NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu yang tak terucap

Setelah pertemuan Arslan dengan Fathiya usai, mereka kembali ke penginapan. Dengan hati-hati, Arslan mengangkat tubuh Zulfa dari kursi roda. Padahal, sudah berkali-kali Zulfa bersikeras ingin berjalan sendiri, namun Arslan tetap melarangnya. Ia tak ingin mengambil risiko sekecil apa pun, apalagi sudah ada embrio yang kini berada di rahim istrinya.

"Kamu mau makan apa? Biar aku siapkan," ucap Arslan lembut.

Padahal, baru beberapa menit yang lalu pihak klinik memberikan Zulfa makanan berupa nasi merah dan beberapa jenis protein untuk menunjang perkembangan embrio, tetapi Arslan malah menawarinya makan lagi.

"Aku kan sudah makan. Masa disuruh makan lagi?" keluh Zulfa.

"Kamu harus banyak makan. Sekarang ada embrio di rahimmu," balas Arslan, masih dengan nada penuh perhatian.

Zulfa menghela napas panjang, lalu tiba-tiba suaranya meninggi.

"Please, Arslan!! tolong berhenti memperlakukanku seperti orang hamil!! Embrio ini belum jadi janin! Jangan buat aku gila dengan harapanmu yang setinggi langit!"

Arslan tersentak, tak menyangka reaksi itu.

"Kok kamu jadi marah-marah? bukannya aku memang selalu seperti ini setiap kali kamu habis transfer embrio?"

Zulfa terdiam. Bibirnya mengatup rapat. Ia sendiri terkejut dengan nada suaranya barusan.

"Maaf," ucapnya lirih.

Satu kata sederhana, namun cukup bagi Arslan untuk menangkap sesuatu yang tersembunyi—mungkin ada  perasaan cemburu yang belum terucap.

"Sini, aku jelasin," kata Arslan pelan.

Ia menarik tangan Zulfa dengan lembut, lalu mendudukkannya di tepi ranjang.

"Fathiya itu keponakan tante Yevi. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Terakhir waktu dia mau melanjutkan kuliah kedokteran di Singapura." Alih-alih meredakan suasana, penjelasan itu justru terasa diabaikan.

"Aku nggak nanya," sahut Zulfa singkat, sambil melipatkan tangan dan memalingkan wajah.

Arslan menghela napas tipis. Ia bergeser, lalu berlutut di hadapan istrinya. Tangannya menggenggam tangan Zulfa dengan hangat.

"Aku sedang menjelaskan... supaya kamu tidak berpikir yang aneh-aneh," ucapnya lembut. Zulfa akhirnya menoleh.

"Sudah menikah?"

"Fathiya?" Arslan memastikan. Zulfa hanya berdeham pelan.

"Terakhir aku dengar, dia sudah punya tunangan. Tapi aku nggak tahu jadi nikah atau enggak. Aku benar-benar udah lama nggak tahu kabarnya. Dia juga jarang pulang ke Indonesia—bahkan hampir nggak pernah."

"Mudah-mudahan saja sudah menikah," gumam Zulfa, penuh harap.

"Semoga saja," sahut Arslan sambil tersenyum tipis. 

"Tapi aku nggak pernah dapat undangannya, sudahlah tidak usah dibahas lagi." Arslan tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

Namun, bagi Zulfa, hal itu tidak semudah itu. Pikirannya terus berputar, mempertanyakan sosok Fathiya—yang entah mengapa terasa lebih dari sekadar keponakan Tante Yevi. Arslan bangkit, lalu berjalan menuju meja makan. Matanya menangkap beberapa buah yang tersedia di sana. Ia beralih ke kitchen set kecil, mengambil pisau, lalu meletakkan beberapa apel di atas piring dan mulai memotongnya.

"Karena kamu tadi sudah makan di rumah sakit, aku siapkan buah saja untuk kamu," ucapnya.

Setelah selesai, ia menyerahkan potongan buah itu kepada Zulfa. Tanpa banyak bicara, Zulfa langsung memakannya.

"Habis makan, kamu istirahat, ya. Aku mau nyuruh Vania pesen tiket pulang dulu." Zulfa mengangguk pelan, lalu kembali melanjutkan makannya dalam diam.

***

Di sebuah rumah sakit, seorang dokter muda tampak duduk di balik mejanya. Ia menatap lembar demi lembar rekam medis pasien terakhirnya yang baru saja pulang. Setelah selesai, ia menutup map putih itu perlahan, lalu meletakkannya di atas meja.

Rasa nyeri di pelipisnya membuatnya menghela napas pelan. Dengan ujung jari, ia mengurut pelipisnya sejenak, mencoba meredakan lelah yang mengendap sejak pagi.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu memecah keheningan.

"Masuk," ucap Fathiya tanpa mengangkat kepala.

Pintu terbuka, menampakkan sosok seorang perempuan—rekan sesama dokter.

"Sudah selesai prakteknya?" tanyanya sambil menutup pintu di belakangnya.

"Iya, baru aja handle pasien terakhir," jawab Fathiya yang kini menegakkan duduknya.

Perempuan itu menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Ngopi, yuk," ajaknya ringan, seolah tahu temannya sedang penat.

Fathiya tersenyum tipis. "Boleh."

Ia segera merapikan meja kerjanya, memasukkan beberapa berkas ke dalam laci, lalu meraih tas tangannya. Keduanya pun berjalan keluar ruangan menuju tempat parkir. Tak lama, mereka sudah duduk di sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Suasana sore yang hangat menyelimuti, namun Fathiya justru tampak lebih banyak diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Perempuan di hadapannya menatap penuh selidik.

"Dari tadi kamu diam aja. Habis handle pasien yang berat, ya?"

"Enggak juga," jawab Fathiya singkat. Jihan menatapnya lekat, seolah mencoba membaca isi kepala sahabatnya.

"Lagi mikirin Dennis?" tebaknya hati-hati.

Fathiya terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak setiap kali nama itu kembali terlintas.

"Semalam dia datang lagi ke apartemenku berusaha menjelaskan semuanya... dan minta maaf." Suaranya melemah. Jihan langsung menangkap jeda di kalimat itu. Tatapannya berubah serius.

"Kamu maafin?" Fathiya menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah.

"Sudah ku maafkan." Jihan mengernyit tipis, lalu kembali bertanya, kali ini lebih dalam.

"Terus... kalian balikan?"

"Gila!! Siapa juga yang mau balikan sama laki-laki yang udah ngehamilin perempuan lain?" Fathiya tersulut emosi, suaranya meninggi tanpa bisa ditahan. Jihan mengangkat kedua tangannya, berusaha menenangkan.

"Ya... kali aja kamu masih percaya kalau itu bukan anaknya." Fathiya menggeleng tegas.

"Dia sudah tidur dengan perempuan lain aja itu sudah salah. Nggak mungkin aku kembali ke pria seperti itu." Jihan menghela napas, lalu bersandar di kursinya.

"Lima tahun tunangan... terasa sia-sia, ya? tapi ya sudahlah, untung kalian belum sempat menikah. Coba kalau sudah, mungkin sekarang kamu lagi sibuk bolak-balik ke pengadilan."

Jihan tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

"Senang banget lihat temannya susah," sindir Fathiya, meski nadanya tak sepenuhnya serius.

"Eh, nggak gitu maksudnya!! Kalau aku senang lihat kamu susah, udah dari dulu aku nggak bakal jadi tempat curhat kamu." Jihan langsung membela diri. Lalu mencondongkan tubuhnya sedikit dan bertanya,

"Terus... apa rencana kamu selanjutnya?"

Fathiya terdiam sejenak. Pandangannya jatuh pada gelas kopi dingin di hadapannya. Dengan pelan, ia mengaduknya, seolah mencoba menenangkan isi kepalanya sendiri.

"Nggak tahu... aku masih bingung. Beberapa waktu lalu tanteku nyuruh aku balik Indonesia." Jihan mengernyit.

"Tumben banget tante kamu jadi perhatian begitu. Kenapa tiba-tiba nyuruh kamu pulang?" Fathiya mengangkat bahu.

"Nggak tahu. Mungkin  supaya aku nggak terus dikejar-kejar Dennis."

"Berarti tante kamu sudah tahu semuanya?" tanya Jihan lagi. Fathiya mengangguk pelan.

"Ya jelas. Masa aku punya masalah sebesar ini tapi nggak cerita sama dia. Dia kan selalu nanya-nanya hubunganku sama Dennis."

"Terus gimana reaksinya?" Fathiya tersenyum pahit.

"Marah besar. Sudah tunangan lama tapi gagal menikah... dia juga ngungkit masa lalu segala bikin aku makin nyesel sama keputusanku dulu."

Ia menghela napas panjang. Sekilas, bayangan masa lalu melintas di kepalanya—kenangan yang dulu terasa indah, kini justru menyisakan luka.

"Kalau saja dulu aku nurut sama omongan Tante Yevi..." suaranya mengecil, "mungkin sekarang hidupku jauh lebih bahagia. Nggak terus digantung sama Dennis yang dari dulu ngajak nikahnya maju mundur." Ada penyesalan yang jelas terdengar di setiap kata yang keluar dari bibirnya.

 "Kayaknya kamu harus mulai cari-cari lowongan kerja di Indonesia, deh. Kalau mau, aku bisa bantu," ujar Jihan menawarkan. Fathiya mengangguk pelan.

"Sebenarnya aku sudah dapat tawaran dari salah satu rumah sakit besar di Jakarta... cuma aku belum kasih jawaban." Jihan langsung membelalakkan mata, pura-pura terkejut.

"Wah... diam-diam sudah sibuk cari kerja, ya? Jangan-jangan surat resign juga udah siap disetor." Fathiya hanya tersenyum tipis, tak menanggapi sindiran itu secara serius.

"Masih aku pertimbangkan. Soalnya, kalau soal gaji, jelas masih lebih besar di sini. Lagipula aku juga sudah nyaman banget kerja di sini." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Jihan dengan senyum jahil. "Memangnya kamu ikhlas kehilangan sahabat sebaik aku?" Jihan mendengus pelan.

"Ikhlas nggak ikhlas sih... tapi kalau kangen, aku bisa main ke Indonesia, kok. Siapa tahu di sana juga ada lowongan buat aku." Fathiya mengernyit, tampak terkejut.

"Lho... katanya betah banget kerja di sini? Kok malah ikut-ikutan mau pindah?" Jihan mengangkat bahu, lalu tersenyum penuh arti.

"Ya mau gimana lagi? pengen punya suami pengusaha muda disini tapi nggak dapet-dapet. Siapa tahu kalau pindah ke Jakarta, aku bisa dapat yang muda, tampan, dan kaya raya." Jihan terkekeh pelan.

"Kalau statusnya duda anak lima gimana?" gumamnya iseng.

"Ya nggak apa-apa... asal bukan suami orang aja," balas Jihan cepat.

Keduanya pun terbahak bersamaan, tawa mereka mencairkan sisa-sisa ketegangan yang sejak tadi menggantung, yang jelas terdengar di setiap kata yang keluar dari bibirnya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!