Mirna gadis miskin yang dibesarkan oleh kakeknya. Dia mempunyai seorang sahabat bernama Sarah.
Kehidupan Sarah yang berbanding terbalik dengan Mirna, kadang membuat Mirna merasa iri.
Puncaknya saat anak kepala desa hendak melamar Sarah. Rasa cemburunya tidak bisa disembunyikan lagi.
Sang kakek yang mengetahui, memberi saran untuk merebut hati anak kepala desa dengan menggunakan ilmu warisan keluarganya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Yuk baca kisahnya, wajib sampai end.
29/01'25
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deanpanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengkambing Hitamkan
🦉🦉🦉
Pagi ini banyak jamaah masjid keheranan dan bertanya-tanya, kenapa Pak Tejo selaku Kepala Desa dan orang yang sangat giat ke masjid, tiba-tiba absen.
Sepulang dari masjid, beberapa jamaah yang memang searah berinisiatif untuk mampir sebentar ke rumah orang nomor satu di kampung itu.
"Tumben rumah Pak Kades masih sunyi senyap, padahal sudah jam 6." Seorang jamaah masjid tiba tiba membuka suara.
"Jadi singgah apa, gak nih?"
"Jadi atuh Pak Ustad!"
Dekat dengan pagar rumah, para jamaah tadi mendapati penjaga disana sedang tertidur pulas. Berkali-kali mereka membangunkan, sampai akhirnya Ustad Rahman membacakan beberapa surah dalam Al-Qur'an barulah mereka terbangun.
"Kang, bangun Kang!"
"Kok nda bangun bangun, Sep?"
"Ya nda tau, habis begadang mungkin." Jawab Asep. Karena menurut sepengetahuannya orang yang terlambat bangun biasanya tidurnya terlalu larut.
Tapi berbeda dengan Ustad Rahman yang melihat kejanggalan di sekeliling rumah Pak Kades. Segera dia membacakan beberapa penggalan ayat ayat suci Al-Qur'an dan meniupkan ke arah rumah Pak Kades. Seketika penjaga disana terbangun.
"Loh, Pak Ustad? Ada apa ini kok rame-rame?" Tanya penjaga yang baru saja bangun. Dia berbicara sembari mengucek matanya.
"Udah siang Mang, kok baru bangun?"
"Masa toh sudah siang, Ustad? Memangnya sekarang jam berapa?"
"Jam 6 lewat, Mang! Pak Kadesnya ada?"
"Astaghfirullah, kok bisa kesiangan! Nda subuhan ini, alamat kena omel Pak Kades." Ucap Mang Asep sembari menepuk jidatnya temannya.
"Ayo Ustad, saya antar masuk. Ini juga rumah kok masih tertutup semua." Mang Asep heran biasanya jam segini, semua jendela dan pintu akan terbuka. Majikannya pasti berolahraga pagi di pekarangan.
Ustad Rahman membaca doa doa di dalam hati, hingga terdengar teriakan yang cukup kencang dari rumah Pak Kades.
"Aarrrggghhh!"
"Astaghfirullah!" Kompak beberapa orang yang kini sudah berada di depan pintu rumah Pak Kades.
"Ada apa itu? Kok teriakannya bikin merinding."
Sementara di dalam rumah, penghuninya semua sudah terbangun. Mereka semakin dibuat terkejut karena mendengar teriakkan yang entah darimana. Intinya suara teriakan itu menggema di penjuru rumah.
"Siapa itu yang teriak? Ngeri aku!" Ucap salah seorang ART.
Semua keluar kamar kecuali Mirna dan Purnomo. Mereka masih betah di dalam sana dan entah apa yang sedang mereka lakukan.
Semua yang mendengar teriakkan berkumpul di ruang tengah, termasuk juga Sarah yang mana penampilannya pagi ini membuat orang lain menatap takjub.
"Masyaallah, Neng Sarah cantik pisan euy!" Ucap Ibu mertuanya, yang diangguki oleh yang lain termasuk Pak Kades.
"Terimakasih, Bu!" Ucap Sarah.
"Huh, kalau bukan karena telinga ku yang sakit, gak akan mau aku pakai beginian." Sarah menggunakan hijab hanya untuk menutupi luka pada telinganya akibat serangan seseorang yang dia tidak tau kalau itu adalah Mirna.
"Ini ngomong-ngomong, kok ngumpul disini semua?" Tanya Pak Kades.
"Tadi dengar suara jeritan, Pak. Suaranya bikin merinding!" Ucapannya diangguki oleh beberapa orang yang ada disana.
"jadi kalian juga mendengarnya!" Sarah ikut bersuara.
"Iya, Non!"
"Siapa yang menjerit seperti itu? Apa jangan jangan itu Mirna? Karena dia dan Kang Purnomo tidak ada disini." Ucap Sarah.
"Awas saja kalau wanita iblis itu berani melakukan hal aneh lagi di rumah ini."
Tengah asik bercengkrama, terdengar ketukan pintu dan ucapan salam dari arah luar
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!" Pak Tejo bergegas keluar, karena sepertinya tamu yang datang bukan hanya satu orang melainkan ada beberapa orang.
"Ceklek!" Pintu terbuka, pak Tejo disuguhkan dengan tatapan penuh tanya oleh orang-orang yang ada dihadapannya.
"Pak Ustad, Tumben ini. Mari masuk!"
"Disini saja,Pak. Kami hendak mengundang Pak Tejo untuk menghadiri acara syukuran di rumah Mang Asep malam ini" Ucap Ustad Rahman. Dia terpaksa mengatakan hal itu, karena melihat aura yang gelap di dalam rumah tersebut.
"Lah, kok..."
Ustad Rahman memberi isyarat kepada seseorang disebelahnya untuk segera menghentikan Asep.
"Iya, Pak Kades. Kebetulan mulai malam ini, setiap malam Senin dan Jumat kita akan mengadakan sholawatan di rumah rumah warga secara bergantian."
"Wah, Alhamdulillah! Senang rasanya, desa kita pasti akan lebih tenang kalau begini."
"Iya, Pak Kades. Tadi mau disampaikan di mesjid, tapi Pak kades tidak hadir saat sholat subuh berjamaah, makanya kami berinisiatif untuk mampir." Terang Pak Ustad.
"Saya juga heran, ustad. Barusan ini saya tidak merasakan apa-apa, bahkan adzan subuh juga tidak terdengar. Kami semua terbangun saat mendengar suara jeritan seseorang." Ujarnya.
Ustad Rahman hanya terdiam mencerna ucapan Pak Tejo, terasa ada yang berbeda dengan saat terakhir kali dia menyambangi rumah teman sekolahnya itu.
"Apa benar yang dikatakan Non Sarah, kalau suara itu milik Mirna?" Celetuk salah seorang pekerja.
"Iya Bu-Pak, pasti terjadi sesuatu di dalam kamar Kang Purnomo. Buktinya mereka tidak juga keluar sejak tadi." Sarah ikut menimpali.
"Pak Kades, saya hanya ingin menyampaikan hal tadi, kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Ustad Rahman.
"Ah, iya. Terimakasih!" Pak Kades tahu maksud dari Ustad Rahman yang tidak mau berlama-lama di rumahnya.
"Pak Kades, aku berharap kamu tidak ikut ikutan mengkambing hitamkan orang lain. Mungkin saja orang yang lebih berbahaya adalah orang yang selalu ingin kau lindungi." Ucapnya.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!" Jawab kompak orang yang ada di rumah Pak Kades. Ustad Rahman tak lagi menoleh ke belakang, dia pergi meninggalkan rumah itu bersama dengan jamaah yang datang bersamanya tadi.
"Apa maksud Rahman, Sarah? Lalu bagaimana dengan Mirna yang jelas jelas menganut ilmu hitam?" Batin Pak Kades.
"Sialan Ustad Rahman, apa dia tahu tentang ku?" Batin Sarah.
Sedangkan dari lantai 2, Mirna melihat semua kejadian itu. Dia senang ada orang lain yang mengetahui kebejatan Sarah.
"Aku pasti akan membalas semuanya, Sarah. Beraninya kau mengkambing hitamkan diriku atas perbuatan mu." Batin Mirna.