Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Membuat Penasaran
Setelah Min-woo pergi menjauh, Soo-jin masih berdiri terpaku di depan papan pengumuman. Pikirannya berputar cepat—antara rasa takut mendengar peringatan itu, dan kebutuhan mendesak yang terus membebani pikirannya.
Matanya jatuh pada potongan kertas yang masih tergenggam di tangan Min-woo, dan saat lelaki itu tidak melihat ke belakang, selembar bagian kecil yang terlepas jatuh perlahan ke lantai. Tanpa berpikir dua kali, Soo-jin segera membungkuk dan mengambilnya dengan gerakan cepat. Ia menyelipkan potongan kertas itu ke dalam saku seragamnya, menyembunyikannya rapat-rapat agar tidak ada orang lain yang melihat.
“Kalau memang berbahaya, kenapa bayarannya sebesar itu?” gumamnya pelan sambil berjalan meninggalkan koridor. “Dan kenapa Min-woo bertindak secepat itu seolah takut ada orang yang membacanya?”
Sesampainya di rumah sewaannya yang sempit dan sepi, Soo-jin segera mengunci pintu, lalu mengeluarkan potongan kertas dari sakunya. Ia membukanya dengan hati-hati, merapikan lipatannya agar tulisan yang tersisa bisa terbaca.
Di situ masih terlihat jelas sebagian tulisan:
...seluruh area sekolah...
...gaji sangat besar...
...hubungi: 010-427-...
Sisa nomor teleponnya terpotong, tapi cukup untuk membuatnya semakin penasaran. Ia mengingat kembali kondisi ayahnya yang masih membutuhkan biaya pengobatan, serta tagihan sekolah yang harus segera dibayar akhir bulan ini. Pekerjaan paruh waktu biasa hanya memberi penghasilan sedikit, tidak cukup untuk menutupi semuanya.
“Mungkin ini satu-satunya kesempatanku,” bisiknya sendiri. “Kalau hanya soal menjaga ketenangan, mungkin tidak seburuk yang dikatakan Min-woo. Lagian dia juga tidak menjelaskan bahayanya secara jelas.”
Malam itu, Soo-jin terus memegang kertas itu sambil duduk di dekat jendela. Angin malam berhembus masuk, membawa hawa dingin yang membuat bulu kuduknya meremang. Di dalam hatinya muncul dua perasaan yang bertarung: keinginan untuk mencari nafkah demi keluarga, dan rasa was-was akan hal yang tidak diketahui.
Namun rasa penasaran dan kebutuhan hidup akhirnya mengalahkan keraguannya. Ia memutuskan besok pagi akan mencari tahu lebih lanjut—mencari sisa pengumuman lain atau bertanya kepada orang yang mungkin tahu keberadaan tim aneh itu.
Yang belum ia sadari, sejak ia menyimpan potongan kertas itu, sesuatu yang samar dan dingin mulai mengikuti setiap langkahnya, seolah menunggu saat yang tepat untuk muncul.
Rasa penasaran dan kebutuhan yang mendesak membuat Soo-jin tidak bisa menunggu sampai keesokan harinya. Begitu selesai makan malam sederhana dan membereskan meja belajarnya, ia segera membuka laptop tua pemberian ayahnya. Layarnya menyala perlahan, memancarkan cahaya redup yang menerangi ruangan sempit itu.
Dengan jari yang sedikit gemetar karena campuran rasa takut dan harapan, ia mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: “Lowongan pengawas khusus SMA Haneul”, “Pekerjaan pemburu hantu sekolah”, dan “Gaji besar area sekolah Seoul”.
Berbagai hasil pencarian bermunculan, tapi kebanyakan hanya berita lama, rumor tak jelas, atau forum diskusi yang isinya saling membantah. Hingga akhirnya matanya tertuju pada satu halaman yang tampak lebih tua dan jarang dikunjungi.
Di situ tertulis:
Tim Penjaga Ketenangan SMA Haneul
Bukan pekerjaan untuk mereka yang lemah hati. Tugasnya bukan sekadar menjaga keamanan biasa, melainkan menghadapi hal-hal yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Bayaran memang sangat tinggi, sesuai dengan risiko yang harus ditanggung. Mereka yang masuk tidak bisa berhenti semaunya.
Jantung Soo-jin berdegup makin kencang. Jadi benar—pekerjaan itu memang berkaitan dengan hal gaib seperti yang dikatakan Min-woo. Namun saat ia membaca bagian komentar di bawahnya, ada satu tulisan yang membuatnya tertegun:
“Bagi yang benar-benar membutuhkan, ini jalan satu-satunya. Tapi ingat: jangan pernah berjanji lebih dari yang bisa kau penuhi.”
Ia mengusap layar laptop seolah bisa melihat tulisan itu lebih jelas. Di pojok halaman itu juga tertera nomor telepon yang hampir sama persis dengan potongan kertas di tangannya—hanya satu angka terakhir yang berbeda.
“Kalau benar ini satu-satunya cara agar ayah bisa terus dirawat dan aku tidak keluar sekolah… apakah aku berani mengambilnya?” gumamnya pelan.
Di luar jendela, angin berhembus lebih kencang, membuat daun pohon bergesekan dan mengeluarkan bunyi berdesir. Cahaya lampu ruangan sempat berkedip-kedip sebentar sebelum kembali terang. Soo-jin menelan ludah, lalu meraih ponselnya, siap mencoba menelpon nomor yang baru saja ia temukan.
Ia tidak tahu, di balik layar laptop yang menyala, ada bayangan samar yang perlahan bergerak mendekatinya, seolah tahu bahwa gadis itu sudah mulai melangkah masuk ke dunia yang tersembunyi.
Jari Soo-jin bergerak perlahan di atas layar ponsel, mengetik nomor yang tertera di situs itu lalu mencocokkannya dengan sisa angka di potongan kertas yang ia simpan. Setelah memastikan semuanya sama, ia menahan napas panjang dan menekan tombol panggil.
Suara nada sambung terdengar pelan, berulang-ulang. Jantungnya berdebar kencang, seolah hendak melompat keluar dari dada. Akan ada siapa yang mengangkatnya? Apakah ini hanya lelucon belaka? Atau justru hal yang lebih menakutkan?
Belum sempat keraguannya memuncak, nada sambung terputus. Sebuah suara berat dan datar terdengar dari seberang sana—suara yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
“Halo. Siapa yang menelepon?”
Soo-jin menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang sedikit bergetar namun berusaha tegas: “Saya… saya membaca informasi tentang lowongan pengawas khusus untuk SMA Haneul. Saya ingin mendaftar.”
Ada jeda hening selama beberapa detik, terasa sangat lama di telinganya. Hingga suara itu kembali terdengar, kali ini lebih rendah:
“Kamu tahu apa tugasnya? Dan kamu sadar bahwa ini bukan pekerjaan biasa yang bisa ditinggalkan seenaknya?”
“Saya tahu,” jawab Soo-jin cepat. “Saya butuh penghasilan yang cukup besar dan segera. Saya siap bertanggung jawab atas apa pun yang menjadi tugas saya.”
Suara itu terdengar menghela napas pelan, seolah sudah sering mendengar jawaban serupa. “Baiklah. Jika kamu sungguh-sungguh, datanglah besok malam pukul sembilan tepat ke ruang gudang tua di belakang gedung laboratorium. Datanglah sendirian. Jangan ceritakan kepada siapa pun. Jika kamu tidak muncul, kami anggap urusan ini selesai.”
“Tapi—”
Belum sempat Soo-jin bertanya apa pun lagi, sambungan telepon langsung terputus. Layar ponselnya kembali menampilkan waktu, seolah percakapan barusan hanya mimpi.
Ia meletakkan ponsel di atas meja belajar, lalu menatap kosong ke depan. Pikirannya berputar-putar: gudang tua di belakang sekolah? Malam hari? Sendirian? Semua itu terdengar mengerikan, tapi satu hal yang terngiang terus di kepalanya—janji agar ayahnya tetap mendapatkan pengobatan terbaik.
“Kalau ini satu-satunya jalan… aku harus berani,” gumamnya pelan.
Saat ia mematikan laptop dan berniat beristirahat, cahaya lampu di kamarnya kembali berkedip sebentar. Dari sudut ruangan yang paling gelap, samar-samar terlihat sosok bayangan yang perlahan memudar begitu Soo-jin menoleh ke arahnya. Ia tidak menyadarinya—namun langkah kakinya sudah resmi melangkah masuk ke dunia yang selama ini tersembunyi dari pandangan siswa biasa.