Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jatuh ke Jurang
Suara ranting patah terdengar sangat jelas dari arah utara hutan yang tertutup kabut malam. Lin Tian segera menarik jubah hitamnya yang terkoyak untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
Dia memakaikan kembali pakaian Su-er dengan gerakan tangan yang cepat namun sangat hati-hati. Rasa sakit yang luar biasa masih membakar jalur meridian di sekitar luka punggungnya.
“Mereka telah mengerahkan anjing pelacak tingkat tinggi yang kebal terhadap kabut racun rawa.” Lin Tian berbisik pelan sambil meraih gagang Pedang Berat Hitam di atas lantai batu.
Su-er mengangguk cepat dengan sisa air mata yang masih membekas di sudut kelopak matanya. Dia memegang erat ujung lengan baju Lin Tian seolah takut kehilangan pemuda tersebut.
Lin Tian menggigit pil penambah darah terakhirnya dan menelan paksa tanpa bantuan air. Energi panas langsung meledak di lambungnya untuk memaksa otot kakinya kembali bekerja optimal.
Mereka berdua merayap keluar dari ceruk batu itu di bawah rintik hujan badai malam. Arah tujuan pelarian mereka kini hanya tersisa satu yaitu puncak tebing Jurang Kematian.
Hutan pinus di depan mereka perlahan berubah menjadi dataran tandus yang dipenuhi bebatuan tajam. Angin kencang bertiup membawa aroma belerang pekat dari dasar jurang yang tak berdasar.
Lolongan Serigala Darah Mata Tiga terdengar semakin dekat dan hanya berjarak beberapa ratus meter. Kilatan obor dari pasukan pengejar mulai terlihat menembus sela-sela batang pohon kuno raksasa.
'Kamu tidak akan bisa bertarung melawan ahli ranah Pembentukan Inti dalam kondisi sekarat begini.' Suara Yue Chan terdengar sangat rasional di dalam lautan kesadaran jiwa Lin Tian.
Lin Tian tidak membalas ucapan permaisuri iblis itu melainkan hanya mempercepat ritme larinya. Dia memutar tubuhnya sejenak untuk melempar belasan jarum beracun ke arah semak-semak belakang.
CRAATT!
Terdengar suara rintihan tertahan dari seekor monster pelacak yang tertusuk jarum di bagian mata. Namun hal itu sama sekali tidak menghentikan laju gerombolan pasukan utama faksi kota.
Wang Teng berlari di barisan paling depan dengan wajah yang dipenuhi oleh seringai gila. Dia dijaga ketat oleh Gu Tua yang melayang tenang di atas permukaan tanah basah.
“Kamu sudah tidak memiliki jalan tikus lagi untuk bersembunyi malam ini Lin Tian!” Suara arogan Tuan Muda Kota itu bergema memantul di antara tebing batu karst liar.
Lin Tian mengabaikan provokasi murahan itu dan terus menyeret langkahnya yang mulai gontai lelah. Darah segar kembali merembes keluar dari balutan kain di punggung bidangnya yang terbuka.
Ujung tebing Jurang Kematian akhirnya terlihat sangat jelas di depan mata mereka berdua. Angin ribut berhembus sangat buas dari dasar jurang yang tertutup oleh awan kabut hitam.
Jurang ini memiliki reputasi sebagai tempat paling terkutuk di seluruh wilayah Kota Daun Merah. Bahkan seorang kultivator ranah Jiwa Baru Lahir pun tidak berani melangkah masuk ke dalamnya.
Lin Tian menghentikan langkahnya tepat dua meter dari bibir tebing batu yang sangat rapuh. Bebatuan kerikil kecil jatuh berguguran ke bawah tanpa pernah terdengar suara pantulan gema dasarnya.
Pasukan faksi kota yang berjumlah puluhan orang langsung menyebar membentuk formasi kepungan setengah lingkaran. Mereka mengunci seluruh rute pelarian Lin Tian dengan barisan pedang dan tombak terhunus tajam.
Wang Teng melangkah maju dengan kipas lipat di tangannya yang berlumuran noda darah kering. Dia menatap kondisi Lin Tian yang berantakan dengan kepuasan batin yang sangat luar biasa.
“Berlututlah dan jilat sepatu botku sekarang juga untuk mendapatkan kematian yang sedikit lebih cepat.” Wang Teng menunjuk wajah Lin Tian menggunakan ujung kipasnya yang terbuat dari baja.
Gu Tua memancarkan tekanan spiritualnya yang masif untuk mengunci pergerakan udara di sekitar mereka. Dia bersiap menghentikan setiap trik kotor yang mungkin akan dikeluarkan oleh pemuda licik itu.
Lin Tian hanya berdiri diam sembari menancapkan Pedang Berat Hitam ke tanah batu tebing. Tangan kirinya merangkul pinggang Su-er dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Su-er menyandarkan kepalanya ke dada Lin Tian tanpa sedikit pun rasa takut di wajahnya. Dia telah membulatkan tekad untuk mengikuti tuannya bahkan menuju ke gerbang neraka sekalipun.
'Bocah gila, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan di dalam otak buntu milikmu itu?' Yue Chan bertanya dengan nada yang menunjukkan sedikit riak kepanikan untuk pertama kalinya.
'Aku akan meminjam jalur kematian ini untuk membuka jalan kelahiran kembali yang sesungguhnya.' Lin Tian menjawab pelan dengan suara batin yang sedingin bongkahan es abadi kutub.
Tangan kanan Lin Tian perlahan merogoh bagian dalam cincin spasial yang melingkar di jarinya. Dia mengeluarkan tiga buah bola logam berwarna merah menyala yang berukir aksara formasi kuno.
Itu adalah Bom Api Penghancur Jiwa yang dirampasnya dari brankas rahasia Paviliun Harta. Benda ini cukup kuat untuk melukai seorang ahli ranah Pembentukan Inti tingkat menengah.
Mata Gu Tua seketika membelalak lebar saat mengenali benda sangat berbahaya di tangan pemuda itu. Wajah keriputnya yang selalu tenang kini berubah menjadi sangat pucat pasi karena terkejut.
“Tuan Muda, segera mundur dari tempat ini sekarang juga sebelum terlambat!” Gu Tua berteriak keras sambil menarik kerah baju Wang Teng dengan gerakan yang sangat kasar.
Lin Tian mengalirkan sisa energi spiritual terakhirnya ke dalam tiga bola logam bulat tersebut. Aksara formasi kuno di permukaannya langsung bersinar terang memancarkan hawa panas yang merusak.
“Kalian semua harus mengingat dengan baik wajahku yang akan menghantui setiap mimpi buruk kalian.” Senyuman gila yang mengerikan perlahan terbentuk di kedua sudut bibir pucat Lin Tian.
Dia melemparkan ketiga bom api mematikan itu tepat ke tengah formasi kerumunan pasukan musuh. Kecepatan lemparannya sangat luar biasa hingga membelah udara dengan suara desingan angin tajam.
SYUUUTT!
Tanpa menunggu hasil ledakannya, Lin Tian mengeratkan pelukannya pada tubuh gemetar Su-er. Dia menggunakan telapak kakinya untuk menendang keras bongkahan batu tebing pijakannya ke belakang.
Tubuh kedua manusia itu langsung terlempar mundur melewati batas bibir tebing yang sangat curam. Mereka terjun bebas ke dalam pelukan awan kabut hitam Jurang Kematian yang berputar ganas.
BOOOMMM!
Tiga ledakan dahsyat berskala besar terjadi secara bersamaan di atas bibir tebing jurang tersebut. Gelombang api merah menyapu bersih seluruh area daratan dengan suhu panas yang melelehkan batuan.
Jeritan penderitaan dari puluhan prajurit elit faksi kota terdengar saling bersahutan menyayat hati. Tubuh mereka hangus terbakar menjadi abu sebelum sempat melarikan diri dari radius ledakan.
Gu Tua menggunakan perisai energi absolutnya untuk menutupi tubuh Wang Teng dari terjangan api. Namun pria tua itu tetap memuntahkan seteguk darah segar akibat hantaman pantulan gelombang kejutnya.
Asap tebal mengepul tinggi ke udara menutupi pandangan mata di sekitar area kawah ledakan. Hujan badai yang turun deras sama sekali tidak mampu memadamkan sisa kobaran api spiritual.
Sementara itu di bawah sana, Lin Tian dan Su-er terus meluncur jatuh membelah angin. Gaya gravitasi menarik tubuh mereka dengan sangat kuat menuju ke dasar kegelapan mutlak jurang.
Angin kencang berdesing di telinga Lin Tian laksana tangisan jutaan hantu penasaran yang kelaparan. Dia memutar tubuhnya di udara agar posisinya berada di bawah untuk menahan bantalan benturan.
“Peluk leherku erat-erat dan tutup matamu jangan pernah melihat ke arah bawah sana.” Lin Tian berteriak keras melawan suara gemuruh badai angin jurang yang sangat memekakkan telinga.
Su-er mengangguk patuh dan membenamkan wajah mungilnya ke ceruk leher pemuda yang mendekapnya. Dia bisa merasakan detak jantung Lin Tian yang berdegup kencang namun sangat teratur tenang.
Kabut beracun mulai memasuki rongga pernapasan mereka seiring dengan semakin dalamnya mereka jatuh ke bawah. Lin Tian memutar metode kultivasi iblisnya untuk menyaring udara mematikan tersebut sebaik mungkin.
Mutiara primordial di dalam dantiannya berputar liar menyerap seluruh hawa energi Yin dari jurang. Dia menggunakan energi itu untuk menciptakan sebuah lapisan energi pelindung tipis menutupi tubuh Su-er.
Tubuhnya sendiri terus menerus tergores oleh tebing batu tajam yang menonjol keluar sembarangan. Pakaian hitamnya kini telah berubah menjadi kain compang-camping yang basah lepek oleh darah segar.
Waktu terasa berhenti berdetak di dalam pusaran ruang hampa tanpa ujung dan batas tersebut. Mereka berdua seperti terjebak di dalam sebuah lorong keabadian panjang menuju pintu alam baka.
'Bocah gila ini benar-benar tidak menaruh nilai sepeser pun pada nyawanya sendiri rupanya.' Yue Chan bergumam pelan di dalam pikirannya dengan nada kekaguman yang sengaja disembunyikan rapat.
Lin Tian sama sekali tidak memejamkan matanya meski angin kencang terus menampar keras wajahnya. Matanya terus menatap tajam ke arah dasar jurang untuk mencari satu titik pendaratan aman.
Hawa dingin yang sangat membekukan tulang perlahan merambat naik dari dasar kegelapan paling bawah. Itu bukan kedinginan suhu es biasa melainkan hawa kematian murni dari ribuan tumpukan tulang belulang.
“Tuan Muda, apakah kita akan segera mati hancur bersama di tempat yang gelap ini?” Suara Su-er terdengar sangat samar di sela desingan pusaran angin hitam yang semakin buas.
Lin Tian menundukkan wajahnya dan menempelkan dahinya ke dahi pelayan kecil yang menangis itu. Dia memberikan sebuah kehangatan terakhir yang bisa disalurkan oleh tubuh fisiknya yang kian melemah.
“Selama aku belum mengizinkan dewa kematian menjemputmu maka kamu tidak akan pernah boleh mati.” Jawaban arogan itu meluncur dari bibir Lin Tian dengan sebuah keyakinan absolut tanpa keraguan.
Kembali ke atas tebing, debu sisa ledakan perlahan mulai disapu bersih oleh angin badai. Wang Teng merangkak keluar dari bawah perlindungan Gu Tua dengan wajah yang sangat kotor berdebu.
Pakaian sutra mewahnya telah hangus terbakar di beberapa bagian memperlihatkan kulit yang melepuh merah. Dia menatap ke arah bibir tebing yang kosong dengan sepasang mata terbelalak lebar tidak percaya.
“Dia benar-benar berani melompat ke dalam Jurang Kematian hanya untuk menghindari pedang eksekusi kita.” Wang Teng bergumam dengan bibir gemetar menahan campuran antara amarah gila dan rasa ngeri.
Gu Tua mengusap sisa darah di sudut bibirnya dengan ekspresi wajah yang sangat suram gelap. Dia melihat puluhan mayat anak buahnya yang hangus terpanggang di sekitar tepi area kawah ledakan.
“Pemuda itu memiliki tingkat kekejaman dan ketegasan mental yang jauh melampaui monster tua manapun.” Gu Tua berbicara dengan nada berat yang menyiratkan sebuah penyesalan antisipasi yang sangat mendalam.
“Jika dia memiliki kesempatan ajaib untuk bertahan hidup dari dasar neraka itu di masa depan. Klan Zhao dan faksi kota kita dipastikan akan menghadapi malapetaka badai kehancuran yang sangat nyata.”
Wang Teng langsung berteriak marah menolak mentah-mentah analisis pesimis dari ahli pengawalnya tersebut seketika. Dia menendang bongkahan batu tebing besar ke arah jurang dengan raut wajah penuh kebencian pekat.
“Tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa merangkak keluar dari Jurang Kematian dengan utuh! Anjing kotor itu pasti akan membusuk hancur menjadi pupuk bagi monster iblis di bawah sana.”
Meski mulutnya berteriak keras berkata demikian namun ada secercah ketakutan dingin yang merayap jiwanya. Bayangan senyuman gila Lin Tian sebelum melompat terus terbayang sangat jelas menghantui kewarasan benaknya.
Di tengah pusaran kegelapan jurang, kecepatan jatuh Lin Tian semakin lama bertambah lepas kendali. Batas kesadaran fisiknya mulai memudar perlahan akibat efek kehilangan banyak darah dan hantaman angin beracun.
Tiba-tiba, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara kepakan sayap raksasa dari arah dinding tebing. Suara kepakan itu begitu besar hingga menciptakan tekanan udara balik yang sedikit menahan laju jatuh mereka.
Lin Tian mencoba memfokuskan sisa penglihatannya yang mulai kabur berkunang-kunang di tengah kegelapan pekat. Sebuah bayangan cabang pohon kuno raksasa perlahan mulai terlihat membentang di bawah rute lintasan jatuhnya.
'Gunakan seluruh sisa sirkulasi energi spiritualmu untuk membentuk tameng pelindung di bagian punggung sekarang juga!' Perintah Yue Chan bergema nyaring bagaikan petir menyambar di dalam kesadaran otak Lin Tian.
Lin Tian menggertakkan giginya kuat-kuat hingga beberapa gigi gerahamnya retak karena menahan beban pengerahan energi. Dia mengalihkan seluruh sisa qi terakhir menuju lapisan otot punggungnya dalam satu tarikan napas panjang.
Sebuah benturan fisik yang sangat keras dan brutal akhirnya menyambut tubuh mereka berdua di kegelapan. Suara retakan dahan kayu purba berukuran raksasa terdengar menggema mengisi kesunyian dasar jurang misterius tersebut.
BRAAKK!
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍