Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang dengan Luka
Sementara itu, di Surabaya, Agil baru saja menyelesaikan peninjauan gudang. Ia merasa sangat lelah namun puas. Ia duduk di sebuah kafe pinggir jalan, hendak menelepon Laila. Namun, lagi-lagi asisten yang diutus Baskoro menghampirinya.
"Pak Agil, maaf mengganggu. Pak Baskoro meminta Anda segera terbang ke Bali sore ini juga. Ada pertemuan mendadak dengan calon mitra dari Australia. Tiketnya sudah dipesan."
Agil mengernyit. "Bali? Tapi jadwal saya hanya Surabaya."
"Perintah mendesak dari Tuan Besar, Pak. Beliau bilang ini kesempatan emas, untuk menutup kontrak besar pertama Anda."
Agil menghela nafas, namun rasa bangga kembali menyelimuti hatinya. "Papa benar-benar mempercayaiku," gumamnya. Ia tidak menyadari bahwa pengalihan ke Bali hanyalah cara Baskoro, untuk memperpanjang waktu kebersamaannya dengan Laila di Jakarta.
Agil mencoba menghubungi ponsel Laila sebelum berangkat ke bandara, namun tidak ada jawaban. Ia menganggap istrinya mungkin sedang tidur atau sedang bersama ibunya. Ia mengirimkan pesan singkat: "Sayang, aku harus ke Bali mendadak. Mungkin pulang dua hari lagi. I love you."
Pesan itu masuk ke ponsel Laila yang tergeletak di meja makan vila Puncak, tepat di samping gelas wine yang tumpah. Namun Laila tidak berada di sana untuk membacanya. Ia berada di dalam kamar utama, di bawah bayang-bayang kegelapan, yang diciptakan oleh mertuanya sendiri.
Malam itu, di bawah langit Puncak yang dingin, Laila kehilangan bagian terkecil dari jiwanya yang masih tersisa. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi kembali menjadi Laila yang dulu. Mulai detik ini, ia adalah tawanan yang mengenakan mahkota emas, seorang istri yang jiwanya telah mati, menunggu waktu yang tepat untuk entah memaafkan, atau menghancurkan segalanya.
****
Pesawat yang membawa Agil mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa sore. Wajahnya tampak cerah, meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan. Di tangannya, ia menjinjing tas belanja eksklusif, dari sebuah butik ternama di Bali—hadiah kejutan untuk Laila. Kontrak dengan mitra Australia berhasil ia amankan, dan Baskoro baru saja mengiriminya pesan singkat berisi ucapan selamat, serta bonus yang nilainya fantastis.
Agil merasa dunia ada di genggamannya. Ia merasa telah membuktikan diri sebagai suami, yang mampu memberikan kemewahan. Namun, di dalam taksi menuju mansion Menteng, ada sedikit rasa ganjil yang menyelinap di hatinya. Selama dua hari terakhir, Laila sangat sulit dihubungi. Pesan-pesannya hanya dibalas singkat, dan setiap kali ia mencoba melakukan panggilan video, Laila selalu beralasan sedang tidak enak badan atau sudah mengantuk.
"Mungkin dia benar-benar sakit," gumam Agil, mencoba mengusir prasangka buruk.
Saat mobil memasuki gerbang mansion, suasana tampak sepi. Agil segera melangkah masuk, melewati ruang tamu yang luas. Ia berpapasan dengan ibunya, Rina, yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah fashion.
"Mama, Agil pulang," sapanya sambil mencium tangan ibunya.
Rina menatap anaknya, dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat kasihan di matanya, namun bibirnya tetap terkunci rapat. "Laila ada di kamar. Dia tidak keluar sejak kemarin pagi. Katanya pusing."
Agil tidak menunggu lebih lama. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Saat ia membuka pintu, ia mendapati suasana kamar yang remang-remang. Gorden tertutup rapat meski hari masih sore. Laila sedang berbaring di balik selimut, membelakangi pintu.
"Laila... Sayang, aku pulang," bisik Agil lembut.
Laila tersentak. Tubuhnya menegang di bawah selimut sebelum perlahan-lahan ia berbalik. Saat melihat wajah suaminya, Laila tidak memberikan pelukan hangat seperti biasanya. Ia justru menarik selimut lebih tinggi, menutupi lehernya.
"Mas... kamu sudah pulang," suaranya parau, nyaris habis.
Agil duduk di tepi ranjang, menyentuh dahi istrinya. "Badanmu tidak panas, tapi wajahmu pucat sekali. Kamu sudah ke dokter? Tadi Mama bilang, kamu tidak keluar kamar seharian."
Laila hanya menggeleng pelan. Matanya tidak berani menatap mata Agil. "Aku hanya butuh istirahat, Mas. Terlalu banyak tidur mungkin."
Agil kemudian teringat hadiahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dan sebuah syal sutra bermotif bunga cendrawasih yang indah. "Lihat ini, aku membelikanmu ini di Bali. Aku ingin kamu memakainya saat makan malam nanti bersama Papa. Kita harus merayakan keberhasilanku."
Saat Agil hendak mengalungkan syal itu ke leher Laila untuk mencobanya, Laila mendadak menepis tangan Agil dengan kasar.
"Jangan!" teriak Laila.
Agil terpaku. Matanya membelalak kaget. "Laila? Ada apa? Aku hanya ingin mencoba syalnya."
Laila menyadari reaksinya terlalu berlebihan. Ia segera menunduk, nafasnya memburu. "Maaf, Mas. Aku... aku hanya sedang sensitif. Leherku rasanya gatal karena alergi. Aku tidak mau memakai apa-apa dulu."
Agil menghela nafas, rasa kecewa sedikit muncul—namun ia mencoba maklum. "Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi kamu harus makan, ya? Aku akan minta pelayan membawakan sup hangat."
Malam harinya, sebuah jamuan makan malam formal diadakan di ruang makan utama. Baskoro duduk di kepala meja, mengenakan kemeja linen putih yang rapi, tampak sangat segar dan berwibawa. Agil duduk di sisi kanan, dan Laila di sisi kiri, berhadapan langsung dengan ibu mertuanya.
"Agil, kerja bagus di Bali. Australia sudah di tangan. Aku bangga padamu," ucap Baskoro, sambil memotong daging domba di piringnya.
"Semua berkat bimbingan Papa," jawab Agil penuh rasa hormat. "Oh ya, Laila sedang kurang sehat, Pa. Tapi dia memaksa ikut makan malam, karena ingin menyambut kepulangan saya."
Baskoro mengalihkan pandangannya pada Laila. Tatapannya tajam, penuh dengan rahasia yang hanya mereka berdua pahami. "Benarkah? Padahal kemarin saat kau di Bali, Laila tampak sangat... bersemangat saat aku mengajaknya menghirup udara segar di Puncak."
Gelas yang dipegang Laila berdenting keras, saat tangannya gemetar. Agil menoleh ke arah istrinya, lalu ke arah ayahnya.
"Puncak? Kalian ke Puncak?" tanya Agil heran.
Baskoro mengangguk santai. "Iya. Laila terlihat sangat stres di rumah, jadi aku membawanya ke vila untuk makan siang. Udara pegunungan bagus untuknya. Sayangnya, sepertinya dia malah kelelahan setelahnya."
Agil menatap Laila, dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kenapa kamu tidak bilang padaku, Sayang? Aku mengirim pesan berkali-kali menanyakan kabarmu."
Laila merasa lidahnya kelu. Ia bisa merasakan tatapan Baskoro, yang menuntut kepatuhan. "Aku... aku lupa membawa ponsel, Mas. Dan setelah pulang dari Puncak, aku langsung tertidur pulas."
"Begitukah?" Agil bergumam. Ada sedikit rasa tidak nyaman, yang mulai tumbuh di benaknya. Mengapa istrinya harus berbohong soal ponsel? Dan mengapa ayahnya tidak menyebutkan rencana itu sebelumnya?
"Sudahlah, Agil. Jangan menginterogasi istrimu seperti tersangka. Yang penting sekarang dia sudah di sini," sela Baskoro sambil tersenyum lebar. "Laila, cobalah anggur ini. Ini dikirim langsung dari kebun pribadiku. Sangat manis, persis seperti suasana di vila kemarin, bukan?"
Laila meneguk anggur itu dengan terpaksa. Rasanya pahit, sepahit kenyataan bahwa suaminya sedang memuji-muji pria—yang telah menghancurkan istrinya.