Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Penghuni Unit Lantai 15
...by Pinterest...
Amora mengarahkan mobilnya perlahan memasuki area parkir bawah tanah apartemen. Lampu-lampu berwarna putih menerangi setiap sudut basement yang sore itu tidak terlalu ramai. Setelah menemukan petak kosong yang sesuai, ia memundurkan mobil dengan hati-hati hingga posisinya pas, lalu mematikan mesin.
Beberapa detik Amora hanya duduk diam sambil memandangi pantulan dirinya di kaca depan. Perjalanan dari rumah keluarga Atmojo terasa jauh lebih berat daripada jarak yang sebenarnya. Kini ia benar-benar harus membiasakan diri tinggal di tempat yang dihuni Mas Razka.
Ia membuka bagasi dan menatap barang-barang yang dibawanya. Dua koper ukuran besar, sebuah koper kabin, ransel, serta beberapa kantong berisi perlengkapan pribadi memenuhi ruang bagasi.
"Aduh banyak juga ternyata," gumamnya pelan sambil menggaruk pelipis.
Amora memang sengaja tidak mengosongkan kamarnya di rumah. Ia hanya membawa kebutuhan yang dirasa penting saja. Selebihnya akan diambil lain waktu jika memang diperlukan.
Dengan napas panjang, ia mulai mengeluarkan satu koper demi satu koper. Baru setelah semuanya berada di lantai, Amora menyadari bahwa membawa seluruh barang itu sendirian jelas bukan pekerjaan mudah.
"Aku bolak-balik saja deh."
Ia mencoba menarik dua koper sekaligus, sementara ransel disampirkan di bahunya. Belum sampai beberapa langkah, roda salah satu koper tersangkut pada sambungan lantai beton hingga koper itu berbelok tiba-tiba.
"Eh!"
Tubuh Amora ikut kehilangan keseimbangan. Ia buru-buru mencengkeram gagang koper yang lain agar tidak ikut roboh. Untung saja ia berhasil berdiri tegak, meski napasnya langsung memburu.
"Koper segede ini ternyata nyusahin juga," keluhnya lirih sambil tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Saat sedang berusaha membenarkan posisi koper, sebuah suara laki-laki terdengar dari belakang.
"Butuh bantuan?"
Amora menoleh.
Seorang pria dengan tinggi sekitar 180 cm berdiri beberapa meter darinya. Penampilannya sederhana, hanya mengenakan kaus polos dipadukan dengan jaket tipis dan celana jeans. Di tangannya terdapat kantong belanja dari minimarket.
Melihat Amora tampak kesulitan, pria itu menghampiri.
"Kayaknya barangnya lumayan banyak," katanya ramah.
Amora tersenyum canggung.
"Iya, Mas. Maaf, saya bikin jalanan jadi ketutup."
Pria itu menggeleng pelan.
"Enggak kok. Saya cuma lihat Mbak kayanya kesulitan bawa koper-kopernya."
Ucapan itu membuat Amora ikut tersenyum malu.
"Saya baru pindahan."
"Oh, pantas."
Pria itu kemudian mengulurkan tangan.
"Kenalin, Kevin. Saya tinggal di lantai 15."
Amora membalas uluran tangan itu dengan sopan.
"Amora. Saya di lantai 17."
"Wah, tetangga beda dua lantai berarti."
Amora mengangguk kecil.
"Iya."
Kevin melirik koper-koper yang masih berjajar.
"Kalau enggak keberatan, saya bantu sampai lift."
"Jangan, Mas. Nanti malah ngerepotin."
"Bukan repot. Kebetulan saya juga mau naik."
Tanpa menunggu jawaban, Kevin sudah lebih dulu menarik dua koper terbesar milik Amora. Gerakannya terlihat santai, seolah koper itu tidak berbobot.
Amora sempat ingin mengambil kembali koper tersebut, tetapi Kevin hanya tersenyum.
"Tenang saja, sama saya aman. Daripada Mbak kecapekan."
Amora akhirnya mengalah.
"Terima kasih ya, Mas."
"Sama-sama."
Mereka berjalan berdampingan menuju deretan lift. Sepanjang perjalanan, Kevin sesekali mengobrol ringan agar suasana tidak terlalu canggung.
"Baru beli unit di sini?"
Amora menggeleng.
"Bukan. Saya... ikut tinggal sama suami."
"Oh."
Kevin mengangguk paham tanpa bertanya lebih jauh. Ia merasa tidak sopan mengorek kehidupan pribadi orang yang baru dikenalnya.
Tidak lama kemudian mereka tiba di depan lift. Kevin menekan tombol, lalu menunggu pintu terbuka sambil tetap memegang kedua koper Amora.
Suara denting pelan terdengar ketika lift akhirnya datang.
"Silahkan."
Amora masuk lebih dulu, disusul Kevin yang membawa koper-koper itu ke dalam kabin.
Di tengah kehidupan barunya yang terasa asing, Amora tidak menyangka pertemuan pertamanya dengan salah seorang penghuni apartemen justru diawali oleh bantuan sederhana dari sosok yang sama sekali belum dikenalnya.
.
Di dalam lift, suasana kembali sunyi. Kevin berdiri di sisi kiri sambil memegang kedua koper milik Amora, sedangkan Amora memilih memperhatikan deretan angka digital yang terus bertambah.
Beberapa saat kemudian Kevin memecah keheningan.
"Ngomong-ngomong, saya punya teman yang tinggal di lantai 17 juga," ujarnya santai. "Mungkin jangan-jangan kalian bertetangga. Unit berapa, kalau boleh tahu?"
Pertanyaan itu membuat Amora refleks menoleh. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Jika menyebut nomor unit, besar kemungkinan Kevin mengenal Atharazka sebagai penghuni apartemen tersebut. Amora sama sekali belum siap menjelaskan kenapa dirinya tiba-tiba tinggal di sana.
"Ehm..." bibirnya terbuka, tetapi tidak ada kalimat yang keluar.
Kevin menangkap keraguan di wajah perempuan itu. Ia pun tersenyum kecil.
"Maaf, saya terlalu kepo, ya?"
Amora buru-buru menggeleng.
"Bukan begitu, Mas."
"Lalu?"
Amora menarik napas pelan.
"Sebenarnya saya baru pindah hari ini. Jadi masih belum terlalu nyaman cerita banyak."
Kevin langsung menganggukkan kepala.
"Oh, enggak apa-apa. Saya paham."
Ia tidak melanjutkan pertanyaan itu. Baginya, setiap orang memiliki privasi yang harus dihargai.
Lift masih bergerak naik.
Suasana memang kembali hening, tetapi tidak lagi terasa canggung. Sesekali Kevin hanya memandang ke arah pintu lift, sementara Amora sibuk memainkan ujung tali ranselnya.
Tak lama kemudian terdengar bunyi ting. Pintu terbuka di lantai 15..
"Nah, saya sampai."
Kevin menggeser kedua koper tepat di depan pintu lift agar memudahkan Amora mengambilnya kembali.
"Terima kasih banyak ya, Mas," ucap Amora tulus. "Kalau enggak ada Mas tadi, mungkin saya harus bolak-balik ke basement."
Kevin terkekeh pelan.
"Sama-sama, Mbak," jawabnya
Kevin memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Selamat menjadi anggota unit apartemen disini. Semoga kamu betah ya mbak," ujar Kevin.
Amora tersenyum
"Iya Mas. Terima kasih."
Kevin melambaikan tangan singkat sebelum berjalan meninggalkan lift menuju koridornya.
Tidak lama kemudian pintu lift kembali menutup.
Kini Amora kembali sendirian. Ia menunduk memandangi koper-kopernya, lalu mengembuskan napas panjang.
"Semoga penghuni apartemen lainnya seramah Mas Kevin," gumamnya pelan.
Lift kembali bergerak naik. Angka 16 berganti menjadi 17.
Sesaat sebelum pintu terbuka, Amora merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, membetulkan posisi ransel di bahunya, lalu menggenggam erat gagang koper.
Begitu pintu terbuka, lorong lantai 17 yang tenang langsung menyambutnya. Amora melangkah keluar perlahan. Kini hanya tinggal beberapa meter lagi sebelum ia kembali memasuki unit apartemen yang telah menjadi tempat tinggal barunya bersama Atharazka.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰