Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Catatan Sipil
"Enam belas tahun."
Mata Ning langsung panas.
Perawat yang datang memanggil nama mereka membuat pertanyaan Ning tertahan di tenggorokan. Kevin berdiri lebih dulu, seolah jawaban barusan bukan pisau kecil yang baru saja diletakkan di antara mereka.
"Pemeriksaan darah dulu, Bu Ning," kata perawat ramah.
Bu Ning.
Hari ini semua orang seperti sudah lebih dulu menerima sesuatu yang bahkan Ning sendiri belum sempat pahami.
Pemeriksaan berlangsung cepat. Darah diambil, tekanan darah dicek, dokter memberi obat penurun panas dan menyarankan istirahat. Di sela proses itu, Jovi bergerak seperti mesin yang diberi bahan bakar uang dan koneksi. Ia mengurus dokumen KTP, KK, akta kelahiran, surat baptis, surat belum menikah, sampai menghubungi pendeta yang bersedia melakukan pemberkatan sederhana di kapel kecil rumah sakit.
Tidak megah. Tidak ada gaun putih. Tidak ada bunga.
Hanya kapel sepi, salib kayu di dinding, Kevin berdiri di samping Ning, dan suara pendeta yang tenang.
Ning memegang buket kecil yang dibeli Jovi dari toko bunga rumah sakit. Isinya lily putih dan daun hijau yang masih basah oleh semprotan air. Ia hampir tertawa saat melihatnya, karena bahkan dalam keadaan terburu-buru, Jovi tetap memilih bunga yang tidak memalukan.
Ketika pendeta meminta mereka saling menatap, Kevin menoleh lebih dulu.
Ning melihat mata merah itu lagi.
"Apakah kalian memasuki pernikahan ini dengan kehendak bebas?"
Ning tahu jawaban yang benar untuk dunia adalah iya.
Jawaban yang benar untuk hatinya jauh lebih kacau.
Ia ingin pulang. Ia ingin masuk ke rumah Menteng sebagai dirinya sendiri. Ia ingin memeluk Kian dan berkata, Mama kembali. Tapi ia juga tahu satu langkah salah bisa membuat anak itu terluka lebih dalam.
Maka ia mengangguk.
"Iya."
Kevin menjawab setelahnya, suara rendah dan mantap. "Iya."
Siang menjelang sore, mereka tiba di Kantor Catatan Sipil. Gedung itu seharusnya tidak membuka layanan biasa pada Sabtu sore, tapi satu ruang kecil tetap menyala. Tidak ada keramaian. Tidak ada antrean panjang. Hanya petugas yang sangat sopan, dua saksi dari tim legal Kevin, dan Jovi yang berdiri dengan map tebal di tangan.
Semua legal.
Terlalu cepat, tapi legal.
Ning membaca namanya di formulir. Ning Tju. Kevin Nie. Agama: Kristen Protestan. Status sebelumnya: belum menikah untuk identitas Ning yang sekarang, duda untuk Kevin. Di satu baris, hidup mereka yang mustahil dipaksa masuk ke kotak-kotak administrasi yang rapi.
"Silakan tanda tangan di sini."
Pena di tangan Ning terasa berat.
Kevin tidak mendesaknya. Ia hanya berdiri di samping, tangan kirinya terbuka di atas meja. Cincin polos itu masih di sana, menangkap cahaya lampu kantor.
Ning menandatangani namanya.
Setelah Kevin menandatangani bagian miliknya, petugas menempelkan cap, memeriksa berkas terakhir, lalu menyerahkan dua map resmi.
"Selamat, Pak Kevin, Bu Ning. Akta perkawinan akan diproses final dan salinan resminya dikirim sesuai alamat yang tercatat."
Ning menatap map itu.
Tidak ada musik. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pesta.
Tapi jantungnya berdetak begitu keras sampai ia hampir tidak mendengar suara kursi digeser.
Ia menikah lagi dengan Kevin.
Di kehidupan yang bukan tubuh lamanya. Di kota yang sama. Dengan nama yang sama, tapi luka yang berbeda.
Saat mereka keluar dari gedung, suara hak sepatu terdengar cepat dari arah parkiran.
"Kevin?"
Seorang perempuan paruh baya berpenampilan rapi berhenti beberapa langkah dari mereka. Tas branded tergantung di lengannya, rambut blow sempurna, mata tajam seperti orang yang terbiasa membaca gosip sebelum gosip itu lengkap.
Kevin menoleh. "Helena."
Helena Ko menatap Ning dari kepala sampai kaki. Senyumnya sopan, tapi rasa ingin tahunya jelas tidak sopan.
"Saya kira salah lihat. Sabtu sore di Catatan Sipil?" Helena tertawa kecil. "Ada urusan keluarga?"
Kevin menggenggam tangan Ning.
Gerakannya begitu alami sampai Ning terlambat bernapas.
"Kenalkan," kata Kevin, tanpa jeda, tanpa ragu. "Ini istri saya, Ning."
Wajah Helena membeku selama satu detik.
Satu detik itu sangat memuaskan.
"Istri?" ulangnya.
"Ya."
"Kevin Nie menikah?"
"Hari ini."
Helena menatap map di tangan Jovi, lalu cincin lama di tangan Kevin, lalu kembali ke wajah Ning. Di kepalanya, Ning nyaris bisa mendengar roda gosip berputar.
"Selamat," kata Helena akhirnya, senyumnya makin lebar. "Tentu saja... selamat. Nanti kita harus makan malam, ya."
"Nanti," jawab Kevin singkat.
Begitu mereka masuk mobil, ponsel Jovi bergetar berkali-kali.
Ia melihat layar, lalu menatap kaca spion dengan wajah profesional yang sedikit retak.
"Pak, grup WhatsApp Menteng Enclave sudah ramai."
Ning spontan menoleh. "Secepat itu?"
Jovi mengangguk. "Nyonya Ko sangat efisien dalam hal tertentu."
Kevin tampak tidak terganggu. "Biarkan."
Jovi membaca beberapa pesan masuk dengan suara datar.
"Kevin Nie menikah? Dengan siapa?"
"Saya baru lihat di Catatan Sipil. Muda sekali."
"Bukan keluarga besar yang biasa muncul di arisan."
"Apa Kian sudah tahu?"
Kalimat terakhir membuat Ning diam.
Kevin menutup map pernikahan di pangkuannya. "Kian akan tahu dari aku."
Mereka tidak langsung kembali ke Menteng. Karena obat Ning harus diminum setelah makan, Kevin meminta sopir berhenti di sebuah kedai mi kecil milik keluarga Tionghoa tidak jauh dari rumah sakit. Tempatnya bersih, sempit, dengan kipas angin berputar lambat dan aroma kaldu ayam memenuhi ruangan.
Ning duduk di meja sudut, masih memakai kardigan tipis, sementara Kevin memesan mi ayam jahe dan teh hangat.
"Kamu harus makan," katanya.
"Saya tahu."
"Ning."
Panggilan itu membuat sumpit di tangan Ning berhenti.
Ia menatap uap mi yang naik di depan wajahnya. Setelah resmi menjadi istri Kevin yang sekarang, justru panggilan itu menusuk lebih dalam.
Ning.
Nama itu miliknya.
Tapi nama itu juga milik perempuan yang mati enam belas tahun lalu.
Kevin memanggilnya seperti apa? Seperti perempuan asing bernama sama yang kebetulan bisa menenangkan Kian? Atau seperti bayangan istri lama yang belum selesai ia cintai?
Ia melirik tangan kiri Kevin. Cincin polos itu masih di sana.
Mereka baru saja menikah, tapi cincin pernikahan lama tetap melingkar di jari pria itu. Ning seharusnya tersinggung sebagai istri baru. Tapi sebagai Ning yang dulu, ia ingin menangis karena pria ini tidak pernah melepaskannya.
"Kamu sedang memikirkan cincin ini," kata Kevin tiba-tiba.
Ning tersentak.
"Tidak."
"Kamu juga memikirkan namamu."
Ia menunduk lebih dalam. "Pak Kevin terlalu pandai membaca orang."
"Aku tidak pandai membaca orang." Kevin mengambil gelas teh, meletakkannya lebih dekat ke tangan Ning. "Aku hanya memperhatikan kamu."
Ning menggenggam gelas itu. Hangatnya meresap ke telapak tangan.
"Saat Bapak memanggil saya Ning," katanya pelan, "Bapak sedang memanggil siapa?"
Kevin menatapnya.
Di luar kedai, motor lewat dengan suara knalpot kasar. Di meja sebelah, seorang bapak mengaduk sambal. Dunia tetap berjalan, tidak tahu bahwa satu pertanyaan kecil sedang mengguncang dada Ning.
Kevin menjawab dengan suara rendah.
"Aku memanggil kamu."
Ning mengangkat wajah.
"Bukan bayangan. Bukan pengganti." Kevin berhenti sebentar, seolah menahan kalimat yang lebih berbahaya. "Aku memanggil kamu, Ning."
Mata Ning panas lagi.
Kali ini ia tidak tahu apakah demamnya yang naik, atau hatinya yang terlalu penuh.
Sore itu, setelah mengantar Ning kembali ke rumah sakit untuk mengambil obat tambahan, Kevin berdiri di depan pintu mobil.
"Aku harus pulang ke Menteng sebentar."
Ning sudah bisa menebak. "Kian?"
Kevin mengangguk.
"Dia akan marah."
"Aku tahu."
"Jangan paksa dia menerima saya hari ini."
Kevin menatapnya lama. "Aku tidak akan memaksanya."
Tapi ada sesuatu di suara Kevin yang membuat Ning sadar: pria itu bukan hanya akan mengatakan bahwa ia menikah lagi. Ada hal lain. Sesuatu yang lebih besar.
Malamnya, di Menteng Enclave, lampu ruang permainan masih menyala.
Kian duduk di depan layar besar, headset menggantung di leher, jari-jarinya bergerak cepat di controller. Di pojok layar, nama karakter yang ia mainkan berkedip setiap kali menang.
`mama_ning`
Kevin berhenti di ambang pintu.
Nama itu menghantamnya lebih keras daripada laporan apa pun.
Kian tidak menoleh. "Kalau mau marah soal nilai, nanti aja. Gue lagi ranked."
Kevin masuk, lalu duduk di sofa di belakangnya.
"Aku mau memberi tahu kamu sesuatu."
"Apa?"
Kevin menatap punggung anaknya.
"Tentang Ning." Suaranya rendah. "Tentang mamamu."
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya