Yuna gadis yang usianya sudah cukup matang nan pekerja keras memiliki sifat terbilang sedikit galak. Sejak dulu hingga sekarang kedua orang tua Yuna meminta dirinya untuk menikah. Namun, permintaan itu Yuna tolak keras dengan alasan Yuna masih ingin bebas dan masih mau berkarir sebagai guru PNS di Sekolah SMA Bakti.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Sebuah peristiwa mempertemukan dirinya dengan seorang pria bernama Biansyah Hermawan yang terkenal tukang onar di sekolahnya SMA Taruna.
Hingga pada akhirnya pernikahan beda umur itu terjadi dalam sekejap.
Bagaimana Yuna menyikapi pernikahannya bersama Bian yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan
Yuna ikut masuk di dalam kamar Bian. Duduk di atas kasur dan melihat Bian terlihat frustasi.
"Bian, kamu kenapa?" tanya Yuna.
"Mbak, aku sakit, aku sakit melihat Rian menatap Mbak begitu lembut. Aku tidak suka! Mbak mau tanya lagi aku kenapa? Aku sakit, Mbak, Sakit karena ...."
"Cemburu?"
"Iya, aku cemburu karena aku sangat mencintaimu. Hanya aku yang bisa memilikimu. Hanya aku, Mbak. Aku tidak ingin ada pria lain di hati, Mbak. Camkan itu. Kau adalah istriku, kau adalah milikku. SELAMANYA." Bian Kembali diam.
Bian tertunduk dengan rasa sakit yang dirasakannya.
Melihat Bian terpuruk, Yuna pun mendekap Bian dengan penuh cinta seorang istri pada suaminya.
"Aku mengerti perasaan kamu, Bian. Aku bahkan tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Aku ada di sini untukmu, Bian. Kau tidak sendiri. Aku juga ... mencintaimu, Bian," ungkap Yuna dari hati paling dalam. "Terimakasih, Bian. Kau begitu tulus mencintai aku walau aku sudah berumur seperti ini."
Bian langsung membalas pelukan Yuna dan juga memeluk Yuna dengan hangat. Puas hal itu, Yuna dan bian pun sama-sama terdiam. Yuna menatap Bian yang tertunduk.
"Bian, aku ingin jujur sesuatu padamu. Aku tidak ingin ada satupun rahasia di antara kita." ungkap Yuna terlihat ragu apa yang terjadi jika dirinya usai menjelaskan.
"Apa itu, Mbak. Katakanlah," ujar Bian menatap Yuna dan menggenggam tangannya.
"Kamu janji tidak marah?" tanya Yuna sebelum berkata jujur pada Bian. Tiba-tiba air mata Yuna lolos begitu saja. Yuna ingat bagaimana sakitnya saat itu.
"Hei, Kenapa menangis? Sayang, ada apa? Aku akan mendengar ceritamu. Aku janji tidak akan marah." ujar Bian penasaran.
"Bian, sebenarnya, dulu aku dan Rian itu satu sekolah waktu SMA. Awal pertemuan kami, saat kami sama-sama siswa baru yang kebetulan hari itu kami sedang ospek dan mendapat hukuman karena sama-sama terlambat. Hingga waktu terus berjalan aku dan Rian menjalin hubungan. Namun di suatu hari, tepat ulang tahunku yang ke-19 tahun, Rian selingkuh dengan wanita lain di sebuah hotel. Jadi, Rian Itu sebenarnya ... mantan pacar aku waktu SMA, Bian." ungkap Yuna penuh kesungguhan.
Deg!"
Apa yang ada dalam pikiran Bian sebelumnya, jika Yuna dan Rian ada sesuatu, ternyata benar adanya.
"Bian, kenapa kamu? Jangan marah ya... " Yuna menegur Bian karena Bian langsung diam. Ada rasa takut dalam diri Yuna bian akan sangat marah.
Bian langsung beranjak dari tempat duduknya. Matanya terlihat memerah. Menggertakkan gigi nya dan bernapas cepat dan mengepalkan tangannya dengan sangat sempurna.
Yuna Ikut berdiri melihat Bian menuju jendela. melihat Bian diam seribu bahasa, Yuna langsung memeluk Bian dari belakang. Yuna bisa melihat bagaimana Bian menahan gejolak amarah itu.
"Keluarkanlah kesedihan dan amarah itu. Jangan kamu pendam, Bian. Aku siap jadi pelampiasan amarahmu malam ini, Tapi jangan sakiti dirimu sendiri seperti ini. Aku mohon!" Yuna membenarkan kepalanya di punggung Bian.
Bian berbalik, Yuna melepaskan pelukannya. Bian menatap Yuna dan bertanya. "Mbak, mencintaiku?"
Yuna berbicara pelan dan lirih
"Iya. Aku mencintaimu sebagai suamiku."
Wajah Bian langsung berubah. terlihat amarah itu langsung pudar. "Benar?" tanya Bian.
"Iya. Benar," Melakukan sedikit kontak mata dengan Bian. Ingin rasanya Yuna menghilang atau bersembunyi di suatu tempat menggunakan pintu doraemon. Pipinya bersemu merah, tersipu malu.
"Sungguh?" tanya Bian lagi memastikan kesungguhan Yuna.
"Mm..." jawab Yuna dengan anggukan. andai ada cermin ajaib, Yuna ingin katakan, 'wahai cermin ajaib lenyapkan aku sekarang.'
Bian meraih pinggang Yuna dan berkata, "Jika aku menginginkan dirimu malam ini, apa kamu siap?"
Yuna diam. Ada rasa takut dengan pertanyaan Bian dan rasa tidak percaya diri. dan ada pula rasa ingin berteriak keras. Jantung Yuna berdenyut hebat.
"Mbak meragukan aku?" goda Bian lagi.
Yuna menghindari tatapan mata Bian yang begitu menyorot masuk tembus jantungnya. Yuna menggertakkan gigi-giginya dan
seperti ada kupu-kupu diperut. Yuna mengigit bibir bawahnya.
"Hei, kau ragukan aku?" ulang Bian.
"Bu... bu... Bukan... seperti itu. Tapi, ...."
"Kenapa Mbak terlihat takut padaku, ha?" Bian hampir saja tertawa melihat Yuna merona.
Yuna melepaskan diri dan menghadap jendela dan melihat ke arah luar jendela. Tampak lampu-lampu diperkotaan yang sangat jelas terlihat dari tempat tersebut.
"Hei, kenapa tidak mau melihat aku, ha?" Bian berbisik ditelinga Yuna.
"Bian aku...."
"Kamu takut, kan? Apa yang membuat Mbak Yuna takutkan?" ujar Bian dan berbisik di telinga Yuna yang membuat Yuna melebarkan matanya.
Yuna berbalik dan memukul dada Bian dengan lembut. "Ih, Dasar!"
"Aku pria normal, Mbak. Ya wajar dong. Salahnya di mana, Ayo jawab?"
"Iya, aku tahu. Hanya aku yang bisa ... Tapi, jangan terlalu jujur juga kali ...." Yuna cemberut.
"Yun?" panggil Bian.
"Mm... "
"Kok, mm, Sih?" goda Bian lagi.
"Apa, Bian?"
"Mau ya?" tanya Bian pada istrinya.
Yuna menganggukkan kepalanya dengan menutup wajahnya. Begitu Bian Akan mendaratkan ke sana. Sebuah panggilan telepon masuk.