Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Burung Kenari
Air hangat jatuh di bahu Keira Salim seperti hujan yang terlalu lembut untuk dunia yang keras.
Di balik uap tipis kamar mandi kecil di ruang istirahat HEALER, aroma sabun tanpa pewangi bercampur sisa teh putih dari kulitnya. Keira menutup mata. Selama beberapa detik, ia membiarkan air menuruni leher, tulang selangka, lalu berhenti di bekas merah samar di ujung matanya yang basah.
Getar ponsel memecah semuanya.
Keira membuka mata. Pantulan wajahnya di cermin buram terlihat tenang, terlalu tenang untuk perempuan yang baru menyelesaikan lembur dua hari. Tahi lalat merah di ujung matanya tampak seperti luka kecil yang sengaja dibiarkan hidup.
Pesan dari Tari muncul di layar.
Ci Keira, Pak Rayhan ada di Velvet. Steven bilang suasananya kurang enak. Ci diminta jemput.
Keira mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu mengetik satu kata.
Oke.
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keluhan.
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari gedung HEALER di Kuningan dengan blazer hitam di atas gaun satin warna sampanye. Jakarta malam itu lembap. Lampu gedung memantul di kaca mobil, seperti ribuan mata yang tidak pernah benar-benar tidur.
Sopir kantor menahan pintu mobil untuknya. “Bu Keira, langsung ke SCBD?”
“Velvet Lounge,” jawab Keira.
Suaranya pelan, tetapi cukup untuk membuat sopir tidak bertanya lagi.
Velvet Lounge tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum pintu lift terbuka di lantai privat, Keira sudah mencium campuran alkohol mahal, asap cerutu, parfum kulit, dan arogansi yang terlalu lama dipelihara uang keluarga.
Di depan ruang VIP, dua penjaga langsung menunduk.
“Bu Keira.”
Keira melewati mereka tanpa berhenti. Dari dalam terdengar tawa laki-laki, denting gelas, musik rendah, dan suara Steven yang samar seperti sedang mencoba menenangkan seseorang.
Begitu pintu terbuka, belasan pasang mata menoleh.
Ruang itu penuh anak konglomerat muda Jakarta. Ada yang duduk di sofa beludru, ada yang berdiri dekat meja biliar, ada yang pura-pura sibuk dengan gelas hanya supaya punya alasan untuk menatapnya lebih lama. Di ujung ruangan, tirai hitam setengah tertutup memisahkan area dalam. Keira tahu Rayhan ada di sana, dari aroma cerutu Kuba dan wangi kulit yang selalu menempel padanya.
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, seorang laki-laki berambut pirang menghadang.
Putra keluarga Hsu itu tersenyum miring. Matanya turun dari wajah Keira ke gaunnya, lalu naik lagi dengan cara yang membuat beberapa perempuan di sofa tertawa kecil.
“Ini dia burung kenari Bos Besar,” katanya. “Malam-malam masih disuruh jemput. Rajin juga, ya.”
Keira berhenti.
Ruangan mendadak lebih hening.
Si pirang mengangkat gelas red wine-nya. “Gue kira simpanan Hartono bakal lebih mahal tampilannya. Ternyata ya begini saja.”
Seseorang tertawa. Seseorang lain berbisik, “Pelan-pelan, Ray ada di dalam.”
Namun si pirang seperti sedang mabuk keberanian.
“Kenapa diam?” Ia mendekat setengah langkah. “Atau burung kenari memang cuma bisa bernyanyi kalau sangkarnya digoyang?”
Keira menatapnya.
Tidak ada merah di wajahnya. Tidak ada gemetar di jarinya. Hanya matanya yang perlahan menjadi dingin, seperti kaca parfum yang baru keluar dari lemari es.
“Kamu sudah selesai?” tanyanya.
Si pirang tertawa pendek. “Belum. Aku masih penasaran, Rayhan bayar kamu berapa per bulan sampai kamu mau jadi simpanan murahan seperti ini?”
Tamparan itu jatuh sebelum tawa berikutnya lahir.
Plak!
Kepala si pirang terlempar ke samping. Gelas di tangannya miring, red wine tumpah ke karpet. Beberapa orang spontan berdiri.
Keira mengambil gelas itu dari tangannya, lalu menyiramkan sisa wine ke wajahnya.
Cairan merah mengalir dari rambut pirangnya ke dagu, menetes ke kemeja putih mahal yang seketika terlihat seperti kain kotor.
“Sekarang selesai,” kata Keira.
Si pirang terdiam dua detik, lalu wajahnya berubah gelap. “Perempuan nekat!”
Tangannya terangkat.
Namun sebelum tangan itu menyentuh Keira, tirai hitam di ujung ruangan tersibak.
Suara korek api terdengar pelan.
Cekrek.
Api kecil menyala di antara jari panjang Rayhan Hartono. Korek api emas berukir itu memantulkan cahaya, tajam seperti kilatan pisau.
Semua orang langsung menahan napas.
Rayhan berjalan keluar dengan cerutu di antara bibir. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing, rambutnya sedikit berantakan, tetapi aura yang ia bawa membuat ruangan seperti turun beberapa derajat.
Matanya tidak langsung melihat si pirang. Ia melihat Keira dulu.
“Kena?” tanyanya.
Keira menggeleng. “Belum.”
Satu kata itu cukup.
Rayhan tersenyum, tetapi tidak ada hangat di senyum itu. “Bagus.”
Si pirang mundur setengah langkah. “Ray, tadi cuma bercanda.”
“Ulangi,” kata Rayhan.
“Apa?”
Rayhan berhenti tepat di depannya. Tingginya membuat si pirang terlihat seperti anak kecil yang salah masuk ruangan orang dewasa.
“Kata-katamu tadi.” Suara Rayhan rendah. “Ulangi di depan aku.”
Si pirang menelan ludah. “Gue cuma bilang...”
“Burung kenari?” Rayhan membantu dengan nada lembut yang justru lebih menyeramkan. “Simpanan murahan?”
Tidak ada yang berani bergerak.
Steven berdiri dari sofa. “Ray, dia mabuk. Biar anak buah bawa keluar saja.”
Rayhan tidak menoleh. “Duduk, Steve.”
Steven mengangkat kedua tangan, lalu duduk lagi. Wajahnya mengatakan bahwa ia sudah mencoba.
Rayhan mengangkat cerutu dari bibirnya. Ujungnya menyala merah.
Si pirang langsung pucat. “Ray, jangan nekat.”
“Nekat?” Rayhan memiringkan kepala. “Tadi kamu berani menyentuh perempuan saya.”
“Belum kena!”
“Karena aku keluar.”
Kalimat itu jatuh dingin.
Dua pengawal Rayhan masuk tanpa perlu dipanggil. Mereka menahan bahu si pirang dari belakang. Si pirang mulai meronta, tetapi tidak ada satu pun orang di ruangan yang berani membantu.
Keira berdiri di tempat yang sama. Matanya mengikuti gerakan Rayhan, tetapi wajahnya tetap tidak berubah.
Rayhan menekan ujung cerutu yang menyala ke bibir si pirang.
Jeritannya pecah.
Bau tembakau terbakar bercampur kulit hangus tipis memenuhi udara. Beberapa perempuan menutup mulut. Seseorang menjatuhkan gelas. Musik masih mengalun rendah, terlalu mewah untuk adegan sebrutal itu.
Rayhan menarik cerutu itu setelah satu detik yang terasa panjang.
“Mulut ini dipakai untuk menghina Keira,” katanya. “Jadi mulut ini yang belajar sopan.”
Si pirang terisak, bibirnya gemetar, matanya basah oleh rasa sakit dan malu.
Rayhan mengibaskan tangan. “Bawa keluar. Kirim tagihan medisnya ke keluarga Hsu. Sekalian bilang, kalau mereka keberatan, datang ke Hartono Group besok pagi.”
Pengawal menyeret si pirang keluar. Pintu tertutup. Ruangan masih kaku, seolah semua orang baru saja melihat hukum tidak tertulis tentang Rayhan berubah menjadi darah dan asap di depan mata mereka.
Rayhan akhirnya menoleh ke Keira.
Nada suaranya berubah. Tidak lagi tajam. Tidak lagi membawa ancaman.
“Capek?” tanyanya.
Keira menatapnya sebentar. “Aku baru lembur dua hari.”
“Berarti capek.”
“Aku bisa jalan sendiri.”
Rayhan sudah melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Keira. “Aku tidak tanya itu.”
Sebelum Keira sempat menolak, Rayhan membungkuk dan mengangkatnya dalam gendongan. Satu tangannya menopang punggung Keira, satu lagi di bawah lututnya.
Ruang VIP itu kembali menahan napas.
Keira memegang bahu Rayhan agar tidak jatuh. “Rayhan.”
“Hm?”
“Semua orang melihat.”
Rayhan melirik ruangan, dingin dan malas. “Bagus. Biar mereka tahu.”
Tidak ada yang berani tertawa.
Steven memijat pelipis sambil bergumam, “Selamat tinggal reputasi malam ini.”
Rayhan berjalan keluar membawa Keira seolah seluruh Velvet Lounge memang dibangun hanya untuk menjadi lorong bagi perempuan di pelukannya. Penjaga menunduk lebih dalam. Lift privat terbuka bahkan sebelum mereka sampai.
Di dalam lift, pantulan mereka terlihat di dinding baja mengilap. Keira di dalam jas hitam Rayhan, gaun satin yang sedikit kusut, wajah tenang, tahi lalat merah di ujung mata seperti api kecil yang tidak padam.
Rayhan menatap pantulan itu terlalu lama.
“Kalau lain kali ada yang bicara begitu lagi, telepon aku,” katanya.
“Aku bisa menampar sendiri.”
“Aku tahu.” Sudut bibir Rayhan naik tipis. “Itu masalahnya. Aku jadi tidak punya alasan untuk muncul.”
Keira meliriknya. “Kamu butuh alasan untuk muncul?”
“Untuk orang lain, iya.” Rayhan menunduk sedikit, napasnya menyentuh rambut Keira. “Untuk kamu, tidak.”
Pintu lift terbuka ke basement. Aston Martin hitam Rayhan sudah menunggu dengan mesin menyala. Sopir hendak turun, tetapi Rayhan memberi isyarat kecil. Pria itu langsung mundur dan membuka pintu belakang.
Rayhan meletakkan Keira di kursi belakang dengan hati-hati. Perbedaan cara tangannya menyentuh si pirang dan menyentuh Keira terlalu jauh sampai terasa tidak masuk akal. Kepada dunia, ia pisau. Kepada Keira, ia belajar menjadi sarungnya.
Begitu pintu tertutup, suara luar hilang.
Hanya ada napas mereka, aroma kulit jok mahal, sisa cerutu dari tubuh Rayhan, dan teh putih dari kulit Keira.
Rayhan duduk di sampingnya. “Tunjukkan tanganmu.”
“Tidak kena.”
“Kei.”
Keira diam sebentar, lalu menyerahkan tangannya.
Rayhan memeriksa telapak dan pergelangannya satu per satu. Ketika menemukan sedikit kemerahan di buku jarinya, alisnya langsung turun.
“Ini apa?”
“Akibat menampar orang.”
“Keras sekali?”
“Wajahnya cukup tebal.”
Rayhan tertawa rendah. Suara itu membuat ruang mobil yang sempit terasa berubah. Ia mengambil sapu tangan dari saku, membungkus buku jari Keira, lalu mencium pelan di atas kain.
“Lain kali pakai tanganku,” katanya.
Keira menarik tangannya, tetapi Rayhan menahannya.
“Ray.”
“Hm?”
“Kamu baru saja membakar mulut orang di depan banyak saksi.”
“Dia menghina kamu di depan banyak saksi.”
“Itu bukan jawaban.”
Rayhan menatapnya. Dalam cahaya redup basement, wajahnya tampak lebih muda dari reputasinya, tetapi matanya tetap milik pria yang terbiasa membuat orang tunduk.
“Untukku, itu jawaban.”
Keira tidak membalas.
Rayhan mengangkat tangan, ibu jarinya menyentuh tahi lalat merah di ujung mata Keira. Sentuhannya ringan, hampir takut merusak sesuatu.
“Mereka boleh menyebutmu apa pun,” katanya pelan. “Tapi di depanku, mereka harus ingat satu hal. Burung kenari ini milikku.”
Keira menatapnya lurus. “Aku bukan barang.”
“Aku tahu.”
“Kamu sering terdengar seperti tidak tahu.”
Rayhan tersenyum. Kali ini ada sesuatu yang lembut sekaligus berbahaya di sana. “Kalau kamu barang, aku sudah simpan di rumah dan tidak kubiarkan keluar dari pintu.”
“Itu seharusnya bukan kalimat romantis.”
“Aku sedang belajar.”
Keira hampir tersenyum, tetapi menahannya. Rayhan melihat gerakan kecil di bibirnya dan seperti menemukan seluruh hadiah malam itu.
Ia mendekat.
Keira tidak mundur.
Ciuman Rayhan jatuh di sudut matanya dulu, tepat di dekat tahi lalat merah itu, lalu turun ke pipi. Tidak terburu-buru. Tidak seperti pria yang baru saja membuat satu ruangan gemetar. Di dekat Keira, kekerasannya seperti dipaksa berlutut.
“Tidur,” katanya setelah menarik sabuk pengaman untuk Keira. “Aku antar pulang.”
“Kamu juga pulang?”
“Menurutmu aku mau ke mana?”
“Velvet masih penuh temanmu.”
“Temanku tidak punya tahi lalat merah di ujung mata.”
Keira akhirnya memejamkan mata. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tubuhnya sudah terlalu hafal pada rasa aman palsu yang Rayhan tawarkan, hangat, mahal, dan berkunci dari luar.
Aston Martin melaju keluar dari basement, membelah malam Jakarta yang basah.
Di sampingnya, Rayhan masih menggenggam tangan Keira seolah satu detik tanpa menyentuhnya bisa membuat perempuan itu menghilang.
Ia tidak tahu, di balik wajah tenang Keira, ada ruang gelap yang bahkan uang Hartono Group tidak bisa beli kuncinya.
Dan Keira sendiri tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa badai di dalam dirinya punya nama.
Gangguan bipolar.