NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Tanaman Obat

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit sempurna, Aron bersama rombongan utusan telah berangkat menuju ke pemukiman Suku Beruang. Mereka membawa sebagian besar cadangan daging kering dan dua kantong besar bubuk penawar racun buatan Yana sebagai bentuk ganti rugi.

Keberangkatan rombongan itu meninggalkan masalah baru bagi Suku Serigala: stok tanaman obat dan akar penyembuh di gua penyimpanan kini hampir kosong. Jika ada anggota suku yang sakit atau terluka saat berburu dalam beberapa pekan ke depan, mereka tidak memiliki obat yang cukup.

Yana berdiri di depan pintu gua obat, memperhatikan rak-rak batu yang melompong.

"Persediaan kita benar-benar habis, Nenek," kata Yana kepada Nenek Greta yang baru saja selesai menghitung sisa kantong kain di pojok ruangan.

Nenek Greta mengangguk lelah. "Benar, Yana. Sebagian besar akar penyembuh kita sudah diserahkan kepada Suku Beruang. Jalur perbukitan barat tempat kita biasa mencari tanaman obat juga sedang ditutupi salju tipis, jadi sangat sulit menemukan tanaman baru di sana."

"Kalau begitu, kita tidak bisa mencari di perbukitan barat," sahut Yana cepat. "Kita harus pergi ke Lembah Bintang."

Nenek Greta mengerutkan dahi, tampak terkejut. "Lembah Bintang? Tempat itu terlalu jauh dan penuh dengan rawa berbatu. Suku kita jarang ke sana karena tanaman obat di sana sangat sulit ditemukan."

"Di perbukitan barat memang sulit, tapi di Lembah Bintang ada celah tebing bagian bawah yang hangat," jawab Yana mantap. "Di sana tumbuh Akar Api dan Daun Darah dalam jumlah banyak."

Yana mengetahui keberadaan lokasi tanaman obat di Lembah Bintang dari kehidupan sebelumnya. Saat masa pembuangan dan perang meluas, ia terpaksa menjelajahi seluruh sudut hutan untuk bertahan hidup dan menemukan area rahasia yang kaya akan tanaman obat tersebut.

Nenek Greta menatap Yana dengan heran. "Bagaimana kamu bisa tahu di Lembah Bintang ada celah tebing hangat seperti itu, Yana? Pemburu suku kita bahkan jarang mendekati area itu."

Yana sudah menyiapkan alasannya. "Waktu kecil, Ayah pernah membawaku berjalan-jalan ke batas Lembah Bintang. Aku sempat melihat uap hangat keluar dari celah tebingnya dan menemukan beberapa jenis daun obat tumbuh di sana."

Nenek Greta mengangguk-angguk percaya. "Baiklah. Kalau begitu, panggil beberapa orang pemburu muda untuk mengawalmu. Kamu tidak boleh pergi ke sana sendirian."

Sepuluh menit kemudian, Yana sudah berkumpul di depan pintu gerbang suku bersama tiga orang warga: Bibi Nora, seorang pencari bahan makanan, serta dua pemburu muda bernama Raka dan Luka.

Luka tampak tidak senang saat mengetahui Yana yang memimpin pencarian tanaman obat ini.

"Yana, kenapa kita harus jauh-jauh ke Lembah Bintang?" protes Luka sambil membetulkan posisi busurnya. "Perbukitan barat jauh lebih dekat. Kita bisa membuang waktu seharian hanya untuk berjalan ke Lembah Bintang dan pulang tanpa membawa apa-apa!"

Yana menatap Luka dengan mata dingin. "Kalau kamu merasa keberatan dan takut membuang waktu, kamu bisa tinggal di desa, Luka. Aku tidak pernah memintamu untuk ikut."

"Aku ikut karena Paman Aron menyuruhku menjaga suku dan dirimu selama dia pergi!" balas Luka dengan wajah memerah karena kesal. "Aku hanya tidak ingin kamu bertindak gegabah lagi seperti kemarin!"

"Sudahlah, Luka," potong Raka, pemburu muda lainnya yang lebih tenang. "Yana pasti punya alasan. Lagipula perbukitan barat memang sedang tertutup es, tidak ada gunanya kita ke sana."

Tanpa membuang waktu membalas celotehan Luka lebih lanjut, Yana membalikkan badan dan langsung berjalan memimpin rombongan keluar dari gerbang suku menuju ke arah timur selatan.

Perjalanan menuju ke Lembah Bintang memakan waktu hampir dua jam melintasi jalan setapak berbatu dan hutan cemara yang lebat. Udara pagi terasa sangat dingin, membuat napas mereka mengembun di udara.

Selama perjalanan, Luka beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara, tetapi Yana hanya membalas seadanya dengan nada kaku. Hubungan mereka yang dulunya dekat kini benar-benar berjarak. Luka merasa kebingungan dan kesal, sementara Yana sama sekali tidak peduli pada perasaan tunangannya itu.

Sekitar tengah hari, mereka akhirnya tiba di pinggiran Lembah Bintang.

Sesuai dengan perkataan Nenek Greta, Lembah Bintang terlihat gersang dan penuh dengan bebatuan besar yang licin.

"Tuh kan, lihat sendiri!" seru Luka sambil menunjuk ke arah hamparan batu yang gersang. "Tidak ada tanaman obat apa pun di sini! Hanya ada batu dan tanah kering!"

Bibi Nora mendesah pelan. "Sepertinya tempat ini memang gersang, Yana..."

Yana tidak menjawab. Ia berjalan mendahului mereka menuju ke balik bongkahan batu hitam berukuran raksasa di tepi tebing. Di sana, terdapat sebuah celah sempit yang tertutup oleh semak-semak liar berkulit tebal.

Yana menyibak semak-semak itu menggunakan pisau belatinya.

Seketika itu juga, udara hangat membumbung keluar dari balik celah tebing. Di dalam celah yang cukup luas dan mendapat sinar matahari langsung itu, terhampar ratusan tanaman obat berdaun merah dan akar tebal yang tumbuh subur di atas tanah lembap.

Bibi Nora membelalakkan mata, memegang dadanya karena terkejut. "D-Dewa Binatang... Akar Api! Daun Darah! Jumlahnya banyak sekali!"

Raka langsung berlutut di dekat celah itu, memeriksa daun tanaman obat dengan tangan gemetar gembira. "Ini benar-benar Akar Api kualitas terbaik! Dengan tanaman sebanyak ini, stok obat suku kita bukan hanya pulih, tapi justru menjadi dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya!"

Luka mematung di tempatnya berdiri. Mulutnya sedikit terbuka, menatap hamparan tanaman obat dan Yana secara bergantian dengan raut wajah tidak percaya.

"Bagaimana... bagaimana bisa ada tempat seperti ini di sini?" gumam Luka pelan.

Yana menoleh ke arah Luka tanpa ekspresi gembira di wajahnya. "Aku sudah bilang, aku tahu tempat ini. Sekarang, berhenti mengeluh dan bantu memetik tanaman obat ini sebelum hari gelap."

Luka menggigit bibir bawahnya, merasa malu dan tidak bisa berkata-kata lagi. Tanpa membantah, ia berlutut dan mulai memetik tanaman obat bersama Raka dan Bibi Nora.

Mereka berempat bekerja cepat mengisi kantong-kantong kulit yang mereka bawa. Dalam waktu kurang dari dua jam, lima kantong besar sudah penuh terisi oleh Akar Api, Daun Darah, dan berbagai tanaman obat langka lainnya.

Ketika sore hari menjelang, rombongan kembali ke pemukiman Suku Serigala dengan membawa beban kantong yang berat.

Kedatangan mereka yang membawa pulang lima kantong penuh tanaman obat berkualitas tinggi disambut rasa takjub oleh warga suku dan para tetua. Nenek Greta bahkan meneteskan air mata haru saat memeriksa kesegaran Akar Api yang dibawa Yana.

"Luar biasa..." puji Tetua Gordon yang berdiri bersama Nenek Greta di depan gua obat. "Di saat perbukitan barat tertutup es, kamu justru berhasil menemukan lokasi obat tersembunyi di Lembah Bintang. Ini benar-benar penyelamatan bagi suku kita."

Yana menunduk sopan. "Ini hanya kebetulan, Tetua. Aku ingat tempat ini dari perjalanan masa kecilku."

Tetua Gordon tidak langsung menjawab. Mata kelabunya yang tajam menatap Yana cukup lama. Sang tetua mengelus janggut putihnya, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Di kehidupan suku, kebetulan yang terjadi berulang kali—mulai dari firasat Babi Hutan Berduri hingga penemuan rahasia Lembah Bintang—bukan lagi dianggap sebagai kebetulan biasa.

"Kebetulan yang sangat tepat waktu, Yana," kata Tetua Gordon dengan nada suara yang dalam. "Dewa Binatang seolah-olah terus menuntun langkahmu untuk melindungi suku ini."

Yana bisa merasakan arti tersembunyi di balik ucapan Tetua Gordon. Sang tetua mulai memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan lebih serius.

"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan untuk membantu suku, Tetua," pangkas Yana tenang, berusaha tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

"Apapun alasannya, kamu telah berjasa besar hari ini," ujar Tetua Gordon mengangguk pelan sebelum berjalan pergi bersama Nenek Greta untuk mengurus tanaman obat tersebut.

Di sudut lapangan, Luka berdiri menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu, mengawasi Yana dari jauh. Wajahnya tampak muram dan bingung. Yana yang dulu ia kenal sebagai gadis manja yang selalu bergantung padanya kini mendadak menjadi sosok yang mandiri, cerdas, dan dihormati oleh para tetua.

Yana menyadari pandangan Luka, tetapi ia sama sekali tidak membalas menatapnya.

Yana berjalan ke tepi tebing pemukiman, memandangi jalan menuju barat tempat ayahnya pergi. Masalah persediaan obat telah terselesaikan, tetapi kekhawatiran baru masih mengganjal di hatinya.

Ia berhasil menutupi kekurangan obat akibat tuntutan Suku Beruang. Namun, seberapa banyak lagi perubahan yang harus ia buat untuk menutupi dampak dari keputusan-keputusannya?

Yana mengepalkan tangannya di balik mantel kulit.

'Satu masalah selesai...' batin Yana tegar. 'Tapi aku harus tetap waspada. Waktu dua bulan itu terus berjalan.'

***

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!