Namaku Naura Callista, aku datang ke ibu kota untuk kuliah disalah satu unniversitas disana dengan mendapatkan beasiswa.
Aku berasal dari panti asuhan di kota S, kota yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Satu tahun lebih berlalu. Aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran dekat kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupkh di jakarta, karena selama ini pihak pantilah yang memenuhi kebutuhan hidupku.
Linda adalah pemilik resto itu, hubunganku dengan Linda sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Suatu ketika Linda mengidap penyakit, dan itu membuat pernikahannya mulai renggang karna suaminya jarang pulang kerumah.
Linda menceritakan kekhawatirannya pada Aura, dia takut suaminya jatuh kepelukan perempuan lain dan pada akhirnya meninggalkan dia.
Hingga pada akhirnya, Linda memaksa Aura untuk menikah dengan Brian. Mungkin lebih baik Brian berada dipelukan Aura yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dari pada harus merelakannya dengan orang lain sebelum dia menghbuskan nafas terakhirnya.
Aura yang merasa banyak berhutang budi pada Linda, terpaksa menuruti permintaan Linda untuk menikah dengan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Mba,, mulai hari ini Aura tidur dikamar tamu aja ya,," Kata Aura setelah mereka selesai sarapan.
"Loh emangnya kenapa,,?" Tanya Linda.
"Semalam Aura hampir terjatuh dari tangga, Aura masih trauma,," Jelasnya. Raut wajah Linda terlihat cemas.
"Ya ampun,, kenapa bisa sampe kaya gitu,,?" Ujarnya..
"Apa lagi kalau bukan karna ceroboh,, untung saja ada mas disana,," Ucap Brian dengan santainya.
"Uhhukk,,uhhukk,," Aura tersedak, hampir saja menyemburkan air yang baru saja teguknya.
"Lihat kan,, minum saja bisa sampai tersedak, memang ceroboh,," Ledek Brian.
"Mas,, jangan gitu dong,,," Linda menyentuh lengan Brian dengan lembut, menyuruhnya untuk tidak meledek Aura.
Aura merasa cemas mendengar penuturan Brian, dia takut itu akan membuat Linda salah paham padanya dan berpikir yang tidak tidak dengan kejadian tadi malam. Aura mengamati wajah Linda,, tidak ada perubahan ekspresi disana. Linda masih santai dan seperti tidak memiliki kecurigaan sedikitpun. Itu membuat Aura bernafas lega, mungkin belakangan ini Aura yang terlalu berlebihan mengira Linda curiga padanya.
Seperti biasa setelah Brian dan Aura pamitan pada Linda, mereka langsung berangkat bersama. Aura kembali meminta Brian untuk menurunkannya didepan komplek, karna Erlan menjemputnya.
Aura menghampiri Erlan yang sudahenunggunya disana. Erlan tersenyum dan mengusap lembut kepala Aura, lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Perlahan mulai melajukan mobilnya.
"Apa terjadi sesuatu tadi malam,,?" Erlan bertanya dengan ekspresi datar tanpa melihat Aura.
"Hah,,?,, sesuatu apa,,?" Pertanyaan Erlan membuatnya bingung dan balik bertanya.
"Bagaimana kerjaan kamu tadi malam,,?" Brian melirik Aura sekilas.
"Baik baik saja, semuanya lancar,," Jawab Aura. Erlan diam, dari kaca spion dia mengamati wajah Aura yang terlihat sangat polos dan lugu. Itu yang membuat Erlan jatuh cinta pada Aura.
Aura yang menyadari sedang diperhatikan, menjadi salah tingkah, tangannya merapikan rambut yang tidak berantakan. Aura memalingkan wajahnya keluar jendela.
Detak jantungnya tak beraturan, rasanya ingin meloncat dari tempatnya.
Tatapan mata Erlan yang tajam membuat Aura meleleh.
"Kenapa,,,?" Erlan meletakkan tangannya diatas tangan Aura. Mata Aura langsung tertuju pada tangan Erlan. Jantungnya semakin berdebar.
"Kenapa,,,?" Ujar Erlan lagi. Aura langsung menarik tangannya.
"eee,,,nggapapa kak,," Jawabnya gugup tanpa menatap Erlan. Erlan tersenyum gemas melihat Aura yang malu dan salah tingkah.
"Kamu ini,,, kenapa malu,,?" Ucapnya dengan sedikit menahan tawa, dia mengacak acak gemas rambut Aura. Aura menepisnya.
"Kak Eerrr,,, Berantakan," Teriak Aura. Dia merapikan rambutnya. Erlan tertawa, sesekali Aura memperhatikan Erlan yang tengah tertawa. Ketampanan Erlan tidak berkurang saat tertawa, justru membuat Aura semakin tertarik.
"Kamu bisa menatap kaka sepuasmu, tidak perlu sembunyi sembunyi seperti itu,," Kata Erlan yang sadar Aura memperhati
tikannya diam diam. Seketika pipi Aura merona.
"Kenapa berhenti disini kak,,?" Tanya Aura setelah Erlan memarkirkan mobilnya di depan kampus.
Erlan melepaskan seatbel,
"Kaka tidak ada mata kulaih hari ini, setelah ini kaka langsung kantor. Ayo turun,," Erlan keluar dari mobil, begitu juga dengan Aura.
"Kenapa kaka ngga bilang,, harusnya kaka ngga perlu jemput Aura, cuma buat ngaterin doang,," Protes Aura,,
"Sssstttt,,," Erlan meletakkan jari telunjuknya di bibir Aura.
"Ngga usah protes,, ayo masuk kaka anter kedalam,," Erlan menggandeng tangan Aura.
"Makasih kak,," Ucap Aura, setelah sampai didepan kelas.
"Apa tidak bisa diganti dengan kecupan,,?" Ledek Erlan dengan menunjuk pipinya. Aura melayangkan tinju di lengan Erlan.
"Jangan bercanda,," Ketus Aura. Erlan kembali tertawa melihat ekspresi Aura yang cemberut.
Lagi lagi Erlan mengusap usap pucuk kepala Aura.
"Kalo gitu kaka ke kantor dulu,, nanti pulangnya kaka jemput lagi.." Ujar Erlan.
Dua bulan berlalu,, hubungan Aura dan Erlan semakin dekat. Cinta keduanya semakin mendalam. Aura semakin yakin jika Erlan adalah laki laki yang tepat untuknya, beberapa kali dia berangan hidup bersama Erlan dalam ikatan pernikahan. Aura berharap Erlan akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya.
Erlan laki laki pertama yang membuatnya jatuh cinta, yang membuatnya merasakan indahnya cinta. Sejak menjalin hubungan dengan Erlan, Aura merasa hidupnya lebih berwarna dan lebih bahagia. Kini ada nama yang biasa dia sematkan didalam do'anya, nama seseorang yang dia harap akan menjadi takdirnya.
Namun sebagai manusia kita hanya bisa berencana, kita tidak pernah tau takdir apa yang sudah Tuhan gariskan untuk kita. Kita tidak boleh terlalu berharap akan sesuatu yang belum pasti, jangan sampai kita merasa kecewa dan menganggap Tuhan tidak adil ketika harapan kita tidak terwujud.
Sore itu,, Aura dan Erlan duduk ditepi pantai dibawah rindangnya pepohonan.
Aura menyenderkan kepalanya di dada Erlan yang bidang. Tangan Erlan merangkul bahu Aura, dan satu lagi menggenggam tangan Aura.
Berada dalam dekapan orang yang kita cintai memberikan ketenangan dalam hati.
Hembusan angin pantai membawa kesejukan untuk dirinya. Deburan ombak saling bersautan, menciptakan irama yang memberikan kedamaian dalam jiwa.
Aura memejamkan matanya, merasakan setiap hembusan angin dan suara deburan ombak.
Hembusan angin semakin kencang saat fajar mulai terbenam. Aura mulai membuka mata saat merasakan hembusan angin yang mulai menembus kulitnya, badannya sedikit meringkuk.
"Kenapa,,?, Dingin,?" Tanya Erlan,, tangannya mengusap usap bahu Aura. Aura mengangkat wajahnya, dia menatap Erlan lalu menganggukan kepala.
Pandangan mata mereka saling beradu, Erlan semakin menundukan kepalnya, semakin dekat, hingga hembusan nafas mereka saling beradu. Aura memejamkan mata, Erlan melepaskan genggaman tangannya, kini berpindah ke leher jenjang Aura.
Tidak ada penolakan dari Aura, namun dia juga tidak merespon.
Detak jantung keduanya semaking kencang, hembusan angin yang dingin kini terasa panas. Erlan semakin mendekatkan wajahnya, hidung mereka sudah bersentuhan. Tangan Aura mencengkram paha Erlan.
Ada rasa takut dalam dirinya, karna akan memberikam ciuman pertamanya pada laki laki yang belum menjadi suaminya, meskipun tidak ada penolakan darinya.
Tinggal bebarapa inci saja bibir mereka bersentuhan, namun Erlan mengecup kening Aura dan dengan cepat menjauhkan wajahnya. Sontak Aura langsung membuka matanya dan menundukan kepala. Begitu juga dengan Erlan. Keduanya menjadi salah tingkah.
"Maaf,,," Ucap Erlan dengan lirih. Aura tidak menjawab. Dia merasa malu karna tidak berusaha menolak, Aura takut Erlan berfikir buruk tentangnya. Sampai akhirnya Erlan sendiri yang mengurungkan niatnya.
Erlan membuka jasnya, lalu memakaikannya untuk Aura.
"Ayo pulang,, udara semakin dingin, tidak baik untuk kesehatanmu,,". Erlan berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Aura dan membantunya berdiri.
Erlan merangkul bahu Aura, mereka melangkahkan kakinya menuju mobil.
"Kenapa,,?" Tanya Erlan saat Aura menghentikan langkahnya.
Dengan wajah yang tertunduk dan suara yang lirih, Aura memberanikan diri berbicara pada Erlan.
"Aura hampir membiarkan kita melakukan itu,, apa kaka akan berfikir buruk tentangku karna tidak menolaknya,," Ujar Aura.
Erlan mengubah posisinya, kini dia berdiri didepan Aura, kedua tangannya memegang bahu Aura.
"Lihat kaka,,," Ucapnya lembut,, Aura yang merasa malu tidak berani menatap Erlan. Dia masih menundukkan wajahnya.
Erlan memegang dagu Aura, perlahan mengangkat wajah Aura agar menatapnya.
"Kenapa kaka harus berfikir buruk tentangmu,," Ujarnya setelah Aura menatapnya.
"Tidak ada keburukan dalam diri kamu,, itulah kenapa kaka mencitai kamu. Untuk kejadian tadi, justru kaka yang merasa buruk dan bersalah karna hampir menciummu. Kaka akan menciummu setelah kita menikah nanti, bahkan kaka akan melakukannya setiap saat,," Goda Erlan sambil tersenyum. Dan itu berhasil membuat Aura tersenyum lagi.
Aura langsung memeluk Erlan, dia bersyukur memiliki Erlan. Laki laki yang bisa menjaga kehormatan wanitanya, dialah laki laki sejati.
Aura semakin yakin bahwa Erlan laki laki yang baik dan tepat untuknya.
Terimakasih sudah membaca novel ini, jangan lupa tinggalkan like dan komennya yah agar Author semakin semangat melanjutkan novel ini.
jika ada salah salah kata, mohon beri kritik dan sarannya🙏.