PELET
Melihat cucunya termenung, Kakek Sapto mencoba menghibur dan menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa, Mirna? Apa ada yang mengganggu mu lagi?" Tanya Kakek Sapto. Dia mengusap kepala cucunya.
"Sekarang Sarah tidak peduli lagi padaku. Dia sangat sibuk, sampai melupakan janjinya!"
"Memangnya apa yang dia lakukan? Tidak biasanya Sarah mengabaikan mu." Kakek Sapto duduk disamping Mirna, siap mendengar keluh kesah cucunya.
"Dia sibuk karena acara lamarannya sebentar lagi, dia akan segera menikah dengan anak Kepala Desa." Ucapnya kesal.
"Tentu saja dia sibuk, ini acaranya. Lain halnya kalau acara orang lain, pasti dia punya waktu luang untuk mu." Nasihat Kakek Sapto.
Aku dan Sarah adalah sahabat sejak kecil, Dia yang notabene anak seorang juragan terpandang di desa tidak merasa jijik berteman dengan ku yang hanya seorang gadis miskin.
Keluarga ku menjadi bahan ejekan warga sekitar, karena Ibu yang ketahuan mencuri di rumah warga. Padahal saat itu keadaan mental ibu ku tidak baik, bisa disebut sakit jiwa.
Semua orang mengacuhkan ku, tapi tidak dengan Sarah.
"Mirna menyukai anak Pak Kades, kek!" Ucapan Mirna membuat kakeknya menoleh dan menatap lekat wajah cucunya.
Lama terdiam akhirnya Kakek Sapto buka suara. "Kalau begitu berusahalah menjadi wanita yang disukai anak Pak Kades." Ucapnya.
"Maksudnya Gimana, Kek?"
"Bukankah kau iri pada Sarah? Kau juga ingin merasakan kenikmatan yang dia rasakan, kan?" Mirna mengangguk cepat.
"Ambil hati lelaki itu, gunakan ilmu keluarga kita. Demi kebahagiaan mu, kau harus merebutnya dari Sarah." Kata Kakek Sapto.
"Jujur Kek, aku memang iri.Tapi aku tidak mau memaksakan perasaan ku. Selain nanti akan menyakiti hati Sarah, lelaki tampan seperti Purnomo tidak akan mau bersanding dengan perempuan seperti ku."
"Dasar bodoh! Belum juga berjuang, kau sudah menyerah duluan." Kakek Sapto memukul kepala Mirna pelan.
"Pelajari ini!" Menyerahkan sebuah bambu kuning yang panjang sama seperti telapak tangan.
Mirna menerima potongan bambu itu, dia belum tahu maksud kakeknya.
"Buka ujung bambu itu. Didalamnya ada catatan Ilmu keluarga kita, yang memang harus diturunkan pada tiap generasi." Ucap kakek Sapto.
Mirna membukanya. Didalam ada gulungan yang terbuat dari kulit binatang.
"Apa ini, kek? Aku tidak bisa membacanya."
"Malam ini kakek akan ajarkan, dihari lamaran Sarah dan Purnomo kamu bisa menggunakan ilmu itu. Laki-laki itu akan menjadi milikmu." Ucapnya.
*** ***
Hari Lamaran
Semua mata memandang ke arah ku. Sepertinya aku orang yang tidak pantas menghadiri acara ini, padahal Sarah sendiri yang memintaku untuk hadir.
"Kenapa kamu datang, Mirna? Gak malu kamu, datang di acara seperti ini pakai baju Kumal." Kata Bude Imah yang tidak menyukai kehadiran Mirna di acara lamaran keponakannya.
"Maaf, Bude! Sarah yang meminta ku datang." Kata Mirna.
"Eh Mirna. Sarah itu cuma main main saja. Kenapa kamu asal datang? Harusnya kamu berfikir!" Bude Imah terus terusan menentang kehadiran Mirna di acara itu.
Dari arah dapur keluar seorang wanita berhijab. "Sudah, Mbak! Mirna memang disini karena permintaan Sarah. Mereka sejak kecil bersama, apa salahnya di momen bahagia ini Mirna juga hadir untuk merasakan kebahagiaan Sarah." Kata wanita itu yang tak lain adalah Ibu Sarah.
"Mirna, ayo masuk!" Ajak Bude Siti.
Harusnya Mirna merasa senang mendapat pembelaan dari yang punya hajatan, tapi dia semakin kesal saja. Membiarkan dirinya melihat kebahagian sahabatnya, sama saja menyalakan api ditumpukan jerami. Padam tidak, justru merembet kesana kemari.
Acara akan segera dimulai, aku dipanggil untuk membantu menyajikan minuman dan makanan untuk para tamu nanti.
"Eh Bu Ibu. Acara lamaran mau dimulai, ayo ke depan!" Bude Imah mengajak ibu ibu yang di dapur untuk masuk menyaksikan lamaran ponakannya.
Aku pun mengikuti ibu ibu itu. Ingin menyaksikan lamaran Sarah dan Purnomo. Dari kejauhan dapat kulihat Sarah, yang memasuki ruangan dengan di dampingi kedua adiknya yang tak kalah cantik dari Sarah.
Mereka mengenakan pakaian yang sangat bagus, sedangkan aku membayangkan saja menggunakan pakaian seperti itu pun tak sanggup.
"Jadi Sarah! Apakah kamu mau menerima lamaran, Purnomo?" Ucap Kepala Desa, dengan senyum yang merekah.
Sarah tersipu malu, dia tak berani memandang wajah Purnomo. Dia mengangguk pelan tanda setuju dan menerima lamaran itu.
Aku merasakan pisau menikam jantung ku, setelah Sarah menerima lamaran Purnomo. Hidup ini tidak adil bagiku. Kenapa selalu Sarah yang diberkahi dengan kebahagiaan? Sedangkan aku ...
"Kenapa rasanya sakit sekali dada ini? Aku gak terima, Purnomo harus jadi milik ku!" Gumam Mirna pada dirinya sendiri.
"Mirna! Tolong bawa minumannya ke depan." Kata Bude
"Minuman!"
Sepertinya keberuntungan berpihak pada Mirna hari ini. Dia ingat dengan air yang diberikan oleh Kakeknya semalam.
"Campurkan air itu ke dalam minuman Purnomo, setelahnya dia akan menjadi milikmu selamanya."
Mirna mendapat kesempatan untuk melakukan aksinya, segera dia menuangkan air yang dia bawa di botol kecil. Sebelumnya dia memperhatikan sekitar, jangan sampai aksinya ini dipergoki oleh orang lain.
Kini Mirna sudah membawa minuman itu keluar. Hanya tinggal memastikan saja, air yang diberi campuran jampi-jampi sampai pada Purnomo.
"Aku tidak akan meminta maaf padamu, Sarah. Kau sudah dipenuhi dengan kebahagian, kehilangan satu lelaki tidak akan membuat mu hancur." Gumam Mirna.
Orang-orang sedang menikmati hidangan yang disajikan. Mirna meletakkan nampan tempat membawa minuman, masih tersisa satu dan dia mengambilnya.
Minuman di gelas itu harus sampai pada Purnomo, tapi entah cara apa yang akan dia gunakan.
"Bagaimana caranya agar minuman ini sampai pada, Purnomo?" Gumam Mirna.
"Mirna, sini! Kita foto bareng, buat kenang-kenangan." Kata Sarah.
Sarah meminta Mirna berada di posisi tengah antara, dia dan Purnomo. Tapi ibu Purnomo tidak menyukainya.
"Kamu jangan disitu, Mirna. Sana, didekat Sarah saja." Ucapnya sarkas.
"Bisa bisa kena penyakit menular anak ku, dekat dengan gadis kumuh begitu." Suara Bu Kades masih bisa di dengar oleh Mirna, Sarah dan Purnomo.
Sarah dan Purnomo saling pandang. "Ayo berpose, yang bagus ya!" Seru Purnomo mengalihkan.
Mirna segera menyembunyikan gelas yang dia bawa, dibalik gorden jendela tepat di belakangnya.
Acara foto foto selesai. Tiba-tiba Sarah minta tolong untuk diambilkan air minum, Purnomo juga meminta segelas minuman.
"Aku haus sekali! Mirna, apa boleh aku minta tolong? Ambilkan aku segelas air putih." Kata Sarah.
"Iya, tunggu sebentar! Bagaimana dengan mu Purnomo?" Kata Mirna.
"Aku juga sangat haus, boleh bawakan segelas minuman." Ucap Purnomo.
Dijawab anggukan oleh Mirna.
Tak lama kemudian, Mirna datang membawa segelas air putih untuk Sarah. Sedangkan minuman untuk Purnomo, dia mengambil gelas yang sudah dia sembunyikan dibalik gorden.
"Ini Sarah, tapi minuman untuk Purnomo sudah habis. Aku tadi menyisihkan satu untuk ku minum, tapi belum sempat. Kalau tidak merasa jij1k kamu bisa meminumnya." Kata Mirna menyodorkan gelasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Selly AWP
Mirna ...oh Mirna...kenapa kebaikan Sarah malah menimbulkan kebencian,iri dan dengki pada hatimu?
2025-03-02
1
Author GG
Padahal Sarah baik lo Mir, tapi ya perlakuan sekitar Mirna juga gak menyenangkan sama dia, dan kakeknya malah .hmm . /Slight/
2025-02-02
1
Elisabeth Ratna Susanti
salam kenal 🙏 like plus subscribe 🥰
2025-03-15
0