NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

David melangkah tegap memasuki ruang meeting bernuansa modern yang dikelilingi dinding kaca tebal.

Tanpa membuang waktu, ia mengambil posisi di kursi utama di ujung meja panjang, memancarkan aura pimpinan tertinggi yang tak terbantahkan.

Beberapa jajaran direksi yang sudah hadir menunduk hormat, menyambut kedatangan sang CEO dalam keheningan yang tegang.

Tak berselang lama, pintu ruangan terdorong kasar.

Andrew melangkah masuk dengan napas sedikit memburu dan jas yang sedikit kusut.

Menyadari puluhan pasang mata menatapnya, Andrew berusaha memasang senyum santai seraya melambaikan tangan singkat.

"Maaf, jalanan agak macet," ucapnya mengutarakan alasan.

Jonas yang berdiri tepat di samping kursi David maju selangkah.

Dengan nada profesional tanpa emosi, sekretaris itu menyampaikan pengumuman resmi.

"Tuan Andrew, sesuai instruksi CEO, keterlambatan Anda berakibat pada pemotongan gaji untuk periode bulan ini."

Wajah Andrew seketika berubah merah padam. Binar santainya sirna, berganti kepanikan dan kejengkelan yang luar biasa di hadapan para petinggi perusahaan.

"David! Aku hanya terlambat beberapa menit!" protes Andrew dengan nada tinggi yang menahan malu.

"Lagipula, bukankah kita sama-sama pengantin baru? Jadi sangat wajar kalau aku sedikit terlambat pagi ini!"

David menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

Ia perlahan melepas kacamata hitamnya, menatap Andrew dengan pandangan dingin yang penuh intrik dan cemoohan tajam.

"Pengantin baru?" sindir David, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang teramat tipis.

"Semalam saja kamu tidak pulang."

DEG!

Andrew membeku seketika. Matanya membelalak lebar, memancarkan syok yang tak tertahankan.

Bagaimana bisa David tahu kalau ia meninggalkan Gea dan tidak pulang ke rumah semalaman?

"Kamu?!..." desis Andrew dengan rahang yang mengeras rapat, jari-jarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan malu dan amarah yang membakar dada.

Tanpa memedulikan gertakan dan ekspresi hancur dari kakaknya, David secara kasual membuka berkas laporan di depannya.

Ia mengetuk mejanya sekali, mengembalikan atmosfer ruangan menjadi sangat formal dan profesional.

"Kita mulai rapatnya sekarang," potong David tegas, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Andrew yang masih berdiri mematung menahan kekalahan di hadapan seluruh peserta rapat.

David membalik halaman dokumen di tangannya, lalu menatap seluruh jajaran direksi yang hadir.

"Agenda utama rapat pagi ini adalah penentuan penanggung jawab penuh untuk proyek pengembangan resor mewah di Bali," ujar David dengan nada tenang namun mengintimidasi.

Andrew yang mendengar nama proyek itu seketika membusungkan dadanya.

Bali adalah proyek impiannya, ladang emas yang sudah ia incari sejak lama untuk mengukuhkan posisinya di perusahaan sekaligus mengeruk keuntungan pribadi.

Andrew yakin betul, sebagai anak sulung yang berpengalaman di lapangan, proyek itu pasti akan jatuh ke tangannya.

Namun, David sama sekali tidak memandang ke arah Andrew.

Ia mengangguk pelan memberi sinyal kepada sekretarisnya. "Jonas, presentasikan."

Jonas maju melangkah ke depan layar proyektor besar.

Dengan lugas dan profesional, Jonas menjelaskan slide demi slide mengenai kompleksitas proyek Bali—mulai dari analisis risiko finansial, audit transparansi anggaran, hingga rekam jejak efisiensi manajemen.

Jonas membeberkan detail teknis yang sangat ketat karena ia tahu persis ambisi Andrew yang sering kali ceroboh dan rawan penyimpangan dana.

Setiap angka yang dipaparkan seolah menjadi tamparan halus yang menelanjangi ketidakmampuan strategi Andrew.

Wajah Andrew yang semula percaya diri perlahan berubah pucat membiru.

"Tunggu! Proyek Bali ini sejak awal adalah rancanganku! Kenapa presentasinya diarahkan seolah-olah harus dipegang oleh CEO?!" protes Andrew tajam, memotong penjelasan Jonas tanpa etika.

David tetap tenang, memutar pena mahal di jemarinya.

"Perusahaan ini tidak berjalan berdasarkan siapa yang memimpikannya, tapi siapa yang mampu mengeksekusinya tanpa celah. Demi transparansi, kita lakukan voting sekarang. Siapa di ruangan ini yang setuju jika proyek Bali dipimpin langsung oleh saya?"

Atmosfer ruang rapat mendadak berubah tegang bagai medan perang.

Satu per satu, tangan para petinggi perusahaan mulai terangkat ke udara.

Tak butuh waktu lama, hampir seluruh jajaran direksi raise tangan mereka—mereka tahu pasti bahwa di bawah kendali dingin dan tegas milik David, investasi mereka jauh lebih aman.

Hanya ada beberapa orang jajaran lama yang membela Andrew tetap bergeming dan tidak mengangkat tangan, namun jumlah mereka sama sekali tak berarti.

"Hasil suara mutlak," ucap David datar, menatap Andrew yang kini mengepalkan tangannya di atas meja dengan napas memburu dan amarah yang membakar dada.

"Proyek Bali resmi berada di bawah pengawasan langsung CEO. Rapat selesai."

Satu per satu jajaran direksi dan staf keluar dari ruang meeting, meninggalkan pintu kaca tebal tertutup rapat.

Ruangan berukuran luas itu mendadak diselimuti keheningan yang mencekik.

Hanya ada David dan Andrew yang tersisa. Masing-masing berdiri di ujung meja, saling pandang dengan tatapan dingin yang dipenuhi permusuhan.

"Apa maumu, David?" desis Andrew, membuka suara dengan rahang yang mengeras tegang.

"Apa kamu masih marah soal kemarin? Apa kamu masih dendam karena Gea seharusnya jadi milikmu?"

David menatap kakaknya dengan pandangan datar, hampir tanpa emosi.

"Aku tidak sepicik itu, Andrew. Aku justru sangat bersyukur memiliki istri seperti Mili... meskipun aku sadar, aku adalah lelaki yang bisa menyakiti seperti monster."

Mendengar kata itu, senyum miring bercampur ejekan muncul di wajah Andrew.

"Monster... Apa Mili tahu siapa kamu sebenarnya, David? Siapa kamu di balik setelan jas mahal ini?"

Andrew melangkah maju, memajukan wajahnya dengan nada menantang.

"Kalau saja dia tahu seperti apa kelainan dan kegilaanmu, pasti kamu—"

Brak!

Sebelum kalimat itu selesai, David melompati batas meja dengan kecepatan kilat.

Tangan kokohnya mencengkeram kuat leher Andrew, menghantamkan tubuh kakaknya itu ke dinding kaca hingga berbunyi nyaring.

"Jangan teruskan, Andrew..." desis David tepat di depan wajah Andrew.

Suaranya sangat rendah, namun sarat akan ancaman mematikan yang sanggup membekukan darah.

"Jangan..."

Andrew terbatuk-batuk, matanya membelalak lebar menatap kilatan mata David yang mendadak liar dan gelap.

Udara di tenggorokannya makin menipis di bawah tekanan cengkeraman adik kandungnya sendiri.

"K-kamu... gila, David..." bisik Andrew terbata-bata dengan sisa nafasnya.

David menatap Andrew selama beberapa detik yang terasa menyiksa, sebelum akhirnya ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Andrew tersungkur di lantai, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang memerah.

Tanpa menguarkan sepatah kata pun lagi, David merapikan jasnya yang tak sedikit pun kusut, membalikkan badan, dan melangkah tegap keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya, meninggalkan Andrew yang masih terengah-engah dalam ketakutan.

Di sisi lain dimana Mili mengusap lembut bulu halus Dora untuk terakhir kalinya sebelum menyerahkan kucing abu-abu kesayangannya itu kepada pelayan di taman belakang.

Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita datang mendekat, menunduk hormat dengan sikap yang teramat sopan.

"Nyonya, guru-guru privat yang diminta oleh Tuan David sudah tiba dan menunggu di ruang tamu utama," lapor pelayan tersebut lembut.

Mili menganggukkan kepalanya dengan jantung yang mulai berdebar halus.

"Baik, Bi. Terima kasih. Aku akan ke sana sekarang."

Dengan langkah perlahan dan canggung, Mili menyusuri koridor megah rumah tersebut menuju ruang tamu utama.

Di sana, tiga orang dengan penampilan yang sangat rapi, elegan, dan memancarkan aura profesionalisme tinggi sudah berdiri menyambut kedatangannya.

Begitu sosok Mili terlihat, ketiganya kompak membungkukkan badan memberikan penghormatan hangat.

Mili berdiri di hadapan mereka, meremas jemarinya dengan sedikit gugup.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun, mengenakan setelan blazer blazer rapi dengan kacamata berbingkai tipis, melangkah maju terlebih dahulu dengan senyum ramah.

"Selamat pagi, Nyonya Kartajaya. Perkenalkan, nama saya Ibu Ratna. Saya adalah instruktur tata krama, etika publik, dan table manners. Tuan David mempercayakan saya untuk membimbing Nyonya dalam menguasai seluruh tata cara bersikap, berbicara, dan beretika di lingkungan kelas atas agar Nyonya bisa berdiri penuh percaya diri di setiap acara formal."

Selanjutnya, seorang pria paruh baya berpakaian sangat rapi dengan pembawaan yang tenang dan teduh melangkah maju, membungkuk sopan sebelum memperkenalkan dirinya.

"Selamat pagi, Nyonya. Saya Pak Hendra, pengajar privat bahasa dan literasi. Tugas saya di sini adalah membimbing Nyonya menguasai kemampuan membaca, menulis, serta tata bahasa dengan metode yang paling nyaman dan cepat. Tuan David berpesan agar kita belajar tanpa tekanan, sesuai dengan kenyamanan Nyonya."

Terakhir, seorang wanita muda dengan postur tubuh yang sangat tegap, langsing, dan anggun bagaikan seorang model papan atas maju memberikan salam.

Senyum manisnya memancarkan kehangatan yang membuat kegugupan Mili sedikit mengendur.

"Dan saya Ibu Sofia, instruktur gait and posture. Saya yang akan mendampingi Nyonya dalam melatih postur tubuh, cara berdiri, dan cara berjalan yang anggun (gait), sehingga setiap langkah Nyonya memancarkan aura keteguhan dan pesona sebagai seorang Nyonya rumah di keluarga Kartajaya."

Ibu Ratna tersenyum lembut menatap Mili yang masih terpaku.

"Kami semua di sini untuk mendukung dan membantu Nyonya. Apakah Nyonya sudah siap untuk memulai sesi pertama kita hari ini?"

Mili menatap ketiga guru hebat di hadapannya. Rasa rendah diri yang selama ini mengurungnya perlahan sirna, berganti menjadi tekad bulat untuk membalas kebaikan David dan membuktikan bahwa ia sanggup berubah.

Mili menegakkan bahunya, lalu mengangguk mantap.

"Saya siap. Mohon bimbingannya."

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!