SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Atas Reruntuhan
Bab 28: Perjanjian di Atas Reruntuhan
Debu batu masih berguguran dari langit-langit makam yang runtuh.
Retakan membelah kubah kuno, membiarkan cahaya pucat dari dunia luar menyelinap ke dalam ruang warisan. Keenam sosok berjubah putih berdiri di atas bongkahan batu yang melayang, seolah hukum gravitasi tidak lagi berlaku di sekitar mereka. Lambang matahari emas di dada mereka memancarkan cahaya hangat, tetapi aura yang mereka bawa justru sedingin musim dingin.
Ethan berdiri tanpa bergeming.
Jari tangan kanannya mengepal perlahan di sekitar Cincin Bayangan.
Di sampingnya, Maya menahan napas. Tubuhnya masih lelah akibat ujian sebelumnya. Menghadapi musuh lain dalam kondisi seperti ini jelas bukan pilihan yang menguntungkan.
Pemimpin Sekte Surya Putih melangkah maju.
"Aku Luo Tian."
"Tetua Ketiga Sekte Surya Putih."
Tatapannya tidak pernah lepas dari cincin di tangan Ethan.
"Aku akan mengulang sekali lagi."
"Serahkan warisan itu."
Xu Ran yang semakin transparan menggeleng pelan.
"Ethan... jangan percaya pada mereka."
"Lima ratus tahun lalu... perang besar dimulai karena keserakahan mereka."
Luo Tian tersenyum tipis.
"Kau masih pandai memutarbalikkan sejarah, Penjaga Makam."
"Apa kau lupa siapa yang pertama kali mengangkat pedang?"
Xu Ran terdiam.
Keheningan itu justru membuat Ethan semakin waspada.
"Keduanya menyembunyikan sesuatu."
Tidak ada perang besar yang hanya memiliki satu pihak bersalah.
Suasana berubah tegang.
Qi dari kedua kubu saling bertabrakan.
Retakan kecil mulai muncul di lantai batu.
Maya mendekat beberapa langkah.
"Apa kita bertarung?"
Ethan menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
"Belum."
Jawaban singkat itu membuat Luo Tian sedikit mengangkat alis.
"Kau cukup tenang."
"Jarang ada anak muda yang masih bisa berpikir di bawah tekanan seperti ini."
Ethan membalas datar.
"Orang yang terburu-buru biasanya mati lebih dulu."
Sudut bibir Luo Tian sedikit terangkat.
Menarik.
Pemuda di depannya ternyata jauh berbeda dari laporan yang ia terima.
Salah satu pria berjubah putih di belakang Luo Tian melangkah maju.
"Ketua Tetua."
"Biarkan aku menangkapnya."
Aura Alam Pendirian Fondasi Bintang Dua langsung meledak.
Tekanan spiritual memenuhi aula.
Namun sebelum Luo Tian memberi izin...
Ethan berbicara lebih dulu.
"Kalian datang bukan hanya untuk cincin."
Semua mata langsung tertuju padanya.
Ethan melanjutkan.
"Jika hanya mengincar artefak, kalian akan menyerang sejak memasuki makam."
"Tapi kalian menunggu."
"Itu berarti..."
"Kalian membutuhkan seseorang yang telah diakui warisan."
Untuk pertama kalinya...
Ekspresi Luo Tian berubah.
Hanya sesaat.
Namun cukup bagi Ethan.
"Benar."
Luo Tian tertawa pelan.
"Tidak heran Divisi Bayangan memilihmu."
"Kau memang cepat memahami keadaan."
Maya mengerutkan kening.
"Kalau begitu kenapa kalian mengejar kami?"
"Bukankah lebih mudah bekerja sama?"
Luo Tian memandang gadis itu.
"Karena pewaris sebelumnya memilih pengkhianatan."
Suasana mendadak sunyi.
Luo Tian kembali menatap Ethan.
"Kami membutuhkan pemilik cincin."
"Untuk membuka Gerbang Langit Kedua."
Xu Ran langsung berteriak.
"Jangan dengarkan dia!"
"Gerbang itu tidak boleh dibuka!"
Luo Tian mendengus.
"Begitu?"
"Kalau begitu katakan kepada mereka."
"Apa sebenarnya monster yang tersegel di balik Gerbang Pertama."
Xu Ran membisu.
Maya memandang keduanya bergantian.
"Kenapa semua orang selalu berbicara setengah-setengah?"
Ethan akhirnya angkat bicara.
"Karena masing-masing memiliki kepentingan."
Tatapannya tenang.
"Kebenaran yang mereka ceritakan hanyalah bagian yang menguntungkan mereka."
Xu Ran tersenyum pahit.
"Kau memang tidak berubah."
Luo Tian mengangguk perlahan.
"Itulah sebabnya kami tidak ingin membunuhmu."
"Belum."
Tiba-tiba...
Cincin Bayangan berdenyut.
Denyutannya semakin kuat.
Suara tua kembali terdengar dalam kesadaran Ethan.
"Mereka sedang menunda waktu."
Ethan sedikit mengernyit.
"Untuk apa?"
"Lihat ke belakang."
Tanpa menggerakkan kepala, Ethan memperluas indra spiritualnya.
Barulah ia menyadari sesuatu.
Di empat sudut aula...
Empat anggota Surya Putih diam-diam sedang menanamkan batu kristal ke tanah.
Formasi.
Mereka sedang membangun formasi penyegel.
Jika selesai...
Ruang ini akan berubah menjadi sangkar.
Tanpa memberi isyarat kepada siapa pun...
Ethan bergerak.
Seketika.
Tubuhnya melesat ke kanan.
Luo Tian langsung menyipitkan mata.
"Dia sadar!"
Salah satu anggota Surya Putih baru saja menanam kristal terakhir ketika Ethan muncul tepat di depannya.
Pemuda itu tidak menyerang.
Sebaliknya...
Ia menginjak pola formasi dengan sudut yang sangat aneh.
Retak!
Seluruh jalur energi berubah arah.
Kristal itu langsung kehilangan cahaya.
"Apa?!"
Anggota Surya Putih membelalak.
"Dia memahami Formasi Empat Pilar?"
Ethan tidak menjawab.
Di dunia kultivasi, formasi seperti ini hanya termasuk tingkat dasar.
"Serang!"
Luo Tian akhirnya memberi perintah.
Empat kultivator bergerak bersamaan.
Mereka tidak menyerang Ethan secara langsung.
Sebaliknya...
Mereka membentuk pola pengepungan.
Qi mereka saling terhubung.
Boom!
Pedang cahaya muncul dari langit.
Maya segera membentuk dinding es.
Ledakan pertama membuatnya mundur tiga langkah.
Lengannya bergetar.
Perbedaan kekuatan terlalu besar.
Ethan melirik sekilas.
"Maya."
"Jangan lawan."
"Rusak ritme mereka."
Maya langsung memahami maksudnya.
Ia tidak lagi mencoba menyerang.
Sebaliknya, ia terus mengganggu koordinasi lawan dengan serangan kecil.
Strategi itu langsung membuahkan hasil.
Formasi mereka mulai goyah.
Luo Tian sendiri turun tangan.
Tombak panjangnya menusuk lurus.
Tidak cepat.
Namun lintasannya hampir mustahil dihindari.
Ethan memutar tubuh.
Ujung tombak hanya berjarak beberapa sentimeter dari lehernya.
Ledakan angin menghancurkan pilar batu di belakang.
"Kau terlalu muda."
Luo Tian berbisik.
"Tapi pengalamanmu..."
"...membuatku takut."
Ethan tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mengamati cara Luo Tian memegang tombak.
Tangan kiri.
Tangan kanan.
Pusat gravitasi.
Irama napas.
"Ada luka lama."
"Bahu kirinya tidak pernah pulih."
Pertarungan kembali pecah.
Namun Ethan tidak pernah bentrok langsung.
Ia terus memancing Luo Tian berpindah posisi.
Sedikit demi sedikit.
Tanpa disadari siapa pun.
Mereka semakin dekat ke singgasana.
Xu Ran tiba-tiba memahami rencana Ethan.
Matanya membelalak.
"Dia..."
"Bukan ingin menang."
"Dia ingin menggunakan makam itu sendiri."
Luo Tian akhirnya sadar.
"Terlambat!"
Ia menghentakkan tombaknya.
Namun...
Ethan sudah lebih dahulu menyentuhkan Cincin Bayangan ke singgasana batu.
Dengung rendah mengguncang seluruh aula.
Seluruh ukiran naga di dinding menyala.
Mata mereka memancarkan cahaya hitam.
Xu Ran menutup mata.
"Formasi Pertahanan Kaisar..."
"...aktif kembali."
Ratusan rantai bayangan muncul dari lantai.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan membatasi ruang.
Luo Tian menghancurkan tiga rantai sekaligus.
Namun setiap rantai yang putus segera digantikan dua rantai baru.
"Kau mengaktifkan mekanisme pertahanan!"
teriak salah satu anggota Surya Putih.
"Tidak."
Ethan menjawab tenang.
"Aku hanya membangunkan rumah ini."
Ledakan demi ledakan memenuhi aula.
Langit-langit runtuh semakin cepat.
Seluruh makam mulai kehilangan kestabilan.
Xu Ran memandang Ethan.
"Kalau diteruskan..."
"Seluruh makam akan hancur."
Ethan mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Tapi mereka juga tidak akan mendapat warisannya."
Luo Tian menggertakkan gigi.
Untuk pertama kalinya ia kehilangan ketenangannya.
"Anak bodoh!"
"Kau rela menghancurkan makam ini?"
Ethan menatapnya datar.
"Aku lebih memilih menghancurkan kesempatan musuh."
"...daripada memberinya."
Kalimat itu membuat Luo Tian terdiam sesaat.
Lalu...
Ia tertawa.
Tawa yang justru terdengar lega.
"Aku mulai mengerti."
"Kenapa cincin itu memilihmu."
Namun pada saat yang sama...
Seluruh tanah tiba-tiba berguncang lebih hebat.
Getaran kali ini berbeda.
Bukan berasal dari makam.
Melainkan...
Dari bawah makam.
Retakan besar membelah lantai.
Aura hitam pekat menyembur keluar.
Begitu pekat hingga bahkan Luo Tian memucat.
Xu Ran menatap retakan itu dengan wajah tanpa darah.
"Tidak..."
"Bukan sekarang..."
Suara tua dari dalam Cincin Bayangan kembali terdengar.
Namun kali ini...
Bukan hanya Ethan yang mendengarnya.
Seluruh ruangan dipenuhi gema yang sama.
"Segel Kedua telah retak."
"Makhluk yang tidur di bawah Laut Kabut... telah membuka matanya."
Sesaat kemudian...
Sebuah tangan raksasa bersisik hitam perlahan muncul dari dalam retakan.
Bukan tangan manusia.
Melainkan...
Cakar seekor naga kuno yang ukurannya bahkan lebih besar daripada seluruh aula makam.
Dan dari kedalaman kegelapan...
Dua mata merah perlahan terbuka, memandang semua orang yang berada di atasnya.