Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Malaikat
Sinar matahari pagi ibu kota yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden kelabu di kamar utama. Aira perlahan membuka matanya, merasakan kenyamanan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kasur king size ini begitu empuk, jauh berbeda dengan kasur kapuk tipis yang biasa membuat punggungnya pegal.
Ketika ia menoleh ke samping, posisi di sebelahnya sudah kosong. Namun, sebuah senyuman langsung terbit di bibir Aira saat melihat secarik kertas kecil di atas nakas.
*Selamat pagi, istriku. Aku turun duluan untuk memeriksa beberapa dokumen, kalau masih capek, kamu istirahat aja ya. suamimu,*
Aira memeluk kertas itu di dadanya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Statusnya kini bukan lagi wanita tak berdaya yang habis dihina tetangga desa, melainkan seorang istri yang dicintai dan dimuliakan oleh seorang pria luar biasa.
Setelah mandi dan merapikan diri, Aira melangkah turun ke lantai satu, dan tujuan pertamanya adalah kamar sang ibu.
Saat pintu diketuk dan dibuka perlahan, Aira mendapati Ibu Astri sedang berdiri di dekat jendela besar, memandangi air mancur di taman belakang dengan wajah yang jauh lebih segar.
"Ibu, selamat pagi. Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Aira sembari berjalan mendekat dan merangkul pundak Ibu Astri.
Ibu Astri menoleh, matanya berbinar haru saat menggenggam tangan Aira. "Ya Allah, Nduk... Ibu sampai tidak berani bergerak semalam, takut kasurnya kotor," ucap Ibu Astri.
"Kan, Mas Arsen udah bilang kalau Ibu jangan takut lagi. Nanti kalau kotor biar Aira yang bersihin, jadi Ibu jangan takut lagi ya," ucap Aira.
"Iya, Nduk," jawab Ibu Astri, dengan mengangguk pelan.
"Kepala Ibu masih pusing?" tanya Aira.
"Alhamdulillah pusing Ibu sudah hilang. Mungkin karena udara di halaman belakang yang segar ini, mana banyak pohon juga. Jadi, pusing Ibu hilang, Ibu suka sekali disini," ujar Ibu Astri dengan logat Jawanya yang kental.
"Alhamdulillah kalau Ibu suka. Mas Arsen sengaja pilih kamar ini supaya Ibu tidak perlu naik tangga," sahut Aira meyakinkan.
"Iya, Nduk. Tadi pagi, suamimu itu sudah lihat Ibu ke sini, dia nanya Ibu mau sarapan apa dan menyuruh Bu Sumi membuatkan bubur ayam. Suami kamu itu... benar-benar seperti malaikat, Ra. Ibu tidak henti-hentinya bersyukur," lirih Ibu Astri, matanya kembali berkaca-kaca menahan haru.
Aira tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu sang Ibu. "Aira juga bersyukur, Bu. Mas Arsen menjaga kita dengan sangat baik," balas Aira.
"Ibu jadi pengen keluar," gumam Ibu Astri, namun masih dapat di dengar Aira.
"Kalau begitu kita ke halaman belakang, Bu. Mumpung mataharinya belum terlalu terik," ajak Aira lembut.
Ibu Astri sempat ragu sejenak, melirik ke arah pintu. "Ndak apa-apa ta, Nduk? Suamimu ndak keganggu nanti kalau kita keluyuran di belakang?" tanya Ibu Astri.
"Insyaallah nggak, Bu. Mas Arsen kan kerjanya di ruang depan," jawab Aira meyakinkan.
Mendengar hal itu, barulah Ibu Astri mengangguk setuju, Aira dengan telaten menuntun ibunya keluar melalui pintu kaca geser yang menghubungkan langsung kamar tersebut dengan koridor luar menuju taman.
Begitu kaki mereka memijak rumput yang terpangkas rapi, Ibu Astri kembali berdecak kagum. Hawa sejuk sisa semalam masih terasa, berpadu dengan wangi bunga melati air yang ditanam di sekitar kolam. Suara gemercik dari air mancur mini bertingkat tiga di sudut taman memberikan ketenangan mutlak, sangat kontras dengan hiruk-pikuk kota Jakarta yang sempat mereka lihat di jalanan kemarin.
"Gusti... rumah ini kok yo asri banget, Ra. Ibu kira di Jakarta itu isinya cuma tembok sama asap mobil," bisik Ibu Astri, jemarinya menyentuh daun tanaman hias yang tertata rapi.
"Aira juga mikirnya begitu kemarin, Bu. Ternyata Mas Arsen pintar mendesain rumahnya," sahut Aira seraya menuntun ibunya menuju ke gazebo kayu jati modern yang terletak di bawah pohon peneduh.
Mereka duduk bersisian di atas bantalan sofa gazebo yang empuk, Ibu Astri menatap hamparan air kolam renang yang jernih memantulkan langit pagi.
Untuk pertama kalinya setelah pengkhianatan yang penuh air mata dan tekanan mental dari keluarga besar Bapak Hilman, Aira bisa melihat guratan kedamaian dari wajah ibunya.
Tidak ada lagi ketakutan akan didatangi penagih utang, tidak ada lagi kecemasan akan makian dan tidak ada lagi bayang-bayang intimidasi.
Saat mereka sedang asyik menikmati ketenangan itu, dari arah dalam rumah muncul Bu Sumi. Wanita paruh baya itu membawa sebuah nampan berisi dua mangkuk bubur ayam hangat yang aromanya langsung menggugah selera, lengkap dengan dua gelas teh krisan madu hangat.
"Permisi, Bu Aira, Bu Astri. Ini sarapannya sudah siap.," ucap Bu Sumi.
"Aduh, repot-repot sekali, Bu Sumi. Terima kasih banyak ya," ujar Aira sungkan sembari membantu memindahkan mangkuk-mangkuk tersebut ke atas meja kayu gazebo.
"Sama-sama, Bu Aira. Sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu, saya permisi ke dalam lagi. Jika memerlukan sesuatu, Ibu tinggal menekan tombol bel di tiang gazebo ini," tunjuk Bu Sumi ramah sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Ibu Astri menatap mangkuk bubur di hadapannya yang ditaburi suwiran ayam melimpah, cakwe dan emping. "Nduk... Ibu rasanya masih sungkan dipanggil Ibu begitu sama orang yang lebih tua, rasanya ndak pantes," bisik Ibu Astri pelan setelah Bu Sumi menjauh.
Aira meraih sendok lalu mengaduk bubur ibunya dengan sayang, "Ibu, di sini Ibu itu ibunya pemilik rumah. Mas Arsen sangat menghormati Ibu, jadi para pekerja di sini juga otomatis menghormati Ibu. Jangan merasa ndak pantes lagi ya, Bu? Sekarang, ayo dimakan buburnya keburu dingin," jawab Aira.
Ibu Astri tersenyum pasrah yang menenangkan, lalu mulai menyuap bubur hangat itu perlahan. Kebahagiaan sederhana yang sempat hilang kini perlahan kembali, dirajut oleh ketulusan seorang menantu yang berhati emas.
Sementara Aira dan Ibu Astri menikmati pagi yang damai di taman belakang, suasana di ruang kerja pribadi Arsen di lantai satu masih diselimuti ketegangan profesional.
Arsen duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar laptop yang menampilkan bagan jalur logistik laut alternatif. Di hadapannya, Gilang berdiri tegak dengan ponsel di tangan, sesekali mencatat instruksi cepat yang keluar dari mulut bosnya.
"Jadi, pihak otoritas pelabuhan di Kumai sudah memberikan konfirmasi slot kapal kargo untuk lusa, Pak. Hanya saja, seperti yang saya khawatirkan kemarin, pihak ekspedisi laut meminta uang jaminan tambahan di muka karena ini termasuk pengiriman jalur cepat," lapor Gilang.
Arsen mengetukkan pena jatinya di atas meja, matanya menyipit tajam. "Berapa nominal jaminannya?" tanyanya.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal