Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Pisau dan Peran yang Dimainkan"
Pisau dengan bilah yang mengkilap di bawah sinar matahari yang masuk melalui jendela besar itu terus terangkat lebih tinggi, mengikuti gerakan tangan Bu Siti yang sedikit menggigil. Matanya yang biasanya tajam kini tertutup oleh air mata yang menetes perlahan di pipinya yang masih terawat. Semua orang di ruangan terbebani oleh keheningan yang menusuk, tidak seorang pun berani bergerak terlalu cepat takut akan memicu sesuatu yang lebih buruk.
Bu Siti mengayunkan tangan kirinya ke arah dada, menempatkan ujung pisau di bagian tengah dadanya yang tertutup oleh renda kebaya perak. “Kalau kamu benar-benar ingin pergi dari sisi Arif, Dewi… maka aku tidak punya alasan lagi untuk terus hidup!” ucapnya dengan suara yang bergetar, campuran antara kemarahan dan kesedihan yang dalam. “Aku telah mengorbankan segalanya untuk anak-anak ku, khususnya Arif. Jika istri nya tidak bisa menghargainya, maka hidup ku tidak ada artinya lagi!”
Dewi tetap berdiri diam di tempatnya, wajahnya tetap kosong tanpa sedikit pun ekspresi perubahan. Dia melihat bagaimana jari-jari Bu Siti yang memegang gagang pisau mulai memerah akibat kekuatan yang diberikan, bagaimana tubuhnya sedikit bergoyang seperti akan jatuh kapan saja. Namun dalam hati, Dewi tahu—Bu Siti tidak akan pernah berani menusuk dirinya sendiri. Ini bukan pertama kalinya Bu Siti melakukan drama seperti ini ketika menghadapi masalah yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, ketika ujung pisau sudah mulai menyentuh kain kebaya dan hampir mengenai kulitnya, seorang sepupu dari Bali yang bernama Pak Retno—pria berbadan tegap yang telah bekerja sebagai tukang kayu selama puluhan tahun—bergerak dengan cepat namun hati-hati dari belakang Bu Siti. Dengan satu gerakan yang lincah, dia mengambil pisau dari tangan Bu Siti dengan lembut namun pasti, kemudian menjauhkan benda tajam itu ke arah jauh dari semua orang.
“Tidak boleh seperti ini, Bu Siti!” Pak Retno berkata dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. “Kita bisa menyelesaikan masalah dengan baik-baik tanpa harus melakukan hal yang ekstrem seperti ini.”
Sejak pisau terlepas dari tangannya, Bu Siti langsung jatuh ke kursi di belakangnya dengan badan yang goyah. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis dengan keras, suara rengekan nya mengisi seluruh ruangan. “Aku tidak bisa menerima ini… tidak bisa menerima kalau Arif akan kehilangan istri nya! Dia masih muda, dia butuh seseorang yang bisa merawatnya dengan baik!”
Arto segera mendekati ibunya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, sementara Nia membawa sebuah gelas air hangat dan memberikannya kepada Bu Siti. Beberapa anggota keluarga lainnya juga mulai mendekat, memberikan kata-kata penghiburan meskipun sebagian dari mereka masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. “Tenang saja, Bu,” ucap Arto dengan nada penuh perhatian. “Kita akan bicara dengan Arif nanti, pasti ada jalan keluar yang baik.”
Dewi hanya menonton semua itu dengan pandangan yang sudah terbiasa, bahkan bisa dibilang bosan. Dia telah melihat bagaimana Bu Siti sering menggunakan cara seperti ini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan—mulai dari menangis teresak-esak hingga mengancam untuk melakukan hal yang tidak baik. Tidak ada yang baru dari semua ini baginya.
Tanpa berkata satu kata pun, dia mengambil tas kain yang sudah dia kumpulkan tadi dan berjalan perlahan menuju pintu keluar. Beberapa orang melihatnya pergi, namun tidak ada yang berani menghentikannya. Arto melihatnya dengan ekspresi cemas, namun saat hendak membuka mulut untuk berbicara, dia melihat wajah Dewi yang kosong dan memutuskan untuk tidak mengganggunya.
Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Matahari yang semakin tinggi membuat jalanan terasa panas dan menyengat, namun Dewi tidak merasa apa-apa. Pikirannya kosong, hanya fokus pada langkah-langkahnya yang tetap teratur dan stabil. Ketika dia sampai di depan rumah kecil yang ditempatinya bersama Arif, dia melihat Arif sedang duduk santai di teras sambil minum tehnya dan melihat ke arah jalan raya yang ramai.
Di depannya ada sebuah gelas teh tawar yang sudah mulai hangat, dan di sebelahnya ada beberapa bungkus rokok kretek yang sudah terbuka. Arif menyambutnya dengan senyum tipis ketika melihat Dewi datang, namun segera menghilang ketika melihat ekspresi wajah Dewi yang tidak berubah. “Kembali sudah ya?” ucapnya dengan suara yang santai.
Dewi tidak menjawab langsung. Dia berjalan ke teras dan duduk di kursi kayu yang terletak di sebelah Arif, mengambil gelas teh tawar dan meminumnya dengan perlahan. Setelah beberapa saat, dia mulai berbicara dengan suara yang tenang dan datar, seolah sedang menceritakan hal yang biasa saja. “Kamu tahu tidak, tadi aku bertemu dengan Bu Siti di rumahnya. Banyak keluarga yang ada di sana.”
Arif mengangguk sambil mengeluarkan asap rokok ke udara. “Ya, aku tahu. Dia bilang mau kamu ajak datang untuk berbincang. Ada apa saja?”
“Bu Siti bilang sudah tahu kalau aku ingin bercerai dengan kamu,” lanjut Dewi tanpa melihat wajah Arif. “Kita bertengkar, dan kemudian Bu Siti mengambil pisau, mengancam akan bunuh diri kalau aku tetap ingin pergi darimu. Dia bahkan sudah menempatkan ujung pisau di dadanya sebelum akhirnya Pak Retno mengambil pisau itu darinya.” Dia menjeda sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada yang sama. “Aku tidak tahu apakah Bu Siti sudah menjadi mayat atau hanya mendrama saja. Kamu sebaiknya pergi menengoknya.”
Arif terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Dewi. Kemudian dia menghela napas panjang dan mematikan rokoknya dengan menyenturkannya ke dalam abu rokok yang terletak di atas meja kecil. “Aku tahu bagaimana ibuku, Dewi,” ucapnya dengan suara yang sedikit lemah. “Dia selalu melakukan hal seperti itu ketika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak akan benar-benar menyakiti dirinya sendiri, hanya ingin mendapatkan perhatian dan membuat orang lain merasa bersalah.”
Meskipun berkata demikian, Arif mulai berdiri dan mengambil jaketnya yang digantung di tembok teras. Dia melihat ke arah Dewi dengan wajah yang penuh dengan perasaan yang kompleks—kesedihan, rasa bersalah, dan juga kelelahan. “Aku akan pergi menengoknya saja untuk memastikan dia baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan kembali sebentar lagi.”
Dewi hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia melihat Arif berjalan keluar dari rumah dengan motor supranya. Ketika sosok Arif sudah tidak terlihat lagi, dia berdiri dan masuk ke dalam rumah, mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja makan yang sedikit berdebu. Gerakannya tetap lambat dan teratur, seolah tidak ada yang terjadi—seolah semua drama yang dia alami hari ini bukanlah sesuatu yang penting atau layak untuk diingat.
Di dalam hati, Dewi tahu bahwa ini tidak akan menjadi yang terakhir kalinya. Bu Siti akan terus mencari cara untuk menghalangi dia pergi dari Arif, Arif akan terus membela ibunya dan menyembunyikan kebenaran tentang uangnya, dan dia akan terus hidup dalam lingkaran setan yang sama. Namun dia tidak merasa marah atau sedih lagi—hanya rasa tenang yang dalam dan kelelahan yang sudah meresap ke dalam setiap bagian tubuhnya. Hidup akan terus berjalan seperti ini, sampai suatu saat dia benar-benar bisa mendapatkan kebebasan yang dia inginkan.