Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Pagi hari nya, langit terlihat mendung dengan angin yang berembus kencang. Aresha menyetir mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah.
Rintik hujan mulai terdengar, kota jakarta di guyur hujan tepat sebelum Aresha sampai di sekolah nya.
"Kenceng banget hujan nya," gumam Aresha mengurangi kecepatan laju mobil nya. Disaat hujan seperti ini Aresha harus lebih berhati hati dalam menyetir, setidak nya Aresha masih menginggat pesan dari papa nya itu.
Namun seketika Aresha memberhentikan mobil nya di pinggiran jalan saat mata nya tak sengaja menangkap seorang pria tengah berteduh di toko yang masih tutup.
"Arsen," gumam Aresha menurunkan kaca mobil nya. Hujan yang semakin deras membuat pandangan Aresha sedikit tak jelas, namun dia masih mengenali motor dan jeket yang di kenakan pria itu.
"Arsen," teriak Aresha memanggil Arsen. Pria yang di panggil nya itu menoleh, sedikit terkejut melihat kehadiran Aresha.
Arsen berlari kecil menghampiri Aresha dan langsung masuk ke dalam mobil nya untuk menghindari air hujan.
"Kok lo nggak pake seragam. Lo nggak sekolah?" tanya Aresha menatap Arsen heran.
"Enggak."
"Kenapa?"
"Males aja."
Jawaban Arsen yang terlalu singkat membuat Aresha sedikit kesal.
"Jawab nya yang bener Arsen,"
"Itu udah bener."
Aresha menghela napas nya sendiri, mencoba bersabar menghadapi sifat Arsen yang terlampau dingin.
"Yaudah kalau gitu lo mau ke mana biar gue anter?"
"Lo sekolah aja, motor gue masih di sana," tolak Arsen.
"Nggak, hari ini gue juga nggak mau sekolah." ucap Aresha dengan santti nya, lalu tanpa Arsen duga Aresha membuka pintu mobil nya dan keluar ke pinggir jalan.
"Aresha lo ngapain?" teriak Arsen menyusul Aresha yang sudah basah karena air hujan.
"Masuk ke mobil Aresha, nanti lo sakit!" ucap Arsen mengeraskan suaranya.
"Gue nggak mau, hujan nya enak, gue mau main hujan saja." jawab Aresha tanpa mempedulikan ucapan Arsen dan malah berlari kecil ke arah tanah kosong di samping toko.
Aresha merentangakan tangan nya, tersenyum bahagia di tengah guyuran air hujan.
Aresha terkejut bukan main saat jaket Arsen tiba tiba menghalangi air hujan membasahi wajah nya, Arsen menjadikan jaket nya sebagai payung untuk Aresha.
"Nanti lo sakit Aresha."
Aresha tidak menjawab, dia hanya diam dengan mata yang tak lepas dari Arsen. Aresha tidak tau kenapa dia bisa seperti ini, ini sudah kedua kalinya Aresha merasa berbeda di dekat Arsen.
"Masuk mobil, gue antar lo pulang," tanpa persetujuan Aresha, Arsen menarik tangan Aresha untuk masuk kedalam mobil, dan mendudukan nya di kursi penumpang.
Arsen menutup pintu nya, berjalan ke arah bagasi untuk mencari sesuatu untuk bisa menghangatkan tubuh Aresha. Karena bagaimanapun Arsen pernah mendengar jika Aresha akan mudah sakit bila terlalu lama terkena guyuran air hujan.
"Pake ini," ucap Arsen memberikan Aresha sebuah selimut yang tadi dia temukan di bagasi.
Arsen masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil nya, meninggalkan motor kesayangan nya demi mengantarkan Aresha pulang kerumah.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aresha mulai merasa jika tubuh nya benar benar kedinginan.
"Pulang, lo harus istirahat sebelum sakit." jawab Arsen tanpa menoleh ke arah Aresha.
"Motor lo?"
"Nanti gue balik ambil motor."
Aresha tiba tiba meraih tangan Arsen dan menggenggam nya.
"Bawa gue ke apartment lo aja Sen, gue nggak mau papa marah sama gue."
Arsen menoleh ke arah Aresha, mengamati wajah cantik nya yang mulai memucat.
"Papa lo nggak akan marah, mungkin dia akan khawatir. Tapi kalaupun Papa lo marah, gue bakal tanggung jawab. Karena ini juga salah gue juga yang udah ngebiarin lo main hujan." jawaban Arsen terdengar bijak, Aresha benar benar tidak menyangka jika Arsen akan sebijak ini, dia berani bertanggung jawab atas kesalahan yang sebetulnya bukan kesalahan nya.
"Kenapa nggak mau bawa gue ke apartment lo aja?"
"Karena lo butuh istirahat."
"Istirahat di sana kan bisa,"
"Nggak bisa Aresha, gue nggak mau ngambil resiko kalau lo kenapa napa. Gue... " Arsen tidak bisa melanjutkan ucapan nya, dada nya bergemuruh hebat karena Aresha yang tak kunjung melepaskan genggaman tangan nya.
"Gu... gue,"
Aresha semakin erat menggenggam tangan Arsen untuk menunggu kelanjutan ucapan pria itu.
"Lo khawatir sama gue?" tanya Aresha tiba tiba. Karena Arsen yang tak kunjung melanjutkan ucapan nya.
Arsen mengembuskan napas panjang nya, sekarang Arsen di buat bungkam oleh Aresha. Apa segitu terlihat nya raut wajah khawatir nya hingga Aresha bisa menyadari nya.
"Arsen,"
"Udah lah diam, biarkan gue fokus menyetir," sahut Arsen kembali fokus menyetir di bawah guyuran air hujan yang tak kunjung mereda.
Begitu mereka sampai di rumah Aresha, Arsen menuntun Aresha yang tubuh nya masih terbalut selimut. Arsen memencet bel rumah, dan tak lama kemudian seorang wanita cantik membuka pintu dan terkejut melihat Aresha.
"Aresha, kamu kenapa sayang?" wanita cantik yang ternyata adalah bunda Aresha sendiri itu terlihat khawatir dengan wajah pucat Aresha.
"Halo Tante, saya Arsen," sapa Arsen menyalami punggung tangan Nara.
"Kalian berdua masuk dulu ya," ucap Nara menuntun Aresha yang mulai lemas untuk masuk ke dalam.
"Bik, tolong buatkan teh hangat untuk mereka ya," pinta Nara pada Bik Lastri, yang langsung di laksanakan oleh pembantu nya itu.
"Bunda maafin Aresh ya, hari ini Aresha bolos sekolah lagi," ucap Aresha dengan suara pelan.
"Bukan itu yang Bunda ingin tanyakan Aresha, tapi kenapa kamu bisa bayah kayak gini. Kamu kan bawa mobil," Nara mengusap rambut Aresha yang basah, lalu Nara beralih menatap Arsen yang duduk di sofa sebrang.
"Dan Arsen juga, kenapa bisa basah kayak gini nak, nanti kamu sakit loh,"
Arsen tersenyum tipis, dari nada suaranya, Nara sama sekali tidak ada rasa marah, hanya ada nada lembut penuh kekhawatiran. Aresha benar benar beruntung memiliki ibu seperti Nara, lembut dan penyayang.
"Arsen nggak papa kok, Tante."
"Bun," panggilan Aresha membuat Nara menolah menatap nya.
"Apa Bunda tau siapa Arsen?"
Nara memggelengakan kepalanya karena memang dirinya tidak tahu siapa Arsen.
"Dia adalah, Arsenio Artanta Lindara. Putranya teman Bunda, Tante Erina,"
"APA??" suara keterkejutan itu berasal dari Nara, bukan hanya Nara yang terkejut, namun Arsen juga sama hal nya terkejut dengan apa yang Aresha ucapkan.
"Aresha kamu serius, bukanya hanya Arkan putranya Erina, dia sendiri kan yang bilang gitu,"
Arsen tersenyum kecut mendengarkan ucapan Nara, jelas hati nya terasa sakit mendengar nya. Disaat mamanya sendiri tidak mengakuinya sebagai anak.
"Tante benar kok, Arsen bukan anak nya Tante Erina, cuma Arkan yang anak nya." jawab Arsen menahan rasa sakit di hati nya.
Aresha diam dan terus memperhatikan Arsen, apa dia salah telah mengatakan itu, apa hati Arsen terluka karena itu? Pikiran itu terus saja berkecamuk di kepala Aresha.
"Aresha kamu naik ke atas dan mandi ya, dan untuk Arsen kamu tunggu di sini dulu, biar tante ambilin baju Emil buat ganti baju kamu." Nara berdiri dari duduk nya lalu mengajak Aresha untuk naik ke atas.
Sepeninggalan Bunda Nara dan Aresha. Arsen menyenderkan kepala nya di sofa, memejamkan matanya menikmati rasa sakit di hati nya.
Arsen tersenyum tipis dengan mata yang masih terpejam, setidaknya Arsen sadar jika kehadiran nya memang tidak di inginkan oleh mama nya sendiri.
"Mah, selamat. Kau berhasil membuat Arsen tidak lagi ingin menjadi anggota keluargamu. Dan untuk Arkan, kau menang, kau menang telah merebut perhatian mama ku yang dari dulu memang tidak pernah memperhatikan ku." batin Arsen penuh sayatan luka di hatinya.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu