” katanya tegas.
“Ini bukan kecelakaan. Ini kejahatan.”
Namun ia tahu—
kata-kata tidak selalu mengalahkan rasa takut.
AMBULANS — PAGI
Pak Suryo dibawa pergi.
Bima dan Eren berdiri di pinggir jalan yang mulai ramai.
“Mereka sengaja bikin kecelakaan tanpa saksi,” kata Eren.
“Biar cerita berkembang sendiri.”
Bima mengangguk pelan.
“Vendor kecil satu per satu dipatahkan,” katanya.
“Kalau ini dibiarkan… besok bukan barang. Orangnya.”
Ia menatap lubang jebakan itu lama.
“Dan Nakata sudah naik level.”
DUMAI — RUMAH SAKIT — PAGI
Di ruang rawat, jari Sandi kembali bergerak.
Kali ini lebih jelas.
Amelia terperanjat, menekan bel perawat.
“Bang…?”
Monitor berdetak sedikit lebih cepat.
Di luar sana, ancaman menebar ketakutan.
Di dalam ruangan ini—
kesadaran perlahan mencari jalan pulang.
Karena saat teror mulai menyentuh nyawa orang kecil,
perlawanan tidak lagi soal bisnis—
melainkan soal batas.
Dan batas itu…
sebentar lagi akan dilanggar.
TEROR YANG DILEPASKAN
RUMAH PRODUKSI PAK TIRTO — DESA GRENJENG — SIANG
Mesin jahit berdengung berirama.
Sepuluh orang karyawan duduk berjejer, tangan mereka cekatan memotong dan merekatkan lapisan bahan bola.
Keringat bercampur fokus.
Pesanan harus selesai hari itu.
Pak Tirto berdiri di sudut ruangan, menghitung lembar produksi.
Wajahnya tegang, tapi matanya menyala—bertahan adalah pilihannya.
Tiba-tiba—
BRAK!
Sesuatu dilempar dari jendela belakang.
Disusul suara desis panjang.
Seorang karyawan menoleh… lalu membeku.
“ULAAAAR!!”
Satu ekor ular sawah melata keluar dari balik karung.
Lalu dua.
Lima.
Sepuluh.
Lantai produksi mendadak hidup.
“KELUAR! KELUAR SEMUA!!”
Jeritan pecah.
Kursi terjungkal.
Mesin berhenti mendadak.
Para karyawan berhamburan ke pintu depan—ada yang terpeleset, ada yang menangis, ada yang berdoa keras-keras.
Pak Tirto mencoba menahan satu orang.
“Tenang! Jangan panik—”
Namun desis lain terdengar lebih dekat.
Ia mundur.
Ketakutan menang.
Rumah produksi itu kosong dalam hitungan detik.
KEBUN BELAKANG — SIANG
Empat pria berdiri di balik semak.
Tawa mereka pecah.
“Lihat tuh,” kata salah satu sambil menunjuk.
“Produksi berhenti cuma pakai ular sawah.”
Yang lain mengangkat ponsel, merekam kekacauan dari jauh.
“Bos bakal senang,” ujarnya.
“Tanpa pukul. Tanpa darah.”
Mereka berbalik pergi—
meninggalkan rumah produksi yang kini sunyi… dan beracun oleh ketakutan.
JALAN DESA — SIANG
Sebuah motor berhenti mendadak.
Warga berteriak memberi laporan.
“Pak! Di rumah Pak Tirto! Ular banyak!”
Tak lama, Sersan Bima, Sersan Eren, dan Mang Dedi datang hampir bersamaan.
Bima langsung membaca situasi.
“Ular sawah,” katanya cepat. “Bukan cobra.”
Mang Dedi sudah menggulung sarung di tangannya.
Wajahnya serius.
“Tapi jumlahnya tidak wajar.”
Eren mengangguk. “Dilepas sengaja.”
DALAM RUMAH PRODUKSI — SIANG
Sunyi.
Mesin mati.
Bau lem masih menyengat.
Satu ular melata di bawah meja.
Mang Dedi bergerak cepat—
cekrek!
Ekor ditahan, kepala dikendalikan.
“Masuk karung!” perintahnya.
Bima dan Eren membantu.
Gerakan mereka tenang—terlatih.
Satu per satu ular ditangkap.
Tidak dibunuh.
Diamankan.
“Sepuluh ekor,” lapor Eren.
Bima menatap lantai yang masih bergetar oleh sisa panik.
“Bukan untuk melukai,” katanya dingin.
“Ini untuk menghentikan kerja.”
Mang Dedi mengangguk.
“Teror psikologis.”
Di luar, karyawan Pak Tirto menonton dengan wajah pucat.
“Pak…” salah satu bertanya gemetar.
“Kami masih bisa kerja?”
Bima menatap mereka.
“Kalian tidak salah apa-apa,” katanya tegas.
“Dan kalian tidak sendirian.”
RUMAH SAKIT DUMAI — SORE
Monitor berbunyi lebih cepat.
Kelopak mata Sandi bergetar…
lalu terbuka.
Cahaya sore masuk lembut.
“Amel…” suaranya serak.
Amelia tersentak, air matanya langsung jatuh.
“Bang…? Bang sadar?!”
Sandi menarik napas panjang.
Dadanya terasa ringan—untuk pertama kalinya sejak lama.
“Berapa lama aku tidur…?”
“Cukup lama buat bikin semua orang deg-degan,” jawab Amelia sambil tertawa di antara tangis.
Dokter Farhan masuk cepat, memeriksa refleks.
“Tekanan stabil. Respons bagus,” katanya lega.
“Tenaganya pulih cepat. Di luar dugaan.”
Sandi menggerakkan tangannya.
Kuat.
Namun matanya berubah—tajam, fokus.
“Di luar… kacau ya?” tanyanya pelan.
Amelia terdiam sejenak.
Lalu mengangguk.
“Vendor kecil diserang. Pak Tirto… tadi ular dilepas.”
Sandi memejamkan mata sebentar.
Saat membukanya kembali—
tidak ada lagi kabut.
“Berarti Nakata sudah mulai main terang,” katanya.
DESA GRENJENG — SENJA
Bima berdiri di depan rumah produksi Pak Tirto.
Ular-ular sudah diamankan.
Karyawan perlahan kembali—masih ragu, tapi tidak lari.
Eren menerima pesan.
Dari Dumai.
Ia menatap Bima.
“Sandi sudah sadar.”
Bima menghela napas panjang—lega, tapi tahu artinya.
“Kalau dia bangun,” katanya pelan,
“fase bertahan selesai.”
Senja turun perlahan.
Di satu sisi, teror gagal menghentikan roda kecil.
Di sisi lain, seorang pemain lama kembali ke papan.
Dan mulai saat itu—
ular bukan lagi senjata utama.
Mereka baru saja membangunkan sesuatu
yang jauh lebih berbahaya bagi Nakata
RUMAH MEGAH MR. NAKATA — MALAM
Lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya ke lantai marmer mengilap.
Dinding kaca memperlihatkan taman luas—tenang, rapi, dan mahal.
Di tengah ruang tamu itu, Mr. Nakata duduk santai di sofa kulit hitam.
Di hadapannya, empat orang suruhannya berdiri berjejer.
Salah satu dari mereka menekan layar ponsel.
Video diputar.
Di layar—
karyawan Pak Tirto berlarian tunggang-langgang, ada yang terjatuh, ada yang berteriak histeris.
Ular-ular sawah melata ke segala arah.
Tawa kecil terdengar.
Lalu membesar.
Mr. Nakata tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHAHA—!”
Ia menepuk sandaran sofa. “Lihat wajah mereka! Panik… sempurna.”
Ia mengusap sudut matanya, masih tertawa.
“Tanpa pukulan. Tanpa polisi. Tanpa sidik jari.”
Salah satu anak buah menunduk. “Produksi berhenti total, Tuan. Karyawan trauma.”
“Bagus,” jawab Nakata ringan.
“Bisnis bukan soal kekuatan. Tapi rasa takut.”
Ia berdiri, melangkah ke meja kecil.
Membuka tas hitam.
Di dalamnya—
tumpukan uang tunai.
Nakata membaginya cepat dan rapi.
“Bonus. Sepuluh juta per orang.”
Empat pasang mata membesar.
“Kerja kalian bersih,” lanjutnya dingin.
“Lanjutkan tekanan. Vendor kecil harus tumbang satu per satu.”
Ia mendekat, suaranya merendah.
“Kalau yang kecil mati… yang besar akan ikut takut.”
Keempatnya mengangguk serempak.
Di balik kaca, malam tampak tenang.
Tak ada yang tahu—
tawa itu sedang membangun badai.
RUMAH SAKIT DUMAI — PAGI
Sandi melangkah keluar perlahan.
Bukan dengan kursi roda.
Bukan dengan wajah pucat.
Langkahnya mantap.
Amelia berjalan di sampingnya, membawa tas kecil.
Bima dan Eren berdiri di depan mobil.
“Lu yakin?” tanya Bima. “Gue bisa suruh ambulans.”
Sandi menggeleng. “Nggak perlu. Justru aku butuh tanah.”
Eren menyeringai tipis. “Tanah siapa?”
“Mbah Klowor.”
Bima mengangguk paham.
“Alternatif dulu sebelum turun lagi.”
Amelia menatap Sandi—campur lega dan khawatir.
“Kamu janji nggak maksa.”
Sandi tersenyum. “Aku janji dengerin tubuhku.”
Namun di balik senyum itu—
ada ketajaman lama yang kembali.
RUMAH MBAH KLOWOR — SIANG
Rumah kayu tua itu berdiri tenang di tepi kebun.
Angin berdesir lembut.
Bau tanah basah dan daun kering menyambut.
Mbah Klowor menyambut di ambang pintu.
“Kau pulang,” katanya pelan.
Sandi menunduk hormat. “Saya numpang napas, Mbah.”
Mbah Klowor tersenyum kecil.
“Masuk. Kita lihat apa yang tertinggal… dan apa yang tumbuh.”
RUANG DALAM — SIANG
Sandi duduk bersila.
Mata terpejam.
Napas diatur.
Mbah Klowor menempelkan telapak tangannya di punggung Sandi—
sekilas, lalu lebih lama.
Wajah tua itu berubah.
“Hmm…” gumamnya.
Amelia menahan napas.
“Ada yang berbeda?” tanya Sandi pelan.
Mbah Klowor menarik tangannya, lalu tertawa kecil—bukan geli, tapi puas.
“Penghalangmu hilang.”
Sandi membuka mata. “Penghalang?”
“Aura kusut. Beban lama. Amarah yang menumpuk,” jelas Mbah Klowor.
“Koma itu… membersihkan. Seperti hutan setelah hujan besar.”
Ia kembali memejamkan mata, merasakan aliran.
“Tenaga dalammu bukan hanya pulih,” lanjutnya,
“tapi meningkat.”
Amelia terbelalak.
“Maksud Mbah…?”
“Alirannya lebih bersih. Lebih dalam,” jawab Mbah Klowor tenang.
“Tapi ingat—tenaga besar tanpa kendali hanya akan melahirkan kehancuran.”
Sandi menunduk.
“Saya mengerti.”
Namun di dadanya—
ada sesuatu yang bangun.
Bukan amarah.
Bukan dendam.
Kesadaran.
SENJA — RUMAH MBAH KLOWOR
Sandi berdiri di halaman.
Matahari tenggelam perlahan.
Ia menghembuskan napas—
panjang, stabil.
Tanah di bawah kakinya terasa hidup.
Di kejauhan, permainan kotor Nakata terus berjalan.
Tawa masih terdengar di rumah megah itu.
Namun ia tidak tahu satu hal—
koma yang ia anggap kemenangan
justru telah menghapus penghalang terakhir
pada seseorang
yang selama ini ia kira sudah dilemahkan.
Dan ketika tenaga bangkit tanpa beban,
ular—
apa pun bentuknya—
bukan lagi alat teror.
Melainkan tanda
bahwa pemburu sudah bangun.
—BERSAMBUNG—