NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling membantu

Saat sudah kembali Dia melihat Glen yang kaki nya tertimpa ranting, padahal saat Amara lewat tidak ada ranting, wanita itu langsung membantu nya sebelum hewan-hewan itu sudah semakin dekat.

"Kok bisa sih ada ranting? Padahal tadi tidak ada?" gerutu wanita itu sambil menyingkirkan ranting itu, hingga tinggal sedikit lagi hewan buas itu semakin dekat.

"Sial banyak banget," umpat nya langsung mengambil sesuatu dari tas nya.

Dor..Dor....Dor

Amara menembak beberapa hewan buas itu, namun hewan nya justru malah semakin berdatangan.

Sedangkan Glen yang sudah berusaha keras terlepas dari ranting itu, malah bersorak gembira.

"My istri tembak lagi, kau memang keren," ucap nya sambil bertepuk tangan.

"Lari bodoh, mereka semakin banyak, malah bersorak gembira." umpat Amara langsung menarik tangan Glen dan lari.

Pria itu pun terseok-seok dengan cara lari istri nya yang terlihat lincah, sedangkan dirinya harus berusaha menyeimbangkan kaki panjang nya agar tidak jatuh.

"Aaaaah," Amara yang tidak melihat ke depan terjatuh ke arah pinggiran yang bawahnya jurang, sedangkan Glen kaki nya nyangkut di ranting, hewan buas itu bahkan sudah tidak terdengar Suara nya lagi.

"Aaaaaw sakit banget," keluh Amara berusaha untuk duduk, dia melihat kaki nya yang tampak nya bengkak, terlebih dia tadi memakai high heels.

Kedebrak

Glen yang tadi nyangkut di ranting, terguling di samping Amara, membuat pria itu meringis kesakitan.

"Duh kok bisa-bisanya malah terjatuh sih, tadi perasaan gak ada tempat ini yah," keluh nya sambil berusaha untuk bangun.

"Kesialan seperti nya," jawab Amara dengan datar.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Glen mencoba berdiri.

"Baik-baik saja gimana? Lihat kaki Gue bengkak, ini juga sudah mau jatuh ke jurang," gerutu Amara sambil melihat ke sekeliling, bawahnya jurang yang terlihat dalam.

"Naik lah di punggung ku, seperti nya sebelah sana ada jalan deh," ucap Glen yang tidak mau ribet, karena wanita itu kalo di jawab makin bikin Glen gak bisa berkutik.

"Gak perlu, Gue bisa jalan sendiri," ketus Amara berusaha berdiri, namun justru malah merintis kesakitan.

"Ayolah cepetan, kita gak punya banyak waktu," Ajak Glen yang berjongkok, membuat Amara mau tak mau naik ke punggung Glen.

Glen segera berjalan ke arah barat, Dia terus berjalan menggendong istri nya, hingga akhirnya dia sudah tidak berada di pinggir jurang lagi, tapi jalanan itu di penuh ranting-ranting kering, padahal tadi saat mereka berdua masuk ke dalam hutan tidak ada sedikitpun ranting seolah mulus, hal itu membuat kedua nya heran tapi berusaha untuk terlihat tenang.

Perjalanan yang tadi nya cepat, kini justru malah lebih lama, membuat Glen tampak kelelahan, terlebih harus menggendong Amara.

"Duh kok gak kelihatan jalan menuju pulang yah, mana haus banget lagi, tahu begini bawa air," keluh nya sambil tersengal-sengal.

"Kalo begitu turunin Gue aja, ngeluh mulu Loh, gak ikhlas yah gendong Gue," ucap Amara merasa tersinggung.

"Bukan kok, ya udah kita tetep jalan," Glen berusaha untuk tidak terlihat lemah lagi, dia sebisa mungkin menahan rasa lelahnya, hingga akhirnya Amara menunjuk ke arah pintu masuk yang mereka lewati pas berangkat.

"Itu pintu keluar nya sudah kelihatan," tunjuk Amara dengan antusias, membuat Glen menoleh ke arah depan.

"Akhirnya kita selamat," Jawab Glen dengan girang.

kedua nya akhirnya merasa lega setelah sampai di depan rumah Kakek tua itu, setelah sampai di dalam Glen merasa sudah tidak berdaya, hingga akhirnya tubuh nya ambruk setelah menurunkan Amara.

"Aduh Glen, kenapa?" ucap Kakek Tua itu saat melihat Glen yang datang dan pingsan.

"Dasar lemah, segitu aja udah pingsan," cibir Amara melihat ke arah suaminya.

"Air, Aku butuh air," ucap Glen berusaha untuk tidak pingsan, membuat pria tua itu langsung mengambil air dan memberikannya pada Glen.

"Apa yang terjadi?" tanya Kakek Tua itu setelah Glen sudah lebih baik.

"Kami hampir jatuh ke jurang, Gara-gara di kejar hewan buas, tapi aman," jawab Glen panjang lebar menceritakan kejadian tadi.

"Kaki nya terkilir tadi, saat terjatuh," lanjut nya menunjukan ke arah Amara.

"Ya ampun bengkak," ucap Yuni merasa terkejut.

"Sasa, ini pasti karena Nenek yah? Kalo itu membuat mu terluka, Nenek tidak masalah harus hidup di kursi roda selama nya," Wanita Tua itu merasa bersalah karena dirinya Cucu nya terluka.

"Nenek, Aku gak papa, Aku sudah mendapatkan bunga emas itu." Amara berusaha untuk menenangkan, sambil menunjukkan bunga emas yang ia dapatkan.

"Wah, kalian memang hebat, bisa mendapatkan bunga langka ini," Kakek Tua itu ikut menimpali sambil tersenyum bahagia.

"Setelah ini bagaimana?" tanya Amara memastikan.

"Nanti kakek akan membuat ramuan nya, barulah di buat sebuah pil," Jawab pria tua itu menjelaskan panjang lebar.

"Kakek sangat begitu baik, berapa imbalan yang Kakek inginkan?" tanya Amara tude poin.

"Hahaha, Kakek tidak butuh itu, tapi kalo kamu niat ngasih yah kasih saja sesuatu yang bermanfaat, tidak berupa uang, karena kakek sebenarnya sudah pensiun, cuma karena Glen kakek mau bantu," terang pria tua itu panjang lebar sambil terkekeh.

"Oke baiklah Aku mengerti," wanita itu langsung mengambil ponselnya, mengetik sesuatu kepada asistennya Lisa.

"Sini biar Kakek bantu, semakin di biarkan kaki mu malah jadi tambah parah," pria tua itu menyuruh Amara untuk duduk di hadapan pria itu, membuat Amara menurut saja.

pria itu memegang kaki Amara hingga terdengar bunyi kretek.

"Aaaaw sakit," jerit Amara sambil memejamkan matanya.

"Sudah, coba jalan," pria tua itu menghentikan aktifitasnya, lalu menyuruh Amara berjalan.

Wanita itu mencoba untuk berjalan, Dia merasa sangat begitu senang karena tidak merasa sakit lagi.

"Wah kakek memang hebat," puji Glen yang sedari tadi diam.

"Terimakasih Kek, Aku akan selalu mengingat jasa mu," ucap Amara kembali duduk.

"Yah, lain kali jangan pake high heels lagi, apa lagi saat kehutan," jawab pria tua itu sambil mengangguk mengiyakan.

"Kalo obat nya, bisa di lakukan kapan?" tanya Amara memastikan.

"Dua hari paling cepat, nanti seminggu sekali ke sini, selama sebulan baru tahu hasil nya," terang pria tua itu panjang lebar, membuat Amara mengangguk mengerti.

Setelah pembahasan panjang kini ketiga nya pamit pulang, karena ternyata hari sudah sore, mungkin karena di hutan tadi yang banyak menghabiskan waktu.

"Ini apa kok di sini?" tanya Kakek Tua itu saat melihat dua ekor sapi berada di depan rumah nya.

"Hadiah untuk kakek, sesuatu yang berguna kan ini?" ucap Amara sambil tersenyum tipis.

"Ha-ha-ha kamu bisa aja." pria tua itu terkekeh, karena merasa Amara terlalu serius menganggapi ucapan nya.

"Terima saja kebaikan istri ku, kek," timpal Glen membuat pria tua itu mengangguk-angguk.

Kemudian akhirnya Glen dan Amara beserta Yuni pamit pulang.

Sementara di sisi lain

Arnav kini berada di pemakaman umum, Dia menatap sebuah makam anaknya, pria itu tampak heran saat sudah ada dua buket bunga satu nya masih segar, satu nya sudah layu.

Dia tahu cuma mertuanya yang selalu berkunjung setiap tahun, dan hari ini adalah tempat 7 tahun anaknya meninggal, tidak ingin menduga-duga dia berpikir nanti tanya saja ke penjaga makam.

"Sayang, Maafin Ayah yah, baru bisa menjenguk mu, harusnya hari ini usia mu 7 tahun yah?" ucap pria itu sambil berjongkok di sebelah makam.

"Maafkan Ayah yang gak bisa membuat Ibu mu balik, tapi satu hal yang harus kamu tahu Ayah menyayangi mu, Ayah akan berusaha untuk mendapatkan Ibu mu kembali," lanjut nya seolah sedang berbicara dengan anak nya, walaupun tidak ada sahutan.

"Ayah punya sesuatu untuk mu, coklat krim stroberi, kamu suka kan? Ibu mu dulu suka banget," Pria itu meletakkan coklat itu di samping batu nisan, sambil tersedu-sedu karena merasa bersalah, tidak bisa menjadi suami yang baik.

Setelah lelah menangis dia pun membacakan doa untuk anaknya nya, sebelum akhirnya pamit pulang.

Sebelum pulang dia menghampiri penjaga kuburan untuk memastikan sesuatu.

"Apa selain mertua Saya, ada yang menjenguk makam putri Saya?" tanya nya memastikan.

"Hari ini gak ada, tapi kemarin ada satu wanita, Dia terlihat sedih setelah keluar dari makam," jawab pria itu setelah lama berpikir.

"Ini bukan?" tanya nya sambil menunjukkan foto Amara di ponsel nya.

"Betul sekali, itu Dia," jawab pria itu mengangguk mengiyakan.

"Terimakasih Pak, ini ada sedikit rezeki," Arnav pun langsung memberikan sejumlah uang, membuat pria itu hendak menolak tapi Arnav memaksa nya.

Pria itu langsung berjalan ke arah mobil nya sambil tersenyum sumringah karena merasa dugaan nya tidak salah.

'Ara, ternyata memang dirimu, Aku gak akan biarin kamu lupain Aku gitu aja,' batin Arnav sambil tersenyum smirk.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!