NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pelakor / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.

Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.

Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.

Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penipu handal

"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan dibelakangku? Sudah sejauh mana?"

Semakin Alya berusaha tenang, tekanan kukunya pada permukaan kulit kian dalam. Akan tetapi ia sama sekali tidak merasakan sakitnya.

Yang ditanya menundukkan kepalanya, tidak bersuara atau berkeinginan menjawab.

"Kenapa mas melakukannya padaku?" Alya menatap suaminya. Dimana pria itu berlutut di depannya. "Apa karena aku tidak kunjung memberikanmu anak?"

"Bukan itu Sayang."

Alya memejamkan matanya, bernapas saja sulit baginya. Tapi dia ingin jawaban dari pengkhianatan suaminya. "Safira, apakah kamu tahu bahwa pria yang kamu pacari sudah beristri?"

"Sudah, tapi aku berani bersumpah tidak tahu bahwa kamu orangnya Alya. Maafkan aku."

Sama seperti Adrian, Safira juga berlutut di depan Alya tanpa diperintahkan oleh siapapun.

"Di kamar tadi, pertengkaran kalian apa semuanya benar? Kamu hamil anak mas Adrian?"

"Iya, aku hamil anak mas Adrian."

Alya meremas dadanya, dia mulai tidak bisa mengendalikan diri di depan dua manusia yang mengkhianatinya.

"Pulanglah Safira, persiapkan dirimu untuk menikah dengan mas Adrian," ucap Alya dan beranjak tanpa menoleh sedikitpun.

Ucapan itu jelas membuat Adrian terkejut. Bukan respon seperti ini yang dia inginkan. Dia mau Alya egois mempertahankan dirinya, dan menyuruh dia meningalkan Safira.

"Ini tidak benar." Adrian berdiri untuk menyusul istrinya, mengabaikan keberadaan Safira.

Dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci tetapi tidak menemukan istrinya.

"Sayang?" panggil Adrian berjalan mendekat pada kamar mandi. Suara gemircik air terdengar, tetapi tidak mampu meredam suara tangisan istrinya di dalam sana.

"Alya, maafkan mas. Maaf janji akan berubah. Mas nggak mau menikah dengan siapapun, mas hanya mau kamu," ujarnya bersandar pada pintu kamar mandi.

"Hukum mas sepuas kamu, tapi jangan pergi. Jangan menangis sayang." Adrian terus merancau.

Sedangkan Alya, berusaha mempertahankan kewarasannya untuk tidak melukai diri sendiri. Berlindung pada air yang telah berhasil membasahi tubuhnya.

"Bahkan aku tidak pernah berpikir sejauh itu mas," lirihnya memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya. "Kenapa melakukannya padaku? Memperlakukanku selayaknya putri tapi kamu bermain di belakangku."

***

Alya keluar dari kamar mandi dengan kimono berwarna pink yang dihadiahkankan oleh Adrian. Kimono couple yang selalu mereka kenakan.

"Kenapa mas duduk di sini?" tanyanya dengan suara serak.

Yang ditanya langsung tersenyum lega, berdiri dan memeluk Alya. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Mas mengira kamu akan melukai diri sendiri."

"Untuk apa?" Alya mendorong tubuh Adrian agar menjauh darinya. "Untuk apa aku melukai diri sendiri mas?"

"Alya, mas tahu kamu sakit hati. Tidak perlu berusaha ...."

"Mas nggak tau, karena jika tau mas nggak akan melakukan itu padaku." Alya berjalan menuju lemari, berusaha untuk tidak bertatapan langsung dengan sang suami. Dia tidak ingin pertahanannya runtuh dan menangis dalam pelukan pria yang telah mengkhianatinya.

"Alya ...."

"Sudah berapa lama?" tanya Alya yang menyadari Adrian terus mengekori.

"Hampir satu tahun."

"Mas hebat banget nipunya ya? Sampai aku nggak curiga sedikitpun bahwa suami yang selalu aku banggakan selingkuh dan akan memiliki anak."

Alya mengcengkeram gagang lemari sangat kuat. Dadanya kembali sesak, air matanya berjatuhan padahal susah payah dia menahannya. Dia hampir kehilangan napas, terus menepuk dadanya berulang kali agar merasa lega.

"Katakan apa yang harus mas lakukan agar kamu bisa memaafkan mas, Alya." Adrian kembali berlutut tepat di belakang Alya.

Penampilannya acak-acakan, matanya sembab. Dia mencintai Alya, dia tidak ingin kehilangan istrinya meski tahu kesalahannya sangat fatal.

"Mas selingkuh dengan kata lain cinta mas untukku sudah memudar. Lalu untuk apa aku bertahan? Untuk disakiti lebih dalam lagi?" Alya berbalik, menatap suaminya dengan tatapan kosong.

Bola mata yang selalu berbinar jika melihat Adrian kini tidak ada lagi.

"Tampar mas, Alya." Adrian meraih tangan Alya dan menempelkan di pipinya. "Tampar sepuas kamu tapi tarik ucapanmu di ruang tamu tadi. Mas nggak mau."

"Bohong!"

"Mas nggak bohong."

"Mas Adrian bohong!" Suara Alya akhirnya meninggi. "Safira sedang hamil, jika bukan mas, lalu siapa lagi yang akan menikahinya hah?"

"Egois. Harusnya saat cinta dihati mas sudah memudar ceraikan saja aku. Perlakukan aku buruk agar aku tahu bahwa cintamu sudah tidak ada, bukan malah bersikap manis."

Tangisan Alya pecah, tubuhnya luruh kelantai. Dia tidak lagi mengelak saat Adrian mendekat dan memeluknya. Terus mengumamkan kata maaf yang bagai angin lalu untuknya.

***

Adrian mengira semalam adalah akhirnya. Alya akan menarik ucapannya setelah permintaan maaf dan permohonan yang dia lakukan. Tetapi ia salah, Alya tetaplah Alya. Perempuan yang selalu memiliki pendirian. Jika dia sudah bertekad, maka tekadnya tidak akan berubah meski seluruh dunia menggoyahkannya.

Pagi ini, Alya masih menyuguhkan sarapan untuknya tetapi sambutan selamat pagi dengan senyum cerianya tidak ada lagi. Hanya wajah datar tanpa ekspresi.

"Mas sudah izin nggak masuk kerja kan? Hari ini kita akan kerumah mama untuk membicarakan pernikahan mas dan Safira," ujar Alya sembari menyantap sarapan dengan santai tanpa peduli respon Adrian.

"Aku sudah mengabari Adrina untuk meminta mama dan papa mengosongkan jadwalnya," lanjut Alya.

Adrian tidak tahu mau mengatakan apa lagi melihat sikap Alya yang berubah hampir 180⁰.

"Safira juga akan datang."

"Alya?"

"Ini adalah hukuman dariku untuk mas. Jadi mas harus menerimanya sebagai penebusan rasa bersalah," jawab Alya. "Habiskan sarapannya, aku menunggu mas di mobil."

Alya berjalan lebih dulu dan berkali-kali mengambil napas panjang. Menyiapkan hati dan keberanian menghadap mertuanya. Dia tidak mau semuanya berlarut-larut, sebab jika dia menunggu Adrian, entah kapan pria itu setuju.

"Kenapa di belakang?" tanya Adrian mengetuk kaca mobil.

"Ternyata lebih nyaman jok belakang mas."

Wanita itu merilekskan tubuhnya, bersandar seolah baik-baik saja. Sepanjang jalan tatapannya tertuju pada ponsel. Bukan karena sibuk, melainkan berusaha mengalihkan hati dan pikirannya yang sedang kacau.

Kepalanya pening, perutnya terasa tidak nyaman tetapi ia menahannya agar semua berjalan lancar.

Saat tiba di rumah mertuanya dan dia turun dari mobil, adik ipar selalu menyambutnya antusias. Merangkul lengannya dan tersenyum lebar.

"Apakah nggak ada bocoran untuk adik cantikmu ini kak?" bisik Adrina yang terlalu penasaran apa yang akan kakak iparnya bicarakan sehingga meminta tolong mama dan papa mengosongkan jadwal.

"Kamu akan menjadi Buna," bisik Alya.

"Benarkah? Huaaaa aku senang banget dengarnya. Makasih kakak cantikku." Adrina semakin mengeratkan rangkulannya dan senyumnya melebar sempurna.

Namun, ada yang aneh dia tangkap. Kakaknya tidak tampak bahagia. Apa mungkin mereka bertengkar di hari bahagia seperti ini?

"Mas kenapa?" tanya Adrina akhirnya.

"Tanya kakak kamu dia kenapa?" balas Adrian menunjuk Alya dengan dagunya.

Sedangkan yang ditunjuk sedang cipika-cipiki dengan mama mertua.

.

.

.

Author sampai nangis nulis bab ini. Jangan lupa meninggalkan jejak sebelum baca bab selanjutnya ya

1
ken darsihk
Syukoorrr lo Sapi perah sok tauu sihhhh , marah kan Adrian nya 😠😠😠
ken darsihk
Ha ha sarkas bngt jawaban nya Alya nggak kenal 🤔🤔
Maria Kibtiyah
bener2 gk tau diri tuh pelakor
Maria Kibtiyah
gk tau malu tuh pelakor
julia elisabeth rien
pengen ikutan gaplok si sapri deh.... gemesshh akunya...
julia elisabeth rien: ayok kak kita gaplok in bareng2 si sapi itu 🤣🤣
total 2 replies
Rahma Inayah
malu dong pelakor niat manasi tp dia yg panas
julia elisabeth rien
malu ga tuh si pelakorrr..... niat pamer malah ketiban siall.. emang enakk..emang dasar pelakor muka tembok .. semoga cepat kena karma apa gitu deh ...
Rahma Inayah
SM sya juga sebel SM Safira dan Adrian
ken darsihk
Mama Adrian saluttt ❤❤
falea sezi
egois amattt pakkk😒
Linda Yohana
Bagus novelnya
julia elisabeth rien
aku juga sebelll sama kayak kau adrina, setiap adrian baik2 sama si pelakorrr ituhhhhh .....
makin besar kepala aja diaa....
Anonim: SI ALYA NYA MASOKIS
total 1 replies
Rahma Inayah
trm aja Alya to ank mu juga tanggung jwb Adrian ayah biologis ank mu .uang persiapan persalinan BS km gunakan utk keperluan baby mu nnt
Rahma Inayah
walau Adrian menjauh GK ggu alya tp rasa bersalah nya selalu menghantui dan membuat hidupnya TDK tenang sllu ada byg2 Alya
Devi ana Safara Aldiva
salut dengan cara Adrian membantu mantan istrinya itu... dan bertanggung jawab atas anaknya
Maria Kibtiyah
lanjut kak
ken darsihk
Semoga Alya baik2 sajah setelah dia mengetahui kalau Adrian yng membiayai persalinan nya nanti
ken darsihk
Biarkan Alya , Adrian
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya
Azril Ali
pa Safira jg hamil,ktnya telat..smga g BS hamil LG..
Ma Em
Untung Adrian pengertian dan benar tdk mau mengganggu Alya cuma melihat Alya dari kejauhan , semoga Alya dan bayi yg dikandungnya sehat .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!