Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.25.Menghukummu.
🏚️ Kediaman Wilson🏚️
kini Henri telah kembali kekediamannya, dan sesuai dengan anjuran Dokter selama 1 bulan full ia akan beristirahat, sebelum melakukan kegiatannya, dan tentu saja kembali memimpin perusahaan Wilson Group
Pria tampan itu, menatap keindahan pemandangan kota London dimalam hari.
Sudah bertahun - tahun ia memakai topeng, dan menjalani hidupnya dengan penuh kehampaan, dan berusaha untuk kuat, Padahal sesungguhnya, dia begitu terpuruk.
Setelah operasi bedah plastik yang dijalaninya, dan wajahnya sudah kembali normal, kini Henri merasa seperti baru terlahir kembali.
" Aku akan kembali memimpin perusahaan, dan membuktikan kepada mereka, kalau Henri Wilson dapat bangkit kembali.
Terdengar suara ketukan pintu, yang mengalihkan perhatiannya, lelaki tampan itu.
Tok..
Tok...
Tok...
"Masuk.." Teriaknya, dari dalam kamar.
Pintu terbuka lebar, dan tampak Bibi Sophia, Ana, dan juga Jhon membawa stelan - stelan jas, dan tentunya dengan harga yang sangat mahal.
Henri masuk kedalam kamarnya, untuk menyambangi mereka.
" Tuan.., ini pesanan Jas - Jas anda." Seru sekretaris tampan itu, dengan meletakkan Jas - Jas tersebut diatas ranjang, di ikuti Sophia, dan Ana.
" Terimah kasih" Jawabnya, tersenyum, sembari tangan kanannya, meraih sebuah Jas, dan menempelkan kejadiannya.
" Kau sangat tampan anakku..?" Puji Sophia, saat melihat Henri terlihat begitu tampan, dengan stelan jas berwarna hitam, yang ia keluarkan dibadannya.
" Terimah kasih Bibi."
" Baiklah Ana ayo kita keluar." Titah Sophia, pada Ana salah satu pelayan, keluarga Wilson.
" Baik Bi." Jawabnya, dengan mengikuti langkah kaki Sophia, meninggalkan kamar itu, meninggalkan Jhon, dan juga Henri.
" Apakah sudah ada yang mengetahui, kalau aku sudah mengetahui operasi bedah plastik..?"
" Tidak Tuan, dan saya juga sudah memperingari pada pihak rumah sakit, kalau hal ini tidak boleh sampai bocor."
" Terus, apakah proyek baru..?"
" Ada Tuan, ada sebuah proyek besar. Dan sahabat anda Elmund, berambisi untuk memenangkan proyek ini Tuan." Timpal Jhon, pada laki - laki tampan itu.
Tawanya begitu menggelegar, saat mendengar Jhon, sekretarisnya menyebut Elmund, sebagai sahabat nya.
" Dia bukan sahabatku lagi Jhon, aku tidak sudi berteman dengan orang bermuka dua itu. Dan aku pastikan, kita yang akan memenangkan proyek itu" Dengan membingkai senyuman sinis, diwajah tampaknya.
" Tentu Tuan, aku yakin anda yang akan memenangkan proyek itu." Timpal Jhon, dengan penuh keyakinan.
Terlihat dilantai bawah, Rania menapaki kakinya menuju lantai 3 kamarnya. Akhir - akhir ini, kekhawatiran semakin menyelimuti dirinya.
Takut di usir dari rumah, dan dicampakan oleh Henri, semakin terlintas didalam pikiran wanita berambut pirang itu.
Membuka pintu, dan menjumpai Jhon sedang berada di dalam, tengah berbincang - bincang dengan Suaminya Henri Wilson.
Melihat kedatangan Rania, seketika pembicaraan kedua pria tampan itu terhenti, dengan tatapan teralih kearah Rania yang baru saja masuk.
" Maaf.., jika aku mengganggu pembicaraan kalian. A, aku akan keluar." Serunya, dengan raut wajah yang terlihat begitu gugup.
" Dari mana saja kau Rania..?" Tanya Henri, dengan volume suara yang terdengar kesal.
" Maaf Tuan, tadi aku keluar tidak memberitahu anda." Timpalnya, dengan menundukan wajah, karena takut dengan tatapan Suaminya yang begitu menghunus.
" Tuan aku harap tahan emosi anda." Pinta Jhon, saat melihat kemarahan yang teramat sangat pada Tuanmudanya.
" Kenapa, kau pikir aku akan membunuhnya..?" Menyerngit heran, menatap sekretarisnya.
" Tidak Tuan.., maafkan aku. Kalau begitu, aku permisi dulu." Pamitnya, dengan berlalu keluar, meninggalkan pasangan suami istri itu.
Sepeninggal Jhon, tatapan matanya beralih kerah istrinya, dengan tatapan yang terlihat begitu kesal.
" Katakan padaku, kau dari mana saja. Apakah kau sudah tidak mempunyai Suam..?, hingga saat kau keluar kau tidak mengatakan padaku." Sembari menatap geram, istrinya.
" Maaf Tuan, aku hanya keluar sebentar."
" Keluar sebentar, dan siapa yang kau temui Rania..?" Dengan volume suara mulai meninggi.
" Sahabatku Tuan...?"
" Sahabatmu, atau kekasihmu..?" Bertanya, dengan tatapan penuh mengintimidasi.
" Sahabat ku Tuan, namanya Cindi." Jawabnya, dengan nada pelan.
" Kau tidak membohongikukan Rania..?"
" Tidak Tuan, aku tidak membohongimu.." Jawab Rania, dengan menggeleng cepat, untuk meyakinkan Suaminya, yang terlihat ragu.
" Ingat Rania, jika kau membohongiku, atau berselingkuh di belakangku, maka jangan salahkan aku, jika aku membunuh pria selingkuhanmu itu, dan jika kau membohongiku, lagi, lagi, dan lagi. Aku akan menghukummu, dengan membuat utangmu bertambah banyak, dan sangat banyak." Serunya, sembari menatap kesal istrinya.
Terkejut saat mendengar perkataan Henri, karena itu tidak ada dalam perjanjian mereka.
" Tuan, itu tidak ada dalam perjanjian, bukankah aku cukup melahirkan anak saja..?" sembari menatap heran, wajah tampan yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal.
" Kau sekarang sudah mulai membantahku Rania..!, bukankah kau istriku, jadi apasalahnya, jika kau mengandung anakku." Timpalnya, dengan wajah yang terlihat kesal.
" Tapi Tuan, masalah utang - utangku ku..."
Serunya terputus, sebab Henri menyela ucapanya.
" Jangan membantah omongan ku, terserah aku mau lakukan apa padamu. Kau istriku jadi kau tidak boleh membantah Omongan Suamimu." Titahnya dengan nada tegas.
" Baiklah Tuan." Jawabnya, dengan nada memelas.
" Pergilah keruang ganti, Bibi Sophia sudah menyiapkan baju - baju yang sangat indah untukmu, pakailah salah satu karena malam ini aku akan menghukummu." Senyum menyeringai diwajah tampan itu, dengan senyum devilnya.
" Baju.." Sembari menyerngitkan, dahinya.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.