Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar²
Ketika Xue Yao kembali membuka mata, ruangan itu kosong tanpa seorangpun. Di sekelilingnya terdapat berbagai peralatan aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tampaknya, inilah yang disebut rumah sakit dalam ingatan dunia ini.
Benar-benar berbeda jauh dari dunia kultivasi.
Ia menyentuh jari tangan kanannya, tempat Cincin Zhutian berada. Cincin yang hanya dapat ia lihat sendiri, lalu mulai menata dengan saksama ingatan kehidupan ini.
Dalam kehidupan ini, serpihan kesadaran Xue Yao benar-benar menjalani hidup yang menyedihkan.
Seharusnya ia adalah putri sah keluarga Xue, sebuah keluarga raksasa didunia bisnis. Namun, karena sebuah kesalahan tak terduga, terjadilah kekeliruan antara putri asli dan putri palsu.
Saat itu, Nyonya Xue mengalami kelahiran prematur ketika sedang menghadiri kegiatan amal didaerah pedesaan. Kondisinya sangat darurat, sehingga ia hanya sempat dibawa kerumah sakit kecil didaerah tersebut untuk melahirkan.
Disanalah ia melahirkan seorang bayi perempuan, yaitu Xue Yao.
Namun, tanpa diketahui siapapun, karena kelalaian seorang perawat, Xue Yao tertukar dengan bayi perempuan lain.
Sejak saat itu, dua bayi yang belum mengetahui apapun menapaki jalan hidup yang sama sekali berbeda.
Bayi perempuan yang keliru dibawa pulang ke keluarga Xue adalah Xue Ling.
Ia menempati seluruh kehidupan yang seharusnya menjadi milik Xue Yao—menjadi putri kesayangan keluarga Xue, disayangi kedua orang tua, seta dilindungi dan dimanjakan oleh seorang kakak laki-laki yang lima tahun lebih tua darinya.
Sebaliknya, kehidupan Xue Yao justru berbanding terbalik.
'Orang Tua' yang membesarkannya memiliki temperamen buruk dan sangat memandang rendah anak perempuan. Sedikit saja kesalahan, ia dipukuli dengan kejam hanya karena ia terlahir sebagai perempuan.
Kemudian, 'Ayah' yang disebut-sebut itu berselingkuh dan meninggalkan mereka berdua.
Sang 'Ibu' yang tersisa mengalami tekanan batin berat, menjadi pecandu alkohol, dan kekerasan terhadap Xue Yao pun semakin sering terjadi.
Pada saat-saat terburuk, Xue Yao pernah terbaring selama lebih dari seminggu tanpa mampu bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya penuh luka tanpa satupun bagian yang utuh.
Dengan cara seperti itulah Xue Yao bertahan hidup hingga dewasa.
Hingga suatu hari saat ia bekerja mengantar pesanan makanan, ia tidak sengaja terlihat oleh seorang sahabat dari kakek Xue.
Orang itu awalnya hanya merasa heran, karena gadis muda tersebut sangat mirip dengan mendiang istri kakek Xue.
Ia pun mengambil foto secara spontan, lalu menjadikannya bahan obrolan disebuah jamuan untuk diceritakan kepada kakek Xue.
Tak disangka setelah melihat foto tersebut, kakek Xue yang jarang tertarik pada hal remeh justru merasa penasaran. Lalu memerintahkan orang untuk menyelidiki identitas Xue Yao.
Hasil penyelidikan itu mengejutkan.
Tanggal lahir yang sama, rumah sakit yang sama, dan kemiripan luar biasa dengan istrinya.
Tanpa ragu, kakek Xue segera memerintahkan ayah Xue membawa Xue Ling untuk melakukan tes DNA.
Hasilnya menunjukkan bahwa Xue Ling, yang telah dipelihara keluarga Xue selama delapan belas tahun, bukanlah anak kandung mereka.
Gadis pengantar makanan yang malang itulah cucu kandung sejati keluarga Xue.
Seandainya saat itu semuanya dikembalikan ketempat semula, mungkin kehidupan Xue Yao akan mulai berubah kearah yang lebih baik.
Namun Xue Ling hanya bertahan dua hari dikeluarga asalnya, sebelum kembali dengan wajah penuh luka dan tangisan pilu.
"Ayah, ibu, aku mohon... Biarkan aku kembali. Aku hampir dipukuli sampai mati. Dia sama sekali tidak mengakuiku sebagai anaknya. Kakak, tolong selamatkan aku!"
Bagaimana mungkin ayah dan ibu Xue tidak memiliki perasaan terhadap anak yang telah mereka besarkan dan cintai selama belasan tahun?
Melihat Xue Ling diperlakukan sedemikian rupa, hati merekapun melunak seketika.
Xue Mo bahkan lebih menganggapnya sebagai harta berharga. Tanpa ragu, ia langsung menyetujuinya. Membiarkan Xue Ling kembali dan tetap menjadi nona keluarga Xue.
Sejak awal hingga akhir, tidak ada seorangpun yang menanyakan pendapat Xue Yao.
Hanya Xue Ling yang menoleh kepadanya sambil menangis tersedu-sedu. "Adik, aku tidak akan merebut apapun darimu. Aku hanya ingin hidup. Aku mohon, bolehkah?"
Xue Yao tidak mampu menolak.
Tatapan penuh harap kedua orang tuanya, sikap memohon yang jarang diperlihatkan kakaknya. Semuanya memberitahukan betapa mereka menginginkan Xue Ling kembali.
Jika ia menolak, apa yang akan mereka pikirkan tentang dirinya?
"Baik."
Akhirnya, Xue Yao mengangguk.
Dan sejak saat itu, mimpi buruk pun dimulai.
Xue Ling tidak ingin kehilangan kehidupan yang sekarang ia miliki. Ia sama sekali tidak ingin kembali menjadi orang biasa, yang bekerja keras setahun penuh hanya untuk menghasilkan uang yang bahkan tidak cukup untuk satu kali jamuan makan mewah.
Jika sejak awal sudah salah, mengapa tidak dibiarkan salah sampai akhir?
Ia juga sangat memahami bahwa dirinya kini bukan lagi putri sah keluarga Xue. Jika ingin mempertahankan kehidupannya, ia harus menggunakan cara-cara tertentu.
Targetnya pun jatuh pada Xue Mo, pewaris keluarga Xue sekaligus kakak yang pernah memanjakannya.
Xue Mo memang telah lama memiliki perasaan yang sulit dijelaskan terhadap Xue Ling. Ditambah berbagai siasat yang ia gunakan, Xue Mo pun benar-benar jatuh kedalan jerat cinta.
Seorang pemuda yang tengah dimabuk asmara hanya memikirkan Xue Ling seorang. Dibawah hasutan Xue Ling, ia semakin memendam prasangka terhadap adiknya sendiri, Xue Yao.
Bahkan ayah dan ibu Xue, dibawah pengaruh ganda Xue Mo dan Xue Ling, perlahan-lahan sepenuhnya berpihak kepada Xue Ling.
Dibandingkan dengan 'mutiara' yang diasuh dengan penuh perhatian selama delapan belas tahun, Xue Yao yang penakut dan tidak memahami etiket maupun pergaulan jelas tampak jauh tertinggal.
Meski darah lebih kental daripada air, bagi keluarga semacam itu gengsi tetap menjadi pertimbangan utama.
Dimata mereka, Xue Yao yang tumbuh diluar lingkungan keluarga bangsawan benar-benar tidak pantas ditampilkan kepublik.
Makan makanan barat dengan bunyi peralatan yang berisik, tidak tahu cara memegang gelas sampanye, bahkan tidak mengerti cara menikmati kaviar. Berbagai 'kekurangan' semacam ini membuat ayah dan ibu Xue sulit merasa dekat dengan putri kandung mereka sendiri.
Dan sebelum insiden jatuh kedanau ini, Xue Ling sudah dua kali merancang jebakan. Satu kecelakaan jatuh dari tangga dan satu insiden keracunan makanan.
Dalang dibalik semua itu, tentu saja diarahkan kepada Xue Yao.
Hampir semua orang menganggap Xue Yao berkepribadian gelap dan iri terhadap keberadaan Xue Ling. Sehingga terus menerus menyerangnya, bahkan ingin mencelakai Xue Ling.
Kini, Xue Yao hidup dikeluarga Xue layaknya manusia tak kasat mata.
Ayah dan ibu Xue bahkan telah mencarikan dokter kejiwaan untuknya dan menjadwalkan terapi rutin. Seandainya mereka tidak takut gosip akan merusak reputasi keluarga Xue, mungkin Xue Yao sudah lama dikirim kerumah sakit jiwa.
Apa yang mereka sebut sebagai 'belas kasihan' saat ini hanyalah penantian, menunggu saat yang tepat untuk menjodohkannya melalui pernikahan demi kepentingan bisnis. Agar putri keluarga Xue ini masih bisa memberikan nilai terakhir.
Sementara itu, keinginan terdalam serpihan kesadaran ini sangat sederhana. Ia ingin menjadi penguasa sejati keluarga Xue. Ia ingin membuat mereka menyesal dan membayar mahal atas kepercayaan buta serta keberpihakan mereka.
Adapun Xue Ling, karena sejak awal mereka menjalani kehidupan yang tertukar, sudah seharusnya ia kembali kejalur yang semestinya.
Ditengah perenungan itu, pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka.
Yang masuk adalah seorang lelaki lanjut usia yang duduk dikursi roda.
"Kakek!"
Mata Xue Yao langsung berkaca-kaca. Hampir tanpa sadar ia hendak mencabut jarum infus dan bangkit dari tempat tidur.
"Ah!"
Sang kakek memberi isyarat kepada orang dibelakangnya untuk mendorong kursi roda lebih dekat, sekaligus menghentikan gerakan Xue Yao.
"Xue Yao, kau telah menderita."
Hanya beberapa kata itu yang diucapkan lelaki tua tersebut, namun air mata Xue Yao langsung mengalir deras.
Dialah kakek kandung Xue Yao, orang yang pertama kali membawanya ke keluarga Xu. Sekaligus satu-satunya dikeluarga itu yang benar-benar menyayanginya.
Namun kondisi kesehatannya sudah lama memburuk. Ia tinggal menetap didaerah kebun teh dipinggiran kota untuk pemulihan. Setelah beberapa kali bertemu saat Xue Yao baru kembali ke keluarga, mereka hampir tidak pernah bertemu lagi.
Xue Yao sangat memahami bahwa jika ia ingin menyelesaikan tugasnya didunia ini, sang kakek adalah terobosan yang harus ia genggam erat.
Bagaimanapun, meski ayah Xue telah mengelola grup Xue dan Xue Mo yang telah ditetapkan sebagai pewaris, tiga puluh persen saham terbesar perusahaan masih berada ditangan sang kakek.
Dan itulah yang menjadi target Xue Yao.
"Kakek, apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah? Jika hari ini bukan karena kak Su Chen, jika bukan karena dia.."
Sebagian kalimat sengaja tidak ia ucapkan hingga tuntas. Tangisannya terdengar seperti curahan keluh kesah, namun inti ucapannya dengan jelas menyinggung Su Chen.
Xue Yao tahu, meskipun wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang istri kakek membuat lelaki tua itu bersikap lunak kepadanya. Xue Ling tetaplah anak yang dibesarkan keluarga Xue selama delapan belas tahun. Mustahil sang kakek tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapnya.
Ikatan darah adalah satu hal, namun kasih sayang yang tumbuh selama bertahun-tahun bukanlah sesuatu yang dapat dihapus begitu saja.
Lagipula saat Xue Ling dibawa kembali, apakah sang kakek benar-benar tidak mengetahuinya?
Hanya saja, kali ini masalahnya telah sampai kemata orang luar. Ditambah lagi, rencana Xue Ling gagal total. Malah menjadi tontonan memalukan, sebuah adegan menggelepar didanau.
Bagi keluarga Xue, ini jelas mencoreng nama baik.
Su Chen adalah putra bungsu keluarga Su, sahabat lama keluarga Xue. Namun, hubungan lama bukan berarti insiden semacam ini pantas dipertontonkan dihadapan mereka.
Terlebih lagi, jika hari ini Xue Ling berani merencanakan pembunuhan terhadap nona sah keluarga Xue, siapa lagi yang akan ia incar dimasa depan?
Seperti dugaan, raut wajah kakek Xue menggelap.
Setelah lama terdiam, ia berkata dengan suara rendah, "Kali ini, dia memang sudah keterlaluan. Tenanglah. Dikeluarga Xue, putri yang sah hanya ada satu yaitu dirimu. Sekarang dan seterusnya, hal itu tidak akan berubah."
Ucapan itu berarti satu hal, ia tidak berniat lagi membiarkan Xue Ling tetap tinggal dikeluarga Xue.