NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Mantan Staf Klinik

Di balik jari yang hangat, Rayhan menyimpan satu keputusan dingin: siapa pun yang membuat Keira takut pada masa lalunya, akan ia temukan.

Keesokan paginya, keputusan itu tetap tinggal di matanya.

Keira tidak tahu. Ia hanya melihat Rayhan berdiri di depan TK Internasional, membantu Genki membetulkan tali tas. Wajahnya seperti biasa, dingin dan tenang, tetapi saat menatap Keira, suaranya melembut.

"Aku ada urusan malam ini."

Keira mengangguk. "Kerja?"

"Ya."

Itu bukan bohong sepenuhnya. Bagi Rayhan, mencari kebenaran tentang Keira sudah menjadi pekerjaan yang paling penting.

Genki langsung curiga. "Papa nggak ikut makan?"

"Tidak."

"Bagus."

Keira menahan tawa. "Genki."

"Kalau Papa kerja, Kak Kei sama Genki."

Rayhan menatap putranya. "Kamu terlalu senang."

"Iya."

Keira akhirnya tertawa kecil. Pagi itu, tawa itu menjadi bekal yang Rayhan simpan diam-diam sebelum memasuki malam yang lebih gelap.

Malamnya, pertemuan dilakukan di ruang privat sebuah restoran hotel di Jakarta Selatan. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Gio memilih tempat itu karena akses keluar-masuknya mudah diawasi, dan tamu tidak perlu melewati lobi utama terlalu lama.

Perempuan yang datang bernama Rina. Usianya sekitar empat puluhan akhir, memakai kemeja sederhana dan membawa tas kain lusuh. Begitu masuk, ia langsung melihat ke belakang, lalu ke jendela, seolah seseorang bisa muncul dari tirai.

Gio berdiri. "Bu Rina?"

Rina mengangguk kaku. "Saya tidak mau lama."

"Duduk," kata Rayhan.

Nada suaranya tenang, tetapi Rina tetap tampak gemetar. Ia duduk di kursi paling dekat pintu.

"Saya sudah tidak kerja di klinik itu," katanya cepat. "Saya tidak punya berkas. Kalau Bapak minta berkas, saya tidak bisa."

"Saya minta ingatan," jawab Rayhan.

Rina menatapnya.

Di atas meja, Gio meletakkan amplop berisi salinan administrasi yang sudah disamarkan. "Empat tahun lalu. Pasien inisial K.Y. Pembayaran dari Yanto."

Wajah Rina berubah.

Tidak banyak, tetapi cukup.

"Saya tidak ingat semua pasien."

"Tapi Anda ingat yang ini."

Rina menggenggam tas kainnya. "Kenapa Bapak mencari dia?"

"Karena ada orang yang menghapus hidupnya dari catatan."

Kalimat itu membuat mata Rina bergerak.

Ketakutannya belum hilang, tetapi ada sesuatu yang lebih tua dari takut: rasa bersalah.

"Dia masih hidup?" tanya Rina pelan.

Rahang Rayhan mengeras. "Ya."

Rina menutup mata sebentar. "Syukurlah."

Gio dan Rayhan saling melirik cepat.

"Kenapa Anda berkata begitu?" tanya Rayhan.

Rina mengusap wajahnya. "Waktu itu dia datang sangat muda. Kurus, pucat, seperti orang yang baru selesai berjuang hidup. Dia tidak sadar penuh. Kadang bangun, menangis, lalu memanggil bayi."

Jari Rayhan di atas meja berhenti.

"Bayi?" suaranya rendah.

Rina mengangguk. "Saya tidak tahu detail medisnya. Saya staf administrasi malam, bukan perawat. Tapi saya dengar dari perawat jaga, pasien itu terus bertanya bayinya di mana."

Ruang privat terasa menyempit.

"Apa jawaban keluarga Yanto?" tanya Gio.

Rina menelan ludah. "Mereka bilang tidak ada bayi. Katanya pasien mengalami gangguan akibat tekanan, jadi membayangkan hal-hal yang tidak ada."

Rayhan tidak bergerak.

Namun udara di sekitarnya berubah.

Rina cepat menunduk. "Saya hanya mengulang yang saya dengar."

"Siapa dari Yanto yang datang?"

"Seorang perempuan. Rapi, galak. Saya pikir ibunya. Ada juga laki-laki beberapa kali, tapi jarang turun dari mobil."

"Meilan Yanto dan Fengky Yanto," kata Gio.

Rina tidak membantah.

"Ada anak lain? Perempuan muda lain?" tanya Rayhan.

Rina berpikir. "Saya pernah melihat perempuan muda datang sekali. Cantik, bajunya bagus. Dia tidak masuk ke ruang pasien, hanya bicara dengan perempuan yang lebih tua di koridor. Saya ingat karena dia tertawa kecil waktu pasien di dalam menangis."

Gio mencatat cepat.

Rayhan menatap Rina. "Namanya?"

"Saya tidak dengar."

Kiara.

Nama itu muncul di kepala Rayhan, tetapi ia belum mengucapkannya.

"Berkas pasien ke mana?" tanya Gio.

"Setelah beberapa bulan, ada orang datang membawa surat kuasa. Berkas dipindah ke arsip tertutup. Kami dilarang membicarakan. Dua staf yang banyak bertanya dipindahkan."

"Dipindahkan ke mana?"

"Satu keluar sendiri. Satu lagi saya tidak tahu."

Rina membuka tasnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah kusut. "Saya tidak punya berkas, tapi saya simpan ini. Dulu saya takut. Sekarang saya juga takut. Tapi kalau perempuan itu masih hidup..."

Ia mendorong kertas itu ke meja.

Di sana tertulis nomor kode pasien, tanggal masuk, dan satu catatan pendek dari jadwal kunjungan lama.

Keluarga menolak membawa informasi tentang bayi kepada pasien.

Rayhan membaca kalimat itu sekali.

Lalu dua kali.

"Bayi itu ada," katanya.

Rina menggigit bibir. "Saya tidak lihat langsung. Tapi seorang perawat pernah bilang, pasien baru melahirkan. Bayinya laki-laki."

Gio berhenti menulis.

Di luar ruang privat, suara sendok beradu piring terdengar samar.

Rayhan menutup kertas itu dengan telapak tangannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi Gio yang duduk di dekatnya melihat urat di punggung tangannya menegang.

"Bu Rina," kata Rayhan, suaranya sangat pelan, "mulai malam ini, Anda dalam perlindungan saya."

Rina menatapnya dengan mata basah.

"Saya hanya ingin tidak dikejar lagi."

"Tidak akan."

"Siapa yang mengejar Anda?"

Rina menggeleng cepat. "Saya tidak tahu nama. Setelah saya keluar dari klinik, dua kali ada orang datang ke rumah kontrakan. Mereka bilang saya tidak perlu mengingat pasien lama. Mereka tahu tempat kerja suami saya waktu itu. Tahu sekolah anak saya."

Gio mengangkat wajah.

"Kapan terakhir mereka datang?"

"Tahun lalu. Setelah itu tidak ada. Tapi setiap kali ada mobil berhenti lama di depan rumah, saya masih takut."

Rayhan menatap Gio. "Atur tempat aman. Malam ini."

"Baik, Pak."

"Tidak perlu mewah," kata Rina cepat. "Saya tidak mau menarik perhatian."

"Justru karena itu Gio yang mengatur."

Gio mengangguk. "Saya siapkan unit apartemen sederhana atas nama perusahaan vendor. Tidak ada nama Harto. Nomor baru juga."

Rina memegang tasnya lebih erat. "Kalau saya bicara, keluarga itu bisa hancur?"

Rayhan menatapnya. "Kalau yang Anda katakan benar, yang menghancurkan keluarga itu bukan Anda."

Air mata Rina jatuh satu, cepat ia hapus.

"Masih ada orang yang tahu lebih banyak," katanya. "Perawat kepala waktu itu. Dia yang beberapa kali masuk saat pasien K.Y. histeris. Saya tidak punya kontaknya, tapi saya ingat dia pindah setelah bertengkar dengan dokter penanggung jawab."

"Alasannya?"

"Dia menolak menulis ulang catatan malam pertama pasien masuk."

Rayhan menyimpan informasi itu dalam diam.

"Gio."

"Saya cari orangnya, Pak."

Ponsel Rayhan menyala.

Kei.

Genki sudah tidur. Dia titip pesan: Papa jangan lupa makan.

Rayhan menatap pesan itu, lalu kertas di bawah tangannya.

Bayi laki-laki.

Genki.

Tangannya bergerak membalas Keira dengan kalimat sederhana.

Aku sudah makan. Terima kasih.

Tetapi di dalam dadanya, satu dugaan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!