Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mobil yang membawa sepasang suami istri itu tiba dirumah dan Akbar lebih dulu keluar mobil berjalan masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan istrinya yang masih didalam mobil. Luna yang melihat suaminya hanya diam sebentar dirinya enggak paham melihat Akbar seperti itu.
"Ada apa dengan Akbar?" gumam Luna.
Luna pun menyusul Akbar masuk kedalam rumah, langsung kekamar dan membersihkan diri untuk tidur. Dilihatnya didalam kamar tak ada tanda-tanda keberadaan suaminya.
Sedangkan Akbar langsung ke ruang kerjanya dirinya menyibukkan dengan dokumen kantor yang sempat dibawa pulang seolah ingin menghilangkan beban yang ada dipikiran.
"Lebih baik aku disini dulu, melihat Luna jadi sedikit enggak nyaman."gumam Akbar.
Drrrt..drrrt..
Bunyi ponsel Akbar diatas meja menandakan adanya telepon, nama yang tertera dipanggilan itu Dita.
"Halo sayang"sapa Dita.
"Iya, ada apa telp?"tanya Akbar.
"Besok berangkat kerja mampir sekalian jemput aku ya, berangkat sama-sama ke kantor."kata Dita.
"Iya sayang, besok aku mampir kerumahmu."kata Akbar.
Cukup lama percakapan itu terjadi, tanpa diketahui Akbar tepatnya diluar pintu ada yang tak sengaja mendengarnya, Luna yang hendak membawakan minuman untuk suaminya seperti biasa yang dilakukannya malah mendengarkan obrolan yang tak pantas.
Deg..
"Akbar berbicara dengan siapa ditelepon itu, apa aku masuk sekarang atau enggak perlu."gumam Luna diluar pintu ruang kerja suaminya.
Luna berdiri cukup lama disana sampai obrolan telepon yang Akbar selesai.
"Udah dulu sayang, udah malam aku mau tidur dulu."ucap Akbar mengakhiri teleponnya.
Tok..tok..
Ketukan pintu ruang kerja terdengar Akbar.
"Masuk.."teriak Akbar
Lalu Luna masuk dan melihat suaminya yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
Akbar yang melihat siapa yang masuk kedalam, sedikit terkejut istrinya membawa minuman untuknya. Dirinya agak was-was mana tau tadi saat telepon sempat didengar Luna apa tidak.
"Ini mas, aku bawakan minuman untukmu. Aku liat sepertinya dirimu lagi sibuk."kata Luna.
"Taruh disana aja, terima kasih Luna."ucap Akbar.
Luna yang ingin menanyakan siapa yang di telepon suaminya tadi diurungkannya dan langsung keluar dari ruang kerja suaminya.
"Kalau begitu aku balik lagi kekamar jangan tidur terlalu malam ingat kesehatanmu mas."ucap Luna ke suaminya.
Tanpa mendengar jawaban suaminya, Luna bergegas keluar dari sana dan kembali ke kamar.
"Berada di ruang kerjanya tadi hatiku malah enggak tenang."gumam Luna sambil memegang dadanya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dan Luna langsung tidur malam mulai larut tanpa menunggu suaminya lebih dulu.
- -
Mobil buggati hitam berjalan elegan dijalanan membawa laki-laki tampan dibalik kemudi, yah Akbar membawa mobil itu berjalan menyusuri jalanan untuk menjemput kekasih simpanannya.
Tin..tin..
Bunyi bel mobil cukup keras di depan rumah dan setelah itu keluarlah wanita cantik dengan pakaian formal kerja menuju mobil Akbar.
"Sudah lama datangnya?"tanya Dita.
"Belum, baru aja datang sayang. Ayo berangkat ke kantor aku ada meeting penting pagi ini."ucap Akbar.
Mobil bugatti hitam mulai berjalan menjauh dari rumah Dita dan menuju perusahaan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi Akbar dan Dita sampai diperusahaan masuk kedalam perusahaan berjalan sejajar tanpa menghiraukan suara berisik dilobby perusahaan. Dan setelah itu mereka berpisah menuju ruangan masing-masing.
"Kevin, adakan meeting pagi kumpulkan semua manager hari ini aku ingin memeriksa laporan masing-masing divisi yang ada diperusahaan tanpa terkecuali."perintah tegas Akbar pada asisten Kevin.
"Baik presdir, saya laksanakan. Permisi pak.."ucap balas asisten Kevin.
Akbar menghadap ke arah luar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu hal.
Luna yang berada dirumah pagi lebih banyak didalam kamar dari pada harus turun ke bawah, sambil memegang ponsel dirinya mengirim chat grup disalah aplikasi message. Grup itu berisikan dengan Luna, Adam dan Edward isi chat yang cukup menarik.
Pesan isi grup
{Hei Luna, ngapain pagi ini?}pesan Adam.
{Pagi ini aku dikamar aja tapi bosan juga enggak ada hal lain yang bisa kulakukan lagi.}pesan Luna.
{Sini datang ke perusahaan aja.}pesan Edward.
{Memangnya perusahaan kakak dimana ada hal menarik enggak di sana?}pesan Luna.
{Banyak hal menarik, datang kesini aja. Apa perlu kakak suruh supir menjemputmu?}pesan Edward.
{Tak perlu kak, biar Luna datang sendiri kesana. Kirim share location perusahaan kakak.}pesan Luna.
{Aku enggak diajak Lun..}pesan Adam.
{Hei, pengacara tengil lebih baik urus klienmu aja jangan ikutan datang ke perusahaan kak Edward.}pesan Luna.
{Yah.. enggak asik.}pesan Adam.
{Sudah, kakak lanjut meeting dulu.}pesan Edward.
Edward meninggalkan obrolan chat grup itu, lain halnya Luna dan Adam yang masih berdebat seperti anak kecil.
"Adam gila, pengacara tengil ini dari tadi tidak mau mengalah dengan perempuan."gumam Luna.
Lalu obrolan grup itu berakhir, Luna pun bersiap untuk pergi ke perusahaan kak Edward. Setengah jam kemudia Luna udah berdandan cukup cantik dengan berpakain dress merah terlihat imut di diri Luna.
"Udah selesai, saatnya pergi ke perusahaan kakak."gumam Luna dengan membawa tas dan kunci mobil digengaman tangan.
Luna berjalan menuruni anak tangga ke bawah dan berpapasan ibu mertuanya. Bu Hana yang melihat menantunya turun dan terlihat rapi penuh banyak pertanyaan didalam pikirannya.
"Nak Luna mau kemana?"tanya Bu Hana.
"Maaf bu, hari ini aku mau keluar lebih dulu ada urusan yang harus kuselesaikan."ucap balas Luna datar.
Mendengar ucapan menantunya datar, bu Hana hanya bisa menghelas nafas. Hubungannya dengan menantu cukup tidak baik dua tahun terakhir. Luna pun langsung keluar menuju mobilnya yang sudah terparkir di garasi rumah.
"Lebih baik keluar dari rumah ini, suasana rumah ini udah tidak membuatku nyaman seperti dulu."gumam Luna.
Mobil Luna pun berjalan jauh meninggalkan rumahnya, dirinya menyetir cukup hati-hati dijalanan. Saat berhenti disalah satu lampu merah dirinya melihat sekilas ada anak kecil yang sedang mengemis di ujung jalan di sana.
"Andai aja aku punya anak, hidupku tak akan sepi seperti ini saat suaminya sendiri main dibelakangnya."gumam Luna sambil memejamkan matanya sejenak.
Tinn..tinn..
Bunyi bel mobil dibelakang mobilnya membangunkan lamunan Luna, ia langsung bergegas jalan ke perusahaan kakaknya. Kurang lebih dua puluh menit waktu yang ditempuh sampai diperusahaan Golden.
"Besar juga perusahaan kak Edward ini."gumam Luna melihat gedung bertingkat cukup tinggi di depan.
Luna berjalan di lobby perusahaan Golden cukup menarik perhatian karyawan yang berada di sana.
"Siapa wanita cantik itu, enggak pernah terlihat sebelumnya."ucap para karyawan di sana.
Luna tak ambil pusing, dirinya berjalan ke arah resepsionis.
"Permisi, apa pak Edward ada diruangan?"tanya Luna di resepsionis.
"Ada nona, silakan langsung naik lift ke lantai 25."ucap resepsionis.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦