NovelToon NovelToon
AINUN

AINUN

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: AAH♥️

Aneh bukan? Tapi kembali lagi, hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena cinta merupakan keikhlasan, tak ada paksaan atau pun pelampiasan. Semuanya murni dari kesucian hati yang paling dalam.

Kita tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Semua terjadi dengan sendirinya, namun tetap dalam kendali Sang Pencipta.

Ada saatnya berjuang dan diperjuangkan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri sesuai dengan apa yang diharapkan, karena jodoh merupakan cerminan diri. Namun, jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yakin itulah yang terbaik. Bisa jadi, jalan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.

Pencipta maha tahu, apa yang sebenarnya lebih kita butuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun 25

Aku menatap hidangan di depanku dengan penuh minat. Maklumlah, jangankan makan, melihatnya saja belum pernah. Bagaimana mungkin, harganya saja 4 kali lipat dari gajiku di cafe. Aku sudah berusaha menolak dan memilih berpindah ke tempat lain yang mungkin harganya lebih terjangkau. Akan tetapi, Bara bersikukuh untuk tetap masuk.

"Silahkan dimakan, Dewi." Dia melihatku masih memandangi makanannya.

Sebenarnya aku ingin segera menyantapnya dengan lahap, tapi aku bingung menggunakan pisau yang terlatak disebelah kanan piring keramik tersebut.

Kenapa harus pakai ini, sih, batinku.

Aku tidak pernah makan menggunakan pisau. Aku hanya menggunakan sendok itu pun diacara-acara tertentu atau di tempat tertentu. Selebihnya, aku makan dengan menggunakan jari tanganku.

Nasib ....

Aku menelan ludahku sebelum bersuara. "A-aku ... sebenarnya ...." Dengan susah payah aku melanjutkan ucapanku. Jemariku saling bertautan dan meramas satu sama lain. Aku memandangi Bara dengan alis yang terangkat dan bersiap untuk mendengarkan kalimatku selanjutnya. Mataku masih melirik pisau tersebut. Tanpa sadar Bara juga mengikuti arah lirikanku.

Dia tersenyum geli melihatku. Kurasa dirinya telah paham dengan maksudku. "Yah udah, sini aku bantuin," sembari mengambil daging dan memotongnya dengan lincah menjadi bagian-bagian kecil. Aku yang memperhatikan hanya bisa menggigit bibir bawahku.

"Mau aku suapin? Ayo, buka mulutmu." godanya dengan lembut sembari menancapkan irisan daging pada garpu dan menyodorkan ke depan bibirku.

Aku yang mendengarnya segera mungkin menjawab, "Tidak, tidak perlu. A-aku bisa sendiri, kok." sembari mengangkat piring keramik tersebut ketempat semula.

Bara terkekeh pelan melihatku dan meletakkan garpunya kembali. Mungkin dia berfikir diriku terlalu konyol. Sungguh, hal itu selalu membuat wajahku memerah karena malu.

Aku mulai menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutku.

Luar biasa, batinku.

Sekarang aku faham mengapa orang berlomba-lomba mengeluarkan isi dompet tanpa memikirkan nominal hanya untuk menyenangkan indera pengecapnya.

Aku belum pernah merasakan daging yang begitu lembut seperti ini, melebur dan menyatu dalam setiap kunyahan. Mungkin, karena dipadukan dengan rasa syukur sehingga begitu nikmat menjamah lidahku.

"Kamu suka?" tanyanya kepadaku.

Aku mengangguk mengiyakan, "Iya, sangat suka."

Sudut bibirnya terangkat menjadi senyuman menawan diwajahnya. "Kamu ingin tambah? Tambah saja. Jangan khawatir, aku tidak akan memotong gajimu untuk membayarnya sebagian. Justru aku berterima kasih kepadamu karena kamu mau temani aku makan siang," ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya padaku.

"Tidak Bara, ini sudah lebih dari cukup untukku," ucapku menolaknya dengan halus.

"Dewi, kamu pantas menerimanya."

Aku memberhentikan kunyahanku dan menatap matanya balik. "Maksud kamu?"

Dia menggeleng mendengar pertanyaanku. "Tidak apa-apa. Ayo, lanjutkan makanmu."

Aku mengangguk namun masih mencoba mencerna ucapan Bara. Otak ku berpikir mencari makna dari Kalimatnya. Puing-puing pertanyaan merambat masuk dalam pikiranku.

Bagaimana mungkin dia mengatakan aku pantas menerimanya? Dari segi mana kepantasan itu? Apakah dia kasihan kepadaku karena tahu asal-usulku? Tapi aku merasa belum pernah memberi tahu kepada siapa pun, bahkan Winda. Lagi pula, alamat yang kumasukkan dalam lembaran lamaranku itu adalah tempat tinggalku di kota ini. Lalu apa?

.

.

.

.

.

 

Bingung deh si AINUN. hihihihi

Terima kasih banyak kepada Readersku yang masih setia dengan Novel AINUN 🤗 semoga semuanya dalam keadaan sehat wal Afiat 😇 aamiiinnn 😇

Jangan lupa tinggalkan jejak like Comment dan VOTE 😉

AINUN percaya bahwa readersnya adalah orang yang baik dan pastinya pengertian 🤗

Salam

AAH♥️

 

1
Ria Novita
Luar biasa
EMAH FARID
😂😂😂😂ngakak ikan hiuuuu
trnyata lutfii orang nyaa
EMAH FARID
sesuai dengam judul nya 😭😭😭
EMAH FARID
yaallah sedih nyaaa.... ini novel tersedih yg pernah aku baca
EMAH FARID
sedihh sangat ceritanya thorrr
EMAH FARID
mewek bca fart ini
EMAH FARID
ainun lucuuuuu
EMAH FARID
kyanya bara
Yati Yati
thor mudah"n ainun nikah ma bara
Nani Hasan
palingan nanti ketemu Ainun ya Thor 🤭
Nani Hasan
Thor pagi ini sy br mulai baca ini novel karya mu Thor tp sdh bbrp kali jg air mataku jatuh Krn alur ceritanya....sy jg merasakan rasa sakit yg Ainun rasakan 😭😭😭
Fa Rel
ainun sok cantik orang danis nrima apa adanya dia nya aja bodoh skg nyesel mkaan tuh nyesel
Hikmah
Happy ending... Tapi q masih selalu mengingat bara.
Naisah Naisah
seru nih .... rebutan pujaan hati
Naisah Naisah
waduh seru bgt cinta segi empat nih....
Naisah Naisah
suka bgt cerita pendek padat
Naisah Naisah
yehhh seru....bgt top keren
Naisah Naisah
cerita singkat padat jelas
Eva The-kk
waduhh neng rubi mas hiko ya. yg bikin kesel hati. kita satu servee
Iyah Jariyah
bagus cerita y semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!