Perasaan cinta nggak bisa di tafsirkan oleh keadaan. Kemaren gue benci sama lo, Sekarang gue falling in love sama lo. Kemaren lo baik sama gue, Sekarang lo malah nyakitin gue.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BadBaby_grils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Zeva benar-benar mengutuk Zidan yang tidak pernah memarkirkan motornya di tempat yang teduh. Jadi ia harus menunggu Zidan yang sedang mengambil tas mereka di bawah teriknya matahari yang membakar kulit mulusnya.
" Hai, Zeva. " sapanya.
Zeva yang sedang asik memainkan kakinya di tanah pun menoleh, ia mendapati Arga sudah berdiri di dekatnya. " Oh? Hai, Arga. " Zeva meneliti seragam Arga yang tidak rapih sama sekali.
" Sendirian?" ujar Arga.
" Iya, lagi nungguin Zidan ngambil tas di kelas. Balas Zeva seadanya.
Setelah keheningan sesaat, Arga kembali bertanya dengan nada sedikit khawatir. "Lo nggak apa-apa? "
" Apanya? " Tanya Zeva kembali dengan wajah bingung.
" Katanya lo tadi pingsan di Kantin." jelas Arga.
" Oh ... " Zeva terkekeh malu. " Nggak apa-apa kok, cuka luka di ujung bibir doang. "
Arga tidak mengucapkan apa pun setelah itu, Ia hanya terdiam memperhatikan Zeva dengan seksama. Di wajah cowok itu terlihat ada sebuah keraguan, seperti ingin bertanya , tapi ia tahan.
" Zev. " ucap Arga pada akhirnya. " Gue mau nanya boleh? "
" Boleh, yang penting jangan nanya tentang pelajaran ama gue karena ak bakal gue jawab. " balas Zeva.
" Arga terkekeh. " Bukan pelajaran, kok. Tapi mengenai hal pribadi . " Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal . " Lo lagi deket sama siapa?"
Zeva melihat sekelilingnya dan menjawab saai. " sama lo. "
Jantung Arga berdetak kencang. Ia tak menyangka bahwa Zeva menganggap dirinya adalah orang yng sedang dekat dengannya. " S-serius? "
" Lah? Kita kan , emang deket. " udah gitu, berdiri bersebelah-belahan gini, kan ?
Arga mengusap keringetnya yang mengalir di pelipisnya. " lo anggap kita dekat? " ucap Arga sekali lagi untuk memastikan.
" yang deket sama gue sekarang kan, emang lo. Soalnya nggak ada siapa-siapa di parkiran selain kita berdua. " ujar Zeva dengan tampang polosnya.
" Hah?" Baru beberapa detik di terbangkan ke langit oleh pernyataan Zeva, Arga sudah di hempaskan ke dasar jurang.
" Apa lagi?" ucap Zeva lagi yang bingung melihat reaksi Arga atas ucapannya barusan.
" O-oh, nggak apa-apa. " Arga tersenyum masam. " Gue duluan. Ya. " ujar Arga sambil pamit pergi meninggalkan Zeva.
Zeva mebalas dengan seadanya sambil melambaikan tangan. Arga pun mengambil motornya dan keluar dari parkiran. Tidak lama kemudian, muncul Zidan dengan wajah di tekuk.
" Arga kenapa?" Tanya Zidan.
" Kenapa muka lo kusut gitu? Lo cemburu gue dekat sama Arga. " ujar Zeva dengan wajah sumringahnya.
" Ya kali. " Zidan meraup wajah Zeva. " Tipe gue tuh yang pinter dan rajin." lanjutnya.
" Arga kan pintar, rangking dua pararel. Kalau lo nikah sama Arga, ntar anaknya rumus matematika. " zeva terkikik. " terus jadinya bukan pasangan suami istri, tapi pasangan suami-suami. " lanjutnya.
" Lo, ngomong apa sih, Zeva? " Zidan memperhatikan tingkah Zeva yang mulai aneh.
" Ntar kalau lo nikah sama Arga, Siapa yang suami, siapa yang Istri?" Zeva tertawa membayangkan betapa uniknya rumah tangga seperti itu. " HAhahahaha.... Anak lo manggilnya ayah-papah, eh? Kan , nggak bisa jadi anak kalau pasangan suami-suami. "
" Lo benaran anggap gue gay? " tanya Zidan tak percaya.
" Kan udah gue bilang, gue nggak akan percaya lo itu normal sebelum bawa pacar kedepan gue. " balas Zeva dengan sengit.
" Kenapa harus pacar?" tanya Zidan dengan penasaran.
" Ya, karena gue pingin liat lo gombalin cewek. " Zeva berhenti tertawa. " Atau nggak gini. Lo gombalin gue, kalau berhasil, gue nggak akan anggap lo gay lagi. " tantangnya.
Zidan mengikis jarak antara mereka lalu menyejajarkan kepala mereka. Matanya tidak lepas dari bola mata Zeva yang berwajah coklat keemasan. Keheningan mengisi ruang di antara mereka beberapa saat, sebelum akhirnya Zidan berucap.
" Gue nggak bisa mikirin gombalan karena gue bisanya mikirin lo. "
Zeva terdiam membalas tatapan Zidan. Mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba, Zeva pun menahan nafasnya. Tanpa sadar, kepalanya sedikit menjauh dari Zidan.
" Kenapa diam? Baper? " ujar Zidan yang melihat reaksi Zeva yang hanya diam seperti patung.
Zeva menggeleng. " Lo, abis makan jengkol ya?" ujar Zeva setelah beberapa saat terdiam.
sehat selalu y thor