Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Sahabat Karib
...FIORELLA FERRAZ...
Apa yang dipikirkan gadis 18 tahun yang baru saja ditiduri untuk pertama kalinya? Dia sudah menegaskan tidak boleh ada perasaan, tapi itu tak terhindarkan kalau ada ketertarikan. Dan aku tahu ketertarikan itu ada di antara kami, bukan hanya dariku, tapi juga darinya. Aku ingin hari ini cepat berakhir, besok aku bisa berpikir lebih jernih soal apa yang baru saja kami lakukan.
"Ada orang yang menunggumu di luar."
"Kamu tidak ikut?"
"Aku tidak boleh muncul dengan bekas di badan, Fiorella. Kamu karang alasan, Loretha sudah tahu kamu keluar."
"Sial!" Aku bergumam.
"Jangan mengarang terlalu banyak. Bilang saja kamu meneleponku dan aku mengirim orang untuk menjemputmu, itu saja."
Kami keluar dari rumah. Di luar, selain Ferrari itu, kulihat mobil lain dan seorang pria bersandar padanya. Dia tidak memakai jas, pakaiannya santai sekali. Dia melihatku dan tersenyum tipis. Aku pernah melihat pria ini bicara dengan Argo di pesta pertunangan. Keduanya bersalaman dan bertukar tatapan penuh arti.
"Selamat malam." Setidaknya pria ini sopan.
"Selamat malam!" jawabku.
Argo membukakan pintu belakang agar aku masuk. Dia memegang wajahku dan membuatku menatapnya beberapa detik. Tatapan itu cukup untuk membuat jantungku berdebar kencang. Dia menutup pintu dan pria itu pergi. Aku ingin tetap tinggal, tapi menghilang semalaman di negara yang tak ada satu pun orang kukenal itu konyol, apalagi di hari yang sama suaminya juga menginap di luar. Aku harus berhenti memikirkan ini, dia sudah menegaskan ini hanya untuk malam ini.
"Fiorella Ferraz?" kata pria itu, mengagetkanku.
"Ya."
"Aku kenal ayahmu, dia orang hebat."
"Sama seperti kalian."
"Apa?"
"Dia sama seperti kalian." Aku mengulang. "Hanya memikirkan diri sendiri." Dia mengamatiku lewat kaca spion. "Dan kamu siapa?"
"Aku Franco."
"Dan kamu ini apa?"
"Maksudnya?"
"Kamu agak beda dari cowok-cowok lain."
"Beda? Semoga beda yang lebih baik."
"Kamu bicara denganku, yang lain bahkan tidak melirikku."
"Oh, itu. Aku dan Argo sudah seperti saudara. Anak buah tidak melihatmu karena mereka tidak diizinkan, mereka cuma menjalankan perintah."
"Lucu juga."
"Apa yang lucu?"
"Argo Romanov punya teman. Kamu kelihatannya jauh berbeda darinya."
"Kamu menilai orang cuma dari 5 menit mengobrol?"
"Aku sedang menilai temanmu, yang kukenal sedikit lebih lama dari 5 menit."
Franco tertawa dan menggumamkan sesuatu, sayang aku tidak bisa mendengarnya dari tempatku duduk.
"Kalau kamu baru kenal dia dan sudah punya penilaian begitu, bayangkan waktu kami masih sekolah."
"Aku bisa membayangkan dia seperti apa dulu."
"Tapi sepertinya tunanganmu berbeda." Begitu dia bilang begitu, mata kami bertemu, dia menatapku lewat kaca spion.
"Benar, Jared Romanov kelihatannya beda dari ayahnya."
"Itu bagus, kan? Atau tidak?"
"Maksudmu apa?"
"Tidak apa-apa, cuma bertanya."
Apa sih yang coba dia bilang, dasar brengsek? Sisa perjalanan berlangsung dalam diam. Sesampainya di rumah, Franco ikut masuk bersamaku dan bercanda dengan para penjaga sampai mereka terbahak. Franco kelihatannya akrab sekali dengan keluarga ini, termasuk dengan orang-orang itu.
"Fiorella, aku cemas sekali, sayang." Loretha berjalan menghampiriku dan mencium pipiku. "Franco? Kamu yang mengantar Fiorella?" tanyanya sambil menoleh pada Franco.
"Sepertinya dia kena masalah dan menelepon suamimu, karena Argo sedang sibuk, dia memintaku mengantar gadis ini."
"Masalah?"
"Mungkin habis bertengkar." Dia menunjuk dadaku.
Aku menunduk dan melihat bercak merah di bagian atas dadaku. Ya Tuhan!
"Bukan apa-apa, Loretha. Maaf aku keluar diam-diam? Aku janji tidak akan mengulanginya."
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku cuma khawatir, kuhubungi tapi kamu tidak mengangkat." Loretha memeluk leherku, seolah aku benar-benar putrinya.
"Paket sudah diantar, aku cabut."
"Suamiku di mana?"
"Dia sedang ada urusan yang harus diselesaikan."
"Baik, terima kasih banyak, Franco."
Dia tersenyum pada Loretha, lalu padaku, dengan tatapan yang bertahan lama di mataku.
"Selamat malam, Fiorella Ferraz."
"Selamat malam, Franco." Pria ini sama seperti temannya, tampang jahat tapi tetap tampan banget. Sejak kapan aku menganggap pria jahat dan mafia itu menarik?
Begitu dia pergi dan aku berdua saja dengan Loretha, aku merasa seperti monster. Tapi suara hatiku berkata: ini cuma hari ini, jangan merasa bersalah, tidak akan terjadi lagi.
"Kamu sudah makan apa, Fiorella? Kalau lapar, aku siapkan makan malam."
"Aku tidak lapar, aku naik ke kamar. Dan maaf sekali lagi sudah keluar begitu."
Sampai di kamar, kulepas gaunku, kuhempaskan diri ke ranjang dan menarik selimut sampai menutupi kepala. Aku tidak menyesal dan akan mengulanginya lagi, aku hanya punya satu ketakutan.
Jatuh cinta pada pria beristri, ayah dari calon suamiku.