Vania Keisha Edward, hidupnya terasa begitu sempurna, terlahir menjadi seorang putri tunggal dari penguasa kaya raya membuat dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan begitu mudah. Bahkan pria yang begitu ia cintai bisa dengan mudah ia dapatkan untuk menjadi calon suaminya.
Namun sebuah tragedi terjadi, bak tersambar petir. Suatu pagi dia tiba-tiba terbangun di sebuah pesantren dan akan di nikahi seorang lelaki yang tak dia kenal yang merupakan keluarga kiayi.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Vania dan akan seperti apa kehidupan Vania selanjutnya.
Ikuti cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga kehormatan.
Afham mulai duduk di sebuah ranjang kecil di ruangan itu. Karena memang sekedar tempat peristirahatan, ruangan ini terlihat begitu minimalis, hanya ada ranjang kecil dan sebuah nakas saja.
Bibirnya kini tersenyum melihat Vania yang tengah sibuk, bak sebuah strika mondar-mandir menurunkan semua foto dan langsung membuangnya ke tong sampah.
Melihat dari keadaan kamar ini saja dia sudah bisa menebak, Vania adalah tipe wanita yang suka mengabadikan sebuah momen sampai begitu banyak foto di ruangan ini, bukan hanya dengan Alvero, ada juga beberapa teman perempuannya.
Mata Afham tiba-tiba tertuju pada sebuah album kecil diatas nakas, dia jadi penasaran apa itu juga foto-foto istrinya. "Dek," panggilnya sambil mengambil album itu dan kembali duduk. "Boleh aku melihat ini?" izinnya sambil memperlihatkan album yang sudah ada di tangan.
"Loh?" Vania sampai kutar ketir sendiri, kenapa album itu ada di tangan Kak Afham, "Kak, jangan." cegahnya sambil sedikit berteriak, dia sampai langsung mendekati sang suami bermaksud mengambil album itu tapi Afham malah mengangkat nya tinggi-tinggi. "Kak, jangan ya." rengek nya lagi, dia yang akan malu kalau Afham membukanya.
Afham sampai tersenyum kecil, sepertinya ini bukan sembarang album sampai Vania seheboh itu. "Kenapa?" godanya sambil menyembunyikan album itu di belakang punggungnya. Coba saja ambil kalau dia tidak boleh membukanya.
"Kak." Vania sampai berdiri tegak di hadapan Afham bahkan menarik tangan suaminya berusaha mengambil album nya, tapi nihil, tubuhnya terlalu kecil bahkan tak mampu menjangkau itu, yang ada tubuhnya malah semakin tertunduk menempel pada suaminya. "Itu, aib semua." ucapnya sudah angkat tangan, bahkan Afham pun sudah merangkul pinggangnya sampai dia tak bisa bergerak lagi.
"Lihat saja yang lain, jangan yang itu." rengek nya lagi dengan tersenyum malu. Dia bahkan langsung menempelkan kedua tangannya di bahu Afham merayu suaminya itu. Pasalnya di dalam album itu adalah foto fotonya saat berpakaian seksi. Bukan hanya saat momen party di club' malah, banyak juga foto saat momen liburan di pantai dan saat itu dia hanya menggunakan bikini.
Afham sampai terkekeh, bukannya semakin tidak boleh semakin ingin menggoda nya, terlebih respon Vania malah terlihat menggemaskan. "Akh, padahal aku ingin tahu sedikit tentang masa lalu adek." ucapnya seolah penuh sesal, padahal sedang menggoda Vania sebesar apa dia tak boleh melihat itu.
"Lihat sedikit saja. Dek." godanya lagi sambil menggerakkan tangannya ingin membuka itu, tapi detik selanjutnya Vania langsung menubruk tubuhnya sampai terlentang di ranjang, dan Vania pun terlentang diatasnya. "Dek." Dia tak mengira Vania seheboh itu, bahkan album yang tadi dia pegang sudah terlempar jauh entah kemana.
Vania sampai menyeringai kuda,"Sudah ku bilang jangan, kan." ucapnya berasa sudah menang tarung dari suaminya ini. Walau mungkin sedikit kurang ajar, tapi dia tak bisa membiarkan suaminya itu melihat album itu karena jelas di sana bukan hanya dirinya yang terlihat seksi, ada juga beberapa teman wanitanya, dan dia tidak ingin menodai mata suaminya itu dengan melihat tubuh seksi wanita lain.
"Maaf, ya. Aku menang." Vania sampai menyeringai senang, perlahan ingin bangkit tapi lengan Afham kalah cepat langsung memeluk nya sampai ia tak bisa bergerak. "Kak,"
"Sepertinya aku yang menang, dek." Afham lagi-lagi tersenyum kecil, menatap wajah cantik yang sudah bersemu merah, jika satu tangannya memeluk pinggang Vania, satu tangannya lagi langsung membelai wajah sang istri setelahnya perlahan mengangkat kepala mencium bibir istrinya itu yang ada di atasnya. "Sedari awal aku tidak penasaran dengan isi album itu, aku hanya ingin melihat Adek dari dekat." godanya lagi.
Vania malah ikut tersenyum, lebih baik seperti ini dari pada Afham melihat album itu, kini dia malah memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman dengan posisi nya sekarang. "Bagaimana, sudah dekat sekarang?" tanyanya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di dada Afham, setelah ia rasakan tenyata debaran jantung suaminya ini terasa begitu cepat, bahkan dirinya pun demikian. "Apa tidak berat?" tanyanya mengalihkan kecanggungan.
Posisi yang menempel sempurna bahkan tanpa jarak membuat dia bisa merasakan hembusan nafas Afham, entah perasaan apa yang di rasakan nya sekarang, ada rasa kebanggaan tersendiri yang begitu menggelora. Padahal dia sudah begitu berpengalaman berpacaran dan menghadapi banyak lelaki tapi saat dengan suaminya ini begitu berbeda, sentuhannya, ciumannya, mau melakukan apapun tidak ada perasaan takut di dalam hatinya.
"Apa tidak apa-apa membuka pintunya?" Orang bertanya apa, Afham bicara apa. Pasalnya, melihat Vania yang semakin terbuka membuat dia merasa lebih leluasa untuk menyentuh istrinya tanpa adanya keterpaksaan. "Apa aku tutup saja."
"Jangan di tutup. Nanti kalau Daddy kembali dia pasti mengira kita tidak mau di ganggu." Vania menjawab dengan asal. Tak sadar kalau posisi sekarang, dengan keadaan mereka di atas ranjang dan dia menindih tubuh suaminya bisa membuat orang akan langsung kabur takut kegiatan mereka terganggu. Terlebih mereka pengantin baru.
"Kak, apa Kakak tidak ilfil melihat aku dengan masa lalu ku yang seperti ini." Vania tiba-tiba bertanya, bahkan berciuman dengan lelaki pun tak bisa terhitung saking seringnya. Kenapa bisa suaminya itu begitu tenang menerima dirinya yang seperti ini. "Bahkan aku begitu kotor." tuturnya lagi.
Afham sampai menatap istrinya itu dengan begitu dalam, tidak cukupkah kata-kata yang di ungkapkan tadi. "Aku tidak mempermasalahkan akan hal itu, Dek. Karena yang aku lihat sekarang adek yang sudah berubah menjadi lebih baik. Dan semoga Adek tetap Istiqomah."
Afham tahu berhijrah itu sulit, terlebih untuk Vania dengan segala manisnya kehidupan masa lalunya. Tapi. Hidup tidak akan berubah, jika kita sendiri tidak merubahnya. Maka, jangan ragu untuk melakukan perubahan jika itu untuk kebaikan.
"Aku hanya meminta tolong jaga kehormatan Adek demi Aku." pintanya lirih.
Vania langsung manggut-manggut mengiyakan, "Insyaallah, dengan bimbingan Kak Afham, aku akan menjadi istri yang baik. Dan aku akan menjaga kehormatan ku." ucapnya dengan tegas. Dia akan berusaha untuk berubah meskipun ini begitu susah. Bahkan tuk sekedar menutup aurat saja untuk nya butuh perjuangan karena belum terbiasa.
Afham tersenyum senang, tangan yang awalnya melingkar di pinggang Vania kini bergerak naik mengelus punggung sang istri, terus bergerak meraih tengkuknya agar jarak wajah mereka semakin dekat.
Vania membalas senyum suaminya yang begitu dalam, perlahan memejamkan mata saat bibir suaminya terasa begitu hangat menyentuh bibirnya, bahkan tangannya langsung mencekam dada suaminya itu saat ciumannya semakin dalam, rasanya keadaannya menjadi sepi senyap, dan hanya luapan kasih sayang yang dia rasakan.
Sementara itu di waktu yang sama, Amora terlihat membuka pintu ruangan Edward, mulai celingukan melihat seisi ruangan tapi tak mendapati seorang pun.
"Om." Ucapnya berusaha memanggil sosok yang dia cari. Maksud utama kedatangan dia kesini adalah untuk menemui Alvero, tapi alangkah baiknya menemui Om nya dulu.
"Om!" Panggilnya lagi, di samping heran. Kemana Om nya itu. Terlebih katanya Vania juga ada di kantor tapi dia tak melihatnya sedikitpun. "Om Edward?"
Amora kini semakin melangkah kedalam, dia ingat di dalam ruangan ini ada kamar, dan mungkin om nya itu ada di sana. Dan saat langkahnya benar-benar sampai di depan pintu, dia sampai membelalakkan matanya.
Tangannya mengepal sempurna, kedekatan Vania dengan suaminya membuat dia semakin kesal. Bukannya mereka tak saling mengenal, bukannya pernikahan mereka pun atas dasar paksaan. Tapi kenapa bisa mereka seromantis itu.
Vania benar-benar di cumbu dengan penuh kasih, Vania sendiri tersenyum hangat menerima ciuman dan perlakuan lembut dari suaminya itu. Bahkan suami Vania kembali mencium Vania lagi. Mereka bak di mabuk asmara, bahkan tak menyadari akan kehadirannya.
"Aisst, kenapa selalu Vania. Kenapa selalu dia yang terlahir bahagia." Amora semakin geram. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Amora langsung berjalan cepat, bahkan tak mempedulikan Pak Zaki yang berpapasan dengan nya. Dia harus mencari ruangan lain untuk menghilangkan kekesalan.
Brug.... Karena terlalu cepat, Amora sampai tak sadar menubruk seseorang di depannya. Setelahnya begitu senang saat sadar Alvero yang ada di depannya.
"Kak Alvero. Maaf, aku tidak sengaja."
Alvero yang awalnya ingin marah sampai menjaga sikapnya saat tahu itu adik sepupu Vania. "Amora, kau di sini?"
"Iya, aku ingin menemui Vania tapi sepertinya dia sedang bersenang-senang dengan suaminya." Dengan sengaja Amora menegaskan itu, dia ingin melihat seperti apa reaksi Alvero. "Ek, maaf Kak. Kakak sudah tahu kan kalau Vania sudah menikah."
"Tak harus minta maaf, Aku sudah tahu."
"Apa Kak Alvero baik-baik saja. Aku minta maaf atas nama Vania." Amora sampai langsung memasang wajah ibu. Dia memperlihatkan kesungguhan nya kalau dia lebih baik dari Vania.
"Seperti yang kau lihat, beginilah aku sekarang. Tapi sepertinya perasaan ku akan membaik kalau ada yang menemani ku. Mau ke cafe bersama?" Alvero sampai memasang senyuman. Bukannya ini lebih baik dari pada terus memikirkan Vania sialan itu. Wanita itu sudah menghancurkan hidupnya. Sepertinya dia harus mencari wanita baru.
Amora sampai langsung mengiyakan, itu yang dia inginkan, dan ternyata lelaki ini juga menginginkan nya. Sepertinya tak sia-sia dia datang ke sini sekarang.