Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Sang Penguasa
Langkah kaki Elvan bergema tegas di atas lantai marmer lobi utama rumah sakit, berpadu dengan kepanikan terselubung yang merayap di dadanya. Pria itu terus berjalan melewati barisan kursi tunggu tanpa menoleh sedikit pun. Jaket jinsnya yang lusuh sengaja ia kancingkan rapat, menyembunyikan getaran amarah yang membakar otot-otot tubuhnya. Di luar, cuaca kota Jakarta siang itu terasa sangat terik, menciptakan fatamorgana panas di atas aspal hitam, sekontras emosinya yang berada di titik didih.
Elvan melangkah keluar menuju area parkir belakang yang lebih sepi, menjauh dari jangkauan kamera pengawas publik dan kerumunan pengunjung. Ia berdiri di bawah bayangan pohon beringin besar, menatap layar ponsel pintarnya yang retak. Tepat tiga puluh menit sejak panggilan terakhirnya, sebuah pesan singkat masuk dari Bram. Pesan itu berisi sebuah koordinat lokasi gudang tua di kawasan pergudangan pasar induk, lengkap dengan nama bos rentenir yang mengancam Aluna: kubu preman pimpinan harimau pasar bernama target, (Gito Si Tangan Besi)
Sebuah senyum dingin, nyaris tak terlihat, terukir di sudut bibir Elvan. "Gito," batinnya. Nama yang terdengar besar di kalangan preman kelas teri, namun tidak lebih dari sebutir debu di bawah kaki kekaisaran bisnis Adhitama Group.
Belum sempat Elvan memasukkan kembali ponselnya, sebuah mobil minibus hitam dengan kaca super gelap perlahan berhenti tepat di depannya. Pintu geser mobil itu terbuka dengan halus tanpa suara. Di dalam kabin yang sejuk oleh pendingin udara mewah, duduk Bram dengan setelan jas hitam rapi. Pria paruh baya itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu melihat sang tuan muda.
"Tuan Muda Elvan," ucap Bram dengan nada sangat hormat. Ia segera menyerahkan sebuah koper kulit hitam berukuran sedang yang diletakkan di kursi sampingnya. "Semua perintah Anda telah dilaksanakan. Di dalam koper ini ada uang tunai dua ratus juta rupiah dalam pecahan seratus ribu baru, persis seperti yang Anda minta. Tim keamanan rahasia kami juga sudah mengepung radius lima ratus meter dari gudang Gito. Anda hanya perlu memberi perintah, dan kami akan meratakan tempat itu."
Elvan menerima koper hitam itu. Bobotnya terasa nyata di tangannya, namun baginya, isi koper ini hanyalah alat tukar untuk membeli ketenangan hidup istrinya.
"Tahan timmu, Bram," ujar Elvan dengan suara bariton yang dingin dan sarat akan otoritas mutlak. "Jangan ada yang bergerak sebelum aku memberikan sinyal. Aku ingin mendatangi mereka sendirian terlebih dahulu. Tikus-tikus pasar seperti mereka harus diberi pelajaran tentang siapa yang mereka hadapi, agar mereka tidak akan pernah berani lagi menatap mata istriku, bahkan dalam mimpi mereka sekalipun."
"Tapi, Tuan Muda, itu terlalu berbahaya bagi keselamatan Anda—"
"Keputusanku sudah bulat," potong Elvan dengan tatapan mata elang yang seketika menciutkan nyali Bram. "Tetap di posisimu dan awasi jalur keluar rumah sakit. Pastikan tidak ada satu pun anak buah Gito yang mencoba menyusup kembali ke kamar rawat inap Pak Kusuma."
"Baik, Tuan Muda," jawab Bram patuh, tidak berani membantah lebih jauh.
Elvan menutup kembali pintu mobil geser itu dengan hentakan pelan. Dengan koper hitam di tangan kanannya, ia berjalan keluar dari area rumah sakit melalui gerbang samping, menyetop sebuah taksi konvensional untuk membawanya menuju kawasan pasar induk. Penyamarannya sebagai pria serabutan masih melekat pada pakaiannya, namun kini ia membawa senjata terkuatnya kembali: kekuasaan dan kekayaan Adhitama.
Sementara itu, di lantai dua Ruang Dahlia Kamar 204, waktu seakan berjalan laksana siksaan bagi Aluna. Sudah hampir empat puluh lima menit sejak Elvan pamit keluar untuk mencari udara segar dan membelikan minuman hangat. Namun, hingga detik ini, sosok suaminya itu belum juga memunculkan batang hidungnya di ambang pintu.
Aluna berjalan bolak-balik di ruang sempit di antara tempat tidur ayahnya dan dinding kamar. Jari-jarinya terus meremas saputangan kecil dengan cemas. Setiap kali pintu kamar terbuka karena perawat yang masuk memeriksa pasien lain, jantung Aluna mencelos berharap itu adalah Elvan. Namun, kekecewaan demi kekecewaan terus menghantamnya.
"Alu ... na ..." panggilan lemah dari tempat tidur membuat Aluna menghentikan langkahnya dan bergegas mendekat.
Pak Kusuma menatap putrinya dengan pandangan sayu. Pengaruh obat penenang dari dokter membuat bicaranya sedikit lambat, namun kecemasan seorang ayah masih terpancar jelas dari matanya. "Di mana ... di mana suamimu, Nak? Kenapa ... kenapa dia belum kembali?"
Aluna mencoba memaksakan seulas senyum menenangkan di wajahnya yang pucat, meskipun hatinya sendiri sedang digerogoti oleh ketakutan yang luar biasa. "Mas Elvan mungkin sedang mencari kantin yang tidak terlalu ramai, Ayah. Atau mungkin antrean minumannya panjang. Ayah tidak perlu cemas, Mas Elvan pria yang kuat. Dia pasti kembali sebentar lagi."
Aluna mengusap dahi ayahnya yang mulai berkeringat dingin hingga pria tua itu kembali memejamkan mata untuk beristirahat.
Begitu ayahnya tertidur, senyum palsu di wajah Aluna instan runtuh. Ia berjalan menuju jendela kamar, menatap ke arah halaman bawah rumah sakit dengan perasaan campur aduk.
Pikiran buruk mulai menari-nari di kepala Aluna. ("Apakah Mas Elvan pergi meninggalkanku?") Bisikan jahat itu mendadak muncul di sudut hatinya. Logikanya kembali berputar. Hubungan mereka baru berjalan kurang dari dua puluh empat jam.
Elvan hanyalah orang asing yang secara tidak sengaja terlibat dalam masalah hidupnya. Pria itu tidak memiliki kewajiban moral apa pun untuk menanggung utang dua ratus juta rupiah dari kakak tirinya, Doni. Ditambah lagi dengan ancaman pembunuhan dan teror dari preman rentenir yang baru saja mereka terima lewat telepon tadi.
("Siapa pria normal yang mau mempertaruhkan nyawanya demi wanita yang baru dinikahinya secara siri demi hutang judi keluarga orang lain?") Aluna mencengkeram pembatas jendela besi dengan erat. Air mata frustrasi kembali mengambang di pelupuk matanya.
Rasa sakit akibat pengkhianatan Kafka semalam membuat tingkat kepercayaan Aluna berada di titik terendah. Ia takut, sangat takut jika Elvan akhirnya memilih untuk mundur dan melarikan diri, menyelamatkan dirinya sendiri dari pusaran masalah yang begitu pekat ini.
"Mas Elvan ... tolong jangan tinggalkan aku," bisik Aluna lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah. "Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi jika Mas juga pergi ..."
Aluna mengambil ponsel rusaknya dari atas meja. Jari-jarinya gemetar saat mencoba mencari nomor kontak Elvan. Namun, ia baru menyadari satu kenyataan pahit: semalam dalam kepanikan, mereka bahkan belum sempat saling bertukar nomor telepon pribadi. Mereka tinggal bersama di kontrakan sempit hanya bermodalkan kepercayaan dan takdir yang saling mengikat di lorong rumah sakit. Keberadaan Elvan laksana misteri yang datang dan pergi begitu cepat.
Di tengah kepanikan Aluna yang kian memuncak, di sudut lain kota, tepatnya di dalam sebuah gudang tua yang berbau apek dan minyak industri di kawasan pasar induk, suasana tidak kalah menegangkan.
Gudang itu dipenuhi oleh tumpukan peti kayu kosong dan ban-ban bekas. Di tengah ruangan, duduk seorang pria bertubuh kekar dengan kaos singlet hitam dan celana jins belel. Wajahnya dihiasi oleh bekas luka tembak di pipi kiri, memberikan kesan kejam yang sangat intimidatif. Dialah Gito, sang bos rentenir. Di sampingnya, Doni duduk berlutut di atas lantai semen dengan wajah yang babak belur, dipenuhi memar akibat pukulan anak buah Gito subuh tadi.
"Jadi, adik perempuanmu itu bersembunyi di rumah sakit?" tanya Gito sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke wajah Doni yang gemetar ketakutan.
"I ... iya, Bos Gito. Saya bersumpah!" ratap Doni dengan suara serak, memohon belas kasihan. "Aluna pasti ada di sana menunggu Ayah. Dia anak yang berbakti. Dia pasti akan melakukan apa saja demi keselamatan Ayah. Tolong jangan pukul saya lagi, Bos. Tangkap saja Aluna, dia punya tubuh yang bagus, Bos bisa menjualnya atau menjadikannya jaminan sampai utang saya lunas!"
Gito tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema kasar di dalam gudang kosong itu, disambut oleh kekehan dari lima orang anak buahnya yang berjaga di sekeliling ruangan dengan memegang balok kayu dan pipa besi. "Kamu benar-benar kakak yang bajingan, Doni. Menjual adik kamu sendiri demi melunasi utang judi. Tapi aku suka caramu berpikir. Bisnis tetaplah bisnis."
Tepat ketika Gito hendak berdiri untuk memberikan perintah kepada anak buahnya agar bergerak kembali ke rumah sakit, suara deburan keras mendadak terdengar dari arah pintu depan gudang.
Brak!
Pintu besi besar gudang yang semula terkunci rapat dari dalam berderit hebat, sebelum akhirnya engselnya jebol dan terhempas terbuka lebar akibat satu tendangan yang luar biasa kuat dari luar. Debu-debu semen beterbangan di udara, memotong cahaya matahari siang yang masuk ke dalam ruangan yang remang-remang tersebut.
Seketika itu juga, seluruh pasang mata di dalam gudang menoleh ke arah pintu dengan ekspresi terkejut dan senjata yang langsung terangkat siap siaga.
Di ambang pintu yang terbuka, berdiri tegap sesosok pria tinggi besar dengan jaket jins lusuh dan kaus polos hitam. Wajah tampannya tertutup sebagian oleh bayangan topi hitam yang sengaja ia turunkan sedikit ke depan.
Di tangan kanan pria itu, bertengger sebuah koper kulit hitam yang tampak sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana.
Elvan berdiri di sana sendirian, tanpa pengawal, tanpa senjata di tangannya. Namun, aura membunuh dan tekanan intimidasi yang terpancar dari tubuh tegapnya begitu pekat hingga membuat udara di dalam gudang itu mendadak terasa sangat tipis dan menjepit tenggorokan siapa saja yang bernapas di dalamnya.
"Siapa kamu?!" bentak Gito dengan nada kasar, meletakkan rokoknya dan berdiri dari kursi kayu, matanya menatap tajam ke arah penyusup misterius itu.
Elvan melangkah masuk ke dalam gudang dengan sangat tenang, langkah kakinya terdengar teratur di atas lantai semen yang berdebu. Ia mengabaikan kepungan lima anak buah Gito yang mulai bergerak mengelilinginya dari berbagai arah.
Pandangan mata elangnya terkunci rapat pada sosok Gito di depan sana, lalu beralih sekilas pada Doni yang gemetar di lantai.
"Aku adalah pria yang memegang hak mutlak atas wanita yang baru saja ingin kalian jual," ucap Elvan dengan suara bariton yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh kepastian yang mematikan. Ia mengangkat koper hitam di tangannya sedikit ke atas. "Aku datang untuk menyelesaikan urusan utang piutang ini dengan caraku sendiri. Dan aku sarankan ... kalian bersiap untuk menerima akibat dari setiap kata ancaman yang kalian ucapkan di telepon tadi."
Konfrontasi besar di dalam gudang gelap pasar induk itu akhirnya resmi dimulai, menjanjikan kehancuran total bagi siapa saja yang berani menyentuh garis batas yang telah ditetapkan oleh sang pewaris rahasia Adhitama Group demi melindungi belahan jiwanya yang sedang menangis di kamar rumah sakit.